Malam hari ketika mama, papa dan Riko telah selesai makan malam dengan ragu Riko memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginannya. "Pa, ma dua tahun lagi aku lulus kuliah. Usaha juga aku sudah ada, aku ingin melamar Kania" ucap Riko. Papa dan mamanya saling pandang, sejak awal mamanya menentang jika Riko menikahi Kania. Mengingan jarak usia mereka yang cukup lama. "Ko, apa tidak ada wanita lain yang membuatmu jatuh cinta?" tanya mama. Riko menggelengkan kepalanya dan meminum air putih dihadapannya hingga habis. "Aku sudah sejak sekolah ma, mencintai Nia. Sudah tiga tahun aku menunggu, dan aku tidak mau jika Nia menjadi milik laki-laki lain. Aku sudah janji ke Bimo, ma untuk menjaga Nia dan kedua anaknya" jawab Riko. "Pa... kasih tahu anakmu itu!" ucap mama. "Ma, janji harua ditepati apalagi berjanji pada orang yang sudah tiada" jawab papa bijak. "Papa... jadi papa setuji jika Riko menikahi janda itu?" teriak mama. "Janda itu memiliki nama ma, Kania!" jelas Riko. Mama bangkit dari duduknya, sebelum pergi mama mengatakan sesuatu hal yang membuat Riko gamang. "Dengar Riko, langkahi dulu mayat mama jika kamu berniat menikahi wanita itu" ancam mama. Riko mengusap wajahnya kasar, perkataan mamanya sungguh diluar dugaan. Papa melirik kearah Riko, putra tunggalnya sejak dulu selalu menjadi anak baik. Tak pernah membantah kemauan orang tua. "Ko, biar papa yang bujuk mama. Kamu fokus saja dengan usaham dan kuliah. Lulus dulu jangan terlalu sering menemui Kania" kata papa. Sejak mama bersikap seperti itu membuat Riko menjaga jarak dengan Kania dengan alasan Riko sibuk kuliah dan bekerja. Kania akhirnya menolak tawaran untuk dibelikan ruko, Kania memilih membuka salon di rumah tanpa harus mengeluarkan dana. Kania disibukkan dengan menjadi perias acara pernikahan dan persewaan pakaian. Dalam waktu satu tahun namanya di dunia perias mulai naik, pelan keuangannya pun ikut membaik. Riko sekali waktu datang ke rumah untuk memastikan Kania, Bintang dan Kinan baik-baik saja. Kania menyadari jika Riko sedikit menjaga jarak dengannya, namun Kania memilih pura-pura tidak tahu meskipun dalam hatinya sangat tersiksa saat mereka berduaan dalam satu mobil maupun ruangan. "Ko, sekarang kehidupanku sudah lebih baik. Kamu lihat bisnis salonku sudah lumayan banyak pelanggan. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan kami lagi" kata Kania. Saat ini Kania dan Riko dalam satu mobil saat Riko meminta Kania menemani makan malam. "Memangnya kenapa kalau sudah membaik?" tanya Riko. "Aku tahu mamamu tidak menyukaiku" kata Kania lirih. "Aku semakin tua Ko, dan aku pun menginginkan memiliki pasangan hidup. Dua hari yang lalu mas Krisna memperkenalkan aku dengan seorang duda tanpa anak. Aku sedang memikirkan tawarannya, aku pikir sudah saatnya aku menata hidup dengan laki-laki lain. Lepaskan aku, Ko! Turuti apa yang mamamu mau!" kata Kania. "Jadi kamu menyerah?" tanya Riko. "Nia tatap mataku, katakan jikq kamu tidak mencintaiku!" kata Riko. Kania menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata Riko. Dia sangat mencintai Riko, pria itu mengangkat dagu Kania dengan jarinya. Setelah itu wajah Riko maju tanpa berkata apa pun Riko melumat bibir Kania dengan lembut. Semula kecupan Riko pelan namun lama-lama berubah menjadi panas, tangan Riko mulai berani menyusup masuk ke dalam pakaian Kania. Diusapnya kedua bongkahan bukit kembar milik Kania. Kania yang telah lama tidak mendapat sentuhan menikmatinya, suara desahan lolos begitu saja dari bibirnya saat tangan Riko memilin dan meremas kedua bukitnya. "Ah... Ko jangan terlalu keras" pinta Kania. Riko yang sekian tahun menahan hasrat untuk tidak menyentuh Kania kali ini dirinya sangat menginginkannya. Tangan Kania mulai berani memegang senjata Riko, dielusnya dengan pelan sehingga membuat Riko mengerang keenakan. "Emmm" Kania berbalik dan naik diatas Riko, dengan menaikkan roknya digesek-gesekkan pantatnya diatas senjata Riko. Membuat Riko kalang kabut, dengan satu gerakan Riko membuka kancing pakaian Kania hingga terlihat bukit kembar Kania yang tersembul dibalik penutupnya. Tanpa banyak kata Riko membuka kaitan penutup itu dan membuangnya ke jok belakang, bagai bayi yang kehausan Riko menyesap dan meremasnya dengan rakus. Kania mendongakkan wajahnya dan memegang kepala Riko agar menyesapnya dengan lebih dalam. Desahan Kania yang keras membuat Riko makin liar, diturunkannya jok mobilnya. Dengan cepat dibukannya rok Kania, kemudian diturunkan celana panjang miliknya hingga hanya tersisa boxser saja. Kania menatap takjup senjata milik Riko, dengan pelan diturunkan boxser Riko kemudian tanpa berkata apa pun Kania mengulum senjata Riko dengan pelan. Riko yang belum pernah mendapat perlakuan itu keblingsatan menikmati. "Ahhh Nia, rasanya luar biasa" ucap Riko. Riko dan Kania terbuai suasana dengan sama-sama menuntaskan hasrat terpendam mereka. Saling mencintai dan membutuhkan membuat keduanya lupa jika kegiatan itu tak seharusnya dilakukan sebelum adanya akad. Setelah kejadian di mobil itu mereka menjadi sering bertemu sekedar untuk melampiaskan keinginannya. Kania tak mau melakukannya di mobil lagi, sehingga mereka berdua sepakat pergi ke hotel. Hingga suatu sore saat Kania selesai merias pengantin perutnya terasa sangat mual dan kepala pusing. "Ko, mengapa aku mual dan sangat pusing!" keluh Kania. "Terlalu capek Nia, pulang yuk aku antar biar kamu bisa segera istirahat" kata Riko. Kania melihat kalender yang ada di ponselnya, dia teringat jika dirinya belum mendapat tamu bulanan sejak tiga minggu yang lalu. "Ko, aku sudah telat tiga minggu. Bagaimana ini?" tanya Kania cemas. "Beli testpack dulu atau langsung ke dokter saja biar langsung tahu hasilnya" ucap Riko senang. "Ke apotik dulu saja" jawab Kania. Dengan cepat segera Riko mengendarai mobilnya dan mencari apotik terdekat. Riko turun dan membeli beberapa testpack. Kania membelalakkan matanya saat melihat Riko membeli alat itu sebanyak lima biji. "Untuk apa beli sebanyak ini?" tanya Kania. "Ya, dari pada beli bolak balik" jawab Riko. "Ayo pulang" ajak Kania. Sepanjang jalan Riko tak berhenti tersenyum membuat Kania terheran-heran. "Mengapa tersenyum begitu?" tanya Kania. "Jika benar kamu hamil pasti mama akan langsung setuju menikahkan kita" kata Riko. "Seharusnya kita berjuang dengan cara yang benar Ko, bukan seperti ini" ucap Kania. "Kamu menyesal?" Tanya Riko. "Ya bukan masalah menyesal atau tidak Ko, tapi cara kita jelas salah" jawab Kania. "Siapa suruh naik ke pangkuanku sampai maju mundur diatas barangku? Jangan salahkan aku jika langsung hilang kendali" jawab Riko. "Hehehe... habisnya kamu bikin aku tidak tahan Ko!" ucap Kania lirih dan malu-malu. Kemudian mereka berdua tertawa mengingat peristiwa di dalam mobil dua bulan yang lalu. Riko sangat yakin jika saat ini Kania tengah hamil.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
best .. so smart
12/11
0baguss bangett kerenn
11/09/2025
0good
04/05/2025
0Lihat Semua