logo text

Bab 21 Serendipity

Manusia setampan dan sesempurna Richie ternyata punya nasib yang cukup menyedihkan. Kukira selama ini keceriaannya adalah bawaan dari lahir, tapi tak tahunya untuk menutupi ini. Untung saja ia belum kumasukkan dalam daftar list orang-orang yang kubenci.
Tak lama setelah membesuk Olin, kami pun pergi ke gereja untuk mengikuti webinar psikologi anak. Esa jadi tidak banyak omong selama sesi itu. Ia hanya terfokus mengisi kolom-kolom formulir yang diberikan atas materi tentang pentingnya bermain pada anak.
Bangku-bangku dibiarkan berjarak, dan aku memperhatikan para Ibu yang memangku anak-anak mereka sambil mencatat point penting yang disampaikan dengan cermat. Tidak ada kejengkelan yang dipendam atau ancaman kecil kepada anak yang sudah bisa berlarian ke sana ke mari hingga menangis histeris kala membentur sudut meja. Orang tua mereka hanya memberitahu, menggeleng jika tidak setuju, membisikkan sesuatu kalau anaknya tidak mau diam, atau yang terakhir mengoper tugas kepada Ayah untuk dibuat terlelap.
Semuanya begitu gaduh, tapi bukan masalah. Selama orang tua mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi masalahnya sekarang adalah aku. Aku yang merasa terganggu.
“Terjadi di Amerika katanya?”
“Apa?”
“Itu .…” Mata Esa menyipit, bukan untuk memperjelas wajah Narawicaranya, tapi untuk memperjelas pendengarannya.
“Anak-anak ini berisik!” misuhku kesal.
Tak lama Esa pun menjangkau pembicaraan itu sepenuhnya dan mengangguk paham.
“Oh,” katanya kemudian memberitahukannya padaku. “Terjadi krisis bermain di Amerika pada anak-anak TK ditahun 2009. Katanya terlalu difokuskan membaca dan berhitung untuk persiapan masuk SD. Akibatnya—”
“Anak menjadi lebih agresif, ‘kan? Memukul, melawan guru, bahkan membuat onar di sekolah… aku juga dengar yang itu.”
“Hm…” Ia tiba-tiba memandangku seperti hilang fokus untuk beberapa saat.
“Kenapa?”
“Kamu nggak catat itu?”
“Sudah, kok.”
“Oh, ya?”
“Iya. Ini kan!”
“Kenapa wajahmu kusut begitu?”
“Anak-anak itu berisik!”
“Namanya anak-anak. Mereka berisik karena sedang bermain. Bermain kan katanya tadi penting untuk anak usia dini.”
Aku diam saja. Ia malah bertanya lagi. “Kamu terganggu?” Yang membuatku dongkol setengah hidup.
“Jelas. Aku tidak bisa fokus.”
“Kalau kamu Ibunya, kira-kira apa yang akan kamu lakukan ketika anak-anakmu berisik seperti itu?”
Ingin sekali kujawab: ‘Kubeli lakban dan tali tambang untuk memplester mulutnya sebelum kuikat mereka semua di pohon. ’ Namun itu sudah pasti jawaban yang frontal. Terdengar psikopat. Bisa-bisa Esa langsung memutuskan hubungan kerja secara sepihak denganku.
“Hm, pertama aku akan beri tahu untuk tidak berisik secara baik-baik. Kalau tidak mau mendengar sampai lima kali, baru kuajak keluar untuk memilih mau pulang atau tetap di sini dengan syarat tidak boleh berisik. Sembilan puluh Sembilan persen mereka akan memilih diam di sini tapi tidak berisik, bukan? Nah, kalau sampai melanggar, sangsinya: ‘pulang.’ Mau tidak mau, suka nggak suka. Kami akan buat kesepakatan seperti itu lebih dulu.”
Materi webinar berlanjut dengan balasan Esa yang masih tersendat dalam tenggorokkan. Ia terlihat ingin sekali mengutarakan pendapatnya namun memilih untuk tetap fokus pada narasumber terpercaya. Namun saat melihatnya menopang satu siku di ambang jendela mobil taksi yang kami tumpangi ketika pulang, caranya menggigit ujung kuku-kukunya dengan gusar sembari melemparkan tatapan jauhnya ke langit, membuatku tak tahan untuk tidak menumpahkan tanda tanya di dalam benak.
“Memangnya kalau kamu yang menjadi ayah anak-anak tadi, cara membuat mereka agar tidak berisik bagaimana?”
Bibirnya jadi manyun karena dagunya naik. Ia berpikir cukup hati-hati.
“Aku nggak merasa mereka berisik. Tapi membiarkan mereka begitu saja memang tidak bagus, sih.”
“Terus?”
“Berikan mainan squisy saja. Kamu tahu, ‘kan? yang kenyal-kenyal itu, untuk mengalihkan fokus.” Aku mengangguk karena tahu.
“Anak yang hiperaktif itu biasanya disebabkan oleh kekurangan olahraga. Energinya sangat banyak jadi membuatnya tidak bisa diam. Menyuruh mereka diam hanya akan membuat energi yang harus diluapkan itu menjadi menumpuk. Jika sudah menumpuk perilaku hiperaktifnya malah semakin menjadi-jadi.”
“Jadi? Solusinya bagaimana?”
“Mereka harus diajak berolahraga.”
“Olahraga apa?”
“Sederhana saja. Seperti renang, main lempar tangkap bola, ayunan, lompat trampolin, atau bersepeda. Pokoknya aktifitas yang dapat menstimulasi gerak tubuh anak. Apalagi olahraganya dibarengi bermain, itu dapat melatih fokus dan keseimbangan tubuh.”
Aku mengangguk. Mengaku bahwa perencanaanku untuk mendisiplinkan anak tadi kurang benar.
“Tapi, kamu sendiri sudah pernah mengajak anak-anak renang atau olahraga sejenisnya?”
Esa memanyunkan bibir lagi. “Belum,” jawabnya sambil menggaruk pelipis. “Aku baru tahu beberapa hari yang lalu. Lagi pula anak-anak kita tidak ada yang hyperaktif seperti itu.”
Dengar, ia baru saja menyebut ‘anak-anak kita,’ kepadaku. Aku harus berpikir universal. Jangan sampai salah paham.
“Tapi untuk bermain bebas tanpa hambatan, mau kau taruh di mana anak-anak itu semua nantinya? Tempat kos itu mustahil dipakai belajar mengajar atau bahkan bermain. Tahu sendiri tetangga banyak yang julid.”
Lagi-lagi Esa tertawa atas perkataanku.
“Akan kuusahakan pindah secepat mungkin,” tukasnya jelas. Aku mengernyitkan dahi.
“Caranya?”
“Membangun rumah dan tempat bermain.”
“Hanya untuk anak-anak bermain, kamu bangun rumah?”
Ia menggeleng ringan. “Tidak ada kata ‘hanya’ untuk kebahagiaan anak-anak.”
Crazy rich memang, pikirku.
“Kamu mau tinggal bersamaku?”
Aku tersentak. Ia sudah berbicara hal seperti ini beberapa kali namun tetap saja jantungku belum terbiasa. Terkejut pun sepertinya butuh latihan.
“Maksudmu apa? Menikah?”
Ia pun mengendikkan bahu. “Kamu mau menikah?”
Sebelum mendengar jawabanku yang terbata-bata, ia tanpa aba-aba langsung menggenggam jemariku untuk ditariknya mendekat. Masih menatap dengan cara yang sama.
“Kuterima lamaranmu. Dengan senang hati.”
“Tidak lucu,” kataku langsung menarik tanganku sendiri. Memberi jarak lagi.
“Aku tidak sedang melucu.”
“Tetap saja. Jangan menyepelekan hal serius.”
“Aku serius.”
“Serius apa?” Tantangku dengan mengangkat dagu. Ia menelan saliva.
“Menikah denganmu.”
“Gila.”
Alisnya berkerut.
“Gila?”
“Kamu sudah tahu menikah itu untuk apa?”
“Untuk bahagia lah ….”
“Lalu penting memilih siapa yang akan membuatmu bahagia, bukan? Kenapa malah memilihku?”
“Memangnya kenapa?”
Kupikir kami serasi karena sama-sama bodoh. Namun sepertinya ia harus tahu tentang apa yang sedang kualami.
“Aku sedang sakit Esa. Tidak bisa berpikir dengan baik.”
Ia pun terhenyak. Terhenyak cukup lama sebelum terbelalak akan maksudku. Ini yang tak ingin kuketahui dari dulu kala harus mengkonsultasikan diri ke psikiater. Seolah memvonis depresi itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang professional sepertinya. Itu memang benar, tapi aku juga mengerti atas apa yang kurasakan. Aku tahu rasa sedih dimalamku itu bukan rasa sedih yang wajar dialami setiap orang dijam 12 malam.
Aku tahu kehilangan harapan itu bukan rasa putus asa yang bisa dengan sungguh-sungguh direncanakan dengan membuat tanda silang menggunakan spidol merah pada setiap angka dikalender untuk menghitung mundur kematian sendiri. Aku tahu kemampuan tidak bisa tersenyum itu bukan hanya karena aku malas tersenyum, atau bahkan tindakan menyakiti diri sendiri itu bukan hanya untuk membuatku merasa hidup kembali. Tapi itu semua sebenarnya …. karena rasaku mati.
“Noumi.”
Dan mengenai hidup yang telah kupakai dengan segala kesia-siaan ini, kuharap bisa kukembalikan dengan utuh pada pemilik-Nya, sebentar lagi.

“Kalau tinggal denganku itu menurutmu keputusan yang sulit, apa boleh aku saja yang tinggal bersamamu?”
***

Komentar Buku (59)

  • avatar
    Bonar Jatim

    siplah

    30/09/2025

      0
  • avatar
    r******7@gmail.com

    Baguss

    02/07/2025

      0
  • avatar
    Julian

    sangat bagus sekali

    13/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru