Bab 34 Epilog

"Le, Umi pulang ya,"
"Loh gak nginep satu malam lagi Mi?"
Terlalu singkat jika Umi hanya menginap satu malam di rumahku. Biasanya Umi akan berhari-hari disini apalagi anak dan cucunya sedang berkumpul.
"Ibrahim besok sekolah," kata Umi sementara sosok yang dibicarakan langsung datang dengan muka cemberut.
"Bolos aja, ngapain sih sekolah," kataku pada Ibra saat tangannya meraih tanganku untuk dikecup.
"Besok ujian Mas," sahutnya dengan raut wajah yang masih sama-sama cemberut.
Aku mengantarkan mereka hingga ke depan pintu. Menatap dengan seulas senyum hingga mobil yang mereka kendarai sudah tidak terlihat lagi.
"Assalamualaikum,"
Sebuah motor terparkir di halaman disertai sapaan salam dari pengendaranya.
"Waalaikumsalam,"
"Mbakmu udah siap-siap Dam?"
"Gak tau Mas,"
"Umi di dalam juga?" tanyanya lagi.
"Baru aja pulang Mas. Masa gak papasan mobilnya di jalan?"
"Kok buru-buru tumben,"
"Ibra besok ujian katanya,"
Setelah bercakap-cakap denganku, suami Mbak Ina itu melenggang masuk menghampiri istrinya.
"Dam,"
Da ya, siapa lagi gerangan yang datang? Ardan si artis tiktok yang sekarang sibuk di dunia pertiktokan. Sibuk membuat konten hingga lupa sama pekerjaan utamanya. Yang jelas laki-laki itu sekarang punya banyak followers di Instagram dan sebentar lagi open endorsment.
"Ada sisa makanan gak? Laper banget gue,"
Tanpa menunggu persetujuan dariku, laki-laki itu dengan bebas melenggang masuk ke rumah. Entah apa yang akan dia temukan begitu tiba di dapur, semoga tidak mengecewakan.
"Assalamualaikum," Suara salam lagi. Yang kali ini terhatur dari sosok laki-laki yang datang bersama perempuan cantik berhijab warna oranye. Halaman rumahku yang tidak luas tampak penuh dengan kendaraan yang para tamuku bawa. Padahal di rumahku tidak lagi ada acara, dan mereka tidak aku undang.
"Waalaikumsalam. Mari masuk," kataku menyilahkan.
Setelah bersalaman, mereka duduk di kursi ruang tamu rumahku yang sempit. Seenggaknya rumahku sudah selesai dibersihkan dan tampak rapi.
"Gimana kabarnya Mas?" tanyanya padaku.
Aku menarik bibir, tersenyum lalu menjawab, "Alhamdulillah baik,"
"Niat kami kesini mau ngasih undangan Mas. Datang ya," Dia mengangsurkan sebuah undangan warna merah muda dengan desain bunga-bunga di atas meja.
"Wah.... akhirnya nikah juga kalian. Selamat ya, semoga samawa,"
Mendengar kabar bahwa teman-temanku akan menuju halal, rasanya bahagia sekali. Sebagai dukungan bahwa menuju halal adalah sebuah sunah rosul, maka aku dengan senang mendoakan, juga datang ke resepsi jika sudah hari H nanti.
"Gimana Mas?" tanya Nanda kemudian yang membuatku menaikkan satu alis mengartikan jika pertanyaannya ambigu untukku.
"Apanya yang gimana?" tanyaku balik.
Laki-laki itu tersenyum, lalu menggeleng. "Gak jadi Mas,"
"Ih apaan sih kamu Mas, gak jelas deh," seru Rara yang duduk di sampingnya.
"Masya Allah, calon pengantin udah sampai sini aja,"
Suara itu langsung membuat hatiku dingin, menciptakan seulas senyum tulus begitu melihat sosoknya yang datang meski tampak kesusahan berjalan.
Aku dengan sigap langsung membantunya duduk. Menempatkan tubuhnya agar nyaman di kursi sebelum kembali duduk di tempatku.
"Bumil.... sehat sehat ya," Dua kecupan hadir di pipi kiri dan kanannya dari Rara. Membuatku iri ingin mengecup pipi yang kini gembul bak bakpao isi kacang hijau.
"Mas kok gak bilang-bilang kalo mereka datang," protesnya kepadaku dengan bibir sedikit mengerucut. Ekspresi itu tampak lucu, membuatku ingin memberi kecupan disana, tapi urung karena gak mungkin aku melakukannya di hadapan sepasang calon pengantin. Kasihan, nanti mereka jadi tidak sabar ingin segera halal.
"Kami baru aja datang kok, bumil...Ini niatnya tadi aku mau langsung ke kamarmu aja," ucap Rara yang membuatku lega karena ucapannya bisa membelaku.
"Maaf ya baru bisa datang sekarang. Kemarin toko rame banget soalnya. Kemarin gimana? Lancar kan acara tujuh bulanannya?" sambung Rara lagi.
"Alhamdulillah lancar kok. Btw kalian udah makan? Makanan di dapur masih banyak banget lho. Mau aku siapin?"
"Enggak usah. Kami ambil sendiri aja, yuk Mas,"
Sepeninggal Nanda dan Rara ke dapur, perempuan itu menatapku dengan ekspresi cemberut. Bibirnya mungilnya tambah mengerucut seolah menggoda untukku cium disana.
"Kamu kenapa Dek?" tanyaku sambil melangkah mendekatinya.
"Teman kamu itu, tiramisu keju aku dihabisin semua. Cuma sisa yang coklat, padahal kan aku gak suka coklat Mas,"  sungutnya. Aku terbahak, mengelus kepalanya yang terbalut hijab bergo warna army, lalu mengecup keningnya lembut.
"Siapa? Ardan?" tanyaku.
Dia mengangguk.
"Yaudah nanti beli tiramisu lagi ya. Jangan cemberut gitu,"
"Tapi pengennya sekarang Mas. Aku kan udah nahan pengen makan itu dari tadi malam tapi tadi malam masih sibuk, gak sempet. Baru mau makan, eh udah habis," ceritanya kepadaku yang membuatku ingin kembali tertawa menyaksikan gerakan bibir mungilnya yang menggemaskan.
"Iya, sekarang aku beliin, biar anak aku nanti gak ileran," kataku sambil mengelus dengan sayang perutnya yang membesar. "Sekarang, Mas boleh dong dapat hadiah?"
Keningnya mengernyit. Raut wajahnya menyiratkan kebingungan. Tak tahan melihat ekspresi menggemaskan itu, aku menarik dagu imutnya. Dengan cepat, aku mengecup bibir mungilnya yang tampak menggoda dari sejak awal kehadirannya.
"Lagi," katanya setelah aku menjauhkan diri.
"Mau lagi Mas, cuma sedikit gak kerasa,"
Aku tersenyum, lalu kembali menunduk. Meraup bibirnya yang selalu terasa manis meski sudah kucicipi berulang kali. Tangannya melingkar di leherku, menuntutku untuk memperdalam ciuman kami. Tak menolak, tanganku mencengkeram rahangnya. Saling menghisap, hingga suara kecupan terdengar bersahutan. Kami lupa jika kami tidak berdua disini. Kami lupa, jika ada banyak orang sedang bernafas di rumah ini. Tapi, kami tidak peduli.
"Mas, aku ngidam." katanya setelah melepas tautan bibir secara mendadak. Aku sedih dengan ulahnya itu, tapi segera kuusir rasa sedihku karena teringat bahwa hari-hariku bersamanya masih panjang, dan dia selamanya menjadi milikku. Jadi, adegan seperti ini masih bisa kuulangi bersamanya nanti.
"Ngidam apa? Tiramisu? Aku beliin sekarang lho," kataku sambil hendak berdiri. Tangannya mencekalku kuat, mencegah tubuhku untuk berdiri. Alhasil aku memilih berjongkok di depannya, karena tidak kuat jika terus-menerus menunduk untuk menjajari tingginya, sementara dia dalam keadaan duduk.
"Aku ngidam pengen mukulin Ardan,"

Komentar Buku (498)

  • avatar
    InInong

    lumayan bagus

    17/05/2025

      0
  • avatar
    miaawwwWmiAaww

    baguss kak aku jdi tau gimana rasa nya pnya suami polisi, wkwk

    15/05/2025

      0
  • avatar
    AuliaAnis

    bagus bnget😍

    04/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru