“Kalian sudah melakukan banyak tugas tapi mau membantuku lagi. Aku jadi merasa bersalah membuat," ucap Diana pada Revan dan Kevin, hanya mereka berdua karena Michael sudah asyik atau sibuk dengan para penggemarnya setelah presentasi. “Hanya kebetulan aku menguasai bagian materi yang tadi," balas Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Yah, iya sih. Kau tidak mungkin berani jika kau tidak tahu. Tapi kau tetap saja membantu. Jangan lupa saat aku sempat bingung karena tindakanmu dan Michael yang tiba-tiba. Untung Revan berhasil menanganinya.” Diana melirik Revan. “Hahaha, Dia memang bisa diandalkan.” Kevin tertawa sambil memukul pelan bahu Revan beberapa kali. Diana sadar Kevin memuji Revan dan ia hanya tersenyum melihat keakraban mereka. “Bagaimana dengan rencana kalian yang mau ke rumahku akhir pekan nanti?” Revan tiba-tiba bertanya hal yang tidak berhubungan dengan tugas kelompok mereka. “Masih beberapa hari lagi kan?” sahut Diana. “Hanya memastikan saja. Siapa tahu kalau kalian belum tahu alamat rumahku,” balas Revan. “Ah, benar! Hampir saja, bagaimana bisa kita pergi kalau alamat rumahmu tidak kami ketahui," kata Kevin baru sadar. Keputusan tepat Revan mengungkit masalah ini. Diana juga mengangguk tapi tidak sepenuhnya mengiyakan, karena menurutnya itu bisa ditanyakan juga saat sudah mereka hendak datang. Lagi pula mereka bisa menggunakan ponsel untuk alat komunikasi. Jadi sebenarnya itu bukan masalah besar baginya. “Sudah kuduga,” ucap Revan. "Kirim saja alamatmu,”usul Diana. Revan mengangguk lalu melanjutkan, “Nanti kalian datang pakai baju biasa saja. Aku punya pakaian khusus untuk berlatih nanti.” “Wah, baju khusus bela diri?! Apakah kau punya kostumnya?” Kevin membayangkan berbagai macam warna sabuk bela diri yang melambangkan tingkatannya. “Kostum katamu? Kita tidak sedang bercosplay,” sahut Diana menimpali sekaligus mengoreksi kata dari kalimat Kevin. “Tidak. Bukan baju khusus seperti yang kau bayangkan. Hanya baju training biasa,” jawab Revan seolah tahu apa yang dibayangkan Kevin dan membuatnya berhenti mengkhayal. “Mohon perhatiannya sebentar,” seru seseorang di depan kelas secara tiba-tiba mengambil semua perhatian di dalam kelas. Diana melihat sang ketua kelas sedang berdiri di depan kelas sambil memegang sebuah kertas. “Aku ingin memberitahukan pada kalian tentang ulang tahun sekolah yang akan diadakan dua minggu lagi,” kata ketua kelas. Para siswa di kelas mulai berbicara dan berbisik-bisik tentang acara yang ditunggu-tunggu para murid setiap tahunnya. “Tahun kemarin sekolah hanya mengadakan hiburan dengan menampilkan banyak pertunjukkan, kali ini sekolah menambahkan kegiatan baru. Akan ada banyak lomba yang wajib diikuti setiap kelas. Daftar semua lombanya akan di tempel di depan kelas. Siapa yang mau mewakili dari lomba tersebut silahkan mendaftarkan diri. Kalian bisa langsung melapor pada sekretaris kelas jika berminat mengikuti lomba-lomba tersebut,” lanjut ketua kelas. “Bagaimana jika ada yang tidak mendaftar?” salah satu murid di kelas bertanya. “Jika beberapa lomba belum terdaftar pesertanya untuk mewakili kelas kita, maka akan dilakukan pengambilan suara terbanyak. Kalian harus memilih siapa yang menjadi perwakilan untuk lomba tersebut. Siapa yang memiliki suara terbanyak, maka berarti dia ditunjuk oleh kelas secara langsung dan wajib ikut lomba yang di tentukan. Oh, satu lagi, murid yang sudah ikut satu lomba tidak bisa ikut lomba lainnya. Pendaftaran akan dibuka setelah daftar lomba ini sudah ditempel dan pendaftarannya akan ditutup satu minggu kemudian. Apa ada pertanyaan lagi?” tanya ketua kelas. Ketua kelas menunggu murid mengangkat tangannya tapi tidak ada. “Baiklah kalau begitu, terima kasih atas waktu dan perhatiannya,” ketua kelas mengakhiri. Hampir seluruh murid di kelas tertarik melihat daftar lomba yang akan diadakan. Mereka bergerombol di depan kelas untuk melihatnya. Tapi tidak dengan Diana, ia tidak tertarik dan terlalu malas ikut kegiatan yang bisa dibilang hanya menghabiskan waktunya saja. Diana merasa tanpa ikut serta juga ia sudah harus mengurus banyak hal mulai dari masalah sekolah hingga dirumah dan pekerjaannya. “Sepertinya aku akan ikut lomba sepak bola. Aku bisa jadi anggota tim untuk lomba sepak bola sebagai perwakilan kelas," sahut Kevin setelah melihat daftar lombanya. “Bukannya kau memang anggota klub sepak bola?” tanya Diana heran. “Aku keluar,” jawab Kevin membuat Diana sedikit tidak percaya karena Kevin tidak pernah menceritakannya. “Kenapa?” tanya Diana menanyakan alasan kenapa Kevin bisa keluar dari klub sepak bola. “Karena aku dipilih jadi anggota inti menggantikan senior kelas tiga,” jawab Kevin. Diana mengerutkan keningnya. Ia dan Revan justru heran dengan jawaban Kevin. “Bukannya itu justru hal yang paling ditunggu-tunggu? Menjadi anggota inti?” tanya Diana. “Awalnya sih, iya. Aku sangat berharap jadi anggota inti dulu saat masih pertama kali masuk klub, saat masih kelas satu berharap jika nanti naik kelas dua bisa terpilih jadi anggota inti,” jawab Kevin. “Terus?” tanya Diana. Kevin mendesah keras, “Jadi anggota inti harus terus mengikuti latihan dengan tertib. Tidak mungkin aku bisa melakukannya jika aku punya kesibukan di rumah sejak diadopsi.” Diana sadar apa alasan Kevin keluar. “Kau mengurus perusahaan saat masih sekolah. Aku mengerti jika kau yang harus membantu pekerjaan keluarga. Tapi apa kau tidak pernah meminta, untuk dibiarkan dulu menjalani sekolah tanpa mengurus perusahaan keluarga?” tanya Diana. Saat Kevin ingin menjawab, Revan lebih dulu bersuara. “Itu jadi hal biasa untuk anak dalam keluarga kaya seperti kami. Hanya saja Kevin harus bisa terbiasa dan mengatur waktunya. Menurutku, keputusanmu untuk keluar memang pilihan yang tepat,” sahut Revan menyetujui tindakan Kevin. “Tapi percuma jika kau terpaksa melakukannya, kan? Masalahnya adalah apa yang kau ingin lakukan bukan apa yang harus kau lakukan,” balas Diana. “Aku tidak mengerti,” kata Kevin pada Diana. “Tidak masalah jika kau melakukan satu hal yang lebih penting. Tapi percuma kalau terpaksa melakukannya tanpa merasa senang. Setidaknya kau harus tahu tujuanmu. Karena memang kita harus berjuang dulu sebelum bahagia." Diana menunjuk Kevin dan kembali menjelaskan. "Aku contohkan, kau yang memilih perusahaan. Jadi kau memilih urusan perusahaan, bisa kau bayangkan itu untuk masa depanmu. Istilahnya bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian." Diana mengambil napas sejenak dan menurunkan tangannya yang tadi menunjuk Kevin sebagai contoh. "Tapi itu akan percuma jika kau tidak menaruh masa depanmu disitu. Jadi apa kau terpaksa atau memang ingin melakukannya hingga mengorbankan hobimu? Aku tidak terima dengan alasan anak seperti kalian dipaksa hanya karena urusan bisnis," kata Diana. “Awalnya aku merasa perlu melakukannya, jadi memang bisa dibilang aku terpaksa. Tapi setelah apa yang kau katakan tadi, aku rasa aku memang ingin melakukannya. Aku masih bisa tetap merasa senang meski tidak ikut klub sepakbola. Masih banyak hal yang membuatku senang,” balas Kevin. Kevin tertawa kecil dan berkata, "Meski sebenarnya aku memang sedih saat mengambil keputusan itu. Bahkan jika aku tidak menjadi anggota inti pun, aku sepertinya tidak bisa ikut kegiatan klub lagi seperti dulu." Kevin mengangkat bahunya. Ia memang tertawa tapi Revan dan Diana tahu itu untuk menyembunyikan perasaan Kevin yang sebenarnya. Diana akhirnya menepuk-nepuk bahu Kevin berharap sedikit memberikan semangat padanya. Kevin membalas Diana dengan senyuman. *****
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (145)
Astin
Penasaran,, apa masih ada lanjutannya..?? novel nya sangat bagus, dan lumayan menguras air mata
Penasaran,, apa masih ada lanjutannya..?? novel nya sangat bagus, dan lumayan menguras air mata
05/01/2022
0menyentuhhhhhhh bangetttt
30/07
0keren
19/01
0Lihat Semua