Bolak balik Maxim terus mencoba menghubungi anak anak buahnya untuk mencari keberadaan Stella di sekitar pulau namun hasilnya masih sama tetap nihil, dia belum bisa menemukan Stella. Stella hilang bagaikan di telan bumi tanpa bisa terlacak keberadaannya.
Sementara di Bandara sedang bersiap siap untuk terbang ke New York. "Sayang! kamu kok bengong, kamu lagi pikirin apa sih?" Juliana dengan penuh kasih mendekati sang menantu Stella. "Oh, Enggak apa apa kok Ma,"jawab Stella singkat. “Stella gak mikirin apa apa.”
Flashback On~ Saat Maxim sudah kembali ke kota dan meninggalkan Stella sendirian di pulau, Maxim tidak tau bahwa kedua orangtuanya justru datang dan bermaksud ingin memberi kejutan dengan mengunjungi anak dan menantunya, namun apa yang didapatkan Robert serta Juliana justru membuat keduanya tersadar akan sikap sang anak yang tega meninggalkan istrinya sendirian di pulau.
Saat itu juga Robert dan Juliana memutuskan akan membawa Stela bersama dengan mereka kembali ke New York. Flashback Off~
"Kamu gak usah memikirkan anak nakal itu! biarkan dia sendirian disini," ucap Robert tegas. Dia benar benar kecewa dengan kelakuan Maxim. Kecewa, marah dan malu semua jadi satu. Aku akan membuatnya menyesal karena sudah melepas permata seperti istrinya ini~batin sang Ayah Robert. Penerbangan ke New York menggunakan penerbangan komersial pun sudah terjadwalkan, Stella akhirnya ikut bersama kedua mertuanya. Dua hari sejak hilangnya Stella, Maxim terus mengerahkan semua tim anak anak buahnya, bahkan beberapa intelegen pun dilibatkan untuk menelusuri hilangnya Stela secara misterius menurutnya, namun sampai hari kedua, mendapatkan jejaknya saja Maxim tidak berhasil. Stela seolah hilang ditelan bumi tanpa jejak. Tanpa sadar hilangnya Stella membuat Maxim tidak fokus mengerjakan pekerjaannya di kantor, emosinya bahkan sering meledak ledak, sering marah tanpa sebab kepada karyawannya, membuat moodnya sering jelek, bahkan Billy heran dengan sikap sang Bos. Kalau sudah hilang baru terasa kan rasanya~ batin Billy
Jauh di ujung belahan bumi yang lainnya, Stella justru sedang menikmati dinginnya salju pertama yang dia rasakan di kota New York. Malam ini Stella di ajak kedua mertuanya untuk makan malam bersama di sebuah restoran mewah, memang selama berada di New York, Stella selalu di manja oleh kedua mertuanya yang begitu sayang kepadanya. "Makanlah yang banyak sayang," ucap Juliana dengan lembut, bahkan dia menambahkan salad ke dalam piring makan Stela. "Makasih yah Ma," balas Stela. Maxim, Papa akui kamu CEO handal tapi kamu adalah laki laki bodoh karena sudah menyia nyiakan wanita ini~pikir Robert. Saat mereka sedang makan tiba tiba dering ponsel Robert berdering, Robert yang melihat nama sang anak Maxim tertera di layar ponselnya awalnya ragu untuk mengangkat teleponnya namun dia memutuskan mengangkatnya juga.
Flashback on~ Pikiran Maxim benar benar buntu, dia tidak bisa menemukan keberadaan Stela, biasa kalau dia sudah mentok dia akan meminta bantuan sang Ayah, karena Ayahnya memiliki team yang lebih hebat dan berpengalaman dan mempunyai koneksi lebih luas dimana mana dibandingkan dirinya, namun Maxim takut kalau orangtuanya tau bahwa Stela hilang. "Aku gak bisa begini terus, mau gak mau aku harus minta bantuan ke Papa....." "Bos!" "Billy, saya gak bisa menunggu lebih lama lagi, kita gak tau dimana keberadaan gadis itu, kita gak tau bagaimana keadaannya sekarang bukan! kalau terjadi apa apa dengannya bagaimana?" Billy menangkap rasa khawatir dan cemas dalam nada bicara Maxim kepadanya. Apakah Bos sadar bahwa sebenarnya dia begitu khawatir dengan nona Stela~batin Billy "Aku harus meminta bantuan Papa sekarang juga, aku gak perduli kalau nanti Papa Mama marah, setidaknya aku sudah memberitahu mereka." Maxim pun lalu mencoba menghubungi sang Ayah melalui sambungan telepon. Flashback Off~ "Halo Papa....." "Halo Son, apa kabarmu?." (Terdengar suara sang Ayah di seberang telepon) "Aku baik Pah! Papa....." (Tiba tiba ucapan Maxim terputus karena dia mendengar suara Ibunya sedang berbincang dengan suara seorang perempuan) "Pah! kalian lagi dimana? dan Mama bicara dengan siapa?" Maxim benar benar penasaran karena dia seperti mengenal suara perempuan yang di dengarnya sayup sayup itu. "Owh, kami sedang makan malam di restoran, Mama kamu sedang berbicara dengan menantunya." "Apa? menantu? menantu... menantu apa maksud Papa? siapa menantu Mama?" "Menurut kamu, Papa Mama punya menantu ada berapa memangnya? apa kami punya anak lain selain kamu? kamu ini mengganggu saja... sudah Papa tutup ya, kami sedang makan malam." Tutttt (sambungan telepon pun diputus sepihak oleh sang ayah) "Menantu? menantu?" gumam Maxim. Pikirannya seakan di paksa bekerja lebih lagi dalam mencerna kata kata sang Ayah barusan di telepon. "Ada apa Bos?" tanya Billy penasaran. "Ahh, itu Papa tadi bilang mereka sedang makan malam bersama menantu mereka," ujar Maxim yang masih belum sadar sepenuhnya. "Maksud Bos nona Stela?" (Kalau Bos besar sudah memberikan clue, mungkin baiknya aku juga... aku mau lihat gimana reaksi Bos Maxim) "Stela? apa maksud kamu?" Pikiran Maxim seolah tertutup dan buntu. "Iyah, menantu mereka kan nona Stela Bos," ucap Billy. "Ah, iyah betul.. Stela menantu mereka..” gumam Billy. “ Apaaaaa?" Maxim baru menyadari kebodohannya. "Jadi, jadi Stela ada bersama Mama Papa maksudmu?" Billy hanya mengangkat kedua bahunya. "Billy cepat siapkan Jet, kita ke New York sekarang juga." Maxim pun memutuskan untuk segera menyusul Stela ke New York. "Lapor Bos, Bos Maxim akan segera berangkat ke New York," ucap Billy pada sambungan telepon. "Bagus Billy, terus kabari saya....." Senyum manis pun terkembang di wajah Robert. Tidak segampang itu, Papa akan membiarkan kamu menemui Stela, kamu harus dikasih pelajaran~batin Robert. "Bos!" Billy masuk ke dalam ruang kerja Maxim. "Apa kamu sudah siapkan semuanya?" "Maaf Bos tapi sepertinya kita harus menundanya, karena cuaca sedang tidak baik saat ini," Billy menyampaikan penjelasannya. "Aarrgghhh! kenapa bisa begini sih, apa benar benar gak bisa Bil? lakukan yang terbaik Billy," perintah Maxim dengan tegas. Akan aku pastikan, aku akan segera membawamu kembali kesini gadis nakal.. bisa bisanya kamu sudah membuat pikiranku kacau, aku akan membalasnya nanti gadis nakal, aku akan mengurungmu di rumah dan tidak akan membiarkan kamu bisa keluar rumah lagi~batin Maxim. Sementara Stela terus menerima limpahan kasih sayang dari mertuanya, Juliana dan Robert. Kebahagiaan yang sempat hilang kini kembali dirasakan oleh Stella, mempunyai dua orang tua yang begitu mengasihinya dan menyayanginya meskipun bukan orangtua kandung. "Sudah kenyang sayang?" "Ahh, sudah Mah.. Ela udah kenyang," jawabnya. "Ya sudah, ini sudah malam dan dingin... kita kembali ke rumah yah," ajak Robert.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (120)
ZaliyantiAmelia
cerita ini sangatlah bagus.... butir air mata saya terus mengalir ketika membacanya, apalagi ketika membaca Stella yg sangat sabar dan disiksa tsbt,., smg sy jg bisa menjadi orang yg sabar dan tabah seperti Stella 😭 bahkan sekarang air mata jg blum mengering abis baca akhiran cerita td🌹😭😭
cerita ini sangatlah bagus.... butir air mata saya terus mengalir ketika membacanya, apalagi ketika membaca Stella yg sangat sabar dan disiksa tsbt,., smg sy jg bisa menjadi orang yg sabar dan tabah seperti Stella 😭 bahkan sekarang air mata jg blum mengering abis baca akhiran cerita td🌹😭😭
28/12/2021
0seruu polll
06/10
0mntap
23/08/2025
0Lihat Semua