Hari-hari terus terlewati, tepat hari ini. Pengumuman audisi akan diumumkan. Refa dan Najla terus menerus merapalkan doa, mereka sangat berharap keduanya bisa lolos masuk audisi tahap awal. Walaupun mereka tahu, tahapnya tidak akan mudah. Mereka harus menjalani masa traine selama beberapa bulan dan yang terpilih akan melanjutkan audisi lagi. Sekarang tepat pukul 14.00 waktu Indonesia bagian barat itu tandanya sekarang pukul 12 tepat di Korea Selatan sana. "Bismillah," ucap keduanya bersamaan dilanjutkan membuka hasil audisi. Disana banyak sekali nama yang di nyatakan lolos audisi tahap pertama, mungkin ada sekitar 75 orang dari berbagai negara. Mata keduanya terus menyelusuri satu-persatu nama. Refa dan Najla saling menatap. Tatapan mata yang tidak bisa diartikan. Tiba-tiba saja air mata keduanya lolos begitu saja. "Salah baca ga sih?" Tanya Refa. "Itu beneran ada nama kita?" Najla balik bertanya. "Laa kita lolos," ujar Refa yang sudah dibanjiri air mata. Najla memegang kedua tangan sahabatnya itu, "impian kita akan segera tercapai teh." Setelah mengucapkan kata itu, mereka saling berpelukan dan tangis merekapun pecah begitu saja. Tidak disangka, dari ribuan bahkan jutaan peserta yang ikut audisi, hanya ada 75 orang terpilih yang lolos dan akan berangkat ke Korea Selatan dan 2 diantaranya adalah Refa dan Najla. Kerja keras mereka selama 2 minggu tidak sia-sia. Rasa capek mereka akan terbayar sesegera mungkin. Ini adalah berita paling bahagia yang mereka dapatkan. "JIMINNN IM COMINGGGGG!!!!" Teriak Najla masih dengan air mata yang mengalir. Refa melihat sahabatnya dengan tatapan yang sangat bahagia, "Mas Jin, Jake, Echan, Sahi, Yeonjunn GUE BAKAL NEMUIN KALIAN, TUNGGU GUE DISANA!" ucap Refa tak kalah besar. "Bisa-bisanya sebanyak itu," ucap Najla terkekeh meskipun air matanya terus mengalir. "Dan satu lagi, gue bakalan bilang kalo gue suka sama Jake, dan gue pastiin dia jadi milik gue," ujar Refa lagi. "Halu lo terlalu lancar teh," jawab Najla sebari terkekeh pelan. "Tutorial berhenti nangis dong, gue gabisa berhenti dari tadi," ucar Refa. "Sama." Keduanya terus menerus mengeluarkan air mata bahagia. *** Hari sudah berganti malam, keduanya kini terdiam dengan pikiran masing-masing. "Ternyata emang ga mudah, bahkan kita lupa memikirkan paspor, visa, tiket pesawat, dan uang jajan kita disana," ucap Refa lesu. Waktu mereka di Indonesia hanya tinggal 2 minggu lagi, setelah itu mereka akan berangkat ke Korea. "Kita masih punya waktu." Refa dan Najla berencana untuk membuat Paspor dan visa sekaligus besok dan mereka juga berencana untuk mempercepat pembuatannya. Perihal uang sudah mereka siapkan sebelumnya. Karena beberapa bulan sebelum mereka mengetahui adanya audisi tersebut mereka telah menabung untuk menonton konser BTS namun ternyata uang yang tadinya akan mereka gunakan untuk menonton konser kini harus mereka gunakan untuk membuat paspor dan lainnya. "Terus gimana soal baju yang harus kita bawa?" Tanya Najla. "Mau nge thrift?" Tanya Refa. "Dimana?" "Besok gue ajak kesuatu tempat." "Pihak sana bilang, kita gaboleh bawa pakaian terlalu banyak dan kita cuma dibolehin bawa koper ukuran 20 inch, emangnya muat teh?" Tanya Najla. Refa mengangguk ragu, "semoga muat, nanti kita bawa tas gendong yang agak sedang aja, untuk membawa beberapa cemilan dari Indonesia," ucap Refa. "Uang tabungan gabakalan cukup buat menuhin semua kebutuhan kita," ucap Najla. "Mau jualan?" Refa tiba-tiba mengusulkan. "Jual apa?" "Jual diri," celetuk Refa. "Teteh aja sanah, nanti setor ke Najla." "Sialan," ucapnya lalu terkekeh bersamaan. "Maksud gue kita jualan kripik gitu nanti titipin di beberapa warung, lumayan walaupun ga dapet untung terlalu besar." Najla menganggu tanda menyetujui ucapan Refa, "kita mulai semuanya besok," ucap Najla lalu di angguki oleh Refa. *** Hari ini Najla dan Refa berangkat ke pasar untuk membeli beberapa bahan yang mereka butuhkan untuk membuat kripik. "100 ribu buat modal harus cukup," ucap Refa dan di angguki oleh Najla. Tidak butuh waktu lama mereka berada di pasar. Kini mereka sudah berada dirumah lagi. Butuh sekitar 2 jam untuk membuat kripik tersebut dan sekarang hasilnya sudah terpampang jelas dihadapan mereka. "Banyak banget Laaa," ujar Refa. "Ayok kita titipin dengan harga 3000 per bungkus." Najla dan Refa membawa kantong keresek besar yang berisi berbagai macam kripik. Mereka mendatangi banyak warung untuk menawarkan kripik buatan mereka, sebelum itu mereka juga menyiapkan tester jadi pembeli bisa mencicipi dulu rasa kripik tersebut. Memang benar, tidak ada usaha yang menghianati hasil. Kripik yang mereka jual sudah habis hanya dalam waktu 30 menit saja. Tadi mereka membawa 50 bungkus dan itu semua sudah habis. "Gila, cepet banget abisnya," ujar Najla. "Ayok pulang, kita hitung uangnya," ajak Refa. Mereka bergegas pulang, jarak dari rumah Refa dan warung-warung itu tidak terlalu jauh jadi mereka sampai dengan cepat. "Berapa?" "150 ribu," ucap Najla. "Kita dapet untung 50 ribu dan itupun bahan-bahannya masih nyisa lumayan banyak, besok kita kepasar dan beli lebih banyak bahan. Uang 50 ribunya kita tabungin dulu," ucap Refa memberi arahan. "Teh Refa udah cocok jadi leader," celetuk Najla. Refa tidak memperdulikan ucapan Najla. "Mau nge trifht sekarang?" Tanya Najla. "Ayok, mumpung masih sore." "Eh tapi kita buat paspor sama visa dulu yok," ucap Refa. "Yuk." Mereka bergegas menuju tempat pembuatan paspor dan visa. Tidak ada kata lelah di dalam kamus diri mereka. Demi menggapai masa depan yang cerah Najla dan Refa dilarang menyerah. Itulah sebuah kalimat yang selalu mereka ucapkan apabila mereka merasa lelah dengan semua itu. Setelah mengajukan untuk pembuatan paspor dan visa mereka langsung mengunjungi tempat thrift. "Challenge yuk," ajak Refa. Najla menatap bingung. Refa mengeluarkan 200 ribu dari dompetnya, " 200 ribu, harus cukup." Najla tersenyum tipis, "okay siapa takut." Masing-masing dari mereka harus menghabiskan uang sebanyak 200 ribu, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Tujuan diadakannya tantangan tersebut agar mereka tidak kalab dalam belanja. 1 jam berlalu, mereka sudah menenteng beberapa kantung kresek yang didalamnya ada pakaian mereka. "200 ribu, selesai," ujar Najla. "Puas dengan belanjaannya ibu Najla?" Tanya Refa dengan kekehan pelannya. "Puas sekali." "Gila sih murah banget, mana dapet yang bermerk dan masih bagus semua lagi," lanjut Najla. "Teh Refa dapet berapa pasang?" Tanya Najla. "Empat pasang dong," jawab Refa dengan sombong. "Sama dong, gila sih kapan-kapan kita harus kesini lagi." Setelah berbincang cukup lama, mereka memutuskan untuk segera pulang karena langit sudah semakin gelap. *** Hari demi hari mereka lewati secara bersamaan. Pesanan kripik semakin banyak. Mereka sedikit kewalahan dengan banyaknya pesanan tersebut. Bahkan hari ini pesanan menjadi 500 pcs dalam sehari. Keadaan rumah keluarga Refa sudah kosong semenjak kedatangan Najla saat itu. Kedua orangtua Refa dan juga adiknya sedang berada diluar kota. Dan Refa juga sedang libur kuliah, sedangkan Najla belum memasuki masa perkuliahan. Najla diterima di kampus swasta dengan jurusan gizi, namun, tidak lama dari sekarang ia harus bisa membagi waktunya. Tiga hari lagi mereka harus berangkat ke Korea. Dan rencananya usaha kripik mereka akan mereka tutup selama mereka di Korea. Hasil untung dari penjualan sudah cukup bagi mereka, ternyata hasilnya sangat memuaskan bahkan melebihi target mereka. "Besok kita pesen tiket pesawat," ucap Refa. "Dan setelah itu, kita packing," ujar Najla dengan raut wajah bahagia. "Ga sabar banget ketemu oppa oppa ganteng disana," lanjut Najla.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (457)
Malaika AhmadAfifa
baik
12/11/2024
0
RistyShifa
sangatttt bagussss,cerita ny seruuuu,dan selalu bikin penasaran kelanjutan ny gimana ajaa.Cerita paling the best sii menurut kuu,luv dehh sama cerita ini😖💗
baik
12/11/2024
0sangatttt bagussss,cerita ny seruuuu,dan selalu bikin penasaran kelanjutan ny gimana ajaa.Cerita paling the best sii menurut kuu,luv dehh sama cerita ini😖💗
09/08/2024
0bagus banget cerita nyaaaa
02/06/2024
0Lihat Semua