Bab 23. Bentuk Cinta

Ananda Frasetyo lelaki yang membuatku ingin sekali mencabik-cabik wajah dan juga memukuli tubuhnya. Bagaimana bisa dia bertindak sejauh ini tanpa sepengetahuan ku? Bagaimana bisa bunda dan keluarga merencanakan ini semua bersama Fras? Kenapa aku tidak mengetahuinya sama sekali.
Bahkan saat tadi aku menghubungi dirinya, Fras seakan menghindar dan tak menginginkan diriku lagi.
Aku kesal saat itu, tapi entah kenapa rasa bahagia ku lebih besar dari pada rasa kesalku. Yang jelas aku tidak pernah menyangka sebelumnya kalo ini hari lamaran ku bersama Frasetyo.
Lelaki yang kini sudah ada di depan mataku nyatanya mampu membuatku tersenyum merekah dan bahagia.
Nyebelin, ngeselin, mungkin kata-kata itu yang pertama ingin aku segera lontarkan pada lelaki yang sedang membalas senyumanku.
Fras terus mendekat ke arah ku,  untuk  memasangkan cincin di jari manisku.
"Claudia Ilona, di depan orang banyak aku ingin nyatakan perasaanku, sudikah kamu menikah denganku? Menjadi ibu dari anak-anakku kelak?" tanya Fras yang membuat air mataku tak bisa di bendung dan malah menetes begitu saja.
Aku mengangguk ke arahnya sembari tersenyum. "Aku mau, Mas," jawabku tanpa ragu.
Semua tersenyum ke arah kami, dan Fras langsung menyematkan cincin di jari manisku.
"Kamu jahat, Mas," gumamku agar tak di dengar banyak orang
"Tapi jahatnya aku kali ini bikin kamu bahagia, kan?"
"Tapi ini gak lucu, aku gak suka cara kamu yang seperti ini."
Saat prosesi lamaran berlangsung kedua pihak keluarga langsung mencari tangal baik untuk prosesi pernikahan aku dan Mas Fras. Dan hari yang yang paling bahagia itu di tentukan satu bulan setelah acara ini berlangsung.
Aku dan Fras sangat bahagia saat itu, begitu juga keluarga kami yang ikut bahagia melihatnya.
Aku tidak tau rencana Tuhan setelah ini, tapi aku yakin Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk kebahagian ku di masa yang akan datang.
Entah kenapa aku ingin sekali acara ini cepat selesai, banyak pertanyaan yang ingin di tanyakan pada Bunda. Karena dari bundalah aku akan tau alasan kenapa Fras mau melamar secara tiba-tiba. Bisa saja aku menanyakan ini juga pada Fras, tapi aku menginginkan cerita itu keluar dari mulut Bunda.
Jujur saja beberapa tahun terakhir ini hubungan ku dan Bunda tidak terlalu dekat, banyak sekali ungkapan hati yang aku tidak sukai dari Bunda.
Dari mulai Bunda menyuruhku nikah secara paksa, membandingkan diriku dengan anaknya yang lain, bahkan candaan yang membuat aku sering merasakansakit hati.
Aku pikir bunda tak peduli lagi dengan perasaanku. Tapi aku yakin Bunda punya alasan tersendiri untuk semua ini.
"Ca, apa kabarnya kamu, nak? Mamah kangen sama kamu," kata Ibunda Fras secara tiba-tiba menghampiri dan mengusap lembut rambutku.
"Caca baik, mah. Mamah gimana sehat?" tanyaku yang di balas anggukan singkat.
"Mamah baik, sayang," ibu Fras tersenyum. "Mamah doakan semoga kamu jadi pelabuhan terakhir buat Fras," katanya yang membuatku dan Fras mengaminkan ucapannya secara bersamaan.
Aku dan Fras saling melempar senyum saat itu, dan itu membuat Fras menarik tanganku sampai mendekat ke arah tubuhnya.
"Nyebelin," sarkasku seraya mencubit pinggangnya dengan begitu kencang. Sampai akhirnya Fras mendesis dan merekatkan giginya karena menahan rasa sakit.
"Sakit, sayang!"
"Bodo amat," jawabku yang pura-pura tak mempedulikannya.
***
Pagi itu saat di meja makan aku mencoba menanyakan pada Bunda tentang kebenaran antara dirinya dan Fras. Harusnya aku menanyakannya semalam, berhubung semua keluarga repot jadi aku menundanya sampai pagi ini.
Bunda menghela napas berat dan menceritakannya dengan rinci sedikit demi sedikit tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Bunda kenapa gak terus terang sama Caca," kataku.
"Bunda cuma tidak ingin kalau kamu sampai patah hati untuk kesekian kalinya gara-gara Fras. Bunda juga takut jika ujungnya apa yang di janjikan Fras tidak sesuai dengan yang di harapkan sama kita. Soalnya Bunda sendiri saja gak yakin sama ucapan Fras. Tau sendiri dia sering ingkar sama apa yang dia bicarakan."
Perkataan Bunda benar-benar membuatku terdiam, terkadang sering kali aku menyalah artikan sikap Bunda yang tiba-tiba acuh dan sebaliknya. Tapi yang pasti saat itu aku benar-benar bersyukur karena bunda masih mementingkan perasaan anaknya. Aku pun beranjak dan mendekat ke arah bunda.
Sebuah pelukan mendarat sempurna tepat di tubuh wanita hebat yang ada di hadapanku. "Makasih banyak, Bun," kataku yang membuat bunda mengusap punggung ku dan mengangguk.
"Semoga kebahagian selalu menyertaimu," kata Bunda yang membuat mataku berkaca-kaca karena haru. "Yasudah cepat habiskan makanannya, bukannya kamu harus pergi ke kantor," perintah bunda yang langsung ku balas anggukan.
"Sekali lagi, makasih banyak, Bunda."
"Iya, iya..., kalo kamu bilang terimakasih terus lalu kapan selesai makannya."
"Iya, Bunda...!" jawabku memberikan senyuman tulus.
Aku tidak tau kenapa Bunda sulit sekali mengungkapkan perasaan sayangnya kepadaku, bahkan dia juga jarang untuk membalas pelukanku. Tapi yang jelas dengan perhatiannya yang seperti ini, itu mampu membuatku bahagia.
Kalau di tanya kapan terakhir Bunda peluk, aku sendiri saja lupa kapan terakhir Bunda memelukku dengan penuh kasih sayang.
Setelah selesai sarapan, tak lama ku dengar suara yang sedang membunyikan klakson mobil.
Aku pun tersenyum bahagia saat mendengar suara tersebut.
"Jemputannya udah datang tuh...!" Sarkas bunda yang membuatku mengulum senyum bahagia.
Bagaimana aku tidak semakin jatuh cinta pada sosok lelaki yang kini sedang menunggu ku di luar, bahkan dia rela tidak pulang ke jakarta, dan memilih memesan hotel agar bisa balik ke jakarta bersamaku.
"Yaudah kalo gitu Caca pamit, yah, Bun." Aku yang saat itu mencium tangan Bunda.
"Hati-hati di jalan. Bilang saman Fras jangan ngebut," pinta Bunda.
"Iya ...., Bunda...," kataku seraya pergi meninggalkan dirinya.
"Lama gak?" tanyaku saat Fras membukakan mobil dari arah dalam.
"Lumayan lama, sampe beruban malah," jawabnya yang membuatku mendesis. "Gimana tidurnya, nyenyak?" Fras yang saat itu mencoba memasangkan seat belt ke tubuhku.
"Gak begitu," jawabku dengan gaya sok imut dan dahi di kerutkan.
"Kenapa?"
"Gimana mau nyenyak dari semalam itu ada cowo yang ngajakin telponan sampai jam satu malam. Gila gak tuh!" kataku dengan nada sarkas dan melirik ke arahnya.
Dia pun tersenyum sebelum akhirnya meminta maaf kepadaku. Sampai akhirnya mobil yang di kendari Fras melaju dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan aku dan Fras membahas tentang konsep seperti apa untuk acara pernikahan. Dan konsep outdoor menjadi pilihan untuk kami berdua.
"Bagaimana kalo kita cari tempat daerah pegunungan aja, Mas. Aku pengen banget nikahnya kaya di Film favorit kita," kataku yang menginginkan konsep pernikahan seperti di film Twilight.
Entah kenapa aku suka sekali dengan pernikahan ala-ala di film Hollywood, dan salah satunya seperti di film Twilight. Siapa sih yang gak tau pernikahan ala Bella Swan dan Edward Cullen, di film berseri Twilight itu? Kisah penuh fantasi dan terkenal romantisnya. Dan mereka juga memiliki pernikahan yang begitu menakjubkan. Tak cuma bertema serba putih, scene ini menampilkan tampilan serba natural di setiap sudut. Tempat menggelarnya juga tidak biasa, yaitu di hutan. Ada mawar, freeshia, sampai sweet pea yang serba putih juga
"Ide bagus, tuh. Sepertinya bakalan keren," jawabnya antusias.
Aku tersenyum kecil membayangkan betapa indahnya konsep seperti itu.
Namun senyuman ku itu berubah dalam sekejap saat aku mendapati sebuah pesan singkat dari seseorang yang ku kenal.
"Congrats, Claudia Ilona. Semoga berbahagia atas pertunangannya semalam." Tertulis Hanif.
Bagaimana dia tau kalo aku bertunangan. Dia tau dari mana? Bukankah dia sedang ada di luar negri? Atau mungkin ada pihak keluarga yang memberitahunya, tapi siapa?

Komentar Buku (723)

  • avatar
    Kty Felydiqa Phi Francis

    cerita nya sangat bagus saya suka first time baca sukaa sangattttt

    19/05/2022

      1
  • avatar
    Florenica Mike

    the best stories 🥰

    05/04/2022

      1
  • avatar
    wida mail

    buktikan uang nya dulu

    16d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru