logo text

Bab 41 Ungkapan cinta dari Bagas

Drrtt ....
Ponsel di dalam tas Alea bergetar. Gadis itu merogoh ke dalam dan mengeluarkan benda pipih itu dari sana. Sekilas ada pancaran kelegaan di wajahnya yang cantik.
[Aku dan Mama baik-baik saja]
[Terima kasih, sudah mengkhawatirkan ku.]
Isi pesan chat di aplikasi berwarna hijau dari Bagas. Balasan dari chat nya dua hari yang lalu.
Alea menyimpan ponselnya, lalu kembali fokus pada pembicaraan Lukman dan Hamidah, juga pengacara Hamdidah yang juga hadir di sana.
“Kau tahu bagaimana sikap ku tentang itu, Lukman!” desis Hamidah tajam. Sorot matanya seolah ingin menelan Lukman hidup-hidup karena membicarakan hal yang sangat tidak di sukainya.
“Maaf, Nyonya ...,” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Lukman. Pria itu terlalu hafal sifat majikannya.
“Silahkan, Pak Setyo! Sepertinya semua sudah di putuskan.” Seru Lukman pada pria di sampingnya. Pengacara Hamidah bernama Setyo itu, kemudian bergeser, memperbaiki letak duduknya sebelum meraih berkas dibatas meja. Beberapa saat lamanya asik membaca dan mencermati kalimat demi kalimat yang tertera di sana.
Tak seperti Lukman yang banyak protes dan nasehat, Setyo langsung mengangguk dan menyatakan kesediaannya untuk mengubah surat warisan itu secepatnya.
“Baiklah, Nyonya! Seperti yang anda inginkan. Secepatnya, akan saya kabari kalau sedah selesai. Oh, iya! Apakah ada hal lain, permintaan khusus atau syarat yang ingin Nyonya tambahkan disini?”
“Tentu saja, saya sudah menuliskan semuanya disini!” Hamidah menyodorkan sebuah berkas lagi, berisi beberapa hal hang harus dipatuhi, syarat dan juga konsekwensi berkaitan dengan isi surat wasiat yang abru.
Setyo menerima berkas itu kemudian membacanya dengan teliti. Sesekali pria itu memandang ke arah Hamidah, bergantian dengan Lukman. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, tapi dia sama sekali tak berani mengutarakannya. Lagipula, dia tidak ber hak ikut campur dengan masalah klien. Dia hanya perlu menjalankan tugas nya sebagai pengacara, sesuai permintaan.
***
Baru saja Alea pulang kerja, dan merebahkan diri di atas sofa ruang tamu, ponsel nya sudah berdering. Gadis itu mengangkat panggilan tetepon setelah membaca nama yang tertera di layar.
“Apa kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu keluar malam ini.” Suara Bagas dari seberang sana melalui sambungan telepon.
Alea berfikir sejenak, ada perasaan ingin menolak, tapi dia merasa kasihan pada pria itu, terlebih karena insiden di dalam rapat beberapa hari yang lalu. Mungkin dia butuh teman untuk berbagi,  ucap gadis itu pada diri sendiri.
“Mau kemana?” akhirnya gadis itu menerima ajakan Bagas.
“Nanti juga tau! Aku jemput jam 7, oke!”
Bagas memutuskan sambungan telepon setelah mendengar kesanggupan Alea menerima ajakannya.
Setelah sambungan terputus, ada sedikit rasa sesal di hati gadis itu, tapi dia meyakinkan diri bahwa apa yang dilakukannya sudah benar.
***
Pukul 19.00 wib seperti yang sudah disepakati, Bagas tiba di rumah Alea dengan pakaian casual, tidak seperti biasanya. Pria itu tampak gagah dengan celana berbahan semi jeans dipadukan dengan kaos oblong polos dan jas berwarna hitam. Alea yang malam itu juga sedikit berdandan terlihat sangat cantik dengan atasan berwarna biru muda berbahan satin, dan bawahan berupa rok selutut model payung berwarna biru gelap. Tak lupa gadis itu memakai jaket berwarna senada, panjang hampir sama dengan rok nya.
Bagas lagi-lagi terpukau dengan kecantikan gadis itu. Menurutnya, Alea selalu memiliki kejutan yang tak di duga sebelumnya
“Kita berangkat?” Alea membuyarkan lamunan Bagas.
“Oh, iya! Oke,” sahut Bagas dengan senyum mengembang.
Pria itu mempersilahkan Alea untuk berjalan di depan, mendahuluinya. Hal yang selalu dilakukannya dan membuat gadis itu merasa di hargai. Tidak seperti Leon, yang selalu menindasnya dengan banyak cara.
Tak banyak yang mereka perbincangkan selama perjalanan. Alea memilih diam karena selalu merasa canggung berdua dengan lelaki, hal yang tak pernah dilakukannya selama ini. Namun, Alea merasa kasihan pada pria itu, dan hanya ingin menjadi teman yang baik untuknya.
“Kita makan dulu!” Bagas akhirnya membuka suara. Alea mengangguk tanda setuju.
Tak lama, Bagas sudah memarkir mobil di depan sebuah restoran berbintang. Keduanya turun, dan berjalan santai memasuki tempat makan itu. Sepi! Tak ada pelanggan sama sekali.
Alea mengedarkan pandangan berkeliling, “Kamu yakin, kita makan di sini?” tanya gadis itu pada Bagas. Pria itu mengangguk, lalu mempersilahkan gadis itu untuk duduk di sebuah meja yang terlihat lebih indah dari meja lainnya.
“Silahkan,” ucap Bagas, seraya menggeser sebuah kursi untuk gadis itu. Alea tersenyum, sebelum kemudian menjatuhkan bobot tubuhnya di sana. Setelahnya, Bgas pun melakukan hal yang sama di kursi berhadapan dengan Alea.
Seorang pelayan mendatangi mereka, dengan sebuah troli makanan. Sebotol anggur dan dua buah gelas diletakkan pelayan tadi di atas meja. Alea merasa heran, karena mereka belum memesan apa-apa. Namun, gadis itu diam saja, dan memperhatikan pelayan tadi melakukan pekerjaannya.
“Silahkan!” ucap pelayan itu dengan sopan, setelah membuka botol anggur dan menuangkan isinya kedalam gelas. Bagas mengangguk, di ikuti oleh Alea yang masih terlihat kikuk.
“Ayo, kita bersulang!” Bagas mengangkat gelas ke arah Alea, menawarkan untuk melakukan toast. Namun, di tolak dengan sopan oleh gadis itu. “Maaf, aku tidak minum, yang beralkohol,” ucapnya merasa tidak enak. Bagas menurunkan gelasnya, lalu meminta maaf, “Oh, maaf! Aku tidak tahu, seharusnya kamu bilang dari tadi. Kita bisa memesan yang lain,” seru pria itu merasa bersalah. Pria itu kemudian memberi isyarat agar pelayan tadi datang. Mereka lalu memesan minuman lain, sebagai ganti anggur tadi.
***
Leon yang saat itu baru saja selesai meeting dengan relasi bisnis, memberi tawaran makan malam pada tamu-tamu istimewanya itu. Kedua tamu dari Jepang itu merasa sangat tersanjung, karena pemilik perusahaan yang langsung melayani mereka.
“Kami sangat senang, diajak makan malam oleh anda Tuan Leon! Biasanya seorang pemilik perusahaan besar seperti anda akan memerintahkan orang kepercayaannya untuk melayani relasi bisnisnya, tapi anda berbeda,” puji Mr. Kenzi pada Leon, dalam bahasa Jepang.
“Ya, saya juga merasa tersanjung, apalagi anda langsung yang menyetir untuk kami! Hahaha,” temannya, Mr. Taro tertawa lepas meluapkan kegembiraannya. Leon hanya tersenyum dari balik kemudi. Ini memang kebiasaannya untuk mendekatkan diri dengan relasi bisnis, juga untuk memahami karakter mereka yang bekerja sama dengan perusahaannya.
“Kita akan kemana, Tuan Leon?” tanya Mr. Taro pada Leon dari kursi belakang.
“Sebuah restoran Jepang, yang lumayan terkenal dengan masakannya. Aku berharap rasa nya tidak terlalu jauh berbeda dengan masakan asli di Jepang,” sahut Leon masih dengan senyumnya yang mengembang.
“Anda sangat pengertian, terima kasih!” Taro mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar hingga kedua matanya hanya tersisa dua buah garis lekung nyaris hilang di wajahnya yang putih.
Mobil pun berbelok memasuki area parkir sebuah restoran berbintang yang terlihat sepi. Kedua tamu Leon turun dari mobil, dan berjalan ke arah tempat yang di tuju. Namun, rasa heran tak bisa mereka sembunyikan melihat keadaan yang sangat sepi seperti sedang tutup, tapi pencahayaan di dalam sana masih terlihat terang. Leon berjalan di belakang, berusaha menyusul mereka karena harus memarkir mobil dahulu.
***
Sementara, Alea sedang menikmati makan malam dengan Bagas dalam suasana romantis. Ternyata pria sudah memboking seluruh tempat, khusus untuk mereka berdua malam ini. Alunan musik yang lembut mengiringi acara makan mereka, sesekali terdengar dentingan sendok beradu dengan pisau dan piring, menciptakan debar-debar aneh di dada Alea. Sejak tadi dia gelisah dan merasa tidak enak tanpa sebab yang pasti.
Alea menyudahi makannya, lalu minum segelas air putih. Bagas melirik sekilas sebelum kemudian melakukan hal yang sama.
“Kenapa berhenti?” tanya Alea saat melihat Bagas menyudahi makan.
“Sudah kenyang!” sahut pria itu tersenyum. Dia memang tidak bernafsu untuk makan, karena ada hal lain yang sedang berhasrat untuk segera di tuntaskan nya. “Sebenarnya, aku sengaja mengajakmu kemari untuk mengulangi perkataan ku waktu itu,”
Degh!
Perasaan Alea mendadak semakin tidak enak. Perutnya bergejolak,dan dia tiba-tiba merasa pusing. Gadis itu memandang pria di hadapannya dengan tatapan kosong.
“Alea ..., kamu sudah tahu kan bagaimana perasaan ku padamu? Mungkin waktu itu bukan saat yang tepat, aku mengerti! Sekarang aku ingin mengutarakannya dengan pantas di hadapanmu ...!”
Bagas bangkit dari duduknya, bertepatan dengan munculnya seorang pelayan berpakaian rapi, dengan sebuah buket bungan mawar merah yang indah. Bagas menerima buket bunga dari si pelayan, dan menyerahkannya pada Alea yang mematung. Gadis itu menerima bunga pemberian Bagas dengan pikiran kosong, seperti terhipnotis.
“Alea ..., maukah kamu menjadi kekasihku?” ucap pria yang kini telah berlutut di hadapan Alea dengan satu lutut bertumpu ke lantai. Menyentuh punggung tangan gadis itu, kemudian membawanya ke bibir, dan mengecupnya pelan.
“Maaf, Pak! Tempat ini sudah di boking untuk malam ini.” Suara seorang pelayan dengan nada tinggi, berhasil menghancurkan suasana romantis yang mati-matian dibangun oleh pria yang masih dalam posisi berlutut itu. Hanya saja, pandangannya kini beralih ke arah pintu masuk dimana terlihat sosok yang sangat di kenal nya telah berdiri di sana bersama dua orang pria asing.
“Le -on!” lirih Alea bersuara. Wajah gadis itu menegang, seolah sedang tertangkap basah melakukan dosa. Sementara sosok yang tengah berdiri di depan pintu masuk sana juga melayangkan pandangan mematikan pada dua sosok di dalam restoran.

Komentar Buku (399)

  • avatar
    gingin

    Lanjutin lagi kak ceritanya

    01/03/2025

      0
  • avatar
    Ral Lee

    Good story🥰

    26/06/2024

      0
  • avatar
    BurudjiMarten

    saya suka bangat dengan novelnya..samapi sampai nangis bacanya..

    12/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru