logo text

Mencari Jalan Keluar

Aku dengan segera mencari modem wifi yang sering mas Dani pakai.
Semoga saja ada di dalam kamar, bukan ada di ruang televisi seperti biasanya.
Kalau benar ada diluar, bagaimana aku mengambilnya?
Kuharap ia menyimpannya di laci kamar.
Laptop kusimpan terlebih dahulu, takutnya mas Dani datang dan ngeuh kalau aku akan mempergunakan Laptop itu.
Aku terus mencari alat komunikasi apapun. Siapa tahu suamiku punya gawai lain. Gawai jadulnya dulu.
Nihil.
Tak ada apapun kutemukan di dalam kamar.
Di rumah tak ada wifi tersambung. Tapi modem yang selalu ia gunakan di laptop pasti ada di ruang televisi.
Bagaimana cara aku meraihnya.
Akh, sial.
Aku benar-benar sudah pengap sekali.
Kulihat jam dinding sudah menunjukkan waktu dinihari. Bagaimana aku besok, apakah ia akan membebaskanku?
Akh, aku harus segera keluar dan pergi dari rumah ini.
Namun, tiba-tiba pintu membuka saat aku masih mencari sesuatu yang bisa kutemui di laci-laci kamar.
Ckrek!
Suara pintu membuka tiba-tiba.
Mataku berhenti berkedip.
Aku benar-benar takut.
Aku langsung menoleh ke arah pintu masuk kamar dengan ngos-ngosan.
Kulihat mas Dani mencoba masuk kembali ke dalam kamar.
Tapi aku sangat takut melihatnya.
Aku takut ia akan berbuat nekad.
Sembari menghela nafas agak lambat, mataku masih terus menatap ke arah mas Dani yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar menghampiriku dengan ekspresi yang menakutkan.
Apakah dia akan membebaskanku?
"Mas, ka-kamu sudah tidak akan menyekapku kan?" tuturku dengan tubuh gemetar.
Apalagi sorot mata mas Dani makin menyeramkan.
Dia mendekat ke arahku tanpa berkata apapun. Hanya memandangku dengan penuh nafsu saja.
Aku menelan ludah.
"Diandra, aku saaangat mencintaimu. Tolong jangan memaksaku untuk berbuat kasar padamu. Dengan mencoba kabur dariku."
Kata-katanya membuatku takut.
Beberapa kali aku menelan ludah dengan langkah kaki yang makin mundur dan sudah menempel di dinding dekat lemari.
Pandangannya membuatku jijik sekali.
Aku benar-benar takut.
Dadaku berdegup kencang dan bergetar hebat.
Apalagi kini ia malah membelai-belai wajahku dengan pandangan yang gila.
Kini rasa cintaku malah berubah menjadi jijik padanya.
Ya Tuhan, selamatkan aku!
"Kamu tidak akan membuatku marah, kan?" tanyanya sembari membelai wajahku dengan satu ujung jarinya.
Apa ini sifat asli suamiku?
Aku hanya bisa berpura-pura mengangguk.
"I-iya, aku akan tetap disini bersama kamu."
Aku menjawab dengan sangat gugup.
"Kamu tidak boleh keluar rumah. Aku yang akan membeli semua kebutuhan rumah. Kamu tidak boleh kabur. Atau aku akan menyakiti anak kita!" ancamnya.
Hah?
Aku makin gemetar.
Bisa-bisanya ia berkata begitu.
Dimana akal sehatnya?
"Kamu mengerti kan!" gertaknya.
Apa boleh buat. Aku harus mengiakan keinginannya.
Suaraku seperti hilang karena ketakutan.
Aku hanya bisa mengangguk dengan penuh gemetaran.
Dia juga mengangguk sinis.
Namun apa yang terjadi.
Dia berjalan menuju arah lemari. Lalu ia membuka lemari itu.
Apa yang kulihat?
Aku tak menyangka kalau dia malah mengambil laptopnya.
Si*l.
Aku kalah lebih dulu olehnya.
Apalagi yang aku saksikan? Dia mengambil laptop itu dan merusaknya.
Brag!
Aku benar-benar syok.
Mas Dani menjatuhkan laptopnya. Lalu ia menginjak-injak laptop itu dengan penuh amarah.
Aku semakin meringis.
Dia bisa melakukan hal semacam itu di depanku. Dia benar-benar sudah tak berperasaan.
Pasti dia tahu, kalau aku akan menggunakan laptop itu untuk menghubungi orang lain.
Mulutku hanya bisa menganga.
Apalagi setelah aku ingat tentang amplop yang kini berada di bawah ranjang. Seusai kusembunyikan lagi tadi.
Bagaimana kalau ia tahu kalau aku sudah melihatnya?
Apa reaksinya?
Aku tak mau kalau dia malah membabi buta.
Dirinya saat ini memang sudah dirasuki oleh sesuatu hal yang buruk.
Mas Dani makin menginjak-injak laptop itu di hadapanku.
Dia juga berjalan keluar kamar.
Entah apa yang akan ia lakukan.
Tak lama dia datang lagi menghampiriku.
Dibawanya gawaiku yang ia ambil tadi. Aku malah berfikir kalau ia akan mengembalikannya lagi padaku.
Ternyata tidak.
Dia malah merusak gawaiku. Dia menjatuhkannya hingga gawai itu rusak berhamburan.
Oh tidak ...
"Mas Dani! Kamu ...!"
"Diam!" teriaknya membentakku.
Memotong kalimat ucapan yang ingin ku utarakan padanya.
Aku makin meringis dan semakin ketakutan.
Dia keluar kamar kembali.
Kali ini aku sudah tak tahu apa yang ingin ia lakukan kembali.
Lalu ia masuk lagi ke dalam kamar.
Akh, sial sekali. Dia merusak semua alat komunikasi apapun yang ada di rumah.
Memang dia sudah benar-benar dirasuki oleh iblis. Astaghfirullah!
"Lihat, kamu tidak bisa menghubungi siapapun. Kamu tidak akan bisa keluar dari rumah ini."
"Aku sudah mengunci dan menggembok semua bagian kaca dan jendela. Tugas kamu hanyalah melayaniku. Kamu tak usah pergi kemanapun. Mengerti!" katanya dengan nada membentak.
Mas Dani yang sekarang bukanlah mas Dani yang kukenal dulu.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat semua yang terjadi di hadapanku.
Tangisanku keluar kembali.
Aku benar-benar takut.
Andai bapak dan ibu datang menjemputku besok.
Ya Tuhan ... tolonglah aku.
**
Sudah dua hari aku terkurung di dalam rumah bersama Dona.
Tak ada seorangpun yang datang ke rumah meskipun hanya sekedar bertamu.
Aku hanya terperangkap di dalam rumah seharian dan semalaman.
Tak ada tetangga yang datang menghampiri rumahku. Entah mengapa, apa mereka pikir aku tak ada di rumah?
Mas Dani yang membawakanku makan setiap hari. Aku benar-benar tidak bisa lari.
Dia sama sekali tidak pernah pergi meninggalkanku. Dia selalu ada di dalam rumah duduk di kursi sembari memainkan gawainya.
Dia juga tak berangkat bekerja. Benar-benar fokus menjagaku supaya aku tak pernah berusaha untuk kabur.
Apalagi tadi malam.
Dia mengancamku. Kalau aku berteriak, mencoba meminta tolong, dengan tega dia akan menyakiti Dona.
Akh, aku benar-benar tidak bisa berfikir jernih setelah melihat apa yang terjadi.
Aku seperti seorang tahanan yang tidak bisa menghirup udara dengan bebas.
Kenapa mas Dani menjadi berubah semacam ini?
Apakah dia sudah tak punya hati nurani?
Aku dan Dona hanya bisa terdiam di kamar. Di kunci olehnya sedari dua hari yang lalu.
Benar-benar tak masuk di akal.
Detik berlalu.
"Diandra, kamu jangan coba-coba kabur. Malam ini aku akan pergi. Kalau kamu coba-coba kabur, aku tak segan-segan akan menyakiti Dona!" ancamnya.
Dia tiba-tiba datang dan membuka kunci. Masuk ke dalam kamar menghampiriku.
Membuatku semakin yakin kalau dia memang sudah tak punya hati lagi.
Aku harus tenang dan mencoba menuruti apa yang ia inginkan.
Apalagi aku takut, kalau Dona akan di apa-apakan olehnya. Padahal Dona itu adalah anaknya. Ya Tuhan ...
Aku mengangguk saja.
"Kamu harus nurut. Kalau kamu mencoba kabur, aku akan benar-benar marah sama kamu!" gertaknya lagi.
"Iya, aku akan tetap disini. Aku janji, lagipula sudah dua hari ini aku kan nurut sama kamu. Jadi aku tak mungkin berniat untuk kabur sekarang," jawabku berpura-pura.
Lalu tak lama setelah itu dia pergi meninggalkanku dan Dona.
Miris sekali.
Dona hanya melongok melihat kami berdua. Pasti ia tak mengerti sedikitpun dengan apa yang ia saksikan.
Aku benar-benar tak tega melihat Dona dengan kondisi kami sekarang.
Mas Dani sudah pergi.
Seperti biasa dia mengunciku di kamar dengan sangat rapat.
Aku berusaha tegar dan tenang supaya aku bisa mencari jalan keluar malam ini juga.
Malam ini adalah malam seperti biasa mas Dani keluar untuk bermain gila.
Ah sudahlah, bagaimanapun juga aku sudah tak peduli. Karena sekarang mas Dani tak kuharapkan lagi.
Aku hanya ingin terbebas darinya saja.
Sembari memikirkan sesuatu, aku berusaha membuat Dona tertidur. Supaya aku bisa berfikir lebih jernih nantinya.
Perlahan-lahan Dona mulai menguap.
Dan tak lama kemudian Dona akhirnya tertidur.
Kubaringkan ia di ranjang. Dan aku membalut badannya dengan selimut supaya dia tidak kedinginan.
Kini aku mulai tenang dan berfikir.
Mondar-mandir kesana kemari mencari ide.
Nihil, ideku benar-benar mentok. Kalau aku memaksa keluar juga tak mungkin. Semua jendela telah suamiku patenkan dengan kayu yang dipaku.
Andai saja rumahku tidak berada di pojokan mungkin tetangga bisa melihat keanehan yang suamiku lakukan.
Suamiku memasangi semua jendela dengan kayu yang dipaku.
Hukh.
Aku masih berfikir.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Mas Dani tak akan segera pulang. Aku masih punya kesempatan untuk memberontak dan semoga saja pelan-pelan aku bisa membuka pintu kamar.
Namun tiba-tiba.
Aku mendengar suara seorang yang sedang mencoba membuka paku diluar jendela kamar.
Teg!
Aku benar-benar takut.
Nafasku ngos-ngosan.
Aku benar-benar gemetar.
Perlahan ku dekati sumber suara itu. Dan benar saja, suara itu adalah sesuai dengan apa yang ada di benakku.
Suara seseorang yang sedang mencoba membuka paku-paku di kayu.
Tapi siapa?
Aku mendekati jendela.
Kulihat dengan jelas.
Dibalik jendela ada seorang laki-laki yang sedang mencoba membuka jendela kamar.
Apa dia akan menolongku?
Dan siapa yang aku lihat kini. Dia adalah bapak. Ayah dari suamiku.
Mulutku hanya bisa menganga.
Apa yang akan ia lakukan?
Apakah dia akan membebaskanku?
Jantungku mulai berdebar-debar.
Bapak masih terus berusaha membuka semua paku yang membuat kayu melekat erat di kusen jendela.
Aku harap bapak akan membebaskanku malam ini.
Dia sama sekali tak bersuara atau memanggilku.
Terdiam dan masih terdengar suara bapak yang mencoba membuka jendela.
Tak lama kemudian.
Jendela membuka.
Aku menjauh dan mendekati Dona.
Apa yang kulihat?
Bapak memandangiku dengan penuh nafsu.
Astaghfirullah, apa yang akan bapak lakukan?
"Diandra, kamu jangan khawatir. Bapak akan mengeluarkan kamu dari kamar ini. Tapi ...."
Aku menelan ludah mendengar ucapan bapak.
"Tapi apa, Pak?"
Astaghfirullah, bapak makin mendekat saja.
Aku benar-benar ketakutan.
bersambung...

Komentar Buku (99)

  • avatar
    aisaisyahh

    bagus bgt

    30/05/2025

      0
  • avatar
    SepGotho

    gacor

    03/05/2025

      0
  • avatar
    KuanisAnnie

    its great story

    28/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru