logo text

Bab 50 Menolak Lamaran

"Faiz?!" seruku lirih.
Aku ternganga melihat Faaiz menyodorkan sebuah cincin permata hijau dan seikat bunga mawar.
"Ayi Fradilla, bersediakah kamu menjadi istriku?" Tanya Faiz dengan nada serius.
Wajahnya terlihat berkeringat dingin. Perasaan bercampur aduk.
Aku masih tak bergeming menerima cincin yang ia sodorkan. Kupandang wajah Nara yang tersenyum ke arahku. Mama dan papa Faiz juga tersenyum bahagia saat melihat kearahku.
Aku takut dan masih trauma untuk menerima orang ketiga. Takut kedua orang tua Faaiz akan menolakku seperti apa yang dilakukan oleh Umi Fatimah ibunya Ustaz Rahman.
Mengingat Faiz adalah anak semata wayang dari keluarga kaya dan terpandang. Harta dan tahta sudah pasti menjadi pertimbangan kedua orang tua.
"Terima saja, Ayi! Mama dan papa memberi doa restu bagi kalian berdua," ucap mamanya mengulas senyum.
Kedua tanganku dan digenggam dengan erat oleh mamanya Faaiz.
Seketika air mataku menetes terharu. Mamanya begitu memperhatikanku hingga memberi doa restu, namun sejujurnya aku tak bisa menerima lamaran Faaiz yang sudah begitu baik membantu hingga sesukses sekarang ini.
Kutolak seikat bunga mawar dari tangan Faaiz yang diberikan kepadaku.
"Maaf, aku tidak bersedia," ucapku pelan.
Wajah Faiz berubah sedih. Matanya redup ketika aku aku menolak lamarannya.
"Ke-kenapa kau menolaknya, Ayi?" tanyanya pelan.
Cincin batu permata langsung ia jatuhkan. Faaiz berlutut menghadapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa, Bunda menolak Om Faiz menjadi Ayah, Nara?" tanya Nara.
Aku tersenyum dan memeluk tubuh putri kecilku. Berusaha menjelaskan bahwa hubungan ini sangat rumit hingga membuatku sulit untuk memilih. Sementara hatiku belum siap untuk menerima lelaki yang baik itu.
"Kenapa, Nak? Apa kamu tidak menyukai Faaiz?" tanya wanita itu sedih.
Ada guratan kecewa di wajah wanita yang berusia empat puluh tahunan itu. Aku tahu ia hanya ingin mendukung sang putra dengan pilihan yang terbaik.
Aku tersenyum kecut. "Maaf, Bu. Aku belum siap untuk membuka hati ini."
Kening wanita itu mengkerut ketika aku mengatakan belum siap menerima anaknya menjadi pendamping hidupku.
"Aku sangat mencintaimu, Ay. Aku bersedia menunggu jawaban dari kapan saja kamu bersedia menerimaku," kata Faaiz.
Aku menjadi salah tingkah ketika Faaiz menerima alasanku menolak lamarannya. Bagaimanapun lelaki itu sangat baik hingga perasaannya tidak bisa aku permainkan. Hatiku masih belum bisa menerima lelaki mana pun dalam waktu saat ini.
"Bunda, Kasihan Om Faaiz jadi kecewa." Nara menimpali.
"Ini masalah hati, Nak. Tidak bisa dipaksakan dan menerima begitu saja. Bunda hanya ingin memberi kesempatan pada Om Faaiz untuk berpikir agar lebih lama lagi sebelum mengambil keputusan. Status Bunda dengannya jelas jauh berbeda," ucapku memberi penjelasan.
"Aku terima status dan juga kekuranganmu, Ayi. Semua sudah aku putuskan jauh-jauh sebelum datang melamarmu," potongnya cepat.
Aku hanya menarik nafas panjang sebab dada ini rasanya sesak mendengarkan kalimatnya barusan. Menikah itu bukan sekedar menyatukan perbedaan saja, tapi juga menerima segala kekurangan pasangan.
Dan aku takut sejarahku akan terulang kembali di sini, ditolak karena kemiskinan itu sakit dan lebih menyedihkan.
"Sayang, pikirkan dulu baik-baik jangan mengambil keputusan terlalu cepat. Kami pamit pulang, besok kita akan ketemu lagi disini tolong beri aku kesempatan," ujar mamanya.
Dadaku berdegup dengan kencang ketika mamanya memanggilku dengan sebutan sayang. Wanita itu sudah menganggap aku anak kandungnya sendiri.
"Iya, Bu. Akan aku pertimbangkan lagi keputusan ini."
Mama dan papa Faaiz kecewa mendengar kalimat penolakan. Faaiz tersenyum kecut dan kecewa seolah sedang merasakan kisah yang sama.
Cinta itu memang aneh, datangnya secara tiba-tiba dan tidak dapat diduga. Kadang aku bertanya apakah itu cinta? Mengapa cinta bisa membuat hati menangis, mengapa cinta bisa membuat orang lupa, mengapa cinta bisa membutakan segalanya. Itulah yang namanya cinta, kapan dan dimanapun cinta hadir tanpa permisi.
"Assalamualaikum," ucap Faaiz.
Perlahan Faaiz meninggalkan balkon atas untuk turun ke bawah dan kembali pulang. Wajah yang biasa ceria kini terlihat sayu dan layu.
"Waalaikumsalam," jawabku.
Perlahan ibu dan juga ayahnya Faaiz pergi meninggalkan rumahku. Mereka tidak lagi bertanya pada Faaiz tentang gadis yang diinginkannya.
"Maaf, Faaiz. Aku benar-benar belum siap untuk menerima lamaranmu," ucapku menyusul langkahnya.
"Tak apa, Ay. Aku tahu posisimu," ucapnya tersenyum.
Masih dengan langkah gontai dan mata yang berembun lelaki itu pergi meninggalkan halaman setelah naik ke dalam kuda besi.
"Faiz, ayo kita pulang! Hari sudah larut malam. Besok kamu kan masih ada kerja," tukas mamanya.
"Iya, Ma," sahut Faiz.
Mama dan papa pun akhirnya berpamitan untuk pulang. Aku mengantarkan mereka hingga sampai ke depan rumah.
"Ayo, aku pamit pulang ya," pungkas Faiz.
Aku mengangguk pelan. "Iya. Hati-hati di jalan!"
Faiz hanya tersenyum tanpa menjawab. Lambat-laun mobil yang dikemudikan pria itu menjauh dan menghilang di kegelapan malam.
Aku kembali masuk ke dalam rumah mengingat hari sudah larut . Hanya cahaya bulan yang masih bersinar di pekatnya malam. Baru saja aku berbalik hendak masuk kedalam rumah tiba-tiba sebuah tangan menyentuh dan menarikku ke sudut.
"Mas? Apa yang kau lakukan disini?" Teriakku kaget.
Aku melihat Mas Anan sudah berada di hadapanku. Ia memakai pakaian hitam dan topi di kepalanya.
"Aku ingin bertemu denganmu, Ay," ucapnya tanpa ekspresi.
"Apa maksudmu?" Tanyaku lagi.
"Tadi. Aku sudah melihat semuanya. Kamu akan menikah dengan Faaiz bukan?"
Nada suara Mas Anan kini berubah menjadi penekanan. Sorot matanya memancarkan tidak bersahabat. Tatapan matanya tajam seperti elang.
"Iya."
"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia bersama pria lain," sergahnya. Ada rasa kecewa membekas di hati Mas Anan.
Bukankah dulu ia yang sudah meninggalkanku? Lalu mengapa sekarang kembali setelah menyakiti. Ia bahkan rela meninggalkanku dan anak-anaknya tanpa nafkah dan lebih memilih Sarah seorang wanita muda dan kaya raya.
Bagaimana dulu aku berada di titik terendah melalui beberapa proses hingga menduduki posisi sekarang ini. Dengan mudahnya ia mengatakan aku tidak berhak bahagia. Siapakah dirimu wahai Mas Anan? Dimanakah hati nuranimu saat itu yang telah meninggalkanku beserta kedua anakmu.
"Apa maksud ucapanmu, Mas?"
"Kau harus tetap menjadi milikku, Ay. Aku tidak rela bila pria lain menyentuhmu."
"Apa?"
"Aku masih mencintaimu. Apa pun akan aku lakukan agar kamu kembali padaku. Lihatlah aku sanggup memberimu harta yang lebih banyak dari pada Faiz."
Mas Anan menunjukkan kantong hitam yang berisi uang banyak. Aku tenganga melihat apa yang ia tunjukkan. Pria itu baru pulang sudah membawa uang banyak. Apa yang sudah dikerjakan hingga mendapatkan uang itu.
"Dari mana Mas mendapatkan uang sebanyak itu?" Tanyaku penasaran.
"Bukan urusanmu aku mendapatkan dari mana. Yang penting sekarang aku kaya. Dan aku akan membuatmu bahagia," jelasnya dengan nada penekanan.
"Aku tidak butuh uangmu, Mas. Ambil saja dan bawa pergi. Aku tidak sudi lagi kembali padamu," ketusku.
Wajah Mas Anan seketika berubah menjadi merah karena penolakanku.
Dia semakin mendekat ke arahku hingga nyaris tidak ada jarak di antara kami. Aku melihat wajahnya di bawah sinar bulan yang terang.
Ia terlihat seperti seorang mafia. Gaya dia bicara dan cara berpakaian seperti seorang mafia. Terakhir aku mendengar berita kalau Mas Anan melakukan bisnis haram untuk mendapatkan kekayaan.
"Dengar, Ay! Aku akan berbuat apa pun untuk menghancurkanmu. Termasuk membunuh calon suamimu itu. Bagiku penjara adalah rumah keduaku. Aku bisa keluar dan masuk kapan saja dengan uang."
Aku terkesiap mendengar ucapannya. Jantungku berpacu bagai sebuah mesin. Ucapan yang barusan dilontarkan Mas Anan sepertinya sebuah ancaman.
"Apa kau kira dengan uang bisa membeli segalanya? Lihat dirimu sekarang Mas! Sangat menyedihkan." Nada bicaraku naik satu oktaf.
"Persetan dengan semua itu, Ay. Bagiku uang adalah segalanya. Karena uang Sarah sudah mencampakkanku seperti sampah. Dan kini aku akan membuat perhitungan dengannya."
Aku semakin tidak mengenal siapa Mas Anan, dia berubah dratis. Setelah menikah lelaki itu berubah menjadi kasar.
"Pergi! Aku tidak sudi melihatmu disini. Jangan pernah menemuiku atau anak-anak. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk melihat mereka. Ayah mereka sudah mati sejak meninggalkan mereka dalam kemiskinan. Bawa saja hartamu, aku tidak sudi menikmati uang harammu."
Aku berkata dengan nada penuh penekanan. Sikap Mas Anan yang berubah kasar membuatku takut akan mempengaruhi mental Habib. Apalagi Habib sekarang sedang mempersiapkan keberangkatan ke Dubai untuk bersekolah di sana. Jangan sampai pihak sekolah membatalkan beasiswa Habib hanya karena ulah ayahnya.
"Aku akan pergi, Ay. Tapi, ingat! Aku akan kembali kapan saja untuk menghancurkan kebahagiaanmu."
"Kau manusia tidak punya hati, Mas. Aku benci padamu."
Mas Anan tertawa girang. Ia kemudian pergi dan menghilang di balik kegelapan malam.
Aku kemudian buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Ancaman Mas Anan masih terbayang dalam ingatanku. Aku takut ia akan bertindak nekat di luar batas. Di dalam aku menetralkan degup jantungku yang tak beraturan.
"Bunda, ada apa? Kok kayak lihat hantu ketakutan begitu?" Tanya Syawal ketika berpapasan denganku.
Syawal mengambil air minum dalam gelas saat berpapasan denganku di ruang tamu.
Malam ini memang udara terasa gerah. Itu sebabnya Syawal merasa haus dan memutuskan untuk mengambil air minum di dapur.
"Ti-tidak ada kok," jawabku gugup.
Aku segera berlalu dari hadapannya meninggalkan anak remaja itu.
Syawal bingung melihat sikapku yang berubah gugup. Ia menduga telah terjadi sesuatu padaku. Tak kuhiraukan ia yang menerka-nerka. Bagiku masuk ke kamar adalah pilihan terbaik untuk menenangkan pikiran.
Di dalam kamar aku baringkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Pikiranku melayang-layang entah kemana. Apa yang aku takutkan semoga tidak menjadi nyata. Mas Anan akan melakukan perbuatan bodoh hingga membuat nyawa oarang lain melayang.
Lamat-lamat aku tertidur dan bermimpi. Di dalam mimpiku aku melihat Faiz jatuh ke dalam jurang bersama mobilnya. Seketika aku berteriak menyebut namanya.
"Faiz ....!"
Aku tersentak dari mimpi dan bangun dalam keadaan peluh bercucuran. Mimpi yang barusan aku alami terasa nyata. Aku melihat Faaiz masuk ke dalam jurang bersama mobilnya akibat ditabrak mobil Mas Anan.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Detak jarum jam yang berputar mengikuti ritme. Kupejamkan mataku kembali namun, terasa sulit. Aku takut mimpi yang sama akan kembali hadir. Ku rapalkan doa agar mimpi buruk itu tidak kembali hadir.
Keesokkan hari aku terbangun dengan wajah kurang tidur. Semalaman aku tidak nyenyak tertidur karena dicekam ketakutan. Pagi ini aku mendapatkan pesan dari pesan nomor tidak di kenal masuk dalam notifikasi.
"Tunggu aku akan datang padamu. Kita akan berbahagia selamanya."
"Mas Anan?"
***
Bersambung.

Komentar Buku (320)

  • avatar
    Abdullahjuju

    Cerita yang menarik, apabila membaca, terasa diri ini dlm kisah cerita ini... 👍

    02/02/2022

      0
  • avatar

    suka banget baca ini.. memang favorit dari dulu

    08/07/2025

      0
  • avatar
    KholilaNur kholila

    thor kok ending gitu

    21/02/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru