Tersirat kesedihan dari nada suara perempuan itu. Jeremy jatuh iba. Dengan sabar dihiburnya tantenya tersebut, “Suatu saat Emma akan menyadari bahwa Tante Maria sebenarnya sangat perhatian padanya. Hatinya masih belum terketuk saja saat ini. Tapi Tuhan tidak tidur, Tante. Suatu saat entah bagaimana caranya, Dia akan menjamah Emma dan menyadarkannya….” “Semoga saja begitu ya, Jer,” ujar Maria seraya tersenyum penuh pengharapan. Mata wanita itu berkaca-kaca. Dengan cepat dikerjapkannya berkali-kali demi mencegah air matanya jatuh. Dia tak ingin menangis di depan keponakannya, karena hanya akan membuat suasana menjadi tidak enak. Jeremy yang tak ingin membuat tantenya semakin sedih kemudian mengalihkan pembicaraan. Masih seputar Emma, tapi membahas hal lain. “Emma sehari-hari biasanya ngapain, Tante? Kuliah?” tanya pemuda itu ingin tahu. Maria mendesah. Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Waktu mamanya meninggal dunia akibat kanker payudara, anak itu mogok sekolah. Lalu Om Henry membujuknya untuk menyelesaikan SMA saja yang tinggal beberapa bulan lagi selesai. Setelah itu terserah Emma mau ngapain, asal jangan bergaul dengan orang-orang yang nggak benar. Dan kata-kata Om Henry itu ternyata menjadi senjata makan tuan bagi dirinya sendiri. Emma melanjutkan SMA-nya sampai lulus. Terus dia nggak mau kuliah.” “Hmm…, jadi selama dua tahun ini Emma nggak ngapa-ngapain, Tante? Misalnya ambil kursus apa gitu?” “Nggak, Jer. Emma cuma pergi bersenang-senang dengan teman-temannya. Jalan-jalan ke mal, nonton bioskop, kadang berlibur ke luar kota. Om Henry nggak melarangnya. Yang penting Emma nggak bawa masalah ke rumah. Nggak mabuk, pake narkoba, atau berfoya-foya secara berlebihan.” “Jadi Emma nggak pernah pulang dalam keadaan mabuk, Tante?” “Setahu Tante sih, belum pernah. Memangnya kenapa?” Alis wanita itu terangkat. Curiga bahwa keponakannya pernah melihat Emma pulang dalam keadaan mabuk. Dengan cekatan Jeremy segera menepis kecurigaan tantenya itu. Dengan santai pemuda itu menyahut, “Nggak apa-apa, Tante. Aku cuma nanya aja. Oya, aku sudah selesai sarapan, Tante. Pamit pergi dulu ya, untuk berangkat interview kerja.” Maria mengangguk. “Kamu naik apa ke sana, Jer? Tante anterin, ya?” “Nggak usah repot-repot, Tante. Aku barusan udah order taksi online, kok. Sebentar lagi datang taksinya.” “Lho, kamu kok udah pinter order taksi online? Padahal baru dua hari tinggal di sini.” “Namanya juga anak muda, Tante. Banyak akal. Hahaha…. Saya tadi belajar sama Pak Udin. Mulai dari install aplikasi taksi sampai cara mengoperasikannya.” Maria geleng-geleng kepala. Dirinya kagum pada sang keponakan yang inisiatifnya tinggi dalam mempelajari hal-hal baru. Pantas tadi dia sempat melihat Jeremy bicara berdua dengan Udin, sopir pribadi Henry, di halaman depan rumah. Dipikirnya pemuda itu minta tolong Udin untuk mengantarnya ke sekolah setelah sopir itu mengantarkan Henry ke kantor. Eh, ternyata Jeremy malah minta diajari cara memakai aplikasi taksi online! Ccck, ccck, ccck…. Hebat. “Kamu berani naik taksi online sendirian, Jer?” “Beranilah, Tante. Apa susahnya? Tinggal duduk dan dianterin sampai ke tempat tujuan. Beres, kan? Jauh lebih mudah daripada dulu waktu masih naik angkutan umum. Harus berdesak-desakan di dalam angkot. Terus harus melihat jalan terus-terusan supaya tidak sampat terlewat tempat tujuannya. Hehehe….” Maria tertawa geli. Iya, keponakannya ini dulu sempat beberapa kali naik angkot untuk pulang-pergi sekolah. Bukan karena Maria tak mampu mengantar-jemput Jeremy sendiri. Tapi wanita itu ingin mengajarkan kemandirian pada sang keponakan. Jadi adakalanya dia mengantar-jemput pemuda itu dulu naik mobil, namun sewaktu-waktu dimintanya Jeremy untuk naik kendaraan umum saja. Untungnya sang keponakan bersikap patuh dan jarang sekali merepotkan Maria. Oleh karenanya wanita itu semakin menyayangi anak mendiang saudaranya itu. “Apa mau Tante temani saja, Jer? Sekalian Tante tungguin kamu sampe selesai interview. Anggap saja support sepenuhnya buatmu supaya lebih pede waktu diwawancara. Hehehe….” “Ogah, ah, Tante. Malu-maluin aja. Masa interview kerja pake ditungguin segala. Kayak anak kecil. Lagian nanti yang datang bukan cuma aku, Tante. Ada pelamar-pelamar lainnya. Tante nanti lama nunggunya. Pasti bosen, deh.” “Iya, iya. Tante ngerti kamu malu ditungguin kayak anak kecil. Hehehe…. Ya udah kalau gitu. Kamu nanti hati-hati ya, di jalan. Berdoa sama Tuhan semoga selamat sampai ke tempat tujuan. Lalu tes dan wawancaranya berjalan dengan lancar. Dan yang terakhir, semoga kamu diterima kerja secepatnya.” “Amin, Tante. Terima kasih banyak, ya. Jeremy keluar dulu, ya. Ini di HP kelihatan kalau taksi online-nya satu menit lagi sampai. Aku nunggu di luar aja biar langsung berangkat. Bye, Tante.” Maria mengangguk. Dia bangkit berdiri mengikuti langkah keponakannya keluar rumah. Benar saja. Tampak sebuah mobil Xenia putih berhenti di depan pintu gerbang. Sepertinya itu taksi online yang dipesan Jeremy. Setelah memastikan kesamaan nomor plat mobil itu dengan yang terdaftar pada aplikasi taksi online, Jeremy meminta kunci gembok yang dipegang tantenya untuk membuka pintu gerbang. Setelah menutup pintu besi itu lagi, dikembalikannya kunci tersebut pada Maria melalui sela-sela pintu. Wanita itu menerimanya dan kembali berpesan agar pemuda tersebut berhati-hati. “Siap, Tante,” jawab Jeremy sambil tersenyum. Kemudian dia membuka pintu belakang mobil Xenia tersebut dan masuk ke dalamnya. Beberapa saat kemudian mobil berwarna putih susu itu meluncur meninggalkan rumah megah tersebut. Maria menghela napas panjang. Dia tiba-tiba teringat pada anak tirinya. Sampai kapan Emma akan menganggur dan hidup bersenang-senang saja? Sementara Jeremy yang baru dua hari pulang dari luar negeri saja sudah mendapatkan kesempatan wawancara kerja! Istri Henry itu geleng-geleng kepala. Wanita itu merasa bersalah pada Ester, mendiang sahabatnya, karena sampai sekarang belum berhasil menjadi ibu yang baik bagi Emma. Jangankan menjadi ibu bagi gadis itu, kehadirannya di rumah ini saja belum juga diterima! *** “Jeremy kok masih belum pulang juga, Mar? Padahal dia cuma di-interview kerja di satu tempat saja, kan?” tanya Henry penasaran. Hari sudah sore. Begitu pulang dari kantor, pria itu langsung membersihkan diri di kamar mandi. Setelah itu dia ditemani istrinya duduk di sofa sembari minum teh dan menikmati makanan kecil. Maria menjawab pertanyaan suaminya dengan tenang, “Anak itu tadi sudah chat WA padaku, Mas. Dia bilang bahwa ada dua belas orang pelamar yang datang untuk mengikuti psikotes dan interview. Katanya ada yang melamar jadi guru olahraga, bahasa Inggris, dan bahasa Mandarin. Psikotesnya sama-sama, tapi interview-nya bergantian. Jadi mesti antri gitu.” “Hmm… Zaman sekarang memang semakin sulit mencari pekerjaan yang cocok. Sayang sekali showroom-ku sedang tidak membutuhkan pegawai dengan kapasitas seperti yang dimiliki Jeremy. Padahal aku mau sekali mempekerjakan anak itu. Dia pemuda yang baik, pintar, dan kelihatannya bisa diandalkan.” “Ah, Mas kan belum lama mengenalnya. Terlalu berlebihan rasanya memuji Jeremy setinggi itu.” “Lho, tapi keponakanmu itu memang pintar dan cekatan sekali, Mar. Contohnya baru kemarin dia beli HP sepulang dari gereja, eh cepat banget sudah menguasai benda itu. Hari ini Jeremy bahkan berinisiatif sendiri belajar dari Udin untuk install aplikasi taksi online. Langsung dipraktekkin order taksi online dan berani berangkat sendiri pula. Benar-benar pemuda yang mandiri. Orang seperti Jeremy itulah yang sebenarnya kuharapkan bisa berteman dengan Emma. Supaya memberikan pengaruh yang baik pada anak bandel itu.” “Memangnya Emma sebandel apa sih, sampai perlu dipilih-pilihin teman oleh Papa?” Henry dan Maria terkejut mendengar suara bernada ketus itu. Sontak mereka berdua menoleh ke arah orang yang bersangkutan. Tampaklah Emma yang tengah menatap pasangan itu dengan tajam. Raut wajah gadis manja itu cemberut, menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kata-kata ayah kandungnya tadi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (25)
LehaRafif
aaaa bagus banget ceritanya
12/03/2025
0
Fe Nataliya
Bagus sekali
28/10/2024
0
BahranudinBahranudin
cerita sangat hidup ku catuh dlm percintaan msa masa sma dulu
aaaa bagus banget ceritanya
12/03/2025
0Bagus sekali
28/10/2024
0cerita sangat hidup ku catuh dlm percintaan msa masa sma dulu
07/05/2024
0Lihat Semua