logo text

Bab 42 Bentar Lagi Keluar

Kuker banget itu ciwi-ciwi. Kutebak, pasti mereka tukang ghibah. Lihat aja mulutnya pada mlenca mlence sambil nglirik sinis orang yang dighibahin.
Aku gak terima dong, dan balas melirik sinis juga. Bodoamat kalo ghibahnya kian santer, aku juga bisa mencla-mencle kayak mereka.
Sejak daritadi aku datang, mereka sudah melirikku dari ujung kaki sampai atas. Siapa sih yang gak risih kalo digituin. Coba aja kalo lagi ghibah tuh diam-diam aja gak usah malah dikentarain kayak gitu. Untungnya mereka kayak gitu apaan sih, jadi heran loh akunya.
"Gimana?" tanya Om David mengalihkan tatapanku ke ciwi-ciwi bergerombol yang memakai seragam kerja. Masih aja mereka berdiri disitu sambil terus melirikku, aku bukannya kepedean, tapi emang itu beneran mereka lagi mengawasi gerak gerikku. Salahku dimana coba? Ya kali aku dikira orang gembel yang masuk kesini mau beli iPhone, tapi ternyata gembelnya cuma nge prank. Aku gak bawa kamera ya, kalo mereka curiga.
"Terserah Om aja," kataku dengan nada malas. Besok-besok aku gak sudi datang kesini lagi kalo karyawannya saja kayak gitu sama pembeli. Masa iya sih, mereka ngira kalo aku baby sugarnya om-om, cuma karena aku datangnya sama laki-laki dewasa. Aku jadi pengen ngetawain mereka, soalnya tebakan mereka benar. Gak tau aja kalo malah om-om disebelahku ini adalah suamiku. Aku pengen kesana, terus bilang, "Kenapa? Iri? Bilang boss."
"Mau eskrim?" tanyanya begitu kami keluar dari toko handphone. Kalian ngira aku belinya IPhone di ibox gitu ya? Gak ada. Aku saja tinggalnya di desa lho, yang KFC aja gak ada. Ini saja aku belinya harus melewati gunung, lautan, terus tiba juga di kabupaten tetangga.
Gak papa sih, seru juga sambil jalan-jalan. Anggap saja lagi kencan sama Om David.
"Om, emang aku kelihatan bocil banget gitu ya?" tanyaku masih ingat sama ciwi-ciwi di toko handphone tadi.
Om David menggeleng, lalu mengalihkan kesibukannya dari handphone, dan menatapku dari kaki sampai kepala. "Sedikit." jawabnya.
"Pantes, masih banyak orang yang ngira kalo aku baby sugarnya om-om."
"Ya kan emang."
"Heem emang, tapi aku mending lho Om, daripada bocil tapi mukanya kayak tante-tante."
"Emang ada?"
"Ada. Banyak. Masih sekolah aja mukanya kayak ibu-ibu."
"Siapa? Teman kamu?"
"Bukan. Teman aku banyak yang mukanya sesuai umur." Aku saja juga heran, kok bisa ada anak sekolah yang mukanya kayak janda. Bukan menghina atau gimana, bentukan body nya aja sebelas dua belas loh sama ibu anak dua. Terutama dadanya, yang gembul terus padat berisi, aku jadinya iri pengen punya dada kayak gitu juga.
Kata Kenya sih, kalo ada orang yang wajahnya lebih tua dari umurnya, itu karena orangtuanya dulu menikah pas umurnya sudah tua. Gak nyambung dan gak masuk akal juga sih, aku pun gak percaya begituan. Tapi kalo emang beneran, terus anakku besok gimana. Aku sih nikahnya diusia muda ya, tapi enggak sama Om David yang sudah kepala tiga baru lepas status perjaka.
"Om gak mau?" tawarku. "Enggak? Oh yaudah." jawabku sendiri padahal Om David pengen menjawab. Laki-laki itu menatapku sejenak, lalu menggelengkan kepala mungkin sudah lelah sama kelakuanku.
"Ayo pulang." katanya begitu aku baru membuka lagi eskrim soalnya yang tadi sudah habis.
"Sekarang? Yah, padahal aku masih pengen disini loh Om, mantengin cogan lewat." kataku malas. Harusnya aku antusias dan senang banget sih soalnya handphone ku udah diganti jadi iPhone 13 beneran. Tapi enggak, dan aku malah males kalo besok kubawa ke sekolah terus teman-temanku pada kaget.
Wingki aja yang anak sultan, handphone nya android seharga tiga jutaan. Bocah itu peduli apa soal handphone kamera boba, dia mah yang penting punya handphone yang gak gampang panas buat nge game dan baterainya awet dua puluh empat jam.
Ini mungkin masih sekitar jam empat sore. Perutku keroncongan soalnya aku belum makan siang. Om David kayaknya lupa, bukannya ngasih aku makan, malah ngasih aku eskrim.
"Om, aku pengen mie gacoan." kataku pas ingat kalo kami masih di Tulungagung. Pumpung masih disini, masa iya gak pengen gitu blabas ke sana. Jangan sampai tiba di rumah baru terasa nyeselnya. Di Trenggalek gak ada lho, mie gacoan, ya siapa tau yang baca tulisan ini ownernya gacoan, terus punya rencana mau buka juga di kotaku tercinta.
"Saya gak makan mie." balas Om David yang membuat bibirku mengerucut. Kenapa sih selalu aja kami gak bisa sefrekuensi.
"Om gak usah makan, biar aku aja yang makan. " Bodoamat. Ya kali dia cuma melamun mantengin aku makan. Pasti ujungnya dia bakal kegoda juga nyium wangi makanannya. Atau kalo gak mau makan mie, kan dia bisa pesan dimsum. Menu disana kan gak cuma mie doang. Om David kalo mau alasan, coba deh yang diluar nalar gitu, biar otakku gak sampai mikirnya, terus nyerah gak mau mikir lagi.
"Itu namanya kamu egois."
"Kadang, keegoisan diperlukan dalam sebuah hubungan." kataku menirukan kalimat dalam sebuah novel yang pernah kubaca pas SMP dulu. Lumayan, ternyata daya ingatku speknya masih bagus.
"Saya gak suka, ngantri nya lama. Mending makan direstoran saya, biar dibuatin mie apapun yang kamu mau."
"Bilang aja Om gak mau keluar duit." Tapi kalo difikir, Om David gak sepelit itu sih. Nyatanya dia mau lho, beliin aku handphone mahal. Kalo cuma beliin aku seporsi mie gacoan aja, dia gak bakal jatuh miskin kok.
"Pulang aja ayo, saya masih banyak kerjaan," Om David bangkit, melihatku yang masih merajuk, dia gak peduli, dan malah membopongku langsung dibawanya ke mobil.
Laki-laki ini emang gak tau gimana rasanya jadi aku yang mendadak malu banget diperlakukan kayak gini. Di sekitar kami banyak lho, anak muda nongkrong. Ciwi-ciwi yang duduk dibawah payung besar itu kayaknya lagi iri deh sama aku yang diperlakuin kayak gini. Benar sih, perlakuan kayak gini bisa membuat perempuan baper, tapi aku enggak, dan malah malu. Beda lagi kalo Om David ngelakuinnya pas di rumah cuma ada kami berdua, pasti aku meleyot sampai kemerahan muncul dipipi.
"Loh, katanya makan diresto, kok pulang ke rumah." protesku begitu kami tiba di depan gerbang. Om David gak merespon, dia malah turun dari mobil sambil telponan.
"Jangan Aldo, Ryan saja atau siapapun pokoknya selain Aldo. Suruh ke rumah saya bawain mie gacoan."
Aku ikut keluar mau menguping apa yang dibicarakan Om David, kepo kenapa kok sampai nyebut nama Mas Aldo segala.
"Maksud saya, buatin mie kayak mie gacoan, dua porsi. Sama gorengannya juga. Anterin ke rumah saya."
Aku cuma melongo, sampai Om David selesai menelpon. Dia menyuruhku bergeser pas mau memasukkan mobilnya, setelah tadi gerbang dibuka.
"Om gak usah segitunya juga kali," kataku usai Om David turun dari mobil sementara aku sudah selonjoran di kursi teras.
"Saya takut kamu ngidam."
"Lah, aku kan gak hamil. Lagian, masuk aja belum, mana bisa. Hamil sama siapa? Sama Mas Dinar? Ya kali."
Gawat. Aku langsung menutup bibirku dengan tangan, karena sudah keceplosan. Gimana sih, kok bisa aku bercandanya gak lucu sampai kelewatan batas kayak gitu. Kan Om David tersentil ginjalnya, lihat saja paru-parunya langsung kembang kempis kayak ikan gabus.
"Emmm, maksudnya. Bukan gitu Om. Aku salah ngomong. Bukan Mas Dinar, aduh, ngapain nyebut nama dia lagi sih."
"Aku minta maaf. Mending Om ngadem dulu aja deh." kataku lagi sembari mendorong Om David buat masuk ke dalam. Laki-laki biar gak marah enaknya dikasih apaan. Biasanya kan kalo perempuan dikasih yang manis-manis, kalo Om David kukasih begituan juga, pasti dia tambah marah soalnya mengakibatkan diabetes. Masa iya kukasih susu biar sehat, terutama susu murni yang kuproduksi sendiri, tapi kan dadaku belum menghasilkan susu, gimana dong.
"Aku buatin teh anget ya Om, bentar."
Om David menarik tanganku, jadinya aku gak berhasil melangkah dan malah terjengkang duduk dipangkuannya. Laki-laki ini mendekapku, menyandarkan kepalanya di ceruk leherku. Aku jadi geli pengen ketawa merasakan hembusan nafasnya yang beradu di kulit leherku.
"Kamu tau apa yang harus kamu lakukan?" tanya Om David yang langsung korespon dengan gelengan. Gak ada materinya, kok tiba-tiba dikasih pertanyaan, kan aku bingung mau jawab apa.
Om David menolehkan kepalaku untuk menghadapnya, tapi aku malah membalikkan tubuhku sekalian, biar enak kalo mau ngomong.
"Kamu pernah benci sama seseorang?"
"Iya." Kalo boleh kutambahkan, aku bahkan pernah membencinya. Saking aku gak tahan sama sikapnya yang dewasa banget dan kadang gak peka sama kemauan bocil sepertiku.
"Orang itu akhirnya kamu benci selamanya atau kamu baikin."
Om David aneh banget deh. Aku heran, masa iya beneran dia mau ganti job jadi wartawan. Padahal dia udah enak lho jadi wirausahawan.
"Om lagi ngapain sih." kataku sambil mencoba melepaskan diri tapi Om David malah kuat mencengkeram pinggangku.
"Saya cuma tanya doang. Ada beberapa hal yang mau saya sampaikan."
"Ya kalo gitu, tinggal ngomong doang dong, gak usah nanya-nanya. Akukan jadi deg-degan serasa kayak ujian." ujarku sembari memegangi dadaku yang terasa jedug-jedug, lalu menempelkan tangan Om David ke dadaku agar ikut merasakan juga betapa aktifnya jantungku diskoan didalam sana.
"Jauhi Dinar."
"Udah dari dulu." Serius kok, cuma kalo staff TU itu masih aja kelihatan disekitarku, maklumin aja. Toh keseharian kami memang berada ditempat yang sama. Mana bisa aku melarang dia buat gak ada dimana aku berada, dia aja punya kaki buat jalan kemana saja.
"Mulai sekarang, jauhin dia. Saya gak mau mukulin dia lagi gara-gara cemburu melihat dia dekatin kamu."
Om David boleh saja gak percaya sama usaha yang kulakukan untuk menghindari Mas Dinar. Tapi, dia harus percaya kalo Mas Dinar terus yang mengejarku. Dia tuh, kalo kata pujangga, 'akan kukejar kau walau sampai ke ujung dunia'. Gak lelah, dan gak putus asa, meskipun aku berkali-kali mencampakkannya. Atau mungkin, Mas Dinar perlu kuumpati saja, saking kesalnya, daripada kupukul terus aku masuk penjara.
"Iya, aku gak bakalan. Janji kok." kataku sembari memaksa jari kelingking Om David buat mengait jari kelingkingku.
"Jangan mau kalo dia ngasih kamu minuman atau makanan." pesan Om David lagi yang kuangguki dan bakal kuingat diotakku paling dalam.
Aku setuju. Belajar dari kejadian sebelumnya, aku gak mau lagi mengulanginya. Yang kemarin masih mending sih, Mas Dinar cuma ngasih aku obat tidur, coba kalo ngasih aku air mantra agar aku kepincut sama dia, gimana nasib Om David selanjutnya, masa iya dia mau jadi duda tanpa pengakuan negara.
Selain memikirkan itu, aku jadi kepikiran sama omongan Mas Dinar yang mengatakan kalo dia saudaraan sama Om David. Kekepoanku mencuat lagi, dan aku perlu menebasnya habis, pumpung ada yang bisa kutanyai disini. Harusnya Om David mau menjawab, kalo dia gak mau aku bertanya langsung ke Mas Dinar.
Tapi aku ngomongnya gimana? Masa iya langsung to the point, nanti Om David curiga, dan aku gak mau ngaku kalo aku nguping pembicaraan mereka.
"Aku kemarin nemu foto Om berduaan sama Mas Dinar." kataku. Aku mendadak ingat sama foto yang kutemukan diruang kerja Om David, dan itu yang kugunakan buat memulai pembahasan.
"Foto yang mana?" tanya Om David dengan kening mengerut. Aku menyentuh keningnya, meratakan kulitnya agar gak lagi mengerut, soalnya kebiasaan itu bisa menyebabkan keriput. Om David gak sadar sih, kalo sekarang dia bukan abg lagi.
"Ada. Aku lihat di ruangan atas resto. Om David gak tau sih, soalnya sekarang kan ruangannya udah bersih." Nah, kan kalo membayangkan ruangan itu aku jadi terbayang sama adegan pas Om David melempar bra ku kesembarang arah.
Aku jadi penasaran, dimana mendaratnya benda itu. Kan aku malu kalo sampai nyantol di atas pintu, terus yang nemuin karyawan restoran. Kalo yang nemu Mbak Sari gak papa, tapi kalo yang nemu Mas Aldo, Mas Ryan, atau siapapun itu karyawan cowok, wajahku yang imut ini mau ditaruh dimana coba.
"Jangan-jangan Om David sama Mas Dinar saudaraan ya." Om David kelamaan tinggal ngaku gitu aja, makanya aku langsung melanjutkan point yang ingin kupastikan.
"Kalo iya, kenapa?"
Kaget sih mendengar responnya kayak gitu. Kukira Om David bakal mengelak, dan mengalihkan pembicaraan.
"Enggak kenapa-kenapa. Pantas aja, pas waktu di nikahan kemarin Mas Dinar juga ada."
Oke, cukup. Om David sudah mengaku, tapi aku masih belum puas. Aku butuh penjelasan lebih lanjut, mengenai silsiah keluarganya dan hubungan saudara kayak apa antara dia dan Mas Dinar. Aku berhak dong tau, soalnya kan Om David itu suamiku.
Rahasia yang ada dibalik bajuku aja dia tau, masa aku yang mau tau tentang keluarganya aja gak boleh.
"Dia adik tiri saya."
###
Jadi, gimana, pengennya sih libur tahun baru itu dua minggu, bukan sehari doang, ditambah libur hari raya Natal. Manalagi jarak libur keduanya renggang banget, kan kalo mau liburan bingung gak bisa jauh dari rumah.
Om David aja sampai keteteran bolak balik Trenggalek-Malang gara-gara dia gak mau ninggalin aku sendirian di rumah. Beneran deh, kayaknya dia sayang banget sama aku, dan takut juga kalo aku dikekep Mas Dinar kayak dulu tanpa sepengetahuannya. Aku gak bisa ikut kesana, soalnya masih full sekolah, dan rencanaku minggu depan aku mau memaksakan diri buat ikut, gak peduli kalo harus bolos sekolah satu minggu.
"Om hari ini mau pergi juga?" tanyaku. Ini hari Sabtu padahal, masa iya dia tetap kerja dihari libur.
Om David menggeleng, tanpa minat meresponku dengan kata dia mulai menyemprotkan air ke badan mobil.
"Tumben cuci mobil sendiri," kataku sambil menyeruput pop Ice yang kubeli dari warung perempatan. Lumayan juga, aku jadi tau kalo penjualnya putih banget kayak tembok. Dengar-dengar sih, dia albino, pantesan rambut sama bulumatanya ikutan putih. Padahal sebelumnya, kukira bule yang bangkrut terus jualan es di Indonesia.
"Iya. Mobil ini mau saya tukar. Kamu minum apa?" tanya Om David setelah sekejap melirikku lalu kembali menghayati kegiatannya.
"Air." jawabku singkat. "Ditukar lagi? Kenapa?" lanjutku.
"Gak papa-papa. Saya bosan."
Nah itu yang kutakutkan. Dia saja gampang bosan sama mobil yang masih belum ada setahun dia beli, takutnya dia bosan juga sama aku yang beberapa bulan lalu dia nikahi.
"Saya mau." kata Om David sembari melirikku lagi.
"Mana uangnya, sini aku beliin." jawabku sembari mengatungkan tangan. "Harganya dua ribu, kalo pake cup, jadi dua ribu lima ratus. Cuma aku kan kesananya pakai tenaga, jadi genapin aja lima ribu buat ongkos transport," jelasku rinci.
Om David berhenti menggosokkan spon, menatapku lalu mendekat, dan mengusapkan busa sabun ditangannya ke pipiku.
"Ih, akukan udah mandi Om." kataku kesal. Aku gak mau, soalnya sabun itu khusus buat cuci mobil. Akukan gak mau kinclong sampai nyamuk kepeleset. Coba kalo Om David ngolesnya pakai serum laneige, aku malah minta tambah biar cepat glowing.
"Motor kamu sekalian dicuci saja. Pumpung halamannya basah." ujar Om David lalu merebut pop ice ku dan meminumnya.
"Om gak jijik?" tanyaku heran. Om David kan nomor satu kalo masalah kehigenisan. Dia minum pakai sedotan bekas, yang tentu saja banyak kumannya. Selain itu, apa dia lupa pernah nyinyirin es teh yang katanya dari air mentah. Bahaya, dia mulai ketularan menjadi rakyat jelata, yang taunya penting makan dan kenyang.
"Enggak. Kenapa?" tanyanya lalu menyerahkan ke aku pop Ice yang tinggal satu sedot terus habis tinggal plastiknya saja.
"Bekas aku lho. Banyak kumannya, terus airnya dari air kobokan, Om gak jijik?"
"Buat apa? Saya malah sudah khatam ngemut lidah kamu." balasnya santai lalu kembali menggosokkan spon ke body mobil.
Benar sih, malah lebih dari itu. Kalo sudah melakukan itu, harusnya emang gak ada rasa jijik lagi. Malahan, Om David juga khatam menjilat kewanitaanku yang penuh dengan kuman. Kalo difikir, dia jorok banget ya, masa lubang pipis dijilat sangat nikmat kayak jilat permen.
"Keluarin motor kamu." perintah Om David lagi yang langsung membuatku ngacir menurutinya. Aku gak mau om-om itu kesal, soalnya kalo gitu terus, dia nanti tambah keriput. Akukan gak mau kalo dia tua duluan, padahal kulitku masih kencang. Lagian, motorku juga perlu dicuci juga, biar bersih dan anggun kayak yang punya.
"Ini balesannya," kataku semangat sembari mengoleskan busa sabun ke pipi Om David. Gak puas, aku mengoleskan juga ke keningnya.
"Saya nyuruh kamu cuci motor, bukan nyuci saya." omel Om David usai mendapat perlakuan jahil dariku. Dia malah lebih parah lho, membalasku dengan menyemprotkan air ke tubuhku. Alhasil, bajuku basah. Aku gak terima dong, dan mencak-mencak ke dia, tapi dianya malah ketawa cekikikan.
"Jahil banget sih jadi orang." kesalku sembari memanyunkan bibir. "Coba deh kalo Om digituin, gimana perasaannya," lanjutku lalu merebut selang air dari tangannya, dan menirukan apa yang tadi dia lakuin ke aku.
"Seger kok." komentarnya datar, dan gak terkejut sedikitpun pas aku menyemprotkan air ke tubuh, bahkan juga ke wajahnya.
"Awas Om, jangan ditelan, airnya mentah penuh kuman." kataku lagi lalu mengakhiri adu air yang gak mengasyikkan ini. Om David responnya kurang atraktif, jadi aku males. Mending aku cepetan selesaiin cuci motor, terus ganti baju dan maraton drakor. Tau gak, list drakorku numpuk. Tahun ini tuh banyak banget drakor seru, yang pemainnya handsome semua.
"Ada kecoa,"
Aku cuma diam, gak percaya sama omongan Om David. Dia ngomongnya datar banget, kayak gak lagi nakut-nakutin, jadinya aku gak perlu kaget, meskipun aku merasakan ada yang merambati punggungku.
"Kecoa beneran?" tanyaku dengan tubuh masih mematung. "Jijik, ilangin Om, serius, ihh..." teriakku histeris dan langsung meloncat mendekati Om David.
"Udah terbang." kata Om David masih dengan nada datar. Dia mengelus punggungku untuk meyakinkan kalo kecoanya beneran udah terbang. Bukannya lega, aku malah curiga jangan-jangan dia tadi cuma ngibulin aku.
"Om tadi bohong ya sama aku?" tanyaku sembari mengerucutkan bibirnya gemas. Saking gemasnya, aku jadi pengen nyubit ginjalnya.
"Enggak, saya beneran." Om David gak mau mengaku. Aku gak mau mempermasalahkan lagi, dan pengen hengkang aja dari sini, tapi Om David malah memeluk pinggangku dan mengangkatku di gendongannya.
"Tapi ini masih pagi." kataku resah pas fikiranku melayang ke adegan yang akan selanjutnya terjadi. Aku gak boleh begitu singkat menyimpulkan kalo Om David mau melakukan mantab-mantab, apalagi ngelakuinnya disini. Akukan gak mau kepergok tetangga, apalagi kalo ke sorot CCTV liar terus nanti viral.
"Sedikit saja, cuma pemanasan." Om David mendudukkanku di kap mobil yang basah.
"Tapi seenggaknya, gerbangnya tutup dulu." pintaku. Gak munafik sih, aku gak bakal nolak. Kewanitaanku saja sudah berdenyut-denyut pas tabrakan sama perut Om David. Aku jadi cewek kok gampangan banget ya, pengen ilfil tapi gimana.
Om David berlari buat menutup pintu gerbang, lalu balik kesini dengan berlari juga. Aku pengen ketawa, ngelihat dia yang kayak bocil adu lomba lari. Begitu tiba, dia mendorong bahuku pelan agar rebah, lalu dengan cekatan langsung meraup bibirku.
Gak sabar banget, dia kalo nyosor itu juara nomor satu. Tarian lidahnya itu lho yang bisa bikin mabuk kepayang. Apalagi sekarang tangannya mulai nakal, meraup dadaku dari dalam. Gak tahan lama, Om David menanggalkan bajuku, dan kini aku telanjang.
Dia mengambil busa sabun dari dalam ember, dan menuangkannya diatas badanku yang bugil. Rasa dingin langsung menyeruak, membuat kuncup dadaku menegak.
Dua tangan kekar miliknya langsung meremas kedua dadaku secara bersamaan, sementara aku terlena dengan ulahnya, dan kakiku menggeliat, mengapit dipinggangnya, saking gak tahan mau kulampiaskan kemana sensasi nikmat yang merajalela ini.
Busa sabun itu membuat licin, memudahkan pergerakan tangan Om David yang memijat dadaku, dengan sesekali jemarinya menyentil kuncup berwarna merah jambu. Membuatku melengah nikmat, semakin merapatkan kakiku, semakin pula kewanitaanku berdenyut dan perlahan mengeluarkan cairan hangat.
Dari sayunya mataku, aku melihat laki-laki ini tersenyum nakal. Bergantian, kini lidahnya yang beraksi membuat kuncup dadaku semakin menegak, semakin kuat pula sensasi kenikmatan yang ditimbulkan.
"Awhhhhh,"
Mau ngapain lagi selain desahan yang kulontarkan, tanganku juga sekuat tenaga menjambak rambutnya. Herannya setiap kali aku melampiaskan kepuasanku dengan menjambak rambutnya, Om David gak kesakitan, dan malah menilikku lalu dia tersenyum puas.
Dia memperlakukan tubuhku dengan sangat erotis sesuai gayanya. Gak pernah gagal, dia selalu membantuku mencapai kepuasan.
Begitu tangannya bergerilya di kewanitaanku, dia gak mau lama-lama dan melepas celana pendek yang masih tertanggal. Bersamaan juga suara gedoran pintu gerbang yang berbaur dengan suara desahan yang ku buat.
"Anna, bukain dong."
"Anna Frozen, ini Andhika..... "
"Cepetan, rasanya gue mau meninggoy."
Bocah-bocah kecil itu menggangu. Benar kata Om David, ini cuma pemanasan sebentar. Harusnya aku gak berharap lebih, karena gak estetik kalo keperawananku lepas di sini, apalagi kalo darah perawanku mengalir di atas kap mobil. Astaga, horor banget.
______
Setelah berdoa minta jodoh, keesokannya mantan saya nge chat. Saya harus gimana wahai netizen yang budiman. ಥ‿ಥ Makasih ya udah nunggu update an saya. Yg namanya juga manusia, kadang saya lupa diri, lupa makan juga, lupa kalo harus nulis cerita ini juga. maapkeun.

Komentar Buku (546)

  • avatar
    Dwi Sulistiowati

    ceritanya bagus.. alur ceritanya ngalir begitu aja.. berasa kita ikut masuk ke dalam ceritanya .. 👍👍👍👍👍

    26/03/2022

      1
  • avatar
    FaidahIndah

    kak seru bangett, kadang gak sadar ikut ketawa2 sendiri 😂😁😁 semangat terus ya. lanjut terus nulis nya❤️

    05/12/2021

      0
  • avatar
    AlwalidKhalid

    good

    03/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru