Hari ini aku akan pergi ke sekolah seperti biasa. Senang sekali aku bisa kembali merasakan suasana di sekolah. Tentunya, aku juga sudah rindu dengan Cecilia. Berkali-kali ia menghubungiku dan bertanya tentang kabar Ayah. Kebetulan Cecilia tak sempat menjenguk Ayah ketika di klinik. Karena Cecil, sedang sibuk dengan urusan Band serta orang tuanya sedang berada di rumah. Sehingga ia menghabiskan waktu luangnya untuk berkumpul dengan ayah dan ibunya. *** Aku melangkah keluar gerbang, dan pada saat itu aku berpapasan lagi dengan Kak Rio. Hal yang selalu kubenci, karena aku yakin dia akan membuat keributan lagi. Dia itu saudaraku, tetapi aku nyaris tak menganggapnya sebagai saudara. Mungkin dia pun juga demikian. Buktinya dia sering mengataiku sebagai 'Anak Haram' kalimat yang sangat menyakitkan dan sangat kubenci. Belum lagi perlakuan buruk yang lain, seperti meminta uang dengan paksa, dan tak jarang bertingkah kasar. “Wah, udah mau berangkat, lu?” sapa Kak Rio dengan tertawa selengeannya. Aku mendengus kesal sambil melipat tangan, aku pun berusaha mengabaikannya. Netraku mengarah ke jalanan, aku sedang menunggu Bintang menjemputku. Dia bilang akan mengantarkan aku ke sekolah hari ini. “Eh, elu budek, ya?” ujar Kak Rio, dia mendekatkan wajahnya ke arahku, “kalau ada orang nanya itu dijawab!” pekiknya. Segera kututup hidung ini, aroma alkohol begitu menyengat. Aroma yang seakan menjadi ciri khas dari Kak Rio. Aku tak tahan, dan aku mulai menyingkir. “Blagu banget, lu!” cerca Kak Rio sambil menjambak rambutku. “Akh! Lepasin, Kak! Sakit!” pekikku. “Ok, gue lepasain! Tapi kasih gue duit dulu!” pintanya. “Gak ada!” sahutku. Akan tetapi yang namanya Kak Rio pasti tidak akan berhenti begitu saja. Dia terus memaksaku untuk memberikan uang kepadanya. Dia memang tidak tahu malu. Mirip seperti orang yang kekurangan. Padahal, jika Kak Rio menjadi anak yang baik, dan fokus dengan pendidikannya, aku yakin Ayah akan sayang kepadanya. Tentunya kalau masalah uang Ayah tidak akan pelit. Terlebih Kak Rio itu anak lelaki satu-satunya, dan dia itu anak kandung Ayah. Tidak seperti aku yang anak tidak jelas ini. Tetapi sayangnya, Kak Rio bukan anak yang seperti Ayah harapkan. Dia selalu membuat onar, bermabuk-mabukan, jarang pulang, dan tidak pernah sekalipun memikirkan kuliahnya yang putus di tengah jalan. Semenjak Ayah menyadari sikap buruk putranya, Ayah tidak mau lagi memberikan uang kepada Kak Rio. Karena dia tahu, semakin diberi uang, maka Kak Rio semakin semena-mena terhadapnya, dan akan terus berfoya-foya dengan teman-temannya. Sayangnya Ayah tidak tahu, jika selama ini Kak Rio memanfaatkan aku, dengan meminta uang jajanku. Ini semua karena ia yang tidak mendapatkan uang dari Ayah. “Ari! Lu mau kasih gue duit, atau rambut lu, yang gue tarik sampai botak!” ancam Kak Rio. “Baik, Kak! Tapi lepasin dulu!” ujarku yang sudah tidak tahan lagi. Aku pun terpaksa memberikan uang kepada Kak Rio. Aku tidak mau berdebat terlalu lama. Perlahan, aku merogoh uang pecahan 50 ribu dari dalam saku kemeja seragam. Kusodorkan ke arahnya, “Ini, Kak,” ujarku. Kak Rio mengernyitkan dahi, “Apa-apaan, ini?!” cercanya, “cuma segini aja, hah?!” Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban. “Gak mau! Pokoknya tambahin lagi! Kamu itu kan udah kerja!” pinta Kak Rio. “Tapi, Kak! Aku—” “Lu, mau tambahin lagi, atau gua jambak rambut, lu! Eh, pacarku juga bakalan gue celakai!” ancamnya. Bahkan Kak Rio juga ingin membuat masalah kepada Bintang. Tentu saja aku tidak mau hal itu terjadi. Akhirnya aku mengeluarkan lagi uang pecahan 100 ribu dari dalam saku. Kak Rio tersenyum senang, dia hendak meraih uang itu dari tanganku. Tetapi bertepatan pada saat itu juga, Ayah datang dan langsung menonjok kepala Kak Rio. Duak! “Dasar, Anak Gak Tahu Diri!” pekik Ayah. “Kamu ngapain pakek pulang segala?! Minggat, sana!” suruh Ayah. Tak segan, Ayah meraih pot bunga dan bersiap untuk melemparkannya ke arah Kak Rio. Tanpa berpikir panjang Kak Rio pun langsung berlari meninggalkan kami. Dia benar-benar takut kepada Ayah. Meskipun Kak Rio sudah tidak tampak lagi, tetapi Ayah masih mengoceh tanpa henti. “Dasar, Anak Sialan! Mau dapat uang itu kerja!” “Kenapa malah malakin adiknya sendiri!” “Udah kayak Preman! Preman, apa Rampok?!” “Aku nyesel udah besarin anak yang tidak berguna!” Aku meraih tangan Ayah, dan berusaha menenangkannya. “Udah dong, Yah! Pagi-pagi jangan marah-marah, gak enak sama tetangga,” ujarku. Sejenak Ayah pun terdiam, dia menghela napas panjang. “Hufft ... habisnya Ayah kesel banget, Ari!” ucap Ayah. “Ari tahu, Yah. Tapi Ayah yang sabar, ya,” Ayah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. “Kamu itu benar-benar anak yang baik, Ari. Gak seperti Rio," puji Ayah kepadaku. “Yasudah, biar Ayah antarkan kamu ke sekolah, ya!” “Eh, gak usah, Yah. Aku udah ada janji sama—” Ayah memotong kalimatku. “Bintang?” tebak Ayah. Lalu aku menganggukkan kepalaku. “Mana dia, kok belum muncul?” Ayah mengedarkan netranya ke jalanan. “Gak tahu, mungkin sebentar lagi,” jawabku. Benar saja, tak berselang lama Bintang datang dengan mengendarai motor besarnya. “Nah, itu dia orangnya!” ujarku. Segera kuraih punggung tangan Ayah dan menciumnya. “Ayah, Ari berangkat dulu, ya!" “Iya, ati-ati!” kata Ayah. Kuacungkan ibu jari sebagai jawaban. Lalu aku meraih helm dari tangan Bintang. Tak lupa Bintang juga membantuku memasangkan talinya. “Om titip Ariana ya, Bintang!” teriak Ayah. “Siap!” sahut Bintang. “Kita pergi dulu ya, Om!” Motor pun melaju meninggalkan Ayah. Aku senang sekali bisa berangkat ke sekolah diantarkan oleh Bintang. Aku sudah tidak peduli dengan tatapan teman-teman ketika aku sampai nanti. Kalau pun diintrogasi tentang siapa pria yang telah mengantarkan aku sekolah, maka aku akan mengakuinya, bahwa dia adalah Pacarku! Kupeluk erat tubuh Bintang dari belakang. Aku tak membiarkan jantung ini berdebar lebih kencang. Karena hal itu akan membuatku merasa tak nyaman. Aku hanya ingin merasakan kembali betapa nyamannya berada di dekat Bintang. Sama persis saat pertama kali aku bertemu. Ketika aku sedang terpuruk dan ingin mengakhiri hidupku. Dan ketika aku menangis tanpa memiliki tempat untuk bersandar. Kalau mengingat kejadian di malam itu, aku merasa malu, dan bibir ini selalu tersenyum dengan sendirinya. Tiba-tiba saja aku merasa nyaman dipeluk oleh pria yang sama sekali tidak kukenal. Dan sekarang, aku yang giliran memeluknya. Memeluk orang yang sama, hanya saja dalam suasana yang berbeda. Ya ... sekarang aku sudah mengenal pria itu. Pria yang telah mengajarkanku sebuah kepercayaan. Dan pria yang meyakinkanku untuk tetap hidup. Dan dia adalah, Bintang. “Ari, peluknya jangan kencang-kencang, dong!” protes Bintang. “Kenapa? Kamu grogi, ya?” tanyaku dengan penuh percaya diri. “Ari, kepedean banget, sih!” “Habisnya detak jantung kamu kenceng banget, haha!” sahutku sambil tertawa meledek. “Masa?” sahut Bintang, “yah ... ketahuan, deh!” *****
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
alur ceritannua mudah di pahami
11/01/2025
0Bagus
09/11/2024
0bagus
21/10/2024
0Lihat Semua