Sial, kenapa tiba-tiba ATM ku terblokir seperti ini. Padahal aku yakin, kalau aku yang menyimpan buku tabungannya. Bahkan Sinta pun tidak tau dimana aku menyimpannya. Jadi, tidak mungkin kalau dia bisa memblokir ATM ku. Tapi kalau bukan Sinta, siapa lagi? Bahkan dia tetap tidak mau mengaku juga walaupun sudah aku bentak-bentak. Aahh... Bisa frustasi kalau gini. Yang ada malah hubunganku dengannya jadi renggang. Ini semua gara-gara Ibu. Ah, Ibu tercintaku. Ibu mertua yang baik menurut Sinta, padahal aslinya, Ibu sudah lama tidak suka dengan Sinta, karena menurut ibu, dia mandul. Memang sih, karena sudah sampai tiga tahun kami menikah , kami belum juga menimang bayi. Berkali-kali Sinta mengajakku memeriksakan kesuburan. Untuk mencari tau apakah ada masalah di antara kami, tapi selalu aku tolak dengan dalih karena memang tuhan belum mengizinkan kami memiliki anak. Tapi yang terjadi sebenarnya adalah, karena aku tidak berani, aku takut jika ternyata aku yang mandul, karena pencapaianku untuk menguasai hartanya belum sampai puncak. Ya, sebenarnya dalam lubuk hati terdalamku, aku sangat mencintai Sinta, tapi aku juga ingin menjadi penguasa harta kekayaan Papa Gunawan, ayah sinta. walaupun tak seberapa, tapi aku yakin, toko bangunan yang tak seberapa itu bisa aku besarkan jika aku yang mengelolanya. Tapi yang terjadi justru tidak sesuai dengan harapanku. Bahkan sepeserpun hasil dari toko itu, kami tidak di biarkan untuk menikmati. Papa benar-benar mendidik anak-anaknya untuk mandiri. Hingga dengan pinjaman uang dari papa, Sinta membuka butik, dan kini usahanya sukses. Sedangkan aku, berbekal ijazah S2 ku yang sebelum menikah dengan Sinta bahkan tidak laku sekalipun, hingga dulu aku hanya menjadi karyawan di toko bangunan Papa walaupun sebentar. Kini aku berhasil mencapai pencapaian yang lumayan tinggi. Sekarang aku seorang manager di sebuah perusahaan teman Papa Sinta. Memang Papa yang merekomendasikan aku untuk masuk kantor itu. Tapi pertama masuk dulu aku hanya sebagai karyawan biasa. Selebihnya aku merangkak sendiri hingga sampai di titik ini, tentunya dengan dukungan Sinta. ***** Usia pernikahanku dengan sinta sudah tiga tahun lebih saat tiba-tiba ibu menelfonku, untuk pulang kampung. Ternyata sampai sana, aku di paksa menikah dengan Sari. Ah, sebenarnya males kalo ngomongin tentang Sari, dia jauh dari kata cantik. Tapi mau bagaimana lagi, Ibu mengancam akan bunuh diri jika aku tidak mau menikahi Sari. Karena keluarga Sari juga minta pernikahan di lakukan secepatnya, akhirnya saat itu juga aku menikah siri dengan Sari. ***** Kembali ke masalahku saat ini, aku memang sering beralasan tugas ke Jakarta kepada Sinta, padahal sebenarnya aku kesana menemui Sari dan ibu yang tinggal di sebuah kontrakan kecil. Mereka selalu mendesakku untuk segera membelikan rumah yang besar karena kami sudah memiliki bayi,anakku Sari yang lahir prematur saat usianya 6 menuju 7 bulan. Alhamdulillah, walaupun prematur, anakku sehat. BB nya 3,5 kg. Karena desakan yang terus menerus itu, akhirnya aku berhasil menggelapkan uang perusahaan sebesar 1,5 M, untuk membeli rumah dan keperluan di dalamnya. Hingga kesialanku berikutnya datang lagi. Saat aku baru saja pulang mengantar Sari belanja yang tentu saja menggunakan uang perusahaan hasil korupsi, tiba-tiba terdengar teriakan dari suara yang sangat aku kenal. Ya. Aku kepergok di sini, di rumah istri keduaku, oleh istri pertama. Dan sialnya lagi, istri pertamaku langsung meminta cerai . Apes... Apes. Akhirnya, sampai beberapa hari aku tidak berani pulang kerumah. ***** Hari ini, semua dewan direksi dikumpulkan untuk menyambut Direktu utama baru. Dan betapa terkejutnya , ketika sambutan dari Direktur Utama yang lama, diisi oleh Papa Gunawan. Jadi selama ini Papa mertuaku pemilik perusahaan tempatku bekerja, dan aku tidak tau sama sekali. Oh bod*hnya aku. Tapi kenapa Sinta diam ya, dia tak pernah memberi tau tentang ini padaku, apa jangan-jangan dia tidak mau berbagi harta denganku? Yang lebih mencengangkan lagi, sampai membuatku diam terpaku adalah,ternyata yang akan menduduki posisi direktur utama adalah Sinta, istriku sendiri. Ya tuhan, nanti akan aku suruh dia di rumah saja lah, biar aku yang menggantikan dia disini. **** Ternyata aku salah, pengumuman tidak selesai sampai di situ. Kalian tau apa yang terjadi? Atasanku membongkar semua penyelewengan yang ku lakukan terhadap uang perusahaan. Dia, Si atasan sedingin salju ... Eh, tapi tunggu dulu, dari tadi aku lihat tatapan matanya selalu menuju istriku, dan di dalam mata itu, dia menatap sinta dengan tatapan berbeda. Apakah dia mencintai istriku? Oh tidak bisa. ***** Semua hartaku di ambil Sinta. Memang kurang aj*r wanita itu, aku yang banting tulang, eh semua di rebutnya. Rumah, mobil, butik, tanah beberapa hektar, semua memang sudah atas nama dia saat membelinya dulu. Tapi yang membuatku geram, ternyata Sinta juga mengalihkan hak milik tanah yang ku beli atas namaku, dengan bantuan Si Bos salju itu. Aku semakin yakin. Kalau mereka ada main di belakangku. Awas saja. Gara-gara kebongkar korupsiku , dan aku di ancam harus mengembalikan semua uang yang ku gelapkan atau penjara, maka ku putuskan untuk menjual kembali rumah yang baru saja ku beli, kalian tau? bahkan aku baru satu kali lho tidur di rumah itu... sial..., Tidak apalah. Besok setelah aku mencarikan kontrakan kecil untuk Sari dan Ibu, aku akan kembali membujuk Sinta agar tidak meminta cerai. Bisa jadi gelandangan kalau begini terus. ***** Setelah urusan jual beli rumah dan seisinya selesai, aku segera menyerahkan uang itu ke kantor. Tentu saja telinga ini sangat panas karena setiap hari mendengar rengekan Sari yang tidak mau jatuh miskin katanya. Ah, dulunya juga biasa misk*n kok pake gaya-gayaan nggak bisa hidup miskin, jadi makin ilfil aku sama dia. Tapi bagaimanapun dia ibu dari anakku. Eh. Tunggu... Kalau kemarin aku di kasih tunjuk surat keterangan bahwa Sinta subur, lalu apakah benar aku yang mandul? kalau aku mandul, lalu anak siapa yang selama ini ku hidupi ..., Aarrgghh.... ******** Sudah hampir satu bulan aku kesana kemari mencari pekerjaan, tapi tidak ada satupun yang mau menerimaku. Selama itu aku hanya hidup dari sisa uang penjualan rumah yang tidak seberapa itu. Urusan perceraian juga sudah di urus semua oleh Sinta. Ah, dia tetap bersikukuh ingin bercerai dariku, walaupun setiap pulang kerja aku berkunjung kerumahnya hanya untuk memohon maaf. Sebenarnya aku tidak sudi mengemis padanya. Tapi apalah daya, aku juga harus menyelamatkan hidupku. Aku tidak mau hidup miskin, sedangkan dia yang ku lihat kini justru semakin sukses. Butiknya yang dulu kecil, sekarang sudah pindah ke tempat yang jauh lebih besar. ***** Minggu depan sidang perceraianku. Aku harus bisa meyakinkan Sinta untuk kembali padaku. Bahkan aku rela meninggalkan Sari jika dia meminta. Next..., *****
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (261)
Dhe Rumengan
ceritanya bagus moga aja endingnya juga ..paling tidak ada pesan moral yg terkandung didalam ceritanya yg bermanfaat bagi pembaca..semangat ya thor..
ceritanya bagus moga aja endingnya juga ..paling tidak ada pesan moral yg terkandung didalam ceritanya yg bermanfaat bagi pembaca..semangat ya thor..
08/01/2022
1asatafafagas
11/08
0sy suka dngn DRMA"nya
08/08
0Lihat Semua