logo text

Bab 12.2. Beautiful in Time

Tiba-tiba keadaan di dalam mobil berubah menjadi hening. Ada langkah yang tiba-tiba terhenti karna rasa ragu dan takut.
Mamah Elis mencoba meyakinkan Yuki saat itu, kalo semuanya akan baik-baik saja, begitu juga dengan Steven yang terus memberikan masukan positif.
Mobil Steven sudah terparkir sejak sepuluh menit yang lalu, tepat di seberang jalan depan kediaman Yuki.
Sesekali pandangannya Yuki terhenti pada sosok wanita paruh baya yang sedang menyiram tanaman, entah apa yang Yuki pikirkan saat itu, yang pasti kegelisahan terlihat jelas di wajah cantiknya
"Honey, it's gonna be alright. You can't just stay in the car," kata mamah Elis yang terus memberinya dukungan.
"I'm not fine, Mah!" jawab Yuki dengan tatapan sayu.
"Apa kamu tidak percaya dengan apa yang mah ucapkan? Ada mamah dan steven disini."
"Bukan begitu mah."
"Kalo bukan begitu nunggu apa lagi."
Yuki mencoba menghirup napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Aku siap mah!" kata Yuki yang di balas anggukan beserta senyuman dari mamah Elis dan Steven.
Mereka bertiga akhirnya keluar dari mobil. Yuki saat itu memilih untuk berjalan lebih dulu dari mamah Elis dan Steven seolah mengumpulkan keberanian untuk menemui mamahnya.
Tanpa aba-aba Yuki memeluk ibunya dari arah belakang, namun sayangnya tidak ada respon dari ibunya, mamah Ira hanya diam mematung tanpa ekspresi, lalu menghentikan aktifitas menyiramnya. Mamah Ira seolah-olah sudah tau siapa yang sedang memeluknya dari belakang saat ini.
"Mah...! Yuki kangen sama mamah," kata Yuki dengan mata yang berkaca-kaca. "Jangan usir Yuki lagi, kasih waktu anak mamah buat jelasin secara detail tentang apa yang sebenarnya terjadi. Yuki mohon sama mamah!" Pinta Yuki.
Mamah Ira masih diam saat mendengar suara Yuki, namun matanya tak bisa membohongi sekan menahan tangis.
Sedangkan Steven dan mamah Elis memilih diam di tepat di belakang Yuki, mereka seolah-olah tak ingin menggangu keintiman antara ibu dan anak itu.
"Mah...! Yuki mohon sama mamah, tolong maafin Yuki kalo udah bikin mamah kecewa, tapi Yuki bener-bener gak salah, Yuki masih jaga kepercayaan mamah untuk selalu jaga diri, dan itu semua gak seperti yang mamah kira." Kata Yuki memohon.
Mamah Ira tak tinggal diam saat mendengar penjelasan Yuki, dengan mata memerah dan sedikit berkaca-kaca mamah Ira melepas pelukan Yuki lalu memutar tubuhnya untuk mengarahkan tatapannya ke arah Yuki.
"Kamu fikir, kamu itu anak hebat, anak kuat yang bisa menyelesaikan semua masalah sendiri. Apa kamu juga berfikir mamah kamu itu kepala batu." kata mamah Ira dengan nada meninggi. Sontak ucapannya membuat Yuki tak berani menatap mamah ira, bahkan Yuki memilih menundukkan pandangannya.
"Gita, sama Yuda nemuin mamah buat jelasin, tapi mamah saat itu masih marah dan gak mau denger penjelasan mereka. Terus Steven juga datang menemui mamah, tapi mamah juga masih marah saat itu, sampe akhirnya Steven datang kembali buat nemuin mamah, di rumah dan di laundry, sampe berkali-kali. Dia mohon-mohon sama mamah buat minta waktunya dan jelasin semuanya secara detail. Mamah awalnya gak percaya tapi dia terus meyakinkan mamah, bahkan ibunya Steven bantu meyakinkan mamah, kalo ternyata anak mamah bukan wanita yang seperti di beritakan," ucap mamah Ira menoleh ke arah Yuki, Steven, dan mamah Elis.
Yukipun langsung memeluk ibunya, "Itu artinya mamah udah gak marah lagi sama Yuki?" tanya Yuki yang di iringi anggukan dari mamah Ira.
Betapa bahagianya Yuki saat tau kalo mamah Ira sudah memaafkan dirinya, namun Yukipun tak percaya, kalo Steven dan mamah Elis lah di balik kebahagiaannya saat ini.
"Ya udah kita masuk dulu yuk! gak enak kalo harus lama-lama berdiri di luar," ajak mamah Ira pada mamah Elis, Steven dan Juga Yuki.
Steven saat itu seperti orang paling bahagia saat melihat Yuki kembali tersenyum lebar karna bisa kembali berkumpul bersama ibunya. Bahkan dirinya tidak tau sejak kapan Yuki menjadi wanita kedua paling berarti dalam hidupnya setelah mamah Elis.
Yuki dan Steven saling bertatapan satu sama lain, seolah-olah sedang mentransfer aura kebahagiaan mereka. Bahkan Steven Memberanikan diri untuk menggandeng tangan Yuki dan mengajaknya masuk bersama.
"Makasih," kata Yuki tersenyum saat melangkah masuk bersama Steven.
***
Suasana rumah mamah Ira dalam sekejap berubah menjadi ramai, tentunya dengan kehadiran Yuki, Steven, dan mamah Elis yang berada di tengah-tengah mamah Ira . Pasalnya selama satu bulan terakhir mamah Ira hanya tinggal sendiri, tanpa anak di sampingnya, bahkan, canda tawa seakan sirna di waktu itu.
Mamah Ira juga sempat meminta maaf pada Yuki, karna dirinya sudah berfikir yang tidak-tidak terhadap Yuki. Bahkan mengganggap Yuki wanita panggilan seperti yang orang-orang bicarakan.
Sampailah pada titik dimana mamah Elis membicarakan hubungan Steven dan Yuki.
"Mba, Steven ingin menikahi Yuki secara baik menurut Agama, dan juga hukum. Jadi kami berencana untuk menggelar acaranya kembali, gimana menurut mba?" tanya mamah Elis.
Mamah Ira terdiam sejenak, seakan mencerna apa yang di ucapkan mamah Elis.
"Saya gak berhak buat kasih jawaban tentang hubungan mereka sebaiknya tanyakan langsung pada Yuki dan Steven, karna mereka yang akan menjalani kedepannya," ucap mamah Ira menatap ke arah Yuki dan Steven.
Begitu juga dengan mamah Elis.
"Yuki gimana, apa mau lanjutin hubungannya sama Steven?" tanya mamah Elis yang membuat Yuki terdiam.
"Kenapa harus Yuki, kenapa gak di tanya Steven juga?" tanya Yuki.
"Mamah udah tau perasaan saya yang sebenarnya, dan mamah bicara seperti itu juga karna saya yang minta," jawab Steven yang membuat Yuki nganga dan mengangkat sebelah alisnya karna tak percaya.
"Steven bener sayang, Steven sayang sama Yuki, begitu juga mamah," timpal mamah Elis.
"Ki.... gimana?" kata mamah Ira yang memecahkan lamunan Yuki.
Yuki menghela napas singkatnya dan menatap sekeliling.
"Tapi Steven belum mengenal secara detail tentang saya, hal-hal yang saya suka apa?, atau tidak sukai, bahkan kejelekan saya dia belum tau, begitu juga sebaliknya."
Gue butuh yang kaya raya, mapan, dan hartanya tidak habis tujuh turunan, itu yang gue pengen bilang sebenernya, tapi kenapa gue malah ngomong itu.
"Kalo mencari keburukan seseorang, sampai kakek, nenekpun pasti akan ada aja keburukan, karna hakikatnya manusia tidak akan ada yang sempurna. Dan apapun kebiasaan jelek kamu atau keburukannya saya akan terima. Dan masalah hal yang kamu suka atau tidak suka dengan berjalannya waktu kita akan mengetahui itu," jawab Steven yang membuat Yuki tak mampu berkata apapun lagi.
Stevenpun beranjak dari duduknya dan menghampiri Yuki, iapun mencoba menekuk kedua lututnya di hadapan wanita tersebut, dan menggenggam kedua tangan Yuki.
"Saya mau nikahi kamu untuk menyempurnakan hidup saya, dan saling menyempurnakan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Saya butuh kamu untuk mengisi hari-hari saya, menjadi teman hidup saya dalam suka maupun duka."

"Kenapa harus ada momen melow begini, sih?" Batin Yuki yang mencoba menahan butiran bening dimatanya dengan cara memutar kedua bola matanya mengarah ke atas.
"You will merry me, Again?" tanya Steven dengan cincin yang sudah di tangannya.

Komentar Buku (139)

  • avatar
    123Isma

    sanggat bagus sekali aplikasi ini

    23/05/2025

      0
  • avatar
    Natalia Lahengke

    bagussss bgtt kakk

    04/05/2025

      0
  • avatar
    rariwiiyyyalaa

    bagusssssss

    22/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru