“Abah sudah kelihatan lebih sehat,” ucap Azmi sambil memijit Abahnya. “Alhamdulillah. Semoga masih sehat terus sampai lihat kamu nikah.” “Amin, Bah.” Azmi melanjutkan kembali memijat sang abah. Mereka tengah bersantai di gazebo belakang rumah sementara Aslan triplet sedang belajar gerakan tinju dengan sang abah singa. “Ckckck. Itu Mas Azzam ngapain coba, masih pada kecil udah diajarin tinju.” “Hehehe. Mas kamu justru sedang melatih kesabaran dan mengolah emosi mereka, Mi. Kamu tahu sendiri mereka itu cenderung anak hiperaktif dan penuh rasa ingin tahu. Makanya dari kecil sudah harus diarahkan dan diolah emosinya,” terang Abah Ilyas. “Hehehe. Sama kayak Mas Azzam ya, Bah.” “Iya, begitulah abah mendidik mas kamu.” “Tapi kok sama Azmi beda, Bah?” “Soalnya kamu lebih lembut orangnya, sensitif alias perasa, fisikmu walau termasuk jarang sakit tapi gak sekuat Azzam juga. Terus cengengnya itu loh. Jadi gak mungkin abah memaksa. Hehehe.” “Iya sih, Bah.” “Manja pula,” tambah Abah Ilyas. Azmi tertawa menyadari kebenaran kata-kata abahnya. Ketika kedua anak dan bapak tengah asik mengobrol datanglah mbak khadamah berparas ayu membawakan camilan berupa kacang rebus dan minumannya. “Monggo Bah, Gus.” “Makasih,” balas Azmi. “Nggih, permisi Abah, Gus.” Jenar berlalu dan kembali ke dalam rumah. Azmi masih mengamati Jenar sampai sosoknya menghilang tanpa berkedip. Abah Ilyas mengamati tingkah sang putra lalu tersenyum tipis. “Kedip, Mi. Itu matamu nanti kemasukan debu.” “Hah? Oh ... hehehe. Maaf Bah, khilaf sedikit.” Azmi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Astaga, dia sungguh merasa malu kedapatan oleh abahnya menatap non muhrim begitu antusias tanpa kedip lagi. Astaghfirullah. “Belum muhrim, Mi. Kalau mau pandangin terus, halalin sana.” “Hehehe. Mboten Bah, maaf. Gak akan diulangi deh.” “Hehehe. Itu tandanya kamu masih normal. Tapi ... jangan diulangi!” “Nggih, Bah.” Aslan triplet yang sudah selesai berlatih mendekat ke arah keduanya. “Kung ….” Seperti biasa Azada langsung nemplok dipangkuan Abah Ilyas. “Sudah selesai latihannya?” tanya Abah Ilyas. “Sudah. Wow ... kacang. Aidan kamu mau ke mana?” Azada melirik jahil ke arah Aidan yang akan jalan menuju ke dalam rumah. “Masuk rumah,” jawab Aidan singkat namun bisa terlihat raut mukanya sedikit ... takut. “Sini duduk Idan, kita minum dulu, kan capek habis latihan. Kita makan KACANG rebus.” Azada sengaja mengambil segenggam kacang dan menyerahkan kepada kembarannya. Aidan yang melihat Azada membawa kacang langsung membentak sang adik. “Jangan mendekat! Buang! Buang! Awas kamu!” teriak Aidan panik melihat Azada mendekatkan kacang rebus ke arahnya dengan senyuman jahil. “Mau gak? Enak loh.” Azada sudah membuka kulit salah satu kacang dan memakan isinya. “Buang! Buang!” Azada dan Aidan sudah berlarian kejar-kejaran. Azmi dan Abah Ilyas tertawa melihat tingkah laku keduanya. Sedangkan Azzam dan Abrisam hanya memutar bola matanya malas. Mereka memilih menikmati minuman dan memakan kacang rebus dengan nikmat. *** “Kenapa, Mbak? Suntuk amat,” tanya Azmi melihat Caca seperti tengah berpikir serius. “Oh, kamu Azmi. Ini dari ketiga calon guru bahasa Inggris yang ngelamar, aku itu senang sama calon yang bernama Ismi. Cara ngajarnya bagus tapi pas mbak hubungi kok nomornya gak aktif. Pas mbak minta tolong Ustazah Gina mendatangi rumahnya, jawabannya juga katanya gak bisa. Pas ditanya apa dia sudah diterima di tempat lain atau gimana jawabnya mutar muter. Aneh.” “Calon yang duanya gimana?” “Si Talita itu bawaannya grogian, gak menguasai kelas, jadi mbak kurang percaya sama dia. Si Hafsah itu juga, meski kelihatan pede tapi mbak kurang suka cara ngajarnya, terlalu textbook. Ketinggalan jaman kalau cara ngajarnya kayak gitu. Mana cuma sambil duduk ngajarnya. Huh, padahal seminggu lagi tahun ajaran baru.” Keduanya asik berpikir, Azmi sok-sokan ikut mikir ceritanya. Soalnya dia sedang mencari cara agar kakak iparnya jangan sampai menerima Ning Hafsah. Waduh bisa hilang ketentraman hidupnya diganggu terus sama Ning Hafsah. Apalagi seminggu ini Ning Hafsah dan kakaknya Zainal sering mengirimi Azmi chat yang isinya gak penting banget. “But, i dont like it, Mbak Je.” “Why?” “The taste of the food is too weird. Hoek. Hiii ... i dont like papaya,” ucap Azada sambil begidig ngeri. “You are too excessive,” sahut Aidan. “Shut up, do yo remember about your fear, peanut?” “We are same, papaya?” Terdengar perdebatan mereka berdua dalam bahasa Inggris. Seperti biasa Abrisam hanya diam dan menikmati makanannya. Jenar yang sudah paham karakter keduanya hanya geleng-geleng kepala. “Please, can you be quiet?” “We’re eating. Look at Gus Abrisam. He eat quietly without much comment and complaint, can you?” tanya Jeje. “Oke, Mbak Jeje.” Lalu mereka mulai makan dengan tenang tanpa ribut. Sesekali ngobrol ngalor ngidul masih menggunakan bahasa Inggris. Jenar menjawab setiap pertanyaan mereka dengan menggunakan bahasa Inggris juga. Caca dan Azmi yang melihatnya terpesona dan tersenyum penuh arti. Khususon Azmi, dia justru mendapatkan sebuah strategi hihihi. *** “Ngapunten Ning, tapi saya cuma lulusan MA. Bukan sarjana.” “Gak papa, kamu sekalian semester ini kuliah masuk yang jam sore. Jadi paginya bisa ngajar. Kebetulan di Universitas kita bergerak di bidang pendidikan. Udah ada jurusan PAI, IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PGTK dan PGSD. Kelasnya sengaja ada kelas reguler dan kelas sore buat yang siangnya bekerja. Tahun ini, kan pembukaan mahasiswa baru, kamu saya kasih beasiswa gratis jadi gak usah bingung masalah biaya. Apalagi dilihat dari kelakuan kamu dan prestasi kamu. Pokoknya saya cocok sama kamu. Mau ya?” “Tapi ....” “Saya juga dulu kayak kamu, awalnya ragu tapi setelah menjalaninya ternyata menyenangkan. Mau ya Mbak Jeje?” Jenar tampak berpikir tetapi akhirnya mengangguk juga. “Alhamdulillah, kamu bisa hubungi kedua orang tuamu. Minta dikirimkan fotokopi ijazah dan semua persyaratan buat mendaftar sebagai mahasiswi. Jadi gak usah pulang. Bisa, ‘kan?” “Bisa Ning.” “Bagus, ya sudah Mbak Jeje boleh kembali ke kamarnya.” Jeje pamit dan berjalan menuju dapur. Letak kamar khadamah berada di belakang ndalem, terhubung oleh koridor menuju dapur. Saat sampai di dapur, Jenar berteriak histeris tanpa suara dan muter-muter gak jelas. “Yes. Yes. I’m so happy, my dreams be come true, i— ” Gludak. Jenar ingin menenggelamkan diri di Waduk Wadaslintang rasanya. Malu. Malu saat tahu aksinya dipergoki oleh salah satu junjungannya. “G-gus Azmi.” “He’em ... saya haus Mbak, cuma mau ambil minum bentar. Udah lanjutin aja dansanya. Latihan biar besok bisa dansa sama pangeran,” kelakar Azmi. Kemudian Azmi berlalu dengan masih menahan tawanya .Jenar merasa malu luar biasa dan langsung berlari menuju ke kamarnya. *** Sabar itu salah satu kunci kesuksesan. Itu yang diyakini oleh Jenar selama ini. Dan ternyata benar. Dulu saat teman-teman satu sekolahnya bisa kuliah atau teman pondoknya bisa mondok lagi di tempat yang bagus. Jenar hanya mampu mendoakan mereka dan bersabar. Dan ternyata kesabarannya saat ini terbayar sudah. Awalnya ada rasa takut, grogi dan minder namun dukungan Ning Caca, Umi Aisyah dan para sahabatnya membuatnya lebih percaya diri. Saat pertama kalinya mengajar, Jenar sempat grogi namun senyum tulus dari Ning Caca entah mengapa membuat kepercayaan dirinya datang begitu saja. Sehingga hari pertama pun terlewati dengan bahagia pun hari-hari selanjutnya. Dan tak terasa sudah hampir satu tahun dia menjadi ustazah dan juga mahasiswi. Meski tugas sebagai khadamah sudah berkurang, setiap hari libur, Jenar tetap mengasuh Quila dan ketiga Aslan. Bahkan saat liburan telah tiba, Jenar memilih pulang sebentar dan lebih memilih mengasuh para singa kecilnya. Kedua orang tua Jenar tak masalah. Mereka bahkan merasa senang karena sang putri sudah kembali ceria. Pun Cakra, dia memutuskan pulang karena selain Jenar sudah bisa mencari uang sendiri, dia sudah menemukan tambatan hati. Akhirnya dia menikahi gadis pujaannya sebulan yang lalu. Jenar baru saja selesai mengajar, dia tengah memandangi gedung SMA Al-Hikam. Senyum selalu terukir dari bibir tipisnya. “Senang sekali, Ustazah.” “Eh ... Guse. Nggih Gus.” “Apa mimpimu, Us?” “Gus tanya mimpi saya?” tanya Jenar. Azmi hanya mengangguk. “Apa ya? Mimpi saya banyak, Gus.” “Mimpiku juga banyak, Us. Salah satunya pengin secepatnya halalin seseorang.” “Wah, pasti dia wanita yang istimewa ya Gus dan sangat beruntung.” Jenar berusaha tetap tersenyum walau jujur sudut hatinya ada yang terasa aneh seperti rasa tidak rela kalau gus-nya sudah punya tambatan hati. “Iya dia sangat istimewa. Tapi ....” “Tapi kenapa, Gus?” “Tapi menurutku, justru akulah yang beruntung.” “Beruntung kenapa, Gus?” “Karena bisa mengenalnya.” “Oh ....” Hening. Jenar memilih menatap bangunan sekolah sebagai sarana untuk mengalihkan sedikit kegundahan hatinya. “Kamu gak penasaran siapa wanita itu?” “Ehm ... pangapunten Gus? Memangnya siapa?” “Mbak Khadamah?” “Oh ....” “Mbak khadamah yang merangkap jadi ustazah.” “Oh ... apa?!” Mata Jenar melotot menatap Gus Azmi sedangkan Gus Azmi hanya tersenyum lalu berlalu begitu saja meninggalkan Jenar dengan segudang pertanyaan tanpa tahu jawabannya. Bukannya khadamah yang jadi ustazah cuma dia ya? Masa dia sih? Au ah Jenar bingung. *****
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (82)
Nafi'ahSholikatun
bagus banget ceritanya
04/07/2025
0
SyarifYudi
bagus ceritanya
16/04/2025
0
GustianiSheila
salut deh sama author yg ini semua cerita novel nya bagus 👍👍👍👍🥰
bagus banget ceritanya
04/07/2025
0bagus ceritanya
16/04/2025
0salut deh sama author yg ini semua cerita novel nya bagus 👍👍👍👍🥰
06/01/2025
0Lihat Semua