Cafe Bunga

"Iya Nit, ini semua kulakukan demi kebahagiaan kedua orang tua ku dan adik adik ku. Setiap aku mengingatnya aku selau bertambah semangat dalam bekerja. "
"Itulah kekuatan sebuah keluarga Ra, aku ikut seneng kapan kapan boleh dong di ajak ke kampung mu."
" Siap Nit. Ya sudah ayog bekerja lagi."
============================
Teringat akan janji ku kepada Tuan seno, setelah ku selesaikan semu pekerjaan hari ini, ku bergegas meninggalkan Cafe Cerry menuju Cafe Bunga yang jaraknya tidak jauh hanya 10 menit jika berjalan kaki.
" Nita, sepertinnya kamu duluan saja pulangnya, aku masih ada keperluan di luar, aku janji tidak akan lama." pamitku kepada Anita.
"Baiklah tapi mau kemana ? mau aku antar Ra ?"
"Tak usah Anita, kamu pulang saja aku hanya di dekat dekat sini saja kok, nanti aku pulangnya pesan ojek tak apa."
"Oke -oke tapi nanti kalo kamu butuh jemputan hubungi aku aja gak papa Ra ?"
"Siap Nit. Aku duluan ya.. bye."
" Bye Ra, hati hati. Jika ada apa-apa segera hubungi aku."
Aku pun berjalan santai menuju Cafe Bunga. Ternyata kalau sore hari memang ramai taman ini. Indah sekali suasana seperti ini. Aku jadi teringat liburan dengan ayah bunda.
Setelah bernostalgia sebentar di taman itu Laura bergegas ke Cafe Bunga karena jam sudah menunjukan pukul 5 kurang 5 menit. Begitu sampai dan masuk ke cafe tersebut Laura mencari sosok Tuan Seno yang ternyata belum datang dan akhirnya ia memilih duduk di pojokan sebelah jendela yang mengarah ke jalanan agar jika Tuan Seno datang dapat segera melihat Laura.
Tak lupa laura memesan jus buah sembari menunggu kedatangan Tuan Seno. Setelah menunggu sekitar setengah jam lamanya Tuan Seno akhirnya datang juga.
" Hay Ra.. Maaf ya terlambat tadi di kantor banyak pekerjaan." jelas Seno yang baru sampai dan merasa bersalah karena tidak tepat waktu.
"Tak apa Tuan, karena Tuan kan orang sibuk jadi wajar kalau Tuan sangat terlambat." jawab Laura sambil tersenyum.
"Hmm panggil aku Seno saja Ra, tak usah pake embel embel Tuan segala."
"Maaf sebelunya Tuan, saya tidak enak memanggil nama begitu saja. Karena Tuan juga saya rasa jauh lebih tua dari saya. Saya hanya ingin menghormati saja."
Sambil tersenyum lalu Seno berkata "hmm baiklah panggil aku kaka saja kalo begitu, jika kau memanggilku dengan sebutan Tuan aku merasa begutu tua sekali Ra."
"karena kamu memang akan menjadi adik ipar aku Ra." tambahan dalam hati seno.
Setelah cukup berfikir laura pun akhirnya menyetujui tentang panggilan tersebut "Baiklah kak Seno." ucap Laura malu malu karena belum terbiasa dengan sebutan itu.
"Nah gitu dong. pesan makan gich seklian kita ngobrol dan makan karena sudah malam juga dan aku lapar dari siang belum makan."
Setelah mereka makan akhirnya Seno bicara akan tujuannya mengajak Laura bertemu di Cafe ini.
"Ra ada yang ingin aku katakan padamu tentang adik ku Andra. Kamu jelas tau kan Andra ?"
Laura hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.
"Walapun Andra itu bukan saudara kandung aku, tapi aku dan ia sudah hidup bersama sejak kami kecil. kami sekolah dan belajar bersama, hanya saat andra di minta meneruskan studynya di luar negeri saja aku yang tak ikut karena aku memutuskan bekerja saja menjadi asissten papa dan sampai saat ini aku menjadi asisten Andra. Aku cukup study di sini sambil belajar bekerja."
" Jadi aku sudah mengenal karakter dan pribadi Andra. Apa yang membuatnya bahagia dan apa yang membuatnya tidak bahagia. Walaupun Andra kelihatan arogan dan dingin tapi aslinya ia orang yang peduli akan sekitar, hatinya lembut. Hanya saja kisah masa lalunya yang membuat ia menjadi pribadi yang sulit orang jangkau. "
Seno menghentikan ucapannya dan melihat laura karena Laura terlihat bingung atas perkataanya barusan.
Sambil menghembuskan nafas pelan seno berkata " Kamu masih bingung atas penjelasan aku ?"
"Maaf kak, jujur iya, aku masih tak mengerti mengpa kakak menceritakan itu padaku. "
"Baiklah aku lanjutkan agar kamu menegrti." sambil meminum minumanya.
"Ra,, Andra sebernya mulai berubah saat mengenal mu, Ia mulai terbiasa akan hadir mu tapi hanya saja ia tak mau memulainya dan membuka hatinya untuk bisa mengenal mu. Ia marah ketika kau berdekatan dengan pria lain. Dan kurasa ia mulai mencintaimu Ra. Hanya ego yang belum ia turunkan. Egonya masih terlalu tinggi."
"Maaf kak, mana mungikn Tuan Andra suka denganku yang hanya pelayan sebuahCcafe kak. Tuan Andra seorang pengusaha yang terkenal. Itu hal mustahil kak, mungkin Tuan Andra hanya kagum semata, tidak lebih seperti yang kakak cetitakan barusan." ucap Laura menahan kecambuk dalam hatinya.
"Aku mengel Andra, Ra, kau boleh percaya atau tidak hanya waktu yang akan membuktikan Ra. Tapi aku mohon tolong jagan sakiti hati Andra, Ra, jagalah hati Andra takala ia di sekitarmu. Itu saja pintaku Ra."
Entah bingung atau apa Laura hanya menganggu saja menyetujui ucapan Seno. Setelah cukuo membicarakan Andra dan sedikit bertanya tanya, akhirnya Seno memutuskan mengajak Laura pulang karena hari sudah malam.
"Baiklah Ra m, mari ku antarkan pulang karena sudah malam."
"Eh tak usah kak, aku pulang pake ojek depan itu saja kak, karena aku harus membeli sesuatu sebelum pulang." ucap Laura, karena memang ia ingin membelikan Anita makan malam terlebih dahulu. Karena ia yakin Anita belum makan malam.
"Tak apa Ra, ini sudah malam. Aku antarkan ya."
" mGak papa kak ini juga masih jam 8 kak." tolak Laura dengan halus.
Setelah sekian lama berdebat akhirnya Seno memutuskan Laura pulang tanpa Ia antar. Setelah keluar dari Cafe, Laura dan Seno pun berpisah. Laura menyebrang dan memesan ojek sedangkan Seno langsung ke parkiran menuju mobilnya dan segera pulang.
"Nits, kamu mau kemana ?" tanya Laura yang baru turun dari ojeknya dan segera ia membayar ongkosnya.
"Hmmm kamu uda pulang Ra. Ini aku mau beli makan di depan kamu tau kan aku malas memasak." ucap Anita sambil cekikikan.
"Nih aku sudah belikan makanan kesukaan kamu Nit. Aku tak sejahat yang kau fikirkan kali." goda Laura.
"Isssss kamu nih Ra, tapi makasih lho ea kebetulan sekali aku sudah lapar." kekeh Anita dan langsung menyambar kantong kresek yang Laura bawakan tadi.
"Dasar kamu nih, Nit, tak berubah. Ayo masuk lha malah kita ngobrol di luar."
Setelah masuk Anita pun langsung kedapur dan menyiapkan piring untuk mereka makan.
"Aku mandi dahulu ya Nit, kamu makan dahulu saja." Setelah itu Kaura pun bergegas menuju kamar dan membersihkan diri.
" Oke Ra,, "
=======================
"Habis dari mana kamu Sen, kok baru pulang ? terus Andra kemana ?"
"Malam mama ku sayang, aku habis bertemu seseorang ma, kukira Andra sudah pulang karena kan kemarin malam ia tidur di apartemen ma. Nanti coba ku hubungi ma."
" Yasudah kamu bersih bersih dulu sana."
"Kebiasaan Andra tak pernah berubah." gerutu mama Yola
"Siap ma."
Di lain sisi ada seorang yang sedang menikmati malam dan menikmati minuman yang ia pesan tadi dengan kesendiriannya. Pria tampan yang memiliki karismatik yang luar biasa, banyak wanita penghibur yang ingin menjadi teman kencannya atau temab satu malam, tapi dengan mentah mentah mereka semua di tolaknya , Ia ingin sendiri dan tanpa gangguan.
"Hai dude sendirian saja. ada masalah kah ?" ucap Rico sahabat Andra.
"Aku sedang pusing dan penat seharian bekerja saja, jadi ingin menikmati malam ini sebentar saja."
"Baiklah tak mau mencoba yang lain?" tawar Rico pada Andra.
"No. Aku tak tertarik."
Dengan terbahak Rico berkata " tumben tumbenan Kau sudah berubah, apa ada wanita yang bisa merubah sikap mu sekarang ini ? kau ta menyukai jeruk makan jeruk kan kawan ?"
"Lebih baik aku pulang saja lelah dengar ocehan mu."
Sebelum meningalkan ruangan tersebut Andra
berbalik dan berkata pada rico " Besok temui aku di kantor ku!"
Lalu Andra berbalik dan pergi dari club tersebut.
Pagi yang cerah ta menyurutkan kedua sahabat itu untuk bekerja sama untuk membereskan rumah dan berrsiap untuk bekerja.
"Ra sudah sial belum ? Sudah siang ini Ra ?"
"Iya, nita, ini sudah siap, bekal sudah kamu bawa ?"
"Jelas sudah dong Ra, itu gak boleh ketinggalan tau gak." kekehan Anita.
"Ya sudah ayog berangkat."
Sesampainya Laura dan Anita langsung bekerja di bagian masing masing. Laura berkutat membuat menu dessert box yang biasa di pajang di etalase Cafe dekat kasir agar memudahkan untuk mengambil jika ada yang memesan. Tak lupa Laura juga mengajarkan teman satu teamnya membuat berbagai dessert juga karena Laura kini bekerja dengan 3 orang yang di tugaskan khusus untuk membantu Laura.
Panji sungguh sungguh memperlakukan Laura dengan baik dan tak mau melihat Laura kelelahan. Walaupun ia sendiri kadang ikut juga membantu Laura jika kerepotan tapi, akhir akhir ini ia jarang sekali ke cafe karena ia harus mengerjakan usaha lainnya. Makanya semua urusan cafe ia percayakan kepada Laura. Laura menerima tanggungjawab itu dengan sebaik baiknya.
"Laura di depan ada Tuan Andra." ucap Anita yang menyusul ke dalam.
"Baiklah aku segera keluar Nita. Kalian teruskan dahulu ya !" ucap Laura sambil bergegas keluar.
"Selamat siang Tuan Andra silakan menunya, mau memesan apa hari ini ?" tanya Laura sambil tersenyum manis.
"Mineral dan salat buah saja tanpa mangga." ucap Tuan Andra.
"aku mau wafle dan mocacino saja." ucap Tuan Seno.
Sambil tersenyum laura pun berkata " Baik Tuan tunggu sebentar. Saya permisi dahulu."
Setelah itu Laura pergi meninggalkan mereka dan membuat pesanan lalu menyajikan di meja mereka dengan senyum yang mereka. Laura masih ingat kata kata Tuan seno tempo hari jadi hari ini ia memenuhi janjinya kepada Tuan Seno atau yang ia panggil kakak untuk melayani dengan riang di hadappan Tuan Andra.
Bukan maksud lain hanya agar Andra mau membuka hatinya kembali dan menjalini hari hari yang menyenangkan dan meninggalkan kebiasaan buruknya. Serta agar Andra menghilangkan ke arogannya. Ia takut jika itu membuat bencana di lain waktu. Selama seno masih bisa berada di samping Andra ia akan membereskan apapun yang akan mencelakai adik tersayangnya yang telah menjadikan Seno seperti sekarang ini.
Ya inilah balas budi bagi Seno untuk keluarga Andra. Berkat mereka ia mampu menjalani hidupnya yang entah bagaimana ketika seno kecil harus merasakan pahitnya kehidupannya dahulu, harus rela makan dari makanan sisa bahkan tak ayal hanya tidur beralaskan kardus. Orang tua yang dahulu menyanyanginya hanya meninggalkan begitu saja di pemukiman kumuh bersama nenek yang menjaganya.
walau akhirnya sang nenek yang menjaga seno kecil harus tutup mata untuk selama lamanya dan tinggallah Seno sebatang kara. tak memakan waktu lama ia menemukan kebahagiaannya kembali. Ya ia diangkat menjadi anak orang kaya dan ternyata itu orang tua Andra yang telah ia selamatkan kala ada motor yang hampir menabraknya. semenjak itu kebidupan Seno kecil penuh canda tawa dan kebahagiaan.

Komentar Buku (371)

  • avatar
    cchehe

    sukaa sama ceritanya, konflik nya juga ringan jadi ga terlalu tegang bacanya😂semangat trs kak❤

    25/01/2022

      1
  • avatar
    Agnes Agustina

    bagus ceritanya. lanjut

    21/06

      0
  • avatar
    Hamida Yunita

    bagus

    16/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru