logo text

Bab 14 (Kedatangan Dito)

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
POV MISYA
Sore harinya, aku dan Atun sedang bersenda gurau di teras depan rumah. Yang sambil menemani Rafael yang sedang bermain. Tiba tiba terdengar deru mesin mobil yang berjalan ke arah rumah ini. Ternyata itu adalah mobil Rahman yang, sudah pulang dari kantornya.
"Dah pulang Mas" ujar Atun pada suaminya itu.
"Iya ni dek, lagi ngak sibuk amat soalnya" jawab Rahman.
"Ini mbak hasil jual roti tadi" ujar Rahman yang menyerahkan uang 200 ribu padaku.
"Lah Man, ini kebanyakan buat embak" ujarku dengan protes, karna hasil dari penjualan roti hanya 99 ribu saja.
"Hehehe ya enggak lah Mbak, orang aku jualnya dua ribu 1 bungkusnya" jawabnya yang membuat aku jadi terharu.
"Emang beneran ngak kemahal Man" tanyaku lagi.
"Ngak mbak,tu nyatanya laku semua. Kan tadi ada 99 roti. Jadinya aku genepin saja deh" jawab Rahman yang membuatku jadi makin terharu padanya.
"Makasih loh sudah bantuin Mbak" ucapku berterima kasih padanya.
"Iya Mbak" jawabnya singkat yang sambil berjalan masuk ke rumah.
Entah bagaimana jadinya jika tak ada Rahman dan Atun tadi. Rezeki hari ini alhamdulillah bisa untuk beli kebutuhan Rafael. Yang susu, minyak, sabunnya sudah mau habis. Ya, setelah tau aku hamil, Rafael pun sudah tak meminum asi, tapi minum susu formula. Aku harap saat nanti adiknya lahir Rafael bisa menerimanya juga bisa di ajak bermain bersama.
Aku sering ajarin kepada anakku untuk elus-elus perutku yang belum membucit ini, dan juga aku sering bilang.
"Di dalam peyut ibu ada adiknya Rafael" begitulah ucapku. Biar anakku juga bisa memahaminya.
Aku harap setelah anak ini lahir akan ada kebahagian saja. Jangan lah ada derai air mata lagi. Sudah cukup air mata ini terus mengalir.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kehamilanku sekarang sudah menginjak 4 bulan, tinggal 5 bulan lagi anakku akan lahir. Aku menjalani hari hariku seperti biasa, tapi aku sudah tidak membuat roti lagi. Karna memang aku sudah di larang sama suamiku untuk jangan membuat roti lagi. Katanya takut aku kelelahan lah dan sebagainya. Sudah sangat cerewet sekarang suamiku ini.
Aku curahkan kasih sayang ke pada Rafael yang bentar bentar ngak mau di tinggal olehku. Yang dikit dikit ingin slalu aku yang menemaninya.
Kadang aku kerepotan memang. Terlebihnya Rarafel sudah ngak mau di gendong sama Atun. Tiba tiba Ayah pun menghampiriku.
"Sya" panggil Ayah padaku.
"Iya Yah, ada apa" jawabku yang masih bermain dengan Rafael.
"Kamu hamil lagi" tanyanya, yang aku rasa ayah baru mengetahuinya.
"Iya Yah," jawabku menunduk.
"Kamu tau ngak, kamu hamil lagi tu malah ngerepotin keluarga ini tau ngak" ujar ayah yang dengan nada tinggi. Aku semakin di buat takut akan kemarahannya itu.
"Iya, Yah aku tau. Tapi..." jawabku masih menunduk yang dengan menahan air mata supaya tak jatuh.
"Bisanya cuma buat saja" ujar Ayah yang membuat aku makin sakit hati dengan perkataannya itu. Ayah pun langsung meninggalkanku dengan Rafael yang masih bermain sendiri.
Aku bukanlah anak yang di harapkan sama ayah, aku slalu bikin dia kecewa. Aku harap Rahman adikku tak pernah bikin ayah kecewa.
"Hikzzzz huhuhuhuhu" tangisku pecah juga. Semoga aku tetap kuat, kasihan bayi yang ada di perutku ini. Dia masih suci juga bersih.
"Kenapa Mbak" ujar Atun yang ternyata sudah selesai mencuci bajunya.
"Ngak papa kok dek" jawabku dengan menghapus air mata ini.
"Cerita lah mbak, biar hati Mbak menjadi lega" ujarnya yang membujukku untuk bercerita.
"Ngak papa kok beneran" jawabku yang masih tak ingin cerita padanya.
"Oo, ya sudah Mbak kalau gitu aku faham, Mbak jangan banyak pikiran kasian dedek utunnya sudah mulai besar" ujarnya yang menyemangatiku.
Aku pun hanya mengangguk juga tersenyum kepada Atun. Atun terlihat membujuk Rafael untuk mau di gendong. Tapi Rafael pun tak mau untuk di gendong sama Atun malah Rafael minta di gendong olehku.
"Yah dah ngak mau di gendong sama aku lagi Mbak, Rafaelnya" ujar Atun yang seperti anak kecil itu.
"Hehehe iya ni Tun, Mbak jadi repot jadinya" jawabku yang dengan terkekeh.
"Iya mbak, padahal aku sudah kagen pengen gendong dia" ujarnya lagi.
"Dek" ujar Rahman yang memanggil istrinya itu.
"Ya mas ada apa" jawab Atun.
"Makan di luar yuk" ujar Rahman yang ternyata mengajak Atun untuk makan di luar.
Atun nampak melirikku dahulu, aku pun paham akan lirikan itu.
"Dah sana, turuti kata suamimu" ucapku yang sambil terkekeh.
"Na tu sama Mbak Misya aja boleh kok masih ragu sih Dek" ujar Rahman.
"Ya sudah, aku siap siap dulu ya mas" jawab Atun yang berjalan menuju ke kamarnya.
Aku juga menyibukkan diri bermain dengan Rafael lagi. Aku memang jarang di ajak makan di luar oleh suamiku. Karna ekonomi yang masih kurang jadi aku tak berani minta pada suamiku.
Beda dengan Rahman yang investasinya sudah banyak karna memegang perusahaannya Ayah. Tapi aku tak iri pada Rahman. Memang aku membuat ayah kecewa dari dulu sampai sekarang jadi pantas saja kalau ayah tak mewariskan perusahaan yang satunya padaku. Tapi tak apa hidupku sudah lebih baik kali ini.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
POV ATUN
Aku sebenarnya ngak enak pada Mbak Misya, jika suamiku selalu mengajakku ke luar hanya sekedar makan. Aku tau pasti di perasaannya Mbak Misya itu iri padaku. Aku faham sangat karna aku juga wanita. Aku harap Mbak Misya tak membenciku suatu hari nanti.
Aku segera untuk bersiap siap. Bisa ngambek suamiku nanti kalau aku bersiap siapnya lama. Setelah selesai aku segera keluar dari kamar.
"Sudah dek" ujar suamiku.
"Iya lah mas sudah. Emang kenapa" jawabku.
"Cantik, ayok" pujinya yang membuat aku tersenyum. Lalu kami pun berjalan ke luar rumah juga langsung naik ke mobil. Mobil pun akhirnya berjalan meninggalkan rumah.
"Mas kita mau makan kemana" tanyaku padaku suamiku ini.
"Ke vila" jawabnya yang dengan santai. Kali ini aku ngak mau jika harus di prank lagi.
"Ooo ke vila lagi mau buat dedek" jawabku yang dengan menahan senyum.
"Nah tu tau" ujarnya yang masih sibuk mengemudi itu.
"Emang mau berapa ronde" tanya mencoba memancing.
"10 ronde biar lekas jadi" jawabnya yang membuat mataku melotot aja.
Aku tak menjawabnya, yang tadinya ingin membalas untuk prank. Malah sekarang aku yang sekak mat. Kan kurang asem ni jadinya.
"Kenapa diam dek" ujarnya yang ternyata mobil berbelok ke perusahaan suamiku itu.
"Ngak papa" jawabku dengan cuek.
"Mau di sini apa ikut" ujarnya lagi.
"Ikut lah, emang ngapain ke sini" tanyaku yang penasaran.
"Ada kepentingan bentar ngak lama kok" jawabnya.
"Ya sudah, aku mau ketoilet dulu mas" ujarku yang sudah tak tahan ingin buang air kecil.
"Oke, kalau sudah nanti ke ruanganku ya aku tunggu di sana" ujarnya lagi.
"Siap bos" jawabku dengan tersenyum padanya.
Aku pun lalu berjalan ke arah toilet. Setelah selesai untuk buang air kecil aku berjalan mau ke ruangannya suamiku tapi tiba tiba aku menabrak seseorang karna jalanku memang dengan terburu buru.
Bbbbbbbbrrrrrrrrrrruuuuuuuukkkkk
"Eh maaf maaf" ucapku pada lelaki itu.
"Iya ngak papa sayang" jawabnya yang membuat aku kaget, kenapa panggil sayang padaku perasaan aku ngak mengenalnya. Saat aku mendongakkan kepala ternyata pria itu adalah Dito. Sedang apa dia di sini, kenapa tau tempat perusahaan suamiku ini.
Aku pun segera melangkahkan kakiku untuk menjauh darinya. Tapi tiba tiba tanganku di tarik olehnya sehingga aku dengannya berpelukan.
"Kembalilah padaku sayang aku mohon" ujarnya yang sudah tak waras.
"Aku sudah punya suami, lepasain aku" jawabku yang dengan memukul dada bidangnya itu.
"Kamu harus ikut aku sayang. Aku tak mau kehilanganmu lagi." ujarnya yang semakin ngak waras mungkin dia sudah gila.
"Tolong jangan macam macam, atau aku akan berteriak" ancamku pada Dito.
"Ttttoooo....." baru ingin berteriak, Dito sudah membekapku dengan sapu tangannya. Dan pandanganku semakin pudar dan akhirnya menjadi gelap gulita.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
POV RAHMAN
Sudah 30 menit Istriku kok belum kembali juga ya, Lalu aku pun berjalan ke toilet. Saat aku sampai di toilet kenapa istriku tidak ada di manapun. Aku mulai cemas, takut istriku kenapa napa. Ku segera mengambil ponselku lalu menelvon istriku.
Ttttuuuuttt tttuuutttt ttttuuuuttttt
Panggilan pun tersambung, tapi istriku kenapa tak mengangkatnya kemana dia. Kanapa tak bilang padaku. Aku pun mencoba memanggilnya lagi.
Tttttuuuuttt tttuuuuttt tttuuuuuuttt
Panggilan tetap masih tersambung tapi tak di angkat juga oleh istriku.
"Kemana sih kamu dek, kok ngak bilang padaku" ujarku lirih.
Aku bertanya kepada setiap karyawan barang kali mereka melihatnya. Tapi apa ternyata jawaban mereka sama yang tak melihat istriku. Pikiranku sudah kacau. Coba aku telvon Mbak Misya barang kali mungkin istriku sudah di rumah.
Ttttttuuuutttt ttttuuuutttt tttuuuutt panggilan pun tersambung dan.
"Hallo dek ada apa" ujar Mbak Misya terlebih dahulu.
"Iya Mbak halo, apa Atun sudah pulang ke rumah" tanyaku yang dengan mencemaskan istriku itu.
"Belum Man, kan tadi sama kamu katanya mau makan" jawab Mbak Misya yang membuatku menjadi binggung. Kemanakah istriku itu.
Aku langsung mematikan sambungan telvon dengan Mbak Misya. Aku harus mencari Atun istriku tak boleh istriku itu kenapa napa.
Aku langsung berjalan ke parkiran juga langsung menyalakan mesin mobilku. Pikiranku kacau, kenapa istriku tak bilang jika ingin pergi kemana.
Aku mengemudi dengan kecepatan yang sanggat tinggi. Aku harap istriku tak kenapa napa.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Next ?
Apakah Rahman bisa menemukan Atun yang di sekap oleh Dito? Duh makin tegangnya akuh apa yang akan terjadi setelah ini 🙈

Komentar Buku (80)

  • avatar
    Qaisarah

    next?

    04/06/2025

      0
  • avatar
    VivinVivin

    bagus bgt

    28/04/2025

      0
  • avatar
    YafiRey

    bagus alurnya

    07/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru