Setelah kejadian semalam, aku berjanji dalam hati untuk tidak menghubungi Mas Angga lagi. Kartu telepon yang dia berikan aku sembunyikan dibawah lipatan baju di lemari, aku lakukan semua itu untuk mencegah keinginanku jika ingin menghubunginya. Hari pertama aku lewati berat sekali, karena menghubungi setiap sore setelah pulang bekerja memang menjadi kebiasaanku. Aku sempat berdiri cukup lama di depan telepon umum, aku sempat mencari-cari kartu telepon di dalam tasku. Tapi akhirnya aku sadar, kartu itu tidak ada. Hari ketiga aku coba menghindari telepon umum, aku berjalan memutar. Semua itu aku lakukan untuk melawan keinginanku untuk menghubungi Mas Angga, aku tahu rasa ini sangat menyiksaku. Aku sudah membohongi perasaanku sendiri, bahwa aku juga mencintainya! Awal bulan Oktober, aku diberitahu leaderku kalau aku memiliki jadwal kerja baru. Yang tadinya jam kerjaku dari pagi sampai sore, mulai bulan Oktober aku kena shift. Aku mulai beradaptasi dengan jam kerja yang baru, yang akhirnya bisa membuatku melupakan Mas Angga. Hampir dua minggu sama sekali tidak ada komunikasi antara aku dan Mas Angga, aku berhasil melawan diriku sendiri. “Kayla, telpon,” ujar Uni Wati. Aku kaget, siapa yang menelponku? Seingatku tidak ada satu pun yang tahu nomor kantorku, aku berusaha tenang dan berbicara hati-hati. “Hallo, selamat malam,” ucapku. “Selamat malam, Kayla. Ini Angga,” jawabnya. Aku kaget mendengar suaranya, hampir saja aku menutup telepon. Tapi Mas Angga mencegahku. “Tolong jangan ditutup, tolong dengarkan aku dulu. Kamu pulang jam berapa?” tanya Mas Angga. “Jam sebelas, Mas,” jawabku pelan. “Aku jemput di kantor ya, kamu jangan naik bus. Aku tunggu di seberang, di depan PT. Arsi,” beritahu Mas Angga. Kemudian telepon pun ditutup. “Cie … Udah ada yang jemput sekarang loh,” ledek Mas Anto seniorku. Rupanya banyak yang menguping pembicaraanku ditelepon barusan, tapi sudahlah. Aku heran kok Mas Angga bisa tahu nomor telepon kantorku? Tapi memang aku pernah cerita soal departemen tempat aku bekerja, rupanya dia mengingat semuanya. Aku bingung dengan ajakan Mas Angga untuk bertemu setelah pulang kerja nanti, jam sebelas malam bertemu? Apa mungkin dia bisa masuk ke kawasan ini? Sementara jam malam berlaku di kawasan ini dan tidak sembarang orang bisa masuk kawasan di atas jam sembilan malam! Mas Angga benar-benar nekad. “Kayla ….” Sebuah suara memanggilku. Aku berjalan ke arah sumber suara, Mas Angga! “Apa kabar, Mas? Sehat?” tanyaku basa-basi. “Alhamdulillah, sehat. Walau pun sempat kehilangan kamu, akhirnya kita bertemu lagi,” jawab Mas Angga. “Kok kamu tau nomor kantorku, Mas?” tanyaku penasaran. “Perusahaan kamu ‘kan terkenal, nggak susah mencarinya. Apalagi aku masih mengingat departemen kamu, kalau aku lupa mungkin aku nggak berhasil menghubungi kamu. Untungnya aku ingat,” jawabnya bangga. “Kamu ngapain sih, Mas? Malam-malam di sini? Kok bisa gitu loh masuk kawasan?” tanyaku lagi. “Aku bilang mau jemput istriku di PT. Astrada, dan aku dibolehkan masuk” jawab Mas Angga. “Semudah itu?” tanyaku heran. “Buktinya, aku aku dihadapanmu,” jawab Mas Angga. Ini adalah hari keduaku masuk shift dua, setengah mengantuk aku terima ajakan Mas Angga makan soto. Sepertinya dia tahu titik lemahku, tidak pernah menolak setiap kali diajak makan! Entahlah, aku tidak ingin menolak kebaikannya, walau pun aku tahu itu salah. “Istrimu nggak tanya kamu kemana, Mas? Sudah larut loh ini,” tanyaku. “Hari ini di proyek ada pengecoran, jam sepuluh tadi baru selesai. Tadinya aku mau ke asramamu, tapi entah kenapa aku coba menelpon kantormu. Ternyata benar dugaanku, kamu sudah kena shift,” jawab Mas Angga. Aku menatap Mas Angga, aku mencoba membaca pikirannya. “Aku itu heran loh, Mas. Kamu sangat mengetahui seluk beluk kawasan ini, dari cara masuk ke kawasan. Pintu mana saja yang bisa dilewati setelah jam malam, kemudian dugaan-dugaanmu yang lain yang selalu benar. Aku nggak yakin ini hal yang baru untukmu, aku merasa kamu pernah lakukan hal yang sama ke perempuan lain. Yang juga bekerja di kawasan ini,” ucapku penuh curiga. Mas Angga terdiam. Dia menatapku tajam, lalu meminum teh hangat dihadapannya. “Kok kamu bisa punya dugaan seperti itu? Sebegitu buruk pandanganmu terhadapku? Jika kamu ingin menghindariku, katakan saja sejujurnya. Kamu nggak perlu mencari-cari kesalahanku, menuduhku melakukan hal yang sama ke perempuan lain? Oke, perlu kamu tau ya, Kayla. Rasanya aku tidak perlu jelaskan ke kamu, tapi karena kamu mencurigaiku jadi sudah saatnya aku menjelaskan kepadamu. Siapa sesungguhnya aku.” Mas Angga mengeluarkan beberapa kartu nama. “Ini pekerjaanku dan posisiku, ini aku dan organisasiku, dan yang ini aku dengan komunitasku. Bisa paham? Aku bisa ada dimana-mana karena kesibukan pekerjaanku, organisasiku atau bisa juga kesibukan di komunitasku. Aku bukan suami yang harus ada di rumah jam sekian-sekian, Bunga tidak pernah menanyaiku tentang kesibukan aku diluar rumah. Jika aku belum kembali ke rumah, berarti ada urusan yang belum aku selesaikan.” “Termasuk membohongi istrimu tentang hubungan kita?” tanyaku ketus. Mas Angga terdiam. “Selamat malam, Pak,” seseorang menegurnya. Setelah selesai berbasa-basi dengan beberapa orang yang kami temui tadi, Mas Angga mengajakku pulang. Sudah tengah malam, nyaris dini hari. Sementara dia masih bersamaku, bagaimana perasaan istrinya di rumah? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Kak Bunga yang tidak pernah menanyai kegiatan suaminya, selama aku bersama Mas Angga satu kali pun aku tidak pernah mendengar Mas Angga menerima telepon dari istrinya. “Jadi bagaimana, Kayla? Kamu masih menuduhku yang tidak-tidak?” tanya Mas Angga begitu tiba di parkiran asrama. “Iya,” jawabku pelan. Mas Angga mematikan mesin mobil. “Sandiwaramu sudah cukup panjang, Mas. Harus kamu sudahi, kamu jangan terbiasa berbohong untuk menutupi kebohonganmu yang lain. Aku juga bukan manusia tanpa dosa, tapi bagiku kejujuran itu penting. Kamu bisa membohongi Kak Bunga, tapi tidak denganku.” “Aku membohongimu dalam hal apa? Hal apa yang aku tidak jujur ke kamu? Aku sudah katakan, aku ini suami, ayah, pekerja, pemimpin organisasi, dan pemimpin komunitas. Tapi aku bukan buaya, aku tidak pernah mempermainkan perempuan!” jawabnya. “Aku perempuan, Mas. Kak Bunga, juga perempuan.” Mas Angga membisu. Sepertinya dia kehabisan kata-kata. “Aku tau kamu orang baik, Mas. Suami yang baik, ayah yang baik dan pemimpin yang baik. Jangan buang waktumu dengan aku yang tidak bernilai apa-apa, aku sangat berterima kasih untuk semua kebaikanmu. Pulanglah, Mas. Kembali ke keluargamu, jangan cari aku seperti ini. Kamu tetap abang terbaik untukku, tapi aku tidak ingin mengambil lebih dari itu.” Aku raih tangannya, aku ciumi punggung tangannya. “Aku baik-baik saja, Mas. Sungguh aku baik-baik saja, pulanglah. Sudah malam,” pintaku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus dan mengharukan cerita ya
19/06
0sangat bagus
19/09/2025
0bagus
15/09/2025
0Lihat Semua