“Ma -maaf kan saya Tante, eh, Nyonya!” Alea bangkit dari kursi, kemudian membungkuk berkali-kali pada Nadya. Dia sungguh merasa malu sudah mengatakan hal yang tidak-tidak tadi. “Tidak usah merasa bersalah begitu, panggil saja tante! Lagipula bos mu itu memang harus diberi pelajaran pakai sapu!” Nadya mengedipkan sebelah matanya, membuat Alea semakin salah tingkah. “Ayo, duduk sini.” Nadya menepuk kursi Alea, sebagai isyarat agar gadis itu kembali duduk. Tapi Alea sudah tidak merasa nyaman berada disana. “Bagaimana tawaran Bu Nadya tadi, apa kau menerimanya? Mencari pekerjaan sekarang sangat sulit, dan aku yakin bos mu itu, sudah menyuruh asistennya untuk memblokade semua jaringan bisnis yang dimilikinya, agar tidak menerima pegawai atas nama Azalea.” Bola mata Alea membulat sempurna mendengar ucapan Lukman barusan. Dia tidak percaya jika Leon akan bertindak sejauh itu untuk menghancurkannya. “Kau tidak percaya?” tanya Lukman tersenyum melihat keraguan di wajah gadis itu. Pria setengah baya itupun, kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang. “Halo!” suara di seberang sana, ketika sambungan telepon terhubung. “Apa yang terjadi dengan sekretaris Leon?” tanya Lukman pada pria di seberang sana, yang dikenali Alea sebagai suara Bima, asisten mantan bos nya. “Alea mengundurkan diri, dan Leon meminta saya untuk memutus semua koneksi pekerjaan untuknya. Aku harus memastikan gadis itu tidak diterima bekerja dimana pun, walaupun hanya sebagai OB, atau aku yang akan dipecat Tuan Leon,” seru Bima dari dari seberang sana, membuat Alea terhenyak di kursinya. Gadis itu mengepalkan tangan dengan kuat. Wajahnya merah padam, tapi kemudian berubah lesu saat melihat dua orang di sampingnya. Bagaimana dia akan membalas mantan bos nya itu, jika pekerjaan saja dia tidak punya! Alea menghela nafas panjang. Lukman terkekeh melihat ekspresi gadis itu. “Kau dengar sendiri, kan?” Alea mengangguk lesu. “Jadi, kau menerima tawaranku?” tanya Nadya antusias. Alea memandang Nadya, dengan raut wajah heran. Kenapa?
“Apa yang harus saya lakukan?” akhirnya Alea menyahut ucapan Nadya tadi. Lukman dan Nadya saling bertukar pandanh, dengan senyum di masing-masing wajah. “Kau hanya harus melakukan apa yang di minta oleh ibu mertuaku. Itu saja! Tenang saja, kau tidak ada sangkut pautnya dengan Leon. Jadi tak perlu merasa cemas, dia akan mempersulitmu.” Lukman menjelaskan pekerjaan Alea sebagai perawat pribadi. “Dan kabar baiknya, kau mungkin akan berkesempatan membalas Leon!” Alea seketika menoleh pada Nadya, saat wanita itu mengucapkan kalimat tadi. Kalimat mantra yang membuat Alea langsung mengangguk setuju. “Baik, aku setuju!” kedua orang di sekitar Alea mengulum senyum, menyembunyikan tawa mereka masing-masing. “Kalau begitu, kamu ikut tante pulang, sekarang.” Ucap Nadya, dan lagi-lagi mendapat anggukan dari Alea. Mereka pun membubarkan diri. Alea dan Nadya, kembali le kediaman Hutomo. Sedangkan Lukman sendiri pulang ke kediaman pribadinya. *** “Silahkan duduk, Alea!” Nadya mempersilahkan Alea untuk duduk, sementara dirinya masuk ke dalam, untuk memanggil Hamidah, ibu mertuanya. Tak lama, seorang wanita tua dengan tongkat, berjalan ke arah Alea. Melihat itu, Alea buru-buru bangkit dan membantunya berjalan. Mereka pun duduk di sofa ruang tamu keluarga itu. “Ini yang namanya Alea?” tanya Hamidah. “Iya, Nyonya!” sahut Alea, seraya mengulurkan tangan. Hamidah menyambut uluran tangan itu, dan terkesiap saat Alea mencium punggung tangannya dengan khidmat, bukan menjabat tangannya. Hamidah mengelus rambut Alea. “Kau sangat cantik! Secantik hatimu! Aku sangat senang bertemu gadis secantik dirimu. Panggil aku nenek!” Alea menegakkan badan, memandang Hamidah dengan perasaan haru. Dia merasakan kehangatan dan kasih sayang di setiap ucapan wanita tua di depannya itu “Baik, Nek!” sahut Alea memperlihatkan senyum berbaiknya. Si nenek mengangguk puas. Nadya masuk, bersama seorang asisten rumah tangga yang membawa minuman dan beberapa makanan kecil untuk mereka. Nadya sudah berganti pakaian dengan dress panjang rumahan, sederhana tapi tetap menampilkan sisi elegan wanita itu. “Ibu harus tahu kelakuan cucu ibu!” Nadya membuka percakapan dengan senyum di kulum. Dia masih saja merasa lucu, tiap kali mengingat Alea mengoceh di depannya dan Lukman. Alea yang merasa, kalau Nadya sedang membicarakan dirinya, alih-alih putranya Leon, langsung merasa kikuk dan salah tingkah. Nadya pun menceritakan apa yang dialami oleh Alea selama bekerja menjadi sekretaris Leon. Dia juga bercerita tentang Bima yang diperintahkan untuk memblokir semua koneksi pekerjaan untuk gadis itu. Mendengar cerita Nadya, Hamidah mengetuk tongkatnya ke lantai. “Dasar bocah tengik!” umpatnya, membuat Alea terbelalak kaget. Nadya semakin melebarkan senyumnya, lalu mengedipkan sebelah mata pada gadis itu, yang menatapnya dengan pandangan bingung. Seorang asisten rumah tangga datang mendengar suara tongkat Hamidah, wanita muda yang usianya lebih muda dari Alea itu menghampiri Hamidah, dan berdiri dalam diam menunggu perintah dari Nyonya nya. “Ambilkan tas ku, dan suruh sopir menyiapkan mobil. Aku mau keluar!” titahnya pada gadis itu. Asisten rumah tangga itu segera membungkuk hormat, dan berlalu dari sana. Melaksakan perintah sang Nyonya. “Kita akan ke kantor Leon. Aku akan memberi pelajaran pada anak itu tenang saja!” Hamidah menepuk-nepuk punggung tangan Alea, yang menatapnya tidak percaya. Menatap Nadya, tapi tidak menemukan jawaban. Apakah ini mimpi? Gadis itu mengerjap beberapa kali, kemudian mencubit lengannya, lalu meringis. Karena ternyata dia merasakan sakit. Itu berarti dia tidak bermimpi. “Ayo, kita berangkat!” Hamidah memberi isyarat dengan tangan ke arah Alea. Masih sedikit bingung, gadis itu mengikuti Hamidah keluar rumah, kemudian masuk ke dalam mobil yang sudha terparkir disana. Nadya melambaikan tangan pada mereka dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajah cantiknya. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di gedung perkantoran tempat Leon bekerja. Petugas keamanan yang berjaga di depan gedung langsung menghampiri begitu melihat mobil Hamidah berhenti di depan gedung. Salah satu penjaga itu membukakan pintu. Hamidah keluar, disusul oleh Alea. Keduanya berjalan masuk beriringan ke dalam gedung, dan menuai pandangan heran beberapa orang yang kebetulan berada di sana. Mereka mengenal sosok Hamidah sebagai pemilik perusahaan, walaupun sudah hampir tidak pernah menginjakkan kaki disana selama beberapa tahun belakangan. Itulah mengapa mereka merasa heran, dengan kehadiran Hamidah yang tiba-tiba. Terlebih lagi bersama dengan Alea, sang mantan sekretaris. Para karyawan membungkuk hormat, dan menyapa Hamidah dengan ramah. Hamidah hanya membalasnya dengan senyuman. Keduanya memasuki lift, menuju lantai paling atas gedung itu, dimana kantor Leon berada. Tanpa mengetuk pintu, Hamidah membuka ruangan kerja Leon lebar-lebar, membuat pria itu terkejut hingga hampir mengumpat. Begitu melihat neneknya, Leon bangkit dan berniat ingin mencium tangannya. Namun, belum sempat pria itu melakukan apa-apa, Hamidah sudah memukuli Leon dengan tongkat di tangannya. “Bocah tengik! Siapa yang mengajarimu bersikap seperti itu pada wanita, heh! Dasar berandalan, tidak punya hati!” Hamidah memukuli cucunya bertubi-tubi. Alea terbelalak melihat pemandangan itu, dengan mulut terbuka lebar. Buru-buru dia menutup mulutnya, agar tawanya tidak pecah. “Aduh! Ampun nek! Nenek, tolong!” Leon meminta ampun pada neneknya, dengan kedua tangan melindungi kepalanya dari serangan si nenek, yang berubah menjadi sangat ganas dimata Alea. Leon memandang Alea yang terkikih pelan, dengan ekor mata. Seluruh persendian pri itu mendadak lemas, demi melihat wanita yang di sukainya melihat dirinya dalam keadaan memalukan seperti itu. “Nenek!” Akhirnya Leon mengambil jalan terakhir, dia memeluk wanita tua di depannya dengan erat, dan berpura-pura merajuk. “Tidak usah bersandiwara!” Hamidah masih saja memukuli Leon sepuasnya, hingga akhirnya pria itu pasrah menerima pukulan dari neneknya. Melihat itu, Alea menjadi iba. Dia lalu menghampiri Hamidah dan Leon. “Sudahlah, Nek! Apa nenek tidak capek, kasihan itu cucu nenek juga udah hampir pingsan.” Mendengar Alea mengatakan dirinya hampir pingsan, membuat ego di dalam diri Leon kembali melonjak. Dia menatap Alea tajam, dan langsung mendapatkan ketukan di kepala dari neneknya. “Nenek!” Pria itu merengut marah. Dia kemudian menjauh dari neneknya, yang sudah di bantu Alea untuk duduk di sofa. “Minta maaf pada Alea!” Alea menatap Hamidah, bergantian dengan Leon. Dalam hati gadis itu bersorak. Kapan lagi, dia bisa mendengar permintaan maaf dari manusia super benar itu, huh! Dia benar-benar sangat menunggu momen ini. “Maaf!” Leon mengucapkan kata maaf dengan sangat lirih, hampir tak terdengar. “Aku tak mendengarnya,” seru Alea mengerling ke arah Leon. Pria itu melotot padanya. “Kau dengar itu, Leon! Alea tidak mendengar permintaan maaf mu!” lagi-lagi Hamidah mengintimidasi. Leon menarik nafas panjang. Jika saja itu bukan atas perintah neneknya, dia tidak akan mempermalukan dirinya seperti itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (399)
gingin
Lanjutin lagi kak ceritanya
01/03/2025
0
Ral Lee
Good story🥰
26/06/2024
0
BurudjiMarten
saya suka bangat dengan novelnya..samapi sampai nangis bacanya..
Lanjutin lagi kak ceritanya
01/03/2025
0Good story🥰
26/06/2024
0saya suka bangat dengan novelnya..samapi sampai nangis bacanya..
12/06/2024
0Lihat Semua