Beranda/Istri Sah Pak Polisi/
Bab 24 Satu Langkah Menuju Pernikahan
"Mau kemana Bra?"
Adikku itu baru saja keluar dari kamar mandi di Sabtu pagi. Mandi pagi di hari libur, itu sangat jarang dia lakukan. Jika dia lakukan, berarti dia tidak akan tinggal diam di rumah saja.
"Ikut dong." katanya sembari masuk ke kamar.
Tanganku mengaduk mie instan yang ku rebus.
"Kamu ikut gak guna juga." kataku keras, agar suaraku bisa terdengar sampai ke kamar Ibra yang pintunya tertutup.
"Biarin lah, lha wong Mbak Mala aja ngiyain,"
Aku mencebik. Tidak bisa dielak, bahwa Ibra lebih dekat dengan Mala daripada aku. Mereka berdua satu kantor, tidak tau juga jika Ibra bahkan menceritakan hal jelek tentangku. Tidak peduli, yang jelas nyatanya Mala malah semakin nempel sama aku.
Aku segera mematikan kompor dan menyiapkan mie ku untuk sarapan. Mengecek nasi yang juga ku masak di magic com, sudah matang, siap disantap dengan Indomie. Makan mie dengan nasi, wajib hukumnya. Jika tidak, belum bisa disebut makan.
Nanti sekitaran pukul sepuluh, keluargaku akan datang.
Mungkin juga beberapa tetangga dan teman dekat Abi.
Mbak Ina tidak ikut karena hamil tuanya.
Cukup bisa buat bukti, jika aku benar benar akan menikah. Agar omongan ibu-ibu di desa tidak lagi terdengar.
Aku saja yang mau ngelamar masih santai menikmati Indomie, Ibra yang tidak ada peran apa-apa malah sudah bersiap. Tinggal mandi saja nanti, baju yang akan ku pakai juga sudah siap di lemari.
Kemarin, Mala menyuruhku untuk ke butik. Mengambil bajuku, yang berwarna senada dengan baju Mala yang akan dipakai juga nanti.
Tentu aku semangat, karena akan bertemu Mala juga disana. Tapi nasib berkata lain, tidak ada Mala hanya karyawan yang kutemui. Bahkan Rara, owner butiknya pun tidak ada disana.
Menurut pernyataan dari Nanda, mereka sedang sibuk mempersiapkan lamaran. Entah dari dekorasi, kamera, dan perintilan lain, yang aku sendiri juga tidak tau.
Kata Nanda, aku suruh diam disini. Aku menurut saja, karena Nanda lebih pengalaman.
Mala juga tidak ikutan sibuk, dia berserah diri kepada dua orang temannya, yang sesuka hati mendekorasi rumahnya.
Sejujurnya, Mala bukan tipe orang yang ribet. Tidak ada dekorasi ataupun sesi pemotretan juga tak apa, baginya yang penting acaranya.
Sesimple itu.
Sementara diluar sana, orang lain akan menunjukkan foto lamaran mereka, dengan pose memakai cincin tunangan, ataupun foto mesra yang lain. Apalagi, jika mereka memiliki profesi yang tinggi. Pasti, pamernya juga tinggi.
Mala tidak begitu. Seakan aku yang berprofesi sebagai polisi, dianggap sebagai manusia biasa saja. Tidak masalah, malah bagus kan tidak pamer. Yang penting aku diakui sebagai calon suami.
Persiapanku tidak banyak. Aku hanya perlu mempersiapkan diri, itu saja. Karena ater-ater atau hantaran lamaran juga dibawa Umi dari rumah.
Umi yang menyiapkan semua. Tanpa minta pertimbangan dariku, tapi pasti malah meminta pertimbangan Mbak Ayu, istri Mas Fahri.
Tentu Umi yang lebih tau ukuran sepatu Mala, kan yang sering kencan dia, bukan Adam, anaknya. Lebih tau selera tas, dan juga peralatan lain yang termasuk dalam hantaran.
Sudahlah, aku cukup ikut saja. Biar mereka ikut campur, tapi awas pas malam pertama tidak ada yang boleh ikut campur.
Rambutku kucukur rapi, walaupun tidak kentara karena aku akan memakai kopyah hitam.
Ini nanti aku pake sarung apa gimana? Biar kelihatan alimnya. Keren juga kan, nanti kalo foto sama Mala aku pake sarung. Tinggal post di Instagram pasti banyak yang komentar, "Habis sunatan ya?"
Yang jelas hari ini tanggal pernikahan ditentukan. Aku tidak mau jika terlalu lama. Cepat-cepat saja, agar ranjang sebelahku tidak kosong.
Otw nikah rasanya begini ya. Senang, deg-deg an, tidak sabaran. Serasa jatuh cinta di masa SMA terulang lagi.
"Hoi Dam......"
Mie yang ada di mulutku, terpaksa kuputus. Kepalaku mendongak, mataku menatap sosok yang berdiri di depan pintu. Ini tamu bukannya mengucap salam, malah bikin kaget.
Mengalihkan dari Ardan yang sudah duduk di sofa, aku melirik motor yang dia bawa kesini, terparkir di halaman rumah. Apa saking menikmati Indomie, aku sampai tidak mendengar suara motor Ardan.
Ardan tampak tampan dengan baju yang dipakainya.
Kemeja garis-garis panjang berwarna abu-abu muda, dan juga celana bahan panjang warna hitam.
Rambutnya disisir klimis, dengan pomade yang terlihat mengkilat di rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan. Bukan asli, Ardan sendiri yang menyemir seperti itu. Katanya biar seperti anak tiktok.
Dia bahkan juga menyetaniku untuk ikutan menyemir rambut. Dan aku menolak mentah-mentah, karena Abi tidak mengajariku untuk menyemir rambut.
"Kok masih bau iler lo? Niat lamaran gak sih? Apa gue aja nih yang lamaran?" katanya dengan nada sarkas.
Usai menelan makanananku, aku bersuara. "Jadilah, masih pagi juga."
"Gue kaget sumpah, masa iya mendadak lo ngomong ke gue mau lamaran. Lo gak pernah curhat ke gue, kalo punya cewek, gak pernah ngomong juga kalo pacaran.
Wah...gentle lo,"
Sedikit aku tersenyum sinis, menunjukkan bahwa aku memang gentle seperti yang Ardan katakan.
Memang, aku baru kemarin memberitahu Ardan untuk ikut serta menemaniku lamaran. Sengaja tidak memberitahu bahwa aku sudah menemukan Mala, Ardan terlalu riuh jika kuberi tahu tentang hal itu.
Pasti tidak percaya jika aku akan menikah dengan model. Lalu histeris jika dia sudah percaya, dan was-was juga jika dia menikung karena Mala terlalu cantik buat jadi rebutan.
Tidak seperti itu juga sih. Ardan pasti tidak akan berbuat seperti itu..Tikung menikung sepertinya tidak berlaku di zaman sekarang, dan tidak berlaku juga untuk Ardan yang memiliki wajah diatas kata pas-pasan.
Ardan tidak perlu tau, bagaimana galaunya aku sebelum masa ini. Dia kuberi tau yang enaknya saja. Biar aku sendiri yang merasakan tidak enaknya.
"Yang kaya gue gini, yang namanya laki," kataku membanggakan diri.
"Jadi, model butik langganan emak gue itu, yang jadi calon lo?"
Aku menyenderkan punggungku di sofa, melegakan perutku yang kenyang menghabiskan sepiring Indomie goreng dan nasi.
"Iyalah. Gimana? Cantikkan? Cocokkan sama gue?"
Aku menaikkan alis, memancing Ardan untuk mengatakan 'iya'. Lebih tepatnya sih, ajang pamer jika kelajanganku menuju zona berakhir.
"Sesuai lah sama selera lo, ukhti berpipi kemerahan-merahan,"
Aku tau Ardan mengatakan itu dengan sedikit tidak enak, dalam maksud mungkin dia tambah tidak enak jika mengatakan seusia hatinya, bahwa Mala memang cantik.
Ardan tau, jika tipe perempuanku, perempuan dengan aurat tertutup, dan tentu juga solehah.
Dia memberi sebutan 'ukhti berpipi kemerah-merahan' seolah menyesuaikan dengan yang sedang hits di Instagram.
Padahal, Mala bukan tipe ukhti seperti itu.
Aku pernah memaksa dia untuk memberitahu akun Instagram pribadinya..Kepo dengan jumlah followers nya yang kutebak puluhan ribu..Kepo juga dengan foto yang dia post, selain fotonya di akun butik.
Tapi, dengan kukuh Mala menjawab,."Aku gak punya Instagram, mas....demi Allah. Dulu pernah punya, tapi aku hapus karena gak penting,"
Garis bawahi kata 'gak penting'. Semua manusia dari berbagai jenis kalangan, tau namanya Instagram, aplikasi nge hits yang menurutku isinya foto ajang pamer..Dan Mala bisa mengatakan seenteng kata 'gak penting' untuk menilai Instagram dalam kehidupannya.
Jadi semakin cinta, pengen cepet buat anak jadinya.
Aku tidak tau, dia menyesal atau tidak telah menghapus akun itu, yang sekarang lagi nge-hits nge-hits nya.
Yang pasti sih tidak. Jika iya, pasti dia sudah membuat akun lagi sekarang.
Sejauh ini, benar kan jika Mala ku benar-benar berbeda.
"Oh iya, lupa gue. Udah sarapan apa belum lo? Kalo belum, masak mie sendiri aja sana,"
Ardan membuang muka. Dia menggerutu keras.
"Yaelah, sarapan lo udah habis, baru ingat nawarin gue. Sae lo Dam...."
====
Satu tahapan awal menuju halal, yang sama sekali belum kubayangkan, dikebiasaanku menjelang tidur malam.
Lamaran ini, belum sempat kubayangkan, betapa gugup dan senangnya aku. Sementara tahapan ijab qobul, resepsi, bahkan malam pertama sudah lebih dulu kubayangkan.
Terlalu halu memang, hingga lupa bahwa realita nyatanya tidak semanis gula. Aku duduk berseberangan dengan Mala yang duduk di apit orang tuanya. Mengamati Mala yang tampak manis dengan make up ala lamarannya, yang kuyakin hasil karya tangan si Mbak Salon bernama Sisil. Aku melihat perempuan itu tadi, menyapaku saat aku dan Ardan baru tiba, dan kubalas sekenanya saja.
Mala mengenakan gamis brokat berwarna senada dengan kemeja yang kukenakan.
Tatapan mataku seakan sudah terjadwal, berurutan memandang Mala, lalu menatap para tetua yang sedang merembukkan tanggal pernikahan, menekuri tikar jika Mala mendadak menatapku, dan juga menatap rumah Mala yang didominasi warna putih.
Ada satu foto yang terbingkai pigura besar di salah satu sisi tembok. Foto keluarga saat pernikahan, yang kutebak adalah kakak perempuannya yang tadi sempat berkenalan diri, dan kini duduk di sisi kanan ibunya.
Disebelah kanan sedikit lebih rendah, ada foto Mala saat wisuda sarjana, sedangkan di sebelah kiri, foto wisuda Mala saat SMK terpajang disana.
Sebentar lagi, foto keluarga pernikahan kami, akan terpasang juga di sebelah sana.
"Iya, aku ikut keputusan keluarga,"
Hanya itu kata yang keluar, saat Abi meminta pendapat tentang tanggal pernikahan.
"Dam...yakin lo? Tahan gak nungguin habis lebaran," Ardan berbisik, pertanyaan yang mewakili ketidakpercayaannya atas jawabanku.
Tidak masalah juga, aku ikut keputusan keluargaku dan Mala. Pernikahan dilaksanakan satu bulan setelah lebaran. Jika hari ini bulan Maret akhir, dan lebaran bulan Mei, satu bulan setelah lebaran, berarti bulan Juli.
Tiga bulan lagi dari sekarang, tidak masalah.
"Yakinlah, gue kuat," balasku dengan berbisik juga.
Aku membiarkan Ardan bergumam lirih yang kuyakin hanya aku yang mendengar. Aku sempat kesal tadi, menyadari bahwa Ardan mengenakan baju dengan warna yang sama sepertiku.
Aku sadar usai aku mengenakan bajuku, jika aku menyadari lebih awal saat dia baru datang ke rumah tadi, pasti sudah kusuruh ganti.
Tapi karena waktu sudah mepet, dan kami harus mengikuti mobil keluarga yang menuju kesini, akhirnya kubiarkan saja, sambil menggerutu di boncengannya.
Bisa nyasar juga jika kehilangan mobil keluarga, yang lebih sering kesini, karena aku sendiri juga baru pertama kali.
Hingga tiba disini pun, rasa kesalku bahkan menghilangkan rasa deg- degan ku. Bagaimana bisa, malah Ardan yang disangka calonnya Mala, bukan aku.
Padahal, tampannya masih tampanan aku.
"Ihh kaku banget lo Dam....santai kenapa, gue tau disamping lo itu cewek cantik..."
Ingin aku melempar Ardan dengan sebotol teh pucuk harum, yang tak jauh dariku. Bahkan Mala yang disampingku ikut berkomentar juga jika Ardan adalah laki-laki yang 'juweh'.
Nanda saja yang sebagai photograper diam-diam saja aku pose begini.
Tidak menghiraukan Ardan yang tampak cemburu buta denganku, aku malah fokus dengan degupan jantungku, saat Nanda menyuruhku pose seperti ini.
Mari sejenak keluar dari aturan keluarga kami, dan mengikuti aturan Nanda. Biarkan saja, toh keluarga kami juga di dalam, tidak melihat jika anak mereka sedang dilanda kegugupan yang sangat besar.
Aku gugup, tidak tau dengan Mala. Tapi melihat ekspresinya biasa saja, dengan senyum yang selalu menghiasi, memberiku pernyataan bahwa Mala sepertinya tidak gugup.
Atau gugup, tapi dia terlalu pintar menyembunyikannya.
Daripada aku yang selalu tidak bisa luwes di depan kamera, Mala berbanding terbalik, mengingat bahwa kesehariannya dipenuhi dengan pose-pose di depan kamera.
Tambah deg-degan lagi, banyak anak kecil yang melihat kami.Sebenarnya hanya anak kecil sih, tapi entah mengapa malah membuat jantungku berdebar keras.
"Mas, agak mepet dikit,"
Nanda mengarahkan, dengan menggerakkan tangannya, mengisyaratkan bahwa aku harus lebih mendekat ke tubuh Mala.
Ini aku gugup banget, tapi Mala biasa saja.
Saking gugupnya, aku sesegara mungkin mengikuti arahan Nanda untuk menggeser tubuh, tidak memperdulikan bahwa langkahan kakiku terlalu lebar, dan sepatuku menginjak gamis bagian bawah yang Mala kenakan.
Akibatnya, Mala oleng. Ekspresinya terkejut, dan aku bingung, tanganku refleks meraih pinggangnya, membawanya ke tubuhku, agar dia tidak mendarat di lantai.
Kami saling diam di posisi ini. Tanganku erat merengkuh pinggang Mala, sementara Mala entah sejak kapan kedua tangannya melingkar di leherku. Wajah kami berdekatan, aku bisa merasakan hembusan nafas Mala, bisa melihat detail polesan make up di wajahnya.
Bibirnya yang berpoles gincu merah, sedikit terbuka. Telingaku mendengar degupan jantung yang beradu, mungkin degupan kami. Tak bisa kuelak, bahwa aku nyaman berada di posisi ini.
Tidak peduli bahwa suara anak kecil riuh menyoraki kami, kami tidak bergeming. Bahkan telingaku juga mendengar Ardan misuh-misuh dari tempatnya duduk.
Uluran kamera ponsel yang kulirik dari ekor mata, bahwa Sisil yang melakukannya, memotret kami diposisi ini, sama sekali tidak mengalihkan kami.
Seolah kami dipaku pada posisi ini. Rasa dingin yang menjalar dileher tempat tangan Mala melingkar, membuat gelenyar aneh tubuhku mendadak muncul.
Tangan Mala dingin, degupan jantung kami berpacu, kami sama-sama gugup sekarang.
Manik matanya yang berwarna hitam legam, dengan pola aneh diseliling bola mata, kemana mata coklat miliknya? Apa ini soflens. Melihat bahwa ukuran bola matanya terlihat lebih besar, dari biasanya yang ku lihat.
Ingin satu tanganku terulur, membelai dagu mungil yang selalu membuatku penasaran, meraihnya sebelum jariku berganti membelai bibirnya yang terbuka menggoda, dan menggiring menuju bibirku, mengecupnya dalam.
Ya Allah.
"Sipp.....oke bagus!!!" ucapan Nanda yang terdengar seperti teriakan, melesak ditelingaku. Entah dia sengaja, agar kami teralihkan atau gimana.
Mala langsung menjauhkan tubuhnya. Aku juga berusaha setenang mungkin, agar tidak kelihatan kikuk.
"Hai Afifa, mau foto sama mbak enggak?"
Mala menghampiri anak kecil perempuan yang tampak menggemaskan dengan baju Frozen. Sedikit kentara, bahwa tingkahnya itu peralihan dari rasa kikuknya.
Anak itu menggeleng, dengan bibir mengerucut.
Tidak memperdulikan bahwa Mala memakai high heels yang lumayan tinggi, dia menggendong anak kecil yang berusia sekitar empat tahun.
"Kenapa? Permen mau? rayunya, sementara anak digendongannya masih menampakkan ekspresi sebal.
Membuatku menarik kesimpulan bahwa Mala ternyata sayang anak-anak.
"Eh laki, foto sama gue yuk...."
Mataku beralih ke Ardan yang tengah digoda Sisil.
Ardan berontak, terlihat ogah-ogahan saat si Mbak Salon menarik paksa tangannya.
"Sekalian sama lo deh," katanya yang ditujukan kepadaku.Dengan terpaksa kami akhirnya mau berfoto dengan Sisil yang berpenampilan nyentrik.
"Lagi Ndol...."
Tidak hanya sekali, bahkan Sisil memaksa Nanda yang dipanggilnya 'Nandol' untuk memotret berkali-kali.
Aku yang awalnya masih senyum di potret pertama, cemberut di potretan selanjutnya. Tentu Ardan malah sudah cemberut di awal, dan lebih cemberut sekarang.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (498)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
lumayan bagus
17/05/2025
0baguss kak aku jdi tau gimana rasa nya pnya suami polisi, wkwk
15/05/2025
0bagus bnget😍
04/05/2025
0Lihat Semua