Beranda/Perburuan Sang Penulis Kerajaan/
Bab 30 Perburuan Ketigapuluh
“Pokoknya ini teh salah karuhun. Kalo sampai urang dipecat sama Teh Agnes, mesti karuhun yang tanggung jawab atuh!”
Dita mendorong motornya yang tiba-tiba saja mogok. Harusnya hari ini dirinya sudah ada di Bandung lagi. Sekuat apa niatnya untuk melaju ke Kota Kembang itu, tetap saja motornya berbelok arah sendiri. Posisinya kini sedang mengarah ke Salatiga. Perempuan ini yakin kalau yang membelokkan motornya itu adalah leluhur dia.
“Mana motor kayak begini lagi!”
Berulang kali ia memukul jok motor bagian belakang. Sebagai cewek, tentu saja pengetahuannya akan otomotif kurang. Dita hanya berpikir bensin sudah diisi. Bahkan ia sempat serviskan ini motor sebelum berangkat ke Semarang.
“Bengkel masih jauh ya?”
Menyerah adalah langkah yang ia tempuh. Kakinya sudah tidak kuat lagi harus berjalan sambil menuntun sepeda motor. Mana jalanan terasa semakin menanjak saja. Tapi dia melihat ada satu tempat yang kelihatannya itu sebuah bengkel.
“Alhamdulillah, ada bengkel buka!”
Dita tidak jadi berhenti. Sisa tenaganya ia kerahkan agar lebih cepat menuju ke tempat itu. Beruntungnya, bengkel yang ia tuju sedang melayani satu motor saja. Sang montir pun bergegas menghampirinya.
“Motornya kenapa, mbak?”
“Ih, mas ini teh aneh! Ya, mana saya tahu kok bisa mogok.”
“Sini saya periksa dulu, mbak.”
Padahal montir itu masih menangani motor lainnya. Tapi dia menyegerakan untuk cek kondisi motor Dita. Seorang perempuan cantik datang ke bengkel ini. Tangannya membawa satu kotak bekal sambil menenteng tas kresek berwarna hitam.
“Mas Wied, ini saya bawakan biasa buat makan siang.”
Montir itu tersenyum sambil mengambil kotak bekal yang diberikan padanya. Sepertinya Dita jadi gatel untuk ikutan berkomentar.
“Pacarnya ya, mas? Ih, so sweet si teteh ini.”
“Itu siapa Mas Wied?”
“Oh, itu mbaknya barusan masukin motor kesini. Nih, lagi aku cek apa masalahnya!”
Perempuan itu hanya mengangguk saja. Ia malah menuju ke tempat Dita duduk. Senyumannya begitu manis.
“Mbak bukan asli sini ya?”
“Bukan, urang teh asli Bandung. Kenapa atuh?”
“Nama saya Lastri, mbak.”
Perempuan berkulit sawo matang itu mengulurkan tangan pada Dita sambil tersenyum. Cewek itu meraih tangan Lastri sambil memperkenalkan dirinya juga. Meski dia masih merasa aneh. Dirinya di tempat yang asing ini ada orang mau berkenalan dengannya.
“Pakai Bahasa Indonesia saja, mbak. Maaf, kadang saya nggak ngerti.”
“Oh, iya. Maaf ya teteh eh mbak maksudnya.”
Lastri hanya tertawa kecil. Dita malah bingung. Apa yang ditertawakan oleh gadis ini? Tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari kearah Lastri. Napasnya tersengal sampai susah untuk bicara. Montir tadi masih fokus memperbaiki motor Dita. Meski ia tahu kehadiran anak tadi.
“Ngopo kowe ndadak mlayu, Ton? Mbok mlaku biasa wae!” (Kenapa kamu harus lari, Ton? Jalan biasa saja!)
“Ben cepet tekan kene, Mas Wied. Mbak Lastri niku lho ditimbali kaliyan Mbah Warno.” (Biar cepat sampai sini, Mas Wied. Mbak Lastri itu lho dipanggil sama Mbah Warno.)
“Walah... mbah kakung kenapa lagi sih, Ton? Eh, maaf ya Mbak Dita saya tinggal sebentar.”
Daripada gabut menunggu motornya selesai, Dita malah mau ikut Lastri saja. Bukannya perempuan itu tidak mau. Hanya saja, jarak rumahnya terhitung jauh. Namun Dita memaksa.
“Eh, ya sudah kalau mbaknya mau ikut. Mas, motornya mbaknya masih lama ya?”
“Masih! Kalau mbaknya mau main ke rumahmu dulu nggak apa.”
Lastri pun hanya mengangguk. Dia dan Dita akhirnya berjalan saling bergandengan tangan. Sementara anak laki-laki bernama Tono tadi sudah kabur entah kemana. Mereka berdua mengobrol banyak hal. Sampai tak terasa, Lastri pun menceritakan tentang kakeknya yang sering dipanggil “Mbah Kakung”.
“Iya, Mbah Kakung kayak Mbak Dita gitu bisa nebak apa aja dengan benar. Tapi ya saya nggak tahu! Kenapa mbah sekarang beda.”
“Beda gimana atuh, mbak?”
Sedikitnya wajah Lastri berubah jadi sedih. Ia bercerita kalau kakeknya itu masih bekerja pada seseorang. Hal yang paling Lastri benci adalah orang itu kelihatannya jahat.
“Harusnya mbah kakung tahu orang itu jahat. Kenapa masih mau kerja sama dia?”
Lewat obrolan ini, mereka jadi asik sendiri. Bahkan Dita tak merasa capek. Padahal, jarak tempuhnya lumayan jauh dari bengkel tadi. Keduanya masuk ke dalam rumah. Mbah Warno sedikitnya terkejut melihat kedatangan Dita.
“Iki sopo, nduk?” (Ini siapa, nduk?---Nduk adalah panggilan kesayangan untuk anak perempuan)
“Oh, ini namanya Mbak Dita dari Bandung. Tadi motornya lagi dibenerin sama Mas Wied. Nggak tahu, mbaknya mau ikut sama Lastri kesini. Mbah kakung ada apa?”
“Mbah awake rada greges. Tumbaske jamu neng warung e Lek Sardi, nduk.” (Mbah badannya agak nggak enak. Belikan jamu di warungnya Lek Sardi, nduk.)
Lastri menerima sejumlah uang dari mbah kakungnya itu. Ia bergegas jalan menuju ke tempat yang dimaksud tadi. Sementara Dita hanya duduk di ruang tamu. Mbah Warno pun ikut menemaninya disana sambil memegang tongkatnya.
“Kamu bukan orang biasa ya?”
Dita sedikitnya kaget dengan pernyataan kakek ini. Namun segera dirinya menyadari, bahwa orangtua ini pun sama dengan dirinya. Hanya sebuah senyuman yang ia tampakkan.
“Saya juga tahu kakek orang linuwih.”
“Ah, tidak! Saya hanya mendapatkan amanah saja. Tapi rasanya wajah kamu tidak asing.”
Mata tua Mbah Warno mencoba mengamati Dita secara keseluruhan. Ia seperti teringat akan seseorang dari masa lalunya. Beliau hanya mengangguk sambil mengelus jenggotnya.
“Nyai, kamu hadir disini juga! Apa ini sudah waktunya?”
“Nyai? Maksud kakek itu leluhur saya ya?”
“Ah, kamu juga menyadari kehadirannya!”
Lastri sudah kembali sambil membawa bungkusan berisi jamu. Tanpa pikir panjang, Mbah Warno langsung menggigit ujung plastik pembungkus jamu itu. Beliau meminumnya dengan cepat. Sementara Dita hanya diam. Ia menerima banyak pesan dari karuhunnya tentang siapa Mbah Warno ini.
“Kakek nuhun atuh ya! Tapi ini saran saya, kenapa tidak dilepas saja?”
“Dilepas bagaimana maksud kamu?”
“Saya tadi juga dengar kakek masih bekerja untuk orang yang tidak baik dari Lastri.”
Jelas saja raut wajah Lastri terkejut. Ia tak mengira Dita akan sepolos itu berkata pada mbah kakungnya. Sementara Mbah Warno sempat bersendawa sebentar usai meminum jamu yang dibelikan cucunya. Belum sempat Lastri menghalangi ucapan Dita, cewek Sunda itu sudah berbicara lagi.
“Kakek menyembunyikan sesuatu. Kenapa tidak jujur?”
Mbah Warno hanya terdiam mendengar perkataan Dita. Dua orang linuwih dengan perbedaan usia yang sangat jauh ini saling berhadapan.
“Saya lakukan demi, Lastri.”
“Mbah kakung kenapa nggak pernah bicara soal ini?”
“Tapi kakek tahu kan, orang itu jahat!”
Lastri mulai paham kemana arah pembicaraan Dita dan mbah kakungnya. Ia bukannya tak mengenal Haryo yang sempat melamarnya namun ditolak mentah. Cintanya tetap pada Wied si montir yang sedang memperbaiki motor Dita. Ternyata selama ini, mbah kakungnya terpaksa tetap bekerja dengan Haryo demi melindungi dirinya.
“Apa kamu bisa bantu saya? Mungkin kalau Nyai juga....”
“Itu tadi yang dibilang leluhur saya, kakek. Tapi kita bantu apa dan kemana?”
Sempat kata “Mangudhibrata” meluncur dari mulut Mbah Warno. Dari sanalah Dita paham, bahwa Mas Mus yang ia kenal itu sedang dalam bahaya. Hanya saja, tidak tahu dirinya harus berbuat apa dan pergi kemana.
“Saya tahu harus kemana. Kamu bisa antar?”
“Lho, mbah kakung kan lagi nggak enak badan!”
“Ora opo-opo, nduk. Iki ben urusan mbah kakung karo wong kuwi ndang bar.” (Nggak apa-apa, nduk. Ini biar urusan mbah kakung sama orang itu cepat selesai).
Lastri mendengar Smartphone miliknya berbunyi. Ia segera memeriksa dan ternyata ada pesan dari Wied kalau motornya Dita sudah selesai diperbaiki. Mbah Warno malah meminta cucunya itu mengirim pesan agar motor tadi diantar kemari.
“Walah, nanti repot Mas Wied-nya!”
“Wes siji iki wae tok! Mengko mbah kakung seng bayar luwih e kanggo deknen.” (Sudah sekali ini saja! Nanti mbah kakung yang bayar lebihnya buat dia.)Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (150)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
10/02/2025
0cerita menarik
02/01/2025
0bagus
17/12/2024
0Lihat Semua