logo text

Bab 39 (Teror kepada Tina)

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
( MASIH POV DINDA )
Dan dia adalah Mas Restu. Semoga saja tak mencurigaiku. Apa yang telah aku lakukan padanya, untuk berbalas dendam.
"Apa maksut kamu neror juga ngambil ban motorku" ujar Mas Restu yang to the point ini. Ternyata Mas Restu sudah mengetahuinya. Bisa gagal lebih dulu ini rencanaku.
"A a aaa-kkkuuu...." jawabku gugup juga terbata.
"Aku apa haaa, jujur kenapa hah susah amat" ujarnya yang seditit membentak itu.
"Aku sudah tau, semuanya itu adalah ulahmu kan" ujar Mas Restu lagi.
"Aku tak bersalah, aku juga tak melakukannya" jawabku mengelak.
"Ngak usah mengelak lah, akui saja apa susahnya" ujarnya yang sambil menggebrak meja.
Bbbbbbbbrrrrrrrraaaaaaakkkkkkkk
Yang membuat jadi pusat perhatian para karyawan lain. Aku tak menjawabnya lagi. Aku langsung pergi meninggalkannya. Percuma toh jika aku menjelaskannya. Pasti dia tak akan faham.
Lintang pun terlihat binggung ada masalah apa aku dengan Mas Restu. Tapi nanti saja lah aku jelaskan pada Lintang. Terlihat Mas Restu berteriak teriak memanggilku.
"Heh pengecut jawab dulu kenapa, jangan lari begitu" teriaknya. Aku tidaklah pengecut, kaulah yang pengecut. Tunggu saja tanggal mainku Mas Restu sayang. Hahahahahahahah.
Aku pun segera menuju untuk pulang ke rumah. Sudah tak ada mood lagi untuk masuk bekerja hari ini. Biarlah tak apa uang tabunganku masih banyak juga kok 😆😆😆😆.
Ttttrrriiinnggg ttttrrrriinnng trrringg
Ponselku terus menerus berbunyi. Ternyata dari Bu Tiara. Biarlah aku matikan saja ponselku. Biar Bu Tiara di tangkap polisi dulu hahahaha. Aku bisa balas dendam sendiri tanpa bantuan Bu Tiara itu yang sok pintar. Padahal tindakannya itu gegabah.
Lalu aku segera mematikan ponselku. Juga langsung merebahkan badanku ke atas kasur ini. Biarlah dengan Bu Tiara, aku tak peduli
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
POV TIARA
Emang dasar, orang kepercaan apanya malah di telvon tak di angkat saat aku butuh begini, apa lagi penting. Kerja ngak becus emang Dinda tu hanya morotin uang aku aja. Tunggu saja pembalasannku nanti, dia juga tak akan lolos dariku.
Hasil otopsi dari Pak Tua ini sudah keluar. Bikin hati ini dag dig dug saja, dengan hasilnya. Apa aku harus lari ya sebelum di tangkap. Eh tapi jangan lah. Kalau Dinda bisa berhasil kan sayang juga, untuk menyaksikan drama ini.
Akhirnya aku pun tetap di rumah ini. Walau hanya berpura pura menangis. Tiba tiba anaknya Pak Tua itu berbisik bisik pada Pak Polisi. Entah mereka pada bicara apa aku pun tak tau.
"Ayok Bu, ikut kami ke kantor polisi" ujar Pak Polisi sambil memborgol tanganku.
"Ehhh... eh... kenapa aku harus ikut kalian" ujarku mencoba membela diri.
"Nanti jelaskan saja di kantor polisi Bu" ujarnya lagi.
"Eh... ngak bisa begitu dong" ujarku yang ngak mau untuk di borgol.
"Bawa saja itu pak, cewek matre pula. Aku harap hukumannya bisa setimpal atas perbuatannya pada ayah saya" ujar anaknya Pak Tua itu seperti merasa dia sudah menang.
Emang sialan Dinda tu, kerja ngak pecus awas saja nanti, ngak akan aku biarkan lolos. Dengan terpaksa aku harus mengikuti ke kantor polisi, nanti akan aku telvon ayah untuk membebaskanku. Tak akan aku biarkan aku mendekam di penjara itu. Lihat saja nanti.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
POV TINA
Kasian sekali suaminya Tiara. Kenapa juga Tiara berani berani gracun tu lakinya. Emang kejam baget tu orang. Hiiii bikin ngeri saja, jadi takut aku.
Dalam hatiku senang karna dia di jebloskan ke penjara sama anak dari Kakek Mawardi itu, emang harus dia di penjara akan perbuatannya itu. Anaknya kakek Mawardi ternyata pinter juga.
Akhirnya jasad Kakek Mawardi di makamkan di asal tempat tinggalnya di desa sebelah. Katanya biar anak anaknya bisa mengurusnya begitu.
"Kasian ya jeng, Kakek Mawardi" ujar Jeng Imah padaku.
"Iya jeng ngeri juga, sudah Jono, sekarang Kakek Mawardi padahal belum ada 1 minggu juga setelah kematian Jono" ujarku yang juga bulu kudukku ini jadi berdiri.
"Iya jeng, duh bikin desa ini jadi tak tenang saja" ujar Jeng Imah yang sepertinya juga tak punya nyali.

Aku pun hanya manggut manggut saja. Setelah jasad Kakek Mawardi di bawa pulang ke kediammannya. Para warga pun akhirnya bubar. Aku, Jeng Imah, juga Lastri akhirnya juga ikut pulang.
"Hiiiii, tinggal rumahnya doang yang kosong jeng" ujar jeng Imah padaku.
"Iya ya mbok, di depan rumah Mbak Tina pula hiiiiiii" ujar Lastri yang membuat aku jadi takut saja.
"Yah, jangan gitu dong Las" ujarku yang jadi takut ini. Karna emang benar rumahnya di depan persis rumahku.
"Hahahahaha Mbak Tina ini," ujar Lastri malah menertawaiku.
"Ya biarlah ah, aku ke rumahmu ya Las" ujarku yang penuh harap. Karna di rumah juga sendirian juga.
"Iya mbak, Mbok, ayo mampir dulu ke rumahku" ujar lastri sama Jeng Imah.
"Mau di kasih apa dek" ujar Jeng Imah malah sambil terkekeh.
"Ya ayok nanti buat apa gitu yang enak" ujar Lastri yang membuat aku jadi girang.
"Hehehehe ya ayok dek, kalau gratis mah mbok mau" ujar Jeng Imah sambil nyengir itu. Emang kalau yang gratisan langsung pada mau ya hahahahaha. Termasuk aku juga pasti langsung gercep deh 😆😆😆😆.
Akhirnya kami pun ke rumah Lastri. Jeng Imah masih slalu membicarakan tentang Tiara itu. Padahal mukanya Tiara aja kek begitu. Cantik kagak malah kayak ondel ondel begitu.
"Eh... Jeng... denger-denger Pak Jono itu naksir sama kamu ya Jeng" ujar jeng imah yang membuat aku kaget saja. Kenapa bisa tau ya Jeng Imah.
"Hahahahaha ngak lah Jeng kamu kata siapa sih" ujarku mencoba mengelaknya.
"Cuma denger sih, kan ngak pasti juga sih" ujar Jeng Imah padaku
Aku pun hanya manggut manggut saja. Capek rasanya mikirin Jono, dan Tiara itu.
"Sini Las,Rara sama aku aja" ujarku sambil mengendong Rara.
"Ya sudah, mbak yang jagain Rara saja. Yuk mbok kita bikin apa ya enaknya" ujar lastri pada Jeng Imah.
"Gimana kalau es buah Las" ujarku mengusulkan.
"Wuiihhh boleh juga mbak, gimana mbok" ujar Lastri minta pendapat ke jeng Imah.
"Boleh lah dek, malah seger" ujar Jeng Imah yang nampak manut saja.
"Cuma ada ini Mbok bahan bahannya" ujar Lastri yang mengeluarkan buah buahan di kulkas itu.
"Itu pun cukup lah las, ngak papa ya kan Jeng" ujarku kepada Jeng Imah. Jeng Imah pun hanya mengangguk. Apa apa manut saja dia mah.
Tiba tiba, di depan rumah Lastri ada benda jatuh, yang membuat kami semua kaget .
Ggggguuuubbbbbrrrrrraaaakkkkkkk
"Apaan itu Las," Teriakku paling kencang karna takut jika ada teroran lagi.
"Ngak tau Mbak aku, coba aku chek dulu ke luar" ujar Lastri yang sambil berjalan ke luar rumah.
Aku dan Jeng Imah pun masih menunggu di dapur. Akhirnya Lastri pun kembali.
"Ngak ada apa apa kok Mbak" ujarnya lagi. Yang membuat aku heran, orang tadi suaranya keras baget begitu masak ngak ada apa apa.
"Kamu yang bener dek" ujar Jeng Imah pada Lastri.
"Iya Mbok, saat aku ke luar ngak ada apa apa kok, dah lah yuk lanjutin lagi" ujar Lastri sambil mengalihkan pembicaraan.
Karna aku takut aku pun jadi di dapur sama Rara yang aku gendong. Dan tiba tiba ada suara lagi.
Pppprrraaannnn kkrroommppyang
Suara kali ini seperti piring pecah. Membuat kaget sampai naik ke kursi makan aku, karna saking kagetnya. Untung Rara ngak nangis.
"Lastri....." ujarku yang merasa takut ini.
"Iya mbak bentar, aku chek lagi ke luar" ujarnya yang sambil berjalan ke luar rumah. Tu anak berani baget sih.
"Jeng Imah...." ujarku.
"Iya jeng, aku juga takut" ujar jeng imah yang sambil clingak clinguk. Padahal hari ini masih siang hari kenapa suasana malah jadi mengerikan begini sih. Apa jangan jangan hantunya Jono ya.
"Ngak ada apa apa Mbak, Dah lah mungkin salah dengar aja" ujar Lastri. Emang bener tu anak nyalinya gede baget. Suara keras begitu di kira salah dengar.
Lalu akhirnya Lastri dan Jeng Imah meneruskan membuat es buah. Sedangkan aku masih kepikiran akan suara suara itu.
30 menit kemudian akhirnya es buah jadi juga. Huuummmzzz bikin seger saja siang siang begini emang enak. Baru juga ingin menyendok es buah ini tiba tiba ada yang memanggilku.
"Tttttiiiiiinnnnnaaaa, Tttttiiiinnnnaaa" suaranya seperti serak serak aneh begitu. Makin membuat bulu kudukku berdiri semua.
"Tuh mbak ada yang panggil" ujar Lastri padaku.
Aku hanya menggeleng ngelengkan kepala. Karna benar benar takut jika harus keluar rumah Lastri sendirian.
"Tttttiiiinnnnnaaa, Ttttiiiinnnnnaaaa" suara itu muncul lagi sama seperti tadi.
"Yah sudah ayok aku temenin mbk" ujar Lastri padaku. Terlihat Jeng Imah pun juga ikut keluar rumah.
Saat sudah sampai di teras depan. Emang ngak ada siapa siapa. Lastri mencoba untuk celingak celingguk mencari siapa yang memanggilku. Tiba tiba lastri pun menemukan sebuah kotak di depan rumahku.
"Ehhh, Mbak Tina sini deh" ujar Lastri padaku.
Aku dan Jeng Imah pun mendekat ke arah Lastri. Yang terdapat sebuah Kotak juga terdapat seperti ada darah.
"Coba Las kamu buka ya" pintaku karna aku benar benar takut.
Dan Lastri pun membuka kotak itu, isinya lagi lagi bangkai ayam yang sama seperti kemarin malam itu. Juga telihat ada secarik kertas yang bertuliskan.
"Tunggu besok kau Tina, kau akan lenyap dari dunia ini hahahahaha"
Begitulah isi pesan ini. Yang membuat aku jadi benar benar takut. Karna nyawaku dalam bahaya.
"Siapa ya jeng yang ngirim itu, di rumahmu lagi" ujar Jeng Imah padaku.
"Ya aku ngak tau jeng. Sudah dapet 2 kali begitu" ujarku yang berterus terang saja.
"Apa mbak 2 kali" ujar Lastri yang kaget.
"Iya las" jawabku singkat.
"Harus hati hati ini mbak, nanti coba aku kasih tau suamiku biar di tindak lanjuti kasus ini." ujar Lastri yang membuat aku jadi lega juga tenang.
"Makasih ya las" ujarku
"Iya mbak, ya sudah ayok kita lanjutkan makan es buahnya" Ujar Lastri yang sambil berjalan ke rumahnya.
Aku dan Jeng Imah pun mengekor di belakang lastri. Aku Masih saja kepikiran akan teror itu. Siapa yang menerorku ? aku saja tidak mempunyai musuh. Tapi kalau orang yang membenciku, pasti banyak, tapi siapa itu.
Makin membuat aku penasaran tapi aku harus tetap waspada juga. Karna dia mengiginkanku. Aku harap semua akan baik baik saja.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Next ?
Siapa ya kira kira ?
Jangan lupa like juga komennya semuanya 😊 salam manis dari Mak Othor 💕

Komentar Buku (95)

  • avatar
    GossiLalu

    sangat bagus

    19/08/2025

      0
  • avatar
    RyanLutfi febryan pratama

    good

    13/07/2025

      0
  • avatar
    ,FFML

    aku suka banget

    27/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru