Siang ini adalah jadwal gips Manda akan dilepas, namun karena tidak ingin menyusahkan bi Nana, Manda pun menolak untuk ditemani sang bibi. Berbekal smartphone, Manda memilih menggunakan ojek motor online ketimbang naik taksi, selain lebih murah tentunya untuk menghindari kemacetan dijalan raya yang cukup padat. Saat sedang berada di persimpangan lampu merah, ojek motor yang dinaiki Manda tidak sengaja berhenti di sebelah mobil Antonio yang saat itu juga sedang terjebak lampu merah. Antonio baru saja selesai menghadiri meeting di perusahaan kliennya sementara Ramon ditugaskan meeting di bandung oleh Antonio. Manda yang saat itu lupa memakai helm tentunya sangat gampang dikenali wajahnya oleh Antonio yang mengenalinya bahkan saat melihat gips yang melilit di tangan kanan Manda. "Manda?" gumam Antonio. "Mau kemana dia? dan kenapa dia tidak memakai helm." Namun saat Antonio ingin membuka kaca mobilnya, lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau. Itu aritnya mereka harus berjalan. "Argh, sial!" Antonio pun memilih mengikuti Manda ketimbang kembali ke kantor. "Wanita itu selalu saja membuatku sakit kepala, kenapa dia tidak naik taksi aja sih, kenapa harus naik motor dan kenapa tidak pakai pelindung kepala," cerocos Antonio kesal sendiri melihat Manda. Tanpa sadar dirinya merasa khawatir dengan Manda. Klinik Medika Admajaya Ojek motor yang membawa Manda berhenti tepat di depan sebuah klinik yang tidak terlalu besar itu. Setelah membayar, Manda pun segera masuk ke dalam klinik. Mobil Antonio pun berhenti tepat di depan klinik, dari luar Antonio bisa melihat Manda sedang menunggu giliran sendiri karena kondisi kaca yang transparan dan juga tidak banyak pasien saat itu membuat Manda cepat masuk ke dalam. Antonio yang melihat pergerakan Manda masuk ke dalam pun segera mengikutimya. "Selamat siang Dokter, sapa Manda." "Selamat siang, Bu Amanda," balas Ibu Dokter. "Dokter, ini jadwal saya lepas ini Dokter," ucap Manda memperlihatkan gips di tangannya. "Oke, baiklah.. saya cek yah bu," ucap sang Dokter. Cekrek! (Tiba tiba pintu ruangan sang Dokter terbuka) "Permisi! maaf saya terlambat," ujar Antonio ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan. "Antonio!" "Loh, bapak ini siapa? Mohon tunggu antrian di luar," seru sang Dokter. "Saya suaminya Dokter," jawab Antonio menunjuk ke arah Manda Sementara itu Manda hanya bisa menatap tanpa ekspresi ke arah suaminya. "Oh, maafkan saya Pak," jawab sang Dokter. "Mari bu Amanda, silahkan duduk disini," perintah sang Dokter lagi. Manda pun mengikuti perintah sang Dokter. "Dokter, pelan pelan yah Dok," ucap Manda yang sebenarnya takut dengan segala hal tentang rumah sakit apalagi dengan alat alat medis sepeti jarum suntik. "Kalau Ibu takut, mungkin Bapak bisa temani kesini," seru sang Dokter lembut yang memanggil Antonio. "Egh! Saya berani kok Dokter," ucap Manda. Namun Antonio sudah lebih dulu berdiri menghampirinya dan berdiri disisinya. "Akhhh! Dokter pelan pelan Dok," pekik Manda menahan sakit. Antonio tiba tiba merasakan pukulan yang cukup kuat dihatinya mendengar suara rintihan kesakitan Amanda. "Dok, pelan pelan aja yah Dok," ucap Antonio bijaksana. Tanpa sadar jari jemari Manda memegang Antonio, melihat itu, Antonio pun menautkan kedua tangan mereka. "Coba sekarang bu Amanda gerakan pelan pelan siku dan lengannya yah," perintah sang Dokter. "Hhmm Iyah Dok," balas Manda. "Dok, masih sakit Dok," seru Manda lagi. "Pelan pelan aja gerakinnya," ucap Antonio dengan lembut. "Tuh bener kata suami Ibu, pelan pelan saja... gak apa apa kok ini karena efek habis di gips dan dibebat, jadi gerakan aja pelan pelan biar lancar nanti lama lama juga akan terbiasa dan kembali normal Bu," seru sang Dokter. Setelah menerima obat dan vitamin keduanya pun berpamitan dengan sang Dokter. "Hmm.. Antonio, aku mau pergi ke...." "Masuk mobil cepat, aku tunggu di dalam," balas Antonio acuh. Dia tidak ingin mendengar alasan Manda. "Huufftt... Kuat Manda, jaga hatimu baik baik, gumam Manda kembali bermonolog sendiri. Ttin! "Lelet sekali jalannya," pekik Antonio dari balik kemudinya. Sementara jauh di belahan dunia yang lain, sepasang suami istri paruh baya sedang mempersiapkan keberangkatan mereka ke Indonesia. Pasalnya ini kedatangan mereka setelah sekian lamanya mereka meninggalkan Indonesia untuk merintis kembali bisnis mereka yang pernah hancur pada masa itu. "Papa cepat Pah, pokoknya besok kita sudah harus berangkat ke Indonesia," ucap sang istri yang diketahui bernama Miranda. "Ma, Papa besok masih ada jadwal meeting," balas sang suami yang bernama Rudolf itu. "Papa, kita udah menunda ini berapa kali karena Papa lebih mentingin bisnis Papa, harusnya dari minggu lalu kita sudah berada di Indonesia, kenapa Papa gak bisa ngertiin perasaan Mama sih! Mama udah kangen sama Viona Pah, Mama kangen Viona," teriak Miranda histeris. Mereka adalah orangtua kandung Roger yang menetap di Amerika pasca kebangkrutan yang menimpa keluarga mereka belasan tahun silam. "Ma, Papa hanya tidak ingin Mama terlalu berharap lebih.... Roger memang sudah mendapat informasi tentang panti asuhan Viona, tapi kita tidak tau dimana Viona.... kita tetap harus tetap rasional Mah, tidak boleh berharap lebih, Papa hanya tidak ingin Mama terlalu berharap dan kecewa nantinya," bujuk Rudolf lembut pada sang istri. Miranda sadar bahwa perkataan suaminya tidak sepenuhnya salah. "Apa kita tidak boleh berharap Pah? apa benar benar sudah tidak ada harapan lagi untuk kita bertemu Viona Pah," seru Miranda. "Mama benar benar merindukan gadis kecil Mama, Viona hiks... dimana kamu sekarang Nak hiks." "Akhh!" pekik Manda tiba tiba merasakan dadanya begitu sakit. dan nyeri. "Kenapa?" Antonio pun sampai harus menepikan mobilnya. "Ada apa dengan kamu?" tanya Antonio khawatir. "Aku? aku .. aku tidak apa apa... " suaranya bergetar dan wajahnya berubah menjadi pucat. "Mama," gumam Manda menatap kosong ke depan. "Are you okay?" tanya Antonio kembali mencoba mengkonfirmasi keadaan Manda. Dengan lembut dia menyentuh pipi Manda. "Apa? ohh.. iyah iyah," balas Manda. "Ada apa? kenapa menatapku?" tanya Manda. "Nope!" Antonio kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya. Saat mobil Antonio memasuki halaman rumahnya, baik Antonio maupun Manda dibuat heran dengan adanya mobil sport mewah berwarna merah. "Itu bukannya mobil Kak Dean," gumam Manda. "Oh, jadi kamu mengundang pria itu kesini?" ketus Antonio. "Tidak Antonio... aku bisa jelaskan.." "Diamlah! cepat turun dan temui dia sana." Baik Manda juga Antonio akhirnya keluar dari mobil Antonio, dengan langkah kaki gontai, Manda menapaki jalan dengan sangat pelan. "Antonio!" Suara wanita yang sangat Manda kenal justru menyambut kedatangan mereka. "Nadine!" Ternyata dia juga mengundang kekasihnya kesini~batin Manda.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Good!!!!
10/12
0bagus ceritanya, ditunggu karya lainnya 🥰🥰
03/06/2025
0bagus
24/04/2025
0Lihat Semua