Untuk part kali ini aku saranin baca pelan-pelan biar kalian gak salah paham, okey. Happy reading. ☆☆☆☆☆ Aku pun menghentikan pergerakan suami Arini untuk tidak menghubungi sahabatnya. Takutnya prasangka dia, aku yang ngebet banget ingin mengenalnya. Karena kebenarannya aku yang tidak yakin untuk bertemu dengannya. "Mas, aku mohon gak usah, yah!" pintaku yang membuat Mas Lukman terdiam untuk sesaat. Sampai akhirnya Mas Lukman melambaikan tangan ke arah belakang ku. "Deg," degup jantungku seakan terhenti saat Mas Lukman terus saja melambaikan tangannya pada seseorang, sampai akhirnya Arini juga ikut melambaikan tangan. Aku saat itu masih diam, tanpa mau menoleh ke arah belakang. Rasanya seperti anak ABG yang minta di jodohkan. Memalukan, tapi inilah aku yang saat itu malah mengikuti ajakan Arini. Aku takut, kalo ternyata lelaki yang Arini dan Mas Lukman menakutkan, atau malah sebaliknya, dan aku juga takut kalo dia akan meminta pertemuan selanjutnya. Dih PD banget yah aku. "Fras, di sini!" Seru Mas Lukman yang membuatku membulatkan mata dan kaget mendengar nama itu. Bagaimana bisa Arini dan Mas Lukman memanggil Fras ke sini. Bukankah dia sedang melangsungkan pernikahan, atau mungkin aku salah dengar. Aku yang tak percaya akhirnya langsung memutar tubuh ku untuk mencari keberadaan Fras yang mereka maksud. Entah apa yang ada dalam benakku, yang jelas perasaan campur aduk dan penasaran untuk melihatnya Sampai akhirnya seorang lelaki yang berperawakan tinggi, hidung mancung mata yang sedikit sipit dan mengenakan topi hitam menghampiri kerumunan kami bertiga. Di lelaki yang berpenampilan stylist menurutku, bahkan wajahnya begitu tampak baby face, Aku belum menyadari saat itu, sampai akhirnya dia tersenyum ke arah Lukman, Arini dan Aku. "Apa mungkin ini yang namanya Fras? Lelaki yang akan dikenalkan kepada ku. Tapi bagaimana bisa mereka mengenalkan diriku pada lelaki yang memiliki nama serupa dengan kekasih di masa laluku. kalo begini bisa-bisa gagal move on," batinku menggumam. Arini bilang padaku kalo lelaki yang akan di kenalkan itu umurnya sudah menginjak tiga puluh lima tahun, tapi kenyataannya dia seperti lelaki yang baru umur 25 tahun. "Maaf banget, jalanan macet," kata laki-laki itu berjabat tangan pada Lukman. "Lama nunggu ya?" sambungnya. "Engga, Kok," jawab Arini yang berpindah posisi ke sampingku, "Ini temen aku Claudia?" sambungnya memperkenalkan diriku pda Fras. "Claudia," kata ku mengulurkan tangan. "Fras," jawabnya membalas uluran tanganku sembari tersenyum. Sejenak Fras terdiam dengan mata menatap ke arahku tanpa berkedip sampai akhirnya aku mendeham. "Maaf, maaf," kata Fras tersipu malu seakan salah tingkah. "Cie .... ," sarkas Arini merangkul diriku. "Sahabat ku yang satu ini cantik, kan?" Sambungnya merangkulku yang di balas anggukkan singkat Fras. "Apaan, sih," kataku pada Arini. Fras terus saja tersenyum kepadaku, jujur saja sikap dia membuatku sedikit risih dan memilih untuk menoleh ke sembarang arah. Sampai akhirnya kami berempat ke luar mall guna mencari restoran terdekat untuk makan siang. Karena saat itu weekend jadi resto di dalam hampir semuanya pada penuh dan membuat kami berempat memilih untuk ke luar. Arini satu mobil dengan suaminya. Sedangkan aku mau tidak mau ikut di mobil Fras. Keadaan di dalam mobil seketika itu terasa hening, aku yang bingung mau bicara apa memilih untuk diam. Begitu juga dengan Fras yang ikut diam seperti halnya aku. Selama beberapa menit tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun, sampai akhirnya Fras mengerem mobilnya secara mendadak. Aku yang begitu kaget, hampir saja keningku terbentur dashboard mobil. "Clau maaf, barusan ada kucing yang tiba-tiba menyeberang jalanan," kata Fras seakan panik. "Kening kamu gak apa-apa?" Tanya nya yang ku balas hanya dengan menggelengkan kepala. "Enggak apa-apa, kok. Santai aja Fras. Im okey," jawabku tersenyum tipis. Dia pun menghela napas lega dan mengusap dadanya singkat. "Syukurlah kalo kamu gak apa-apa. Bisa-bisa Lukman dan Arini marah sama aku karena sodaranya cedera," katanya yang kubalas senyuman. Setelah semua terasa baik-baik, akhirnya Fras kembali melajukan mobilnya, tak lama mobil milik Arini masuk parkiran sebuah kedai, begitu juga dengan Fras yang ikut menyusul. Mas Lukman saat itu memesan tempat duduk untuk empat orang, tapi pegawainya bilang kalo kursi untuk empat orang sudah full semuanya, dan hanya menyisakan kursi untuk enam orang. "Gimana, ini?" tanya Mas Lukman pada Arini. "Gimana apanya," kata Arini seraya mengangkat kedua pundaknya. "Ya ambil, masa iya kita nyari lagi. Lagian mau empat atau enam juga toh sama aja. Sama-sama duduk dan dapat makan," katanya membuat aku menahan senyum. Arini dan Mas Lukman memang terkadang terlihat seperti teman. Mungkin karena hubungan mereka sudah lama juga. "Ya udah, Mba. Kita ambil kursi itu," kata Mas Lukman yang membuat pelayan tersebut menujukan arah kursi yang kosong. Cukup lama kami menunggu makanan yang kami pesan datang, sampai akhirnya setelah menunggu kurang lebih satu jam hidangan kami pun diantar. "Maaf, Buk, Pak. Harus menunggu lama," kata pelayan tersebut saat meletakan hidangan ke atas meja. "Gak apa-apa kok, Mba. Kami mengerti disini sangat ramai pengunjung," jawabku "Iya, Mba," timpal Arini. Setelah semuanya tertata rapi kami pun segera menyantapnya. Tidak heran kamu harus menunggu lama, selain tempatnya ramai dengan pengunjung ternyata masakannya juga memang lezat, dan itu mampu membuat ku dan Arini menjadikan tempat ini sebagai tempat langganan kami kedepannya. "Ca...!" Panggil seorang laki-laki yang sangat aku kenal sekali suaranya. Aku yang mendengar samar belum menyadari asal suara tersebut dari mana asalnya, sampai akhirnya Arini memanggil nama lelaki yang membuatku langsung menoleh ke arahnya. "Hanif. Kamu ada di sini?" tanya Arini yang membuat aku, Fras dan Mas Lukman menoleh ke arahnya. "Lah, Mas. Kamu kok ada di sini?" tanyaku kaget, dan di balas senyuman singkat. Hanif tidak menjawab pertanyaanku, dia malah meminta ijin pada kami untuk duduk dan gabung. "Boleh kok, duduk aja, Mas," kata Mas Lukman yang membuat Hanif tersenyum dan berterimakasih. Hanif duduk tepat di sebelah ku, karena kursi yang kosong saat itu ada di sampingku dan Mas Lukman. Arini menatapku dengan tatapan mengintimidasi. Aku yang bingung hanya bisa mengangkat ke dua bahu dengan dahi yang kerutkan. Arini ada-ada aja, ngapain coba liatin aku kaya begitu. Lagian juga Bagaimana mungkin aku mengajak Mas Hanif kesini, bahkan setiap pesan yang dia kirim saja aku jarang membalasnya. "Sudah lama gak ketemu, Mas lukman sama Arini bagaimana kabarnya," sapa Mas Hanif yang membuat kami semakin bingung. Bahkan pertanyaan aku saja dia tak menjawab, sekarang malah sok-sok an menanyakan kabar Arini dan suaminya. Lalu aku di anggap apa sama dia. Nyamuk? "Baik, Mas," jawab Arini. "Baik, Mas. Dan Mas Hanif sendiri apa kabarnya?" timpal Mas Lukman. "Baik juga. Oh iya, by the way saya ganggu kalian tidak?" kata mas Hanif yang membuat aku dan yang lainnya terdiam sejenak. Sampe akhirnya Mas lukman menjawab. "Tidak, Mas." "Saya lagi menunggu Client di sini, kebetulan liat kalian. Jadi sembari menunggu saya memilih menyapa kalian dulu," kata Mas Hanif yang membuat kami mengerti.
Sedangkan Fras hanya diam, mungkin dia bingung mau bicara apa. Lagian dia juga tidak mengenal Mas Hanif itu siapanya aku. What? Kenapa aku baru sadar. Apa Arini dan Lukman bilang sebelumnya pada dia, kalo Mas Hanif adalah masa laluku. Aku yang baru menyadari hanya bisa mengusap kasar wajahku dengan sedikit membelakangi Mas Hanif. "Clau, kenapa?" tanya Fras menatapku. "Kamu gak enak badan bukan?" Sambungnya yang ku balas gelengan kepala. "Ca ..., kamu kenapa?" timpal Mas Hanif dengan nada kawatir yang membuatku berasa ingin menghilang dari tempat itu secepat mungkin.
***** Makin gemes gak sama ceritanya. Bantu vote sama Komen yah All. Love youu so muuuchhhh ♡♡♡♡♡ follow me @ayyana_haoren (IG/FB.)
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (723)
Kty Felydiqa Phi Francis
cerita nya sangat bagus saya suka first time baca sukaa sangattttt
cerita nya sangat bagus saya suka first time baca sukaa sangattttt
19/05/2022
1the best stories 🥰
05/04/2022
1buktikan uang nya dulu
16d
0Lihat Semua