Bab 67

Kevin saat ini sedang duduk di bangku taman rumah sakit. Ia menerima telepon dari Albert.
'Bagaimana keadaan ayah?' tanya Albert.
"Keadaan ayah membaik hari ini dari pada sebelumnya," jawab Kevin.
'Apa yang ayah lakukan sekarang?' tanya Albert lagi di telepon.
"Ayah sedang tidur. Aku sudah memastikan ia menghabiskan makanannya. Beberapa saat setelah itu, ia lalu tidur." Kevin menjawab sembari mengingat beberapa saat sebelum ayah angkatnya tertidur.
'Oh, baiklah. Terima kasih ya, Kevin. Kau memang bisa diandalkan.' Albert tersenyum tapi tidak bisa dilihat oleh Kevin.
Kevin tertawa kecil dan membalas, "Itu memang tugasku."
'Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan saat ini?' tanya Albert kesekian kalinya.
"Aku sedang duduk di taman rumah sakit. Di sini udaranya sangat menyegarkan." Kevin tersenyum sembari memandang ke sekelilingnya.
Banyak orang dan pasien yang menikmati waktu senggangnya di taman rumah sakit.
'Oh, kedengarannya menarik.'
Hening beberapa saat, Albert tidak bertanya lagi. Akhirnya Kevin yang bertanya padanya.
"Apa yang kau lakukan sekarang?"
'Aku sedang beristirahat setelah ikut rapat di kantorku.'
"Besok, kau akan ke sana 'kan?" tanya Kevin tiba-tiba mengungkit masalah Albert yang akan tinggal di kediaman Cliazner.
Albert yang paham maksud pertanyaan Kevin, tidak langsung menjawab, ada kesunyian selama beberapa menit sampai ia menjawab.
'Iya.'
Kevin menunduk dan berkata lagi, "Baik-baik di sana, ya. Kalau ada sesuatu tolong beri tahu aku."
'Hm, ada syaratnya.'
"Eh, apa?" Kevin tidak bisa mencegah rasa penasarannya.
'Syaratnya kau harus memanggilku dengan panggilan kakak.'
"Eh?!" Kevin bisa mendengar suara tawa dari Albert di seberang telepon.
"Sebegitu inginnya kau dipanggil kakak?"
Albert masih tertawa.
Mereka masih melanjutkan percakapan tentang itu sampai akhirnya Albert izin mematikan telepon karena waktu istirahatnya berakhir dan ia harus bekerja lagi.
Kevin memandang ponselnya selama beberapa detik. Ia lalu memandang ke sekelilingnya.
Bola matanya berhenti bergerak saat menangkap objek yang tampak familier. Ia melihat seseorang yang ia kenal.
"Diana?" gumam Kevin dengan nada tanya.
Kevin berdiri dari bangku taman dan berjalan menuju tempat di mana ia melihat sosok Diana berjalan keluar dari salah satu bangunan rumah sakit.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Kevin sontak melihat ke arah ponselnya yang bergetar di tangannya.
Alarmnya di ponselnya berbunyi. Sudah waktunya ia kembali ke ruangan rawat inap di mana ayahnya berada.
Kevin sekali lagi melihat tempat yang dilewati Diana yang telah kosong, tanpa siapa pun yang lewat.
*****
Setelah Kevin pulang dari rumah sakit, ia menghubungi Revan dan Diana. Ia mengajak keduanya untuk bertemu di sebuah toko kue.
"Silakan kalian pesan apa saja, aku yang akan bayar tagihannya." Kevin tersenyum lebar pada dua temannya.
Diana menatap buku menu dengan pandangan antusias.
Tapi Revan sebaliknya, ia tampak terganggu dengan tempat pertemuan yang ia datangi.
"Dari pada di sini, bukankah lebih baik ke restoran saja? Atau kafe yang pengunjungnya sedikit."
Ternyata ia merasa terganggu dengan pandangan pengunjung toko yang kebanyakan adalah wanita. Karena ia memiliki pesona, para wanita itu tidak berhenti melihatnya.
"Aku tidak terlalu suka makanan manis," lanjut Revan.
Kevin membalas, "Siapa bilang makanan di sini semuanya manis? Di sini ada juga makanan atau kue yang tidak manis bahkan pahit."
"Benar. Kau lihat, ada yang rasa dari berbagai macam kopi," sahut Diana sambil menunjukkan isi buku menu pada Revan.
"Aku bukan pecinta kopi, tapi aku yakin kau tahu rasa kopi yang pahit. Jadi pesan saja kue dengan rasa itu," lanjut Diana.
"Lalu aku harus minum dan makan kudapan rasa kopi sekaligus?" tanya Revan dengan wajah tak berminat.
Ternyata ia juga tidak berminat memesan minuman yang manis.
"Minuman dan kue yang kau pesan, bisa kau pilih dengan rasa kopi yang berbeda. Tapi karena kau tidak suka manis, pilih kopi yang pahit, ada banyak di menu," saran Kevin.
Revan menghela napas, ia tidak bisa membantah lagi.
Jika ia mengatakan alasan lainnya, Diana dan Kevin akan mengomelinya.
Apa lagi jika alasannya adalah karena ia terganggu dengan banyaknya pengunjung, yang hampir semuanya perempuan.
Bagaimana bisa Kevin memilih tempat yang sangat feminin seperti ini.
"Setelah ini, ada yang mau aku ceritakan pada kalian." Kevin menyahut saat pesanan mereka bertiga diantarkan oleh salah satu pelanggan.
Diana dan Revan saling berpandangan.
"Meski aku hanya berhutang pada Diana tapi kau juga perlu mendengarkan juga. Karena kau sudah membantuku." Kevin berbicara pada Revan.
Diana masih belum mengerti, Kevin berhutang penjelasan apa padanya, ia seolah lupa jika dirinya pernah dijanjikan jawaban oleh Kevin atas pertanyaannya.
Sampai ia mendengar cerita Kevin, barulah ia paham.
*****
"Jadi seperti itulah yang terjadi." Setelah menceritakan apa masalah yang ia alami, Kevin mencoba tersenyum dengan paksa.
"Aku tidak berhasil, aku gagal." Kevin tersenyum sedih.
Diana dan Revan tentu menyadari hal itu.
"Kau sudah berusaha. Mungkin itu yang terbaik untuk keluargamu saat ini." Diana mencoba menenangkan perasaan Kevin.
Kevin masih mempertahankan senyum meski hatinya saat ini terasa sangat berat. Kali ini ia tahu bagaimana rasanya jadi Revan saat dia menceritakan masalah keluarganya.
Revan sebelumnya bisa tetap mempertahankan sikap tenangnya. Tapi saat Kevin mencoba melakukannya, saat ia mencoba tersenyum seperti yang biasa ia lakukan, ternyata itu sangat sulit.
Senyumannya juga malah terlihat seperti senyum miris.
"Kau benar, Diana. Terima kasih. Aku juga masih menghubungi kak Albert," balas Kevin lalu menurunkan pandangan matanya ke bawah.
Jika Albert mendengar ia memanggilnya dengan panggilan seperti ini, apakah ia akan merasa sangat senang?
"Benar. Tidak apa-apa, bersemangatlah. Kau tahu, kau bilang kau masih bisa menghubungi Albert 'kan, itu artinya kau masih punya kesempatan. Kita bisa pikirkan bersama untuk mencari solusinya. Aku akan membantumu lagi." Kali ini Revan yang menenangkan Kevin.
Kevin menarik bibirnya dengan perlahan membentuk senyuman tulus.
"Kalian harus menampilkan pertunjukan yang hebat besok untuk menghiburku. Jangan kecewakan aku, oke?" Kevin lalu tersenyum hingga matanya menyipit.
Senyumnya kali ini membuat Diana dan Revan merasa lega sedikit. Mereka berdua membalas senyuman Kevin.
Diana mengangguk dan Revan hanya bergumam mengiyakan.
"Aku tahu, kau itu memang pemuda yang baik. Bahkan terlalu baik. Benar 'kan, Revan?" sahut Diana kemudian menatap Revan.
Kevin tertegun.
Revan menatap Kevin dengan pandangan lurus. "Hm, kau memang anak yang terlalu baik. Kau bahkan melakukan hal sejauh itu untuk keluarga barumu. Aku salah menilaimu saat pertama kali bertemu."
Revan ingat kesan Kevin saat pertemuan pertama adalah Kevin itu anak yang sangat menyebalkan.
Ia iri melihat bagaimana Kevin bisa begitu akrab dengan teman sekelasnya.
Padahal Kevin itu siswa yang tampang dan kecerdasannya biasa-biasa saja. Tapi ia mudah akrab dengan semua orang. Ia bisa berkomunikasi dengan begitu baik. Hal yang sulit dilakukan Revan.
Bahkan jika ia anak yang yatim-piatu, ia tidak pernah terlihat sedih dengan nasibnya. Jika saja Kevin tidak memberitahu masalahnya. Mungkin selamanya Revan akan menganggapnya manusia yang tidak punya beban.
Kevin selalu mudah tersenyum, membuat orang-orang selalu melihatnya sebagai orang yang ceria. Tapi ternyata orang seperti Kevin juga punya masalahnya sendiri.
Memang benar setiap orang itu punya masalah pribadi, tapi orang seperti Kevin, yang hanya menceritakan masalahnya pada orang tertentu saja, membuatnya terlihat tidak memiliki beban di mata orang lain.
Dan Revan kagum dengan itu. Kevin bukanlah orang yang suka mengumbar masalahnya untuk menarik simpati. Padahal ia adalah anak yatim-piatu, tapi ia tidak pernah mengemis simpati.
Revan ingat ada orang yang menggunakan nasibnya yang sama seperti Kevin, yang tidak punya orang tua, untuk menarik simpati orang lain. Kevin jelas berbeda dengan orang yang seperti itu.
Bahkan Kevin berbuat sejauh itu hanya untuk membantu keluarga barunya, yang sebenarnya ia menolak dan tidak mau diadopsi pada awalnya oleh keluarga tersebut.
Jangan lupakan alasan Kevin menerima dirinya diadopsi juga karena ia peduli dengan nasib adik-adiknya di panti asuhan.
Revan benar-benar tidak habis pikir. Jika di dunia ini bisa ada orang sebaik dan setulus Kevin. Yang bisa sebaik dan setulus itu pada orang lain yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Akan sangat bagus jika ia bisa menjadikan orang seperti Kevin sebagai sepupunya, sama seperti Valen.
Revan tersenyum dengan isi pikirannya.
Ia tidak lupa, Kevin sudah diadopsi keluarga besar. Tapi pikirannya sampai seperti itu karena ia benar-benar menganggap Kevin orang yang hebat.
Melihat Revan tersenyum setelah apa yang ia katakan, Kevin mau tidak mau merasa haru. Revan itu jarang tersenyum.
"Oh, tidak. Padahal aku sudah berusaha menahannya." Kevin menggunakan lengannya mengusap matanya begitu ia merasa matanya basah.
"Kevin," gumam Diana melihat Kevin dengan sedikit cemas.
Mendengar nada khawatir itu, Kevin melambaikan tangannya yang lain dan membalas, "Aku tidak apa-apa, hehe."
Ia tertawa kecil dan menatap Diana setelah mengusap matanya selama beberapa detik.
"Tenang saja, aku tidak menangis karena sedih." Kevin mengelus lehernya malu.
Ia lalu kembali tersenyum lebar dan melanjutkan, "Terima kasih, ya. Perasaanku sekarang benar-benar terasa ringan karena kalian berdua."
Diana akhirnya ikut tersenyum lega dengan mata basah. Ia hampir ikut menangis tadi.
*****

Komentar Buku (145)

  • avatar
    Astin

    Penasaran,, apa masih ada lanjutannya..?? novel nya sangat bagus, dan lumayan menguras air mata

    05/01/2022

      0
  • avatar
    AriztyaNabillah

    menyentuhhhhhhh bangetttt

    30/07

      0
  • avatar
    AmirAmiruddin

    keren

    19/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru