Barang-barang sudah dikemas dengan rapi. Mereka membawa apa yang bisa dibawa untuk saat ini. Selebihnya dibiarkan tinggal untuk dibawa ketika memiliki kesempatan. Seperti janji Arkan, apartemen akan menjadi milik Lunar dan akan didatangi sesekali ketika rindu.
Mereka terkejut mendapati Arkan yang masih menunggu. Sayangnya hal itu tidak membuat hati sang ibu luluh. Lunar tetap ditarik untuk pergi bersama. Tidak ingin memberikan kesempatan sedikit pun untuk bicara karena memang rasa kekecewaan sangat dalam.
"Lunar ...."
Sang ibu menoleh lebih dulu, "Tidak ada hal yang perlu kalian bicarakan. Jangan ganggu atau pun berusaha untuk menemui putriku lagi."
"Tapi ...."
"Ayo, Lunar. Aku akan mencarikan suami yang baik. Kalian akan menikah dan aku akan memiliki cucu. Nico lebih cocok untukmu dibandingkan pria ini."
"I-ibu ...."
Lunar bingung harus bersikap bagaimana. Di sisi lain dia ingin bicara dengan Arkan sebelum mereka berpisah, tetapi di sisi lain dia tidak bisa membuat orang tuanya kecewa lebih banyak.
Lama berada dalam situasi kebingungan, Lunar berhenti mengayunkan kaki. Barang bawaan diletakkan begitu saja. Hal itu membuat sang ibu menoleh dan bertanya-tanya, kenapa putrinya tiba-tiba berhenti?
"Aku perlu ke toilet."
Sang ibu mengoceh kesal, "Kau tidak bisa kembali ke apartemen karena pria itu masih di sana. Tahan saja sampai kita kembali."
Lunar tidak mengindahkannya dan langsung terbirit masuk kembali ke dalam gedung. Sementara sang ibu ingin menyusul, akan tetapi juga tidak bisa membawa barang bawaan yang banyak pergi bersama.
"Anak itu sangat nakal!"
***
Lunar berhasil sampai dalam keadaan napas yang berantakan. Tiba di sana dia langsung berlari ke dalam pelukan Arkan. Dia tetap berada di posisi itu untuk menenangkan diri.
Arkan perlahan meletakkan tangannya di punggung itu. Dia membalas pelukan yang selalu hangat dan nyaman. Baru sebentar mereka berpisah, tetapi terasa sangat lama.
"Kau berkata akan memberikan pelukan ini sebelum kita berpisah, tapi aku mengambilnya sendiri." Lunar membuat jarak di antara mereka, "Ibu memintaku untuk mengurus surat perpisahan secepatnya. Hmmm, katanya ayahmu yang akan mengurus semua karena tidak ada masalah di dalam rumah tangga kita dan akan sulit untuk disetujui."
"Kau benar-benar akan menikah dengan Nico?"
Mulutnya berat untuk digerakkan. Betapa Lunar ingin menolak dan memberitahu kalau dia tidak akan menikah dengan Nico, akan tetapi apa untungnya jika dia berkata begitu? Hanya akan sangat menyedihkan saat melihat Arkan menikah dengan Raya. Sementara dia menjadi wanita yang terlihat seperti dicampakkan.
Dia menganggukkan kepala, "Semua sudah berada di jalurnya. Nico bukan seperti pria yang mengkhianatiku beberapa bulan lalu." Sebuah senyuman terurai lembut di bibir, "Aku tidak bisa hadir dalam acara pernikahanmu. Orang tuaku tidak akan menyetujuinya. Mereka masih kecewa dengan pernikahan kita. Jadi, sampaikan ucapan selamatku pada Raya dan juga untukmu."
Lunar hendak pergi, akan tetapi pelukan di pinggang tidak mengizinkan. Dia tidak beranjak lagi karena berpikir mungkin masih ada hal yang ingin dibicarakan padanya. Sejak tadi hanya dia yang berbicara.
"Aku ... tidak ada hal yang ingin aku bicarakan lagi denganmu."
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan pergi."
Pelukan di pinggangnya sama sekali tidak lepas meski pembicaraan telah usai. Dalam kebingungan yang meliputi, Lunar menoleh pada pria di hadapannya kembali. Dia ingin bertanya, tetapi terpaksa bungkam oleh ciuman.
Lunar melebarkan mata tidak percaya kalau mereka akan berciuman dalam kondisi akan berpisah. Buliran air mata jatuh dari ekor matanya. Dia melingkarkan tangan di leher itu dan menerima ciuman perpisahan.
Mereka menjauhkan bibir yang sudah lembap. Lunar mengusap air mata yang mengalir di wajah pria itu, "Aku tidak pernah melihatmu menangis selama ini dan kau melakukannya untukku."
Arkan juga tidak tahu kenapa dia menangis. Mungkin karena perpisahan telah membuat dia merasakan kesedihan. Mereka sudah berbagi kehidupan. Mustahil jika dia baik-baik saja.
"Di antara ciuman kita lainnya, yang sekarang adalah ciuman paling menyakitkan. Tapi aku bisa merasakan manis juga di sana."
Kali ini pelukan tidak lagi erat seperti tadi. Lunar sudah bisa beranjak pergi dari sana. Dia tersenyum dalam tangis merelakan perpisahan mereka.
"Selamat tinggal, Arkan."
***
Arkan terjaga dari tidur panjangnya. Dia meraih gelas untuk kemudian diteguk isinya. Setengah minuman sudah habis, baru dia meletakkannya kembali. Dia menghirup napas singkat, lalu menghela kekhawatiran yang dirasakan.
Kakinya diturunkan untuk menapaki lantai. Dia beranjak dari ranjang, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Di bawah shower yang mengucurkan air dingin, dia menenangkan diri.
Ini sudah hitungan tahun lamanya, tetapi dia masih tidak bisa melupakan Lunar. Pernikahan mereka berjalan sangat singkat, begitu pula dengan hubungan mereka. Reaksinya sangat lambat untuk memahami perasaannya sendiri.
Mereka putus komunikasi setelah berpisah. Dia tidak melihat Lunar lagi sejak terakhir bertemu. Entah di mana keberadaan wanita itu kini, dia sulit menemukannya. Walaupun begitu setiap hari, dia selalu menunggu dengan harapan suatu saat mereka akan bertemu.
Dering ponsel membuyarkan lamunan. Dia meraih benda yang mengeluarkan suara itu, lalu mengangkat panggilan.
"Arkan, di mana kau sekarang?"
"Kamar mandi."
Wanita di seberang sana tertawa kecil, "Aku ada di bandara. Bisakah kau datang untuk menjemputku?"
"Biarkan Sekretaris Ham yang melakukannya untukmu. Aku akan menunggu di apartemen."
"Sejak kapan kau menjadi orang yang pelit? Baiklah. Raya akan segera datang." Nada suara itu terdengar sangat gembira.
Usai menyelesaikan urusan di kamar mandi, Arkan duduk di tepi ranjang. Dia hendak mengambil losion, tetapi niatnya terhalangi karena mengingat masa lalu. Ternyata pada saat itu jantungnya sudah berdetak untuk Lunar.
"Kau harus tahu kalau aku sangat merindukanmu," ucapnya pada botol losion tersebut.
Setelah berpakaian, dia mengambil sebuah tas untuk dibawa. Tas punggung itu dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Hari ini dia akan mendaki gunung untuk melepaskan kerinduan.
Tidak hanya satu kali dia mendaki gunung yang sama. Mungkin orang-orang akan bosan melihatnya, tetapi dia tidak pernah bosan untuk mengarungi masa yang sama setiap waktu. Baginya dengan begitu bisa mengobati rasa rindu di hati.
"Arkan!"
Teriakan itu membuat dia menolehkan kepala. Di bawah sana yang mana jaraknya kira-kira sepuluh meter, seorang pria melambaikan tangan. Dia tentu saja mengenal Rian, pria yang pernah membuat dia cemburu.
"Kau tidak membawa istrimu kali ini?"
"Tidak. Dia sedang hamil besar. Jadi, aku pergi mendaki seorang diri." Rian berhenti ketika jarak mereka sudah dekat, "Bagaimana denganmu? Apa kau sudah menemukan Lunar?"
Arkan menggelengkan kepala, "Dia masih ingin bermain-main di luar sana."
"Aku berharap nanti kita bisa mendaki gunung bersama lagi."
Arkan berharap demikian, tetapi rasanya kecil harapan untuk itu. Dia hampir berputus asa. Sangat menyakitkan terus merindukan seseorang yang tidak bisa dijangkau dengan mudah.
"Ini hukuman untukku," gumamnya, lalu tersenyum.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (285)
nuraniamalia
author cerita menarik dan baper kadang membacanya aja sedih banget sih aku suka alurnya begitu menarik dan indah
22/01/2022
1
Ava Fatrul Khomaroh
menarik banget. i like this 😍😍😍😍. semangat berkarya teruz kakak
author cerita menarik dan baper kadang membacanya aja sedih banget sih aku suka alurnya begitu menarik dan indah
22/01/2022
1menarik banget. i like this 😍😍😍😍. semangat berkarya teruz kakak
04/01/2022
1seruuu
10/09/2025
0Lihat Semua