Beranda/KEMBALIKAN CINTA YANG HILANG/
Bab 28.1 Kembalinya cinta yang Hilang
Aku menatap ke arah jurang yang memiliki ketinggian lebih dari lima puluh meter itu, di bawahnya terdapat sungai dengan aliran air yang mengalir deras. Bahkan aku yakin sekali jika kita loncat nyawa jadi taruhannya.
Entah kenapa pikiran itu seakan mendorongku untuk terjun ke dasar jurang tersebut. Aku kembali terdiam untuk sesaat, meratapi kembali nasibku yang seperti hilang arah.
Sudah dua bulan lamanya aku hanya berdiam diri di atas kursi roda. Seperti orang bodoh yang tidak bisa berbuat apa-apa bahkan mau makan, mandi saja minta bantuan pada orang lain. Untuk melakukan aktifitas kecil dan ringan aja rasanya sulit.
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa saat itu aku bisa duduk di tepi jurang yang curam dengan sebuah kursi roda, pasalnya jarak rumah sangatlah jauh untuk sampai ke lokasi ini. Biar kuceritakan sedikit.
Pagi tadi Raina mengajakku untuk pergi ke sebuah pegunungan, untuk sekedar menghirup udara segar di waktu senggang. Raina tau kalau aku menyukai pegunungan dari pada hamparan laut.
Aku lebih suka menghirup udara segar di tengah pegunungan dengan angin sepoy-sepoy dan tetesan air yang jatuh dari bukit, bahkan aku juga menyukai air terjun dan suara nyanyian burung-burung.
"Apa kamu bercanda mengajak orang lumpuh pergi ke pegunungan," kataku merasa tersinggung dengan ajakan Raina.
Raina mendekat ke arahku dan menekuk kedua lututnya tepat di hadapanku. "Ada Rara sama suami. Rara akan bantu kak Caca untuk untuk menikmati keindahan pohon pinus. Bukankah kakak menyukai itu," katanya mencoba meyakinkan diriku.
Mungkin maksud Raina baik, ingin mengajakku jalan-jalan sebentar, agar aku juga bisa menghilangkan penat karena selalu mengurung diri di dalam rumah.
"Baiklah," jawabku yang membuat Raina dan Bunda tersenyum.
Ini pertama kalinya aku keluar dari rumah setelah kepulangan ku dari rumah sakit.
Tidak butuh waktu lama perjalanan dari rumah ke tempat tujuan hanya menempuh waktu empat puluh menit.
Sesampainya di tempat tujuan Raina langsung mengajakku untuk keliling, bahkan untuk sesaat aku kembali mengingat pernikahan yang aku impikan dan tidak terlaksana itu. Perlahan aku mulai kembali melupakan Mas Fras, mungkin karena dia memang bukan ditakdirkan untuk menjadi jodohku. Dan aku juga mencoba mengihlaskannya.
Di saat asik berkeliling tiba-tiba saja anak sulung Raina merengek ingin buang air besar ke toilet, sedangkan suami Raina saat itu memilih diam di area parkiran. Beralasan menunggu temannya yang akan datang juga ketempat itu.
"Kak Caca gak apa-apa kan Rara tinggal sebentar?" Katanya yang ku jawab anggukkan singkat. "Tapi kakak janji gak akan kemana-mana. Pokoknya kakak tunggu disini!" Pinta Raina.
"Iya, Ra. Yaudah sana anter dulu anak kamu, kasian udah kebelet," kataku yang membuat Raina langsung berpamitan dan pergi.
Aku tidak mendengarkan apa yang di perintahkan Raina, malah aku terus saja menyusuri tempat-tempat yang menurutku menarik dengan menjalankan kursi roda sendirian oleh kedua tanganku.
Dan sekarang aku susah berada tepat di titik pertama, yaitu pinggir jurang yang curam.
Seberapa frustasinya aku saat itu, hanya aku dan Tuhan yang tau bagaimana. bahkan saat itu pikiranku begitu buntu ingin segera mengakhiri penderitaan ini semua.
Aku yakin dengan ada atau tidaknya aku, itu tidak akan membuat orang-orang di sekitarnya merasakan kehilangan akan sosok diriku.
Lagi pula siapa aku? Apa gunanya hidup di dunia ini. Bukankah aku saat ini tak jauh beda dengan sampah. Yang sudah tidak terpakai dan juga di butuhkan lagi. Mana ada orang yang mau memelihara barang rusak seperti ini yang jelas-jelas sudah tidak bisa jalan.
"Tuhan ...! Kenapa engkau tidak cabut saja nyawaku saat itu, kenapa juga engkau harus menyiksaku terus-terusan seperti ini. Apa belum cukup adil untukmu menyiksaku. Aku tau kalo aku sudah menyakiti dan menyia-nyiakan seseorang yang sudah tulus mencinta ku, tapi kenapa engkau hukum aku dengan cara seperti ini, Tuhan..." Aku yang saat itu berteriak dalam kesunyian.
Ku coba merekatkan kedua mataku rapat-rapat, dan kembali memutar roda tempat yang sedang aku duduki. Berharap luka dan harapan itu lenyap bersama kepergian ku.
"Maafkan Caca, Bunda. Caca sayang sama Bunda," ucapku menggumam dengan Mata yang di rekatkan.
Semakin kuat aku memutarnya, semakin sulit juga roda itu berputar.
"Ada apa ini? Kenapa sulit sekali," batinku yang membuka kembali kedua mataku dan menoleh ke arah roda.
Bukan roda yang kulihat, melainkan sosok lelaki yang sudah lama sekali tak kulihat.
Aku menatapnya dengan seksama mencoba menggapai dan meraba wajahnya, berharap itu bukanlah mimpi, tapi ternyata lelaki itu benar-benar nyata di hadapanku. Bibir ku bergetar begitu juga dengan mataku ikut bergetar, bukan hanya itu mataku mulai berkaca-kaca saat menatap lelaki yang kini menatapku.
"Apa kamu sudah gila! Belum puas kamu membuat orang-orang di sekelilingmu menderita, apa kamu pikir setelah kamu mati orang-orang di sekitarmu akan hidup bahagia. Tidak bisakah kamu hidup normal seperti dulu. Di mana Claudia yang aku kenal dulu, yang bisanya marah-marah dan mengkritik orang." Perkataan lelaki itu yang membuatku masih terdiam tak percaya.
Apa ini nyata? Apa dia benar-benar sedang berada di hadapanku?
"Mas! Apa ini kamu benar-benar kamu, Mas?" Tanyaku mendekap wajah lelaki yang mempunyai senyuman khas dengan kedua tangan.
"Bodoh! Memang kamu pikir siapa lagi orang yang mempunyai wajah seperti ini!"
"Bukannya kamu sedang berada di luar negri?" tanyaku yang masih tak percaya.
"Aku memang bekerja di luar negri, tapi bukan berarti aku tidak boleh menginjak negara kelahiran ku sendiri, kan?"
Aku yang masih tak percaya terus saja menatap dirinya yang masih bersikap datar kepadaku.
"Di sini dingin, sebaiknya aku antar kamu pulang. Takutnya ada perempuan gila yang mau bunuh diri lagi," katanya dengan nada sarkas.
Aku tidak peduli dia bicara apa, tapi ini pertama kalinya dia memaki-maki diriku bahkan memarahi diriku.
Entah kenapa pertemuan ini sangat berarti untukku, setidaknya kalau pun nanti aku mati, aku bisa minta maaf terlebih dahulu pada dirinya.
Lelaki itu terus saja mendorong kursi rodaku dengan sabarnya ke parkiran, sampai akhirnya aku tersadar, mobil miliknya bersebelahan dengan mobil milik Raina yang kini sedang tersenyum ke arah kami.
Raina? Apa yang sebenarnya terjadi di balik pertemuan ini semua? Apa mungkin ini sudah di rencanakan sebelumnya. Atau mungkin teman yang di maksud suami Raina itu Mas Hanif?
"Ra, biar Mas yang antar kakak kamu," katanya yang membuat Raina mengangguk singkat.
"Hati-hati yah, Mas Hanif!" Seru Raina yang membuat dirinya memberikan senyuman khasnya.
Yah, benar. Dia Mas Hanif lelaki yang selalu sabar menghadapi kelakuan buruk ku. Lelaki yang di tunggu oleh seluruh keluargaku karena kebaikannya.
Dia lelaki di balik semuanya, lelaki yang membiayai perawatan ku selama koma.
Kalau bukan karena Bunda yang tak sengaja mendengar percakapan pak Haris di telepon dengan dirinya, mungkin sampai sekarang kami tidak tau siapa lelaki dermawan tersebut.
Lebih tepatnya Pak Haris orang suruhan Mas Hanif.
Sepanjang perjalanan dia hanya diam tanpa menoleh atau bicara kepadaku, sedangkan aku terus saja menatap wajahnya tanpa henti.
Apa ini lelaki yang aku benci selama ini, apa benar-benar dia? Tapi kenapa dia tidak pernah menampakan kebenciannya terhadaku? Kenapa ada orang yang berhati malaikat seperti ini.
Sampai akhirnya Mobil yang Mas Hanif kendarai terparkir rapi depan rumah Bunda.
Mas Hanif segera ke luar dari mobil setelah memarkirkan mobilnya, tapi yang aku heran dia malah melewati bagasi tempat di mana kursi rodaku berada, dan langsung membuka pintu mobil di sampingku.
"Apa dia lupa kalau aku tidak bisa..."
Belum selesai aku memgumam, dia sudah mengangkat ku dalam pangkuannya. Dia membopong tubuhku memasuki rumah milik Bunda. Bahkan aku lihat Bunda saat itu sudah membukakan pintu untuk kami berdua.
Lelaki yang selama dua bulan terakhir ini selalu Bunda bicarakan.
Follow yuk IG/Fb aku. @ayyana haoren)
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (723)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
cerita nya sangat bagus saya suka first time baca sukaa sangattttt
19/05/2022
1the best stories 🥰
05/04/2022
1buktikan uang nya dulu
26d
0Lihat Semua