logo text

Bab 23 Sesuatu yang Tak Terduga

“Apa? Hamil dokter?” tanya Maya tidak percaya.
“Ya, Anda sedang hamil dua bulan. Apakah Anda tidak menyadarinya?”
Maya menggeleng tidak paham.
“Bulan lalu saya masih datang bulan. Bagaimana bisa saya sekarang hamil?” anya na ut bingung di wajah Maya.
“Hal itu bisa saja terjadi Nyonya. Ada yang tetap menstruasi seperti biasa, namun tiba-tiba kandungannya sudah empat bulan,” jelas dokter lagi.
Maya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarkan. Abimanyu baru saja kecelakaan dan sekarang dokter mengatakan dia sedang hamil.
“Anda harus istirahat di sini, sampai Anda pulih. Ingat, jangan ke mana-mana.” Dokter mengingatkan.
Maya hanya bisa pasrah terbaring di kasur IGD.
Beberapa menit kemudian, dia melihat beberapa orang berseragam Turn Back Crime datang ke arahnya.
“Maaf mengganggu Anda, Nyonya,” sapa salah seorang detektif kepolisian.
“Ada apa Pak?” Kening Maya berkerut melihat pria tak dikenal menghampiri.
“Perkenalkan, saya Detektif Alif dari kepolisian Jakarta Pusat,” ujar polisi bernama Alif memperkenalkan diri, “kami telah menemukan orang yang menabrak suami Anda. Setelah bertanya ternyata ini bukanlah kasus tabrak lari biasa. Tapi percobaan pembunuhan.”
Mata cokelat kehijauan milik Maya tampak melebar.
“Pembunuhan?” cetus Maya tak percaya.
“Ya. Ini adalah kasus percobaan pembunuhan, karena itulah kami dari bagian anya na yang mengambil alih kasus ini dari kepolisian lalu lintas,” kata detektif, “Anda kenal dengan orang ini?”
Detektif Alif menyerahkan sebuah foto kepada Maya.
Maya segera melihat foto itu. Tampak seorang gadis berusia dua puluh lima tahun dengan mata lebar dan kulit putih. Dia berusaha mengingat siapa gadis itu? Seperti pernah bertemu di suatu tempat baru-baru ini. Dan ya, dia ingat! Gadis itulah yang tadi menghampiri dan berkata tempat yang diduduki Maya adalah tempatnya.
“Sepertinya gadis ini adalah gadis yang bertemu dengan saya di restoran tempat kami makan siang tadi,” ujar Maya memberitahu detektif.
“Apakah sebelum ini Anda pernah bertemu dengannya atau bahkan mengenalnya?” tanya detektif lagi.
Maya menggeleng ragu.
“Atau gadis ini kenal dengan suami Anda?” tambahnya.
Maya berusaha mengingat-ingat. Pikirannya kembali ke beberapa tahun yang lalu saat ia baru kenal dengan Abimanyu. Ya, itu adalah gadis yang pernah berusaha menelepon Abimanyu saat menemani Raja di Ancol.
“Lina?” Spontan Maya menyebut nama Lina.
“Ya, lebih tepatnya Lina Hermono. Dia mengaku pernah menjalin cinta dengan suami Anda dulu, kemudian berusaha membunuhnya sebagai upaya balas dendam,” papar detektif berkulit hitam manis itu, “gadis ini dengan suka rela menyerahkan diri ke kantor polisi setelah menabrak suami Anda. Dia mengatakan sangat menyesal atas apa yang telah dilakukannya.”
“Jadi yang menabrak suami saya adalah Lina?” Maya tak percaya.
Detektif itu mengangguk. “Baiklah Nyonya, saya rasa hanya itu informasi yang saya butuhkan. Saya pikir Anda juga harus beristirahat. Terima kasih.”
Detektif dan beberapa polisi lainnya pamit keluar dari rumah sakit.
Satu jam kemudian, perawat datang memberi kabar bahwa operasi Abimanyu telah selesai. Sekarang Abimanyu berada dalam perawatan intensif di ruang ICU.
“Suster, saya ingin menemuinya. Bisa tolong antarkan saya?” pinta Maya kepada suster yang merawatnya.
Awalnya perawat tidak mengizinkan, karena kondisi Maya semakin lemah. Tapi melihat Maya memelas meminta tolong, akhirnya perawat mengizinkan dengan catatan harus menggunakan kursi roda, karena kondisi belum terlalu pulih.
Tiba di ruang ICU, Maya melihat Abimanyu terbaring tak berdaya. Tidak terdengar lagi candaan dan godaan yang selalu ia lontarkan kepada Maya.
“Abi,” lirihnya menahan tangis, “aku di sini.”
Dia menatap sendu suaminya yang tidak bergerak. Perlahan Maya berdiri dan meraih tangan Abimanyu lalu diletakkan ke atas perut.
“Kamu harus tahu Abi. Aku sedang hamil dua bulan,” ucapnya terisak, “bukankah ini suatu keajaiban?”
Hati Maya benar-benar hancur melihat suaminya terbaring tidak berdaya di ruang ICU. Air mata turun satu per satu di pipi mulusnya. Tiba-tiba ia merasakan jari Abimanyu bergerak di atas perut. Mungkinkah pria itu mendengarkan apa yang baru saja ia anya na?
Mengetahui ada reaksi dari suaminya, Maya segera menekan tombol panggilan untuk perawat. Tidak lama perawat datang bersama dengan dokter yang menangani Abimanyu.
“Dokter, dia baru saja menggerakkan jari saat saya meletakkan tangannya di perut saya. Tapi setelah itu dia kembali diam,” ujar Maya khawatir.
Dokter kemudian memeriksa Abimanyu.
“Dia baru saja melakukan reaksi spontan. Itu hal yang biasa terjadi pada pasien yang belum sadarkan diri. Kita harus melihat dulu perkembangannya.”
Dokter menenangkan Maya karena tidak mau membuat wanita itu khawatir, apalagi sekarang ia sedang dalam keadaan hamil.
“Apakah Anda punya kontak keluarga suami Anda yang lain?” tanya dokter lagi.
Maya memberikan nomor ponsel Viona kepada dokter.
“Biar saya yang menelepon, Anda di sini saja dan terus perhatikan perkembangannya,” tutur dokter.
Tak lama kemudian dokter menghubungi Viona yang saat ini berada di Bali. Awalnya Viona tidak percaya dengan si penelepon karena sering terjadi penipuan dengan modus seperti itu akhir-akhir ini.
“Kenapa bukan kakak ipar saya yang menelepon?” tanya Viona.
“Nyonya Maya sedang berada di ruang ICU menemani kakak Anda. Saya khawatir jika Nyonya Maya yang memberitahu Anda, dia akan mengalami reaksi berlebihan dan itu tidak baik bagi janinnya,” jelas Dokter.
Setelah mendengarkan penjelasan dari dokter, Viona segera membeli tiket go show dan berangkat ke Jakarta.
Beberapa jam kemudian, Viona tiba di rumah sakit. Dia segera ke ruang ICU dan melihat Maya sedang menatap sendu suaminya yang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur.
Viona terisak melihat tubuh Abimanyu kini sedang terbaring lemah. Ditambah lagi dengan kondisi kakak iparnya yang terus terisak di samping sang Suami.
Viona segera menggunakan pakaian khusus pengunjung ICU. Sebelum masuk dia mengusap air mata dan mencoba mengendalikan diri. Gadis itu tidak ingin membuat Maya makin bersedih, karena telah mengetahui tentang kehamilan Maya dari dokter.
Dia memeluk Maya yang sangat terguncang akan kejadian itu. Viona menepuk pelan pundak Maya yang bergerak naik turun, karena menangis. Gadis itu kemudian berjalan ke sisi sebelah kiri tempat tidur untuk melihat kakaknya.
“Kakak ….” Gadis itu berusaha menahan tangis.
“Kakak harus kuat yaaa … Kakak harus segera bangun, lihatlah Kak Maya sekarang sedang hamil. Kakak harus bangun!” desis Viona.
Gadis itu sekuat tenaga menahan tangis sambil memegang tangan Abimanyu.
“Kakak keluar yuk! Aku membelikan makanan untuk Kakak. Kakak belum makan ‘kan?” ajak Viona.
Maya lalu menggeleng.
“Kamu makan saja dulu, aku tidak lapar,” ucap Maya.
“Kakak tidak boleh begini. Ingat Kakak sekarang tidak sendiri. Di anya Kakak sekarang ada janin yang sedang berkembang. Kakak makan yaaa?” bujuk Viona.
Maya seakan lupa dengan janin yang sekarang berada di rahimnya. Dia menenangkan diri, berpikir untuk tidak egois dan harus memikirkan juga janin yang butuh asupan makanan untuk berkembang.
Viona mengajak Maya keluar ICU untuk makan.
“Makan yang banyak ya kak. Aku tinggal sebentar, karena ada yang harus aku bicarakan dengan dokter,” ujar Viona kepada Maya.
Maya mengangguk lemah, kemudian memaksakan diri untuk makan.
Viona segera pergi ke ruangan dokter yang menangani Abimanyu.
“Bagaimana keadaan kakak saya, Dok?” anya Viona begitu tiba di ruangan dokter.
Dokter melihat ke arah Viona dan melepaskan kacamatanya.
“Kecelakaan yang terjadi pada kakak Anda sangat fatal. Kepalanya terhempas dua kali. Pertama ke kaca mobil si penabrak dan kedua ke aspal, sehingga menyebabkan tulang tengkoraknya retak dan terjadi pendarahan yang sangat hebat.”
Dokter memperlihatkan hasil CT scan kepala Abimanyu kepada Viona.
“Melihat kondisi ini, sungguh ajaib kakak Anda masih bertahan hingga sekarang,” lanjut dokter.
Mata Viona mulai berkaca-kaca. Tubuhnya bergetar dan napasnya terasa tertahan. Dia bisa memprediksi, apa yang akan dikatakan dokter selanjutnya.
“Kemungkinan untuk pulih sangat tipis. Tapi kita tidak boleh pesimis. Untuk saat ini kita harus memantau perkembangannya terlebih dahulu. Jika dalam beberapa jam ke depan masih belum sadar, maka kakak Anda akan memasuki fase koma. Dalam keadaan ini, dia tidak akan sadarkan diri hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.”
Bersambung....

Komentar Buku (153)

  • avatar
    HidayahNur

    bagus👍

    19/07

      0
  • avatar
    SihombingFitriani

    Bagus..

    26/05/2025

      0
  • avatar
    Prasasti

    selalu suka ceritanya ❤️❤️

    04/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru