Ternyata sendirian itu emang enak. Pantas, banyak orang pergi ke lantai paling atas sebuah gedung, ternyata alasannya buat ini. Menyendiri, dan bunuh diri. Kenapa otakku gak geser saja, biar aku punya keinginan buat bunuh diri. Melayang dari lantai tiga puluh, menikmati terbang tanpa sayap, lalu mendarat sempurna di aspal, hingga kepala pecah muncrat darah. Keren, dan sebelum itu aku harus pasang kamera di bawah sana, buat live Instagram. Enggak, Anna Frozen hidupnya masih panjang. Masa cuma gara-gara begitu doang, langsung down gak punya semangat hidup. Mataku harus terbuka lebar biar bisa melihat betapa indahnya dunia, dan betapa banyaknya laki-laki tampan dan mapan diluar sana. Mari berkaca, dan yakinkan diri kalo aku cantik, dan bisa. Masih banyak kok, laki-laki yang mau sama aku. Yang jelas, aku butuh salah satu mereka dengan kriteria tambahan yaitu setia. Buat apa coba, dapat suami tampan, mapan, tapi tukang selingkuh. Nyatanya, aku gak sekuat yang kuharapkan. Sekotak tisu yang sempat kubeli sebelum terdampar disini sudah berserakan penuh air mata. Sayangnya, aku bukan putri duyung. Sia-sia saja aku menangis tapi air mataku gak berubah menjadi mutiara. Tuhan, bisakah engkau kirimkan karma buat laki-laki yang bernama David Guetta yang sekarang bermesraan dengan wanita barunya. Aku serius Tuhan, aku ikhlas kalo orang itu mati kaku gosong tersambar petir di siang bolong. Cih. Mengingat kembali namanya membuatku muak. Aku jadi pengen makan samyang, terus nangis kepedesan, dan lupa sama beban hidupku yang menghampiri tadi pagi. "Siapa?" tanyaku dengan nada lesu soalnya aku beneran lemas banget habis main banyak ronde tadi malam. Tau gak sih, gara-gara aku gak bilang nyerah, Om David genjotnya semangat banget, dan berkali-kali mengajakku berganti gaya demi terwujudnya kepuasan bersama. Manalagi, aku berjalan dari kamar kesini itu butuh perjuangan banget. Ngangkang kayak bocil habis sunat. "David mana?" Error kan tuh tamu. Ditanyain malah balik nanya. Manalagi dia kesini perutnya buncit gitu kayak kekenyangan. Dia masuk angin, atau karena banyak lemak perut sih. "Ada, di dalam." kataku masih di posisi nempel disatu pintu yang gak kubuka. "Dimana dia?" Astaga, santai kali tante. Sudah bertamu pagi-pagi di rumah orang, masih saja koar-koar kayak ngelabrak pelakor. "Masuk tante, duduk dulu, saya panggilin orangnya." kataku lalu mau beranjak pergi ke kamar buat bangunin Om David yang masih tidur pulas. "Kamu yang namanya Anna?" Begitu pertanyaan itu terlontar, langkahku terhenti. Belum sempat aku menjawab, perempuan itu menarik lenganku, hingga membuatku berbalik dan menatap matanya yang bersorot gak ramah. Kalo dilihat lihat, aku kayak pernah lihat. Dimana ya, bisa gak kalo waktu berhenti sejenak, ngasih aku ruang buat mikir. "Iya, saya Anna." jawabku seraya menepis cengkeraman tangannya dilenganku. "Bagus. Sekalian saya kasih tau kamu, kalo suami kamu itu brengsek." Hah? "Maksudnya gimana ya tante?" tanyaku bingung. Kalo dia tau aku istrinya Om David, berarti dia teman dekatnya suamiku. Atau bisa jadi keluarga nya, kalo iya, berarti kami berdua jadi kerabat. Tapi masa sih, kalo keluarga datang kesini kayak ngajak tawuran. "Saya hamil anaknya David," Coba jujur saja, kalo perempuan ini cuma ngeprank. Aku jadi sedikit ingat, pasti aku pernah melihat dia di youtube yang ada konten nge prank. Tapi, dimana kameranya, kok gak kelihatan. "Didalam kandungan saya ini, anaknya David." Fikiranku mulai kalut. Secuil memori dimana aku pernah melihat perempuan ini hadir, lalu kutatap dia, kucocokkan dengan yang terputar di kepala, dan orang itu ternyata orang yang sama. Mbak Olivia, perempuan cantik berambut blonde yang ikut makan malam pas Om David kerja di Surabaya. Perempuan ini masih tampak sama, hanya saja warna rambutnya gak blonde lagi, melainkan berwarna hitam. Dadaku sesak. Tanganku yang tadi hinggap dipintu lemas, sementara fikiranku tambah kalut seiring mataku melihat perut perempuan yang membuncit yang kukira karena kekenyangan. Dia hamil. "Udah bangun?" Aku langsung menegakkan punggung begitu laki-laki itu datang. Suara ceklekan pintu bahkan gak kudengar saking fokusnya aku kembali memutar kejadian tadi pagi. Sial. Kalo begitu terus, aku bisa jadi gila. "Makan yuk, Mas buatin sayur bening, pumpung masih panas," Aku melirik laki-laki itu masih dengan tatapan yang sama setiap kali aku merasa apes karena sudah bertemu dengannya. Gak suka. Aku tetap gak suka sama Mas Dinar meskipun dia sudah menolongku, menenangkanku dan membawaku ke tempat aman yang gak bisa dijangkau sama Om David. Laki-laki yang kini berjongkok di depanku ini, mengelus bahuku pelan. "Adek disini aman sama Mas," katanya. Gak bisa dipungkiri kalo Om David gak mungkin gak mencariku. Aku tau laki-laki itu ngeyel dan gak percaya kalo Mbak Olivia beneran hamil, sekalipun Mbak Olivia sudah menunjukkan foto USG nya. Om David bahkan berani bersumpah kalo bayi dikandungan Mbak Olivia itu bukan anaknya. Sia-sia saja, aku lebih percaya dengan fakta yang ku lihat, kalo itu terjadi empat bulan yang lalu pas dia izin ke Surabaya. Aku yakin, malam itu mereka pesta miras, dan mabuk, lalu keduanya berujung melakukan zina. Aku gak percaya, meskipun Om David mengeluarkan air matanya, demi memintaku buat tetap tinggal disisinya. Aku tetap gak peduli, meskipun laki-laki itu mengumpati Mbak Olivia dengan kata-kata kasar yang belum pernah kudengar darinya sebelumnya. "Sampai di sini saja Om. Kita cerai. Tolong jaga Mbak Olivia dengan baik." Kalimat itu sungguh berat kukatakan. Aku gak mampu membendung air mataku lebih lama, sementara bibirku sudah bergetar ingin menyuarakan isakan. Aku kecewa. Aku dikhianati suamiku sendiri. Dia yang kuanggap sangat baik, dan aku selalu bersyukur karena sudah memilikinya, langsung ambyar begitu seorang perempuan datang mengaku telah dihamilinya. David brengsek. Tau gitu, kemarin aku gak usah menyerahkan keperawananku. Kenapa aku gak ngeh, dia bisa segitu mahir, karena memang dia sudah pro main dengan Mbak Olivia. "Makasih Mas," kataku akhirnya dengan tatapan menekuri lantai. Satu hal yang kucurigai dari Mas Dinar adalah, kenapa dia kayak superhero gitu. Selalu datang di waktu yang tiba-tiba. Laki-laki ini mendadak datang, disaat aku, Om David, dan Mbak Olivia berdebat hebat. Dia langsung merangkulku begitu melihatku bersimpuh rapuh. "Gue sudah pernah bilang ke lo, kalo hubungan lo dengan Anna, gak akan bertahan lama." Itu yang diucapkan Mas Dinar setelah membelaku dan menjagaku dari amukan Om David yang gak terima karena Mas Dinar memelukku. "Daripada lo sia-sian, dan cuma nyakitin Anna, mending Anna milik gue. Lo gak berhak, dan fokus saja urus wanita lo yang baru." "Itu sudah kelakuan lo yang gak pernah bersyukur. Dari dulu. Mungkin ini karma dari Tuhan, buat lo yang suka ngrebut milik orang." Yang menjadi pertanyaan, kenapa Mas Dinar datangnya tepat banget kayak gitu. Coba kalo dia gak ada, aku kabur dari rumah mau nginep di rumah siapa coba. "Sama-sama. Ayo makan, Mas temenin. Atau kalo mau, Mas suapin sekalian." ujar Mas Dinar, lalu dia berdiri sembari mengulurkan tangannya agar kusahut. "Kenapa kemarin ngasih buketnya gak duit gambar pak karno," kataku disela sela aku mengunyah makanan yang beneran disuapin Mas Dinar. Laki-laki ini setelah kemarin-kemarin gak muncul dikehidupanku, sekali datang langsung jadi pahlawan. "Maaf, Mas kemarin beli buketnya mendadak banget, lupa kalo kamu wisuda." Aku gak tau kemana Mas Dinar menghilang selama beberapa bulan terakhir. Waktu itu aku gak kepo dan malah senang soalnya gak ada yang gangguin hidupku. "Mas masih peduli sama saya?" tanyaku begitu terfikir apa alasan dia kembali lagi hadir. Mas Dinar tersenyum. "Masih, bahkan perasaan Mas ke Adek masih sama." "Kenapa begitu?" Aku cerewet banget. Padahal tinggal diam dan makan, habis itu merenung buat cari jalan keluar. Aku gak bisa lama-lama tinggal disini, bukan karena takut kayak dulu, kalo ketahuan berduaan sama Mas Dinar. Aku bodoamat, dan gak papa malah, kalo Om David mendapatiku disini. Kalo perlu dia memergokiku lagi bercinta sama Mas Dinar saja gak papa. Biar dia tau, kalo aku beneran sudah gak mengharapkan dia lagi, dan dia segera sadar diri enyah dari kehidupanku. "Karena hati Mas, masih terpaut sama kamu." "Saya habis ini mau pergi Mas, makasih sudah menolong saya, memberi saya tempat, dan terimakasih atas makanannya." "Loh, Adek mau pergi kemana? Balik lagi ke rumahnya David?" Aku menggeleng. Aku gak tau mau pergi kemana lagi. Rumahku yang dulu, sudah dijual dan aku gak mungkin kalo pulang ke rumahnya Mbok Inem. Aku cuma bakalan jadi beban dan masalah bagi dia. Goblok banget aku. Harusnya tadi sebelum pergi kuambil dulu dompetku yang berisi ATM dan kartu kredit. Biar aku gak miskin gini kalo mau tinggal dijalanan. "Untuk sementara, Adek disini saja dulu. Mas temenin. David gak akan tau tempat ini, jadi tenang aja." Ini bukan rumah Mas Dinar yang didalamnya ada studio buat record konten tiktok. Aku gak tau ini di daerah mana, soalnya tadi pas perjalanan kesini aku lebih banyak nangis, daripada menekuri jalanan. Tapi, rumah ini minimalis dan kamarnya saja cuma satu. Kayak model rumah kontrakan gitu. "Ini rumahnya siapa?" tanyaku daripada aku memendam kekepoan. "Rumah Mas," jawab Mas Dinar sembari melahap sesendok makanan yang kutolak karena sudah kenyang. "Milik sendiri?" tanyaku. Mas Dinar mengangguk. Dia beranjak menuju wastafel buat nyuci piring. Kakak adik gak ada bedanya, sama-sama punya banyak rumah dimana-mana. "Mas mau belanja, kamu mau ikut?" ### "Jadi beli yang mana?" tanya Mas Dinar menggugurkan renunganku. Aku bingung, padahal tadi sebelum masuk ke sini, aku sudah memutuskan mau beli Floridina Orange. Setelah tiba di depan lemari es, lha kok mataku kemana-mana, meratapi jejeran minuman lain yang menggoda. Si oren dalam botol itu jadi tercampakkan, dan kayaknya aku oleng gak jadi beli. Ini pilihan berat. Kenapa sih, lemari es indomaret isinya lengkap kayak gini. Manalagi berjajar rapi dan warnanya cantik banget, jadinya pengen borong semuanya. Mas Dinar membuka pintu lemari es, setelah menunggu jawabanku yang gak pernah kulontar. Laki-laki ini dengan enteng mengambil sebotol Fruit tea rasa anggur, yang membuatku langsung memelototinya. Gila. Kok dia bisa langsung ambil gitu saja, tanpa semedi dulu kayak aku. "Kenapa?" tanyanya melihatku melebarkan bola mata. "Adek mau?" tanyanya lagi yang langsung kurespon dengan gelengan. "Kenapa beli itu?" tanyaku mendadak keingat kalo minuman itu pernah viral pada masanya di tiktok, yang menyatakan kalo orang yang beli minuman itu tandanya dia mau cipokan. Kok bisa gitu ya? Padahal beli minuman kan mau diminum biar hausnya hilang. "Ini enak. Salah satu minuman favorit Mas," jawab Mas Dinar sembari mengangkat minuman yang membuatku berkelana itu. Aku jadi kepo, masa iya Mas Dinar gak punya fikiran sama kayak aku. Padahal kan, dia salah satu konten kreator tiktok, yang tentunya juga tau kalo minuman favoritnya itu pernah viral pada masanya. Apa emang otakku saja yang kotor? "Mbak, kondom satu," ujar seorang laki-laki yang mendadak datang dan langsung mendahuluiku yang sedang berdiri di sebelah Mas Dinar mengantri di kasir. Emang sepi sih, tapi bisa gak ngomongnya pelan, dan kalo bisa nungguin kami selesai belanja. Itu orang kayaknya gak pernah diajarin antri deh sama emaknya. Sudah memotong antrian orang, mulutnya lemes banget lagi langsung nyablak. Dia yang ngomong begitu, kok aku yang jadi malu. Melihat raut mukaku yang berubah, Mas Dinar menggengam tanganku. Laki-laki ini begitu tenang dengan senyuman yang sedari tadi terukir di wajahnya. Kayaknya, dia dalam mode tebar pesona ke Mbak Kasir. "Mas nya mau kondom juga?" Nah loh. Mbak Kasirnya ikutan error. Masa dia dengan pedenya nanyain itu ke Mas Dinar pas lagi ngeluarin duit buat membayar. Mbak-mbak itu juga sempat melirikku, lalu kembali ke layar komputer pas Mas Dinar melontarkan jawaban yang membuat mataku melebar, "Enggak Mbak, kata istri saya enakan yang ori," Huh, kenapa semua orang hari ini gak beres semua sih. "Itu minuman pernah viral. Mas gak tau gara-gara nya apa?" tanyaku lagi pas kami sudah duduk dimobil. Mas Dinar mengernyitkan kening. Dia beneran gak tau, apa berlagak sok polos sih. Masa iya dia gak ngeh, padahal tadi kasir indomaret nya natap kami bergantian, terus kayak lagi nahan senyum gitu. Mbak Kasirnya pengguna setia tiktok tuh, dia saja tau tentang gosip sebotol Fruit Tea buat pasangan muda-mudi. "Ada apa emang?" tanya Mas Dinar sembari membuka tutup botol minuman yang dibelinya, mengangkat alisnya naik, lalu meminum pelan cairan esktak teh rasa buah itu. "Adek pengen coba?" tanyanya seraya mengulurkan botol ke aku. Aku menggeleng. "Serius? Ini beneran enak lho. Bikin nagih." jelas Mas Dinar yang kurespon dengan gelengan lagi. "Gak pengen buktiin omongan warga tiktok, kalo minum ini sebelum ciuman rasanya nikmat banget?" Pertanyaan Mas Dinar langsung membuat mataku melebar. Tanganku langsung gemetaran, seirama dengan degupan jantungku yang menggema. Nah kan, itu tau, berarti tadi dia cuma pura-pura gak tau. "Ayo cepetan pulang," kataku menetralisir keadaan, seraya memakai sabuk pengaman. Mas Dinar tersenyum, dia kayak puas banget melihatku yang salting. Apalagi pipiku sudah pasti merona, nyatanya tangannya saja enteng banget mengelus disana. "Besok nikah mau?" tanyanya, sementara keinginanku buat cepetan pulang belum terkabulkan karena dia masih keukeuh buat gak menyalakan mobilnya. "Nanya saya?" tanyaku balik. "Iya. Kalo nikah sama Mas, langsung punya buku nikah." "Tapi kan saya.... " Kalimatku terjeda pas teringat kalo alasan yang dulu sering kulontarkan buat mengingatkan Mas Dinar kalo aku sudah menikah, kini ternyata sudah gak berlaku. Aku janda sekarang. Janda muda. Aku gak perlu punya surat janda, atau pengakuan dari pengadilan, soalnya nikahku saja gak diakui negara. Yang terpenting, sekarang aku gak terikat lagi dengan mantan suamiku si bajingan gila itu. "Mas gak pernah main-main sama kata pernikahan." ucap Mas Dinar lagi, lalu kembali minum. Sekotak susu rasa taro yang tadi dingin, sekarang sudah mulai hangat terasa ditelapak tanganku. Susu ini cuma kugenggam, gak berniat buat kuminum, soalnya, rasa hausku mendadak hilang. "Masih kayak kemarin, Mas masih cinta sama kamu." Dulu, pengakuan itu gak pernah kutanggapi serius, soalnya aku sadar diri kalo sudah menjadi milik orang lain. Harusnya sekarang juga masih sama, meskipun aku gak sedang dimiliki siapa-siapa. Tapi kenapa hatiku rasanya mengganjal kayak gini. Aku gak mungkin baper apalagi jatuh hati sama Mas Dinar. Mungkin hatiku sedikit melunak dan gampang berperasaan akibat luka hati yang masih basah. "Ayo pulang. Saya kebelet pipis." kataku beralasan yang kudukung dengan merapatkan pahaku. Mas Dinar melirikku, lalu matanya turun melirik kakiku yang menyilang. Menatap disana agak lama, dan membuatku risih yang akhirnya aku menekuk kakiku, menaikkan di kursi dan kusembunyikan di dalam hoodie oversize yang kupakai. Apa yang salah coba. Dia enggak banget kalo sampai tergoda gara-gara melihat kaki telanjang bocil usia delapan belas tahun. Lagian, aku pakai celana masih lima senti diatas lutut, bukannya yang benar-benar pendek dan ketat, yang pas dipadukan dengan baju oversize celananya jadi hilang, dan terlihat kayak gak pakai celana. "Oke. Kita pulang sekarang, tapi bantuin minum ini dulu." ujar Mas Dinar seraya menyodorkan minumannya. Kukira tadi dia menenggak sampai habis, ternyata masih sisa. Kenapa gak dihabisin sekalian sih. "Enggak." responku singkat, lalu menenggelamkan kepalaku ke dalam tudung hoodie, dan menolehkan kepalaku menghadap kaca biar mataku gak melihat sosoknya. "Bibir Adek itu candu, kok bisa David masih selingkuh." "Gak usah bawa-bawa nama dia. Saya muak." Mas Dinar terdiam, hanya suara tegukan air yang mengalir di kerongkongannya yang terdengar. Aku meluruskan kembali kakiku, soalnya sudah pegal begitu mesin mobil dinyalakan. Bukannya segera melajukan mobil, Mas Dinar malah mencondongkan tubuhnya ke arahku, langsung mencekal tengkukku, dan menempel kan bibirnya dibibirku, sementara tangannya yang lain mencengkram kuat pipiku, sampai membuat bibirku menganga, baru aku bisa merasakan air dari dalam mulutnya, berpindah ke mulutku. Spontan aku langsung menelan transferan air berasa anggur itu, tanpa memperdulikan berapa banyak kuman yang ikut ditransfernya juga. "Gimana? Enak?" tanyanya begitu dia melepaskan diri. Masih dalam kondisi terkejut, aku dengan polosnya mengangguk. ________ Si Dinar, sekali muncul langsung dapat janda muda. Sampai ketemu di bab selanjutnya. bye bye.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (546)
Dwi Sulistiowati
ceritanya bagus.. alur ceritanya ngalir begitu aja.. berasa kita ikut masuk ke dalam ceritanya .. 👍👍👍👍👍
26/03/2022
1
FaidahIndah
kak seru bangett, kadang gak sadar ikut ketawa2 sendiri 😂😁😁 semangat terus ya. lanjut terus nulis nya❤️
ceritanya bagus.. alur ceritanya ngalir begitu aja.. berasa kita ikut masuk ke dalam ceritanya .. 👍👍👍👍👍
26/03/2022
1kak seru bangett, kadang gak sadar ikut ketawa2 sendiri 😂😁😁 semangat terus ya. lanjut terus nulis nya❤️
05/12/2021
0good
03/08/2025
0Lihat Semua