"Apa kau yakin bisa meminum semuanya? Dua minuman ukuran jumbo, itu banyak sekali." Diana mau menghasut Revan agar Revan berpikir untuk mengembalikan minuman Diana. "Aku bisa membawanya pulang atau memberikannya pada orang lain yang mau," sahut Revan. "Aku kan tidak bilang kalau aku tidak mau." Diana mengambil kembali minuman itu. Tak bisa menghasut Revan, maka Diana bisa merampasnya langsung. Revan terkesiap dengan tindakan Diana. Tapi kemudian dia tersenyum. Ia merasa setengah terkejut dan geli. "Oh ya, kau salah. Ini bukan ukuran jumbo. Masih ada ukuran yang lebih besar lagi," ucap Revan masih dengan senyum gelinya. Diana meminum minumannya dengan melebarkan matanya mendengar itu. Ia hanya tak tahu sebesar apa lagi ukuran minumannya. Ini sudah cukup besar bagi Diana. Akhirnya Revan tertawa kecil melihat Diana yang melihat sambil melotot pada minumannya. Tawa Revan membuat Diana berhenti berpikir dan mengganti objek perhatiannya. Diana tak memperhatikan minumannya lagi. Ini pertama kalinya Revan tertawa di hadapan Diana. Diana tak tahu bagaimana tawa Revan sebelumnya. Tak menyangka tawa Revan mampu membuat orang lain tersihir. Seolah terdapat daya tarik tersendiri yang membuat orang terpesona. Bahkan membuat Diana tak berkedip menatapnya. Diana tanpa sadar kemudian ikut tersenyum. Revan masih tertawa kecil sebelum melihat Diana tersenyum padanya. Perlahan tawanya berhenti. Terkejut dengan senyuman Diana. Revan segera mengalihkan pandangannya. Melihat Revan yang tiba-tiba memalingkan wajah dan berhenti tertawa, Diana memiringkan kepala bingung. Tunggu dulu, jangan bilang dia tersinggung? Seperti sebelumnya dia mengira aku mengejeknya hanya karena menatapnya. "Kenapa? Kau tersinggung karena aku melihatmu begitu? Tapi aku rasa seharusnya aku yang tersinggung karena kau menertawakan ku, kan?" Revan tergelak karena perkataan Diana. "Jadi kau tersinggung?" Revan memperlihatkan senyum miringnya sembari mengangkat sebelah alisnya. Melihat ekspresi itu, Diana juga ikut mengangkat sebelah alisnya. Apa ini?! Begitu batinnya. "Kau tahu, senyummu menjijikkan." Diana segera melewati Revan dan berjalan mendahuluinya. Saat berjalan Diana menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Padahal sebenarnya saat melihat senyuman Revan ia merasa napasnya tertahan tapi kini jantungnya malah berdetak kencang. Diana meletakkan tangan di dadanya karena merasa aneh dengan perasaannya saat ini. Revan yang kaget karena mendengar perkataan dari Diana. Itu membuatnya berpikir. Bukannya terlalu percaya diri, tapi Revan yakin senyumannya tidak menjijikkan. Ia sadar banyak yang mengagumi wajahnya yang tampan. Ia sering mendengar pujian itu. Mungkin karena ekspresinya yang tampak nakal dan memang tidak ada ketulusan, makanya Diana berkata begitu, pikirnya. Tetapi walaupun sudah menghibur diri dengan alasan itu. Revan terkesiap dengan perkataan Diana. Dalam hati mengingatkan agar tak berekspresi seperti itu lagi. Harusnya lain kali tersenyum dengan lebih baik. Mengingat tentang senyuman, Revan teringat dengan senyuman Diana sebelumnya. Senyuman yang membuat dadanya bergetar dan membuatnya gugup hingga memalingkan wajahnya. Revan kemudian melihat ke arah Diana yang berjalan dan segera mengikutinya. ***** Setelah puas bermain wahana di taman hiburan, Diana dan Revan beristirahat makan siang di sebuah kafe. Mereka sekarang sudah memesan menu makanan dan tinggal menunggu. "Hei," Revan dan Diana saling berhadapan. "Bagaimana dengan senyumanku kali ini? Apakah masih menjijikkan?" Revan tersenyum pada Diana. Diana kembali menahan napas. Tak habis pikir dengan tindakan Revan yang tersenyum lagi padanya. Tapi tunggu dulu, apa pertanyaannya tadi? Apa perkataan ku masih terus diingat olehnya? Batin Diana terkejut. "Sampai sekarang kau masih terus memikirkan ucapanku?" Diana tersenyum geli. Revan menghilangkan senyumannya. "Lupakan." Diana semakin mempertahankan senyum geli nya. "Kau tahu senyummu juga aneh." Diana melotot mendengar itu. "Kau balas dendam." Diana tidak terima. ***** Revan pulang ke rumah dan menemukan kakaknya yaitu Valen sedang menonton tayangan berita di televisi. Valen segera melihat ke arah datangnya Revan. Sebaliknya dengan Revan, Ia mengabaikan kakaknya. "Seharian ini kau bermain bersama temanmu ya! Sampai senja baru selesai dan pulang." kata Valen. "Begitulah." balas Revan melewati televisi sembari terus berjalan tanpa menoleh ke arah Valen. "Ternyata kau sudah dekat sekali dengannya," lanjut Valen. "Hah?" Revan menengok kepada Valen. Langkahnya ditunda. Perkataan Valen terdengar ambigu bagi Revan. Valen mengangkat ponselnya dan memperlihatkan sebuah gambar. Sebuah foto lebih tepatnya. Revan melebarkan matanya. Ia langsung saja segera mendatangi Valen dan merebut ponsel milik Valen. Revan melihat di layar ponsel Valen tampak foto dua orang berbeda gender. Mereka saling memandang satu sama lain. Keduanya juga saling tersenyum. Revan sebenarnya tahu jenis senyum kedua orang dalam gambar foto itu, tapi entah kenapa kedua orang itu seolah tersenyum seperti berada dalam suasana romantis dan mesra? Lebih lagi, kedua orang itu adalah dirinya dan Diana saat mereka berada di dalam kafe. Bagaimana mungkin foto mereka bisa terlihat seperti pasangan..... kekasih? “Aku sedang makan siang di sebuah kafe, kebetulan aku melihat kalian dan tak disangka kalian punya hubungan yang terlihat begitu dekat.” Sahut Valen “Itu tak seperti yang terlihat.” balas Revan sambil mengotak-atik ponsel Valen. "Oh benarkah? Aku juga berpikir begitu. Kau kan tidak punya teman bagaimana mungkin kau dekat dengan seseorang. Kecuali orang itu istimewa." Valen memandang Revan penuh makna. Mendengar perkataan Valen dan melihat ekspresi Valen, Revan mengerutkan keningnya. "Jadi Revan, apa hubunganmu dengannya?" Tanya Valen. "Kami hanya berteman. Hubungan aneh apa pun yang sedang kau pikirkan itu tidaklah benar." Revan menjawab pertanyaan Valen. Valen kemudian mengangkat sebelah alisnya dan berkata, "Mungkin itu benar." Revan mengangguk mengiyakan. "Untuk sekarang." lanjut Valen. "Ha?" giliran Revan mengangkat sebelah alisnya. "Mungkin itu benar untuk sekarang. Tapi mungkin akan berubah di masa depan. Kau tahu berubah seperti apa." Valen menaik-turunkan alisnya. Revan mendengus, "Apa?" Valen terkekeh, "Aku rasa kau bisa menebaknya." Valen berkata sambil kembali melihat ke arah televisi. Ia kembali menonton. Revan memutar bola matanya. Ia kemudian mengembalikan ponsel Valen dengan setengah melemparkannya. Ponsel itu mengenai perutnya Valen. Valen segera mengelus perutnya yang menjadi tempat mendarat bagi ponselnya. Valen menatap galak pada Revan. Meski tak terasa sakit yang berlebihan, Valen menatap tak senang. Setidaknya tak terlalu sakit hingga ia tak perlu ikut membalas perbuatan Revan. Sedangkan Revan hanya mengabaikan kejengkelan kakaknya. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya yang tadi sempat tertunda. Saat Revan pergi, Valen memeriksa file dalam ponselnya. Valen sudah menduga kalau Revan pasti akan menghapus foto itu. Karena itu, Valen sudah menyalin file foto itu dan menyembunyikannya di dalam folder-folder dalam ponselnya. "Apa?!" Seru Valen. Valen berusaha mencari di mana ia menyimpan file foto itu. Tapi ia tidak menemukannya. Valen akhirnya sadar bahwa ia meremehkan Revan. Tadi Revan sudah mengotak-atik ponselnya dan menghapus serta memastikan tak ada file foto itu yang tersisa. Tapi satu hal, Valen tak sadar bahwa Revan juga mengirimkan file foto itu ke ponselnya sendiri sebelum menghapus semuanya. Kini Revan sedang memegang ponselnya dan memeriksa apakah filenya sudah masuk saat ia sudah berada di dalam kamarnya. Meski itu hanya gambar yang diambil dari samping, senyum Diana tetap membuatnya merasakan perasaan seperti melihatnya langsung. *****
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (145)
Astin
Penasaran,, apa masih ada lanjutannya..?? novel nya sangat bagus, dan lumayan menguras air mata
Penasaran,, apa masih ada lanjutannya..?? novel nya sangat bagus, dan lumayan menguras air mata
05/01/2022
0menyentuhhhhhhh bangetttt
30/07
0keren
19/01
0Lihat Semua