logo text

Menerobos Kamar Tidur Pangeran

Langit telah berubah warna menjadi gelap ketika Pangeran William Lancester tiba di istana. Seorang prajurit membantu mengembalikan kuda tunggangannya ke istal, sedangkan sang pangeran bergegas masuk ke dalam istana untuk menuju ke kamar pribadinya. Tubuhnya lelah dan kotor setelah melakukan aktivitas fisik di luar ruangan dengan penyamaran sebagai seorang pelayan kedai.
Kini dia mulai mengerti seperti apa rasanya menjadi rakyat jelata. Bahkan, dengan pekerjaannya sebagai pelayan kedai pun dipandang sebelah mata oleh para gadis bangsawan yang bisa jadi mungkin menarik minatnya bila dihadapkan dalam kondisi normal.
Tak akan ada seorang gadis bangsawan yang menolak seorang pangeran, tetapi pemuda biasa seperti sosok Willy yang menjadi topeng penyamarannya tak masuk hitungan. Kedudukan pelayan dipandang sebagai sosok rendahan oleh para gadis bangsawan kawan-kawan Lady Amelia.
Air mandi hangat disiapkan oleh asisten pribadinya, Jeremy Aubrach. Pria berusia awal 20 tahunan bertubuh jangkung dengan rambut hitam sepanjang bahu itu diperintahkan oleh baginda raja untuk mendampingi dan mengatur segala keperluan Pangeran William sehari-harinya.
"Apa baginda mencariku seharian ini, Jeremy?" tanya William sambil menyabuni tubuhnya di dalam bak mandi berisi air hangat yang mengepulkan uap.
Asisten pribadi pangeran menjawab, "Tidak, Your Grace. Beliau tidak mencari Anda, tetapi Jenderal Sebastian Dalio yang datang kemari tadi. Sayangnya saya tidak tahu kapan Anda akan pulang ke istana, jadi beliau berpesan akan datang kembali usai makan malam."
"Ohh ... baiklah, mungkin ada hal penting terkait keamanan negara yang ingin dibahas oleh Jenderal. Aku sudah selesai mandi, Jeremy. Berikan handuknya!" ujar sang pangeran sembari melangkah keluar dari bak mandi.
Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara berisik yang membuat kedua pria tersebut penasaran dan mengerutkan alis mereka sambil bertukar pandang. Belum sempat mereka mengatakan apa pun, pintu kamar sang pangeran terbuka dengan kasar hingga daun pintunya membentur tembok.
"BRAKK!"
Sesosok perempuan masuk ke dalam kamar dengan lancang tanpa seizin Pangeran William, rupanya Tuan Puteri Alea Briggita Kincaid yang datang berkunjung di waktu yang tak tepat. Bahkan, kondisi sang pangeran masih belum mengenakan pakaian dan hanya selembar handuk yang melingkari pinggulnya. Pemuda berstatus terhormat itu menyilangkan kedua lengannya di depan perut berotot padatnya dan menatap tajam.
"AAARRGGHH!" jerit Tuan Puteri Alea saat melihat pemandangan tak senonoh itu. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Jadi ada keperluan penting apa yang membuat Anda tak mampu bersabar dan menunggu di luar kamar saya, Princess Alea?" tegur Pangeran William dengan nada tajam sekalipun tetap sopan.
Pemuda dengan badan elok bak anyaman otot liat di setiap sisinya itu menerima pakaiannya dari tangan Jeremy Aubrach. Dia menjatuhkan handuknya ke lantai kamar tidurnya dan membiarkan tubuhnya telanjang di hadapan tuan puteri kerajaan tetangganya. Sengaja. Pangeran William tidak suka ruang pribadinya diterobos seenak jidat orang dan dia bebas melakukan kegiatan pribadinya tentunya.
Dari balik jemari lentik tangannya Tuan Puteri Alea menggigit bibir bawahnya karena kuatir dirinya akan menjerit lagi melihat tubuh polos yang sempurna itu. Gadis itu bergeming di tempatnya berdiri dengan wajah bersembunyi mengintip sang pangeran berpakaian.
Akhirnya dengan nada merajuk Princess Alea berkata, "Anda meninggalkan istana sepanjang hari tanpa seorang pun di bawah atap istana ini mengetahui kemana Anda pergi, Your Grace!"
"Ohh—hanya itu? Kupikir saya melakukan sesuatu yang sangat fatal hingga Anda tak dapat menunggu ... dengan sabar. Silakan turunkan tangan Anda, saya sudah selesai menutupi ketelanjangan saya, Princess Alea." Sang Pangeran melangkah dengan kaki telanjang menghampiri tempat gadis itu berdiri.
Sepasang mata hijau itu melebar menatap sang pangeran yang menjulang tinggi di hadapannya. "Your Grace," ucapnya pelan lalu menundukkan kepalanya menatap lantai kamar marmer di bawah sepatu bertatah permata berharga yang dia kenakan.
"Mari kita turun ke ruang makan karena sudah waktunya makan malam, Princess Alea!" ajak Pangeran William mengulurkan tangannya yang segera di tanggapi dengan antusias oleh gadis itu. Lengannya digandeng oleh tuan puteri Drakenville.
Dalam hatinya Jeremy Aubrach menduga bahwa sepasang muda mudi itu mungkin akan menikah sesuai keinginan terakhir baginda raja untuk putera tunggalnya, penerus dinasti selanjutnya.
"Apa boleh saya tahu kemana Anda seharian ini, Your Grace? Saya kesepian di istana sendirian!" selidik Princess Alea. Dia tak ingin ada wanita lain yang menjadi pesaing kuat baginya untuk mendapatkan posisi terhormat di sisi calon raja Wisteria Kingdom selanjutnya.
"Saya berkeliling negeri melihat-lihat situasi terkini Wisteria Kingdom, itu tugas yang wajib saya lakukan setiap hari. Mungkin bila membosankan berada di istana ini sendirian, Anda bisa kembali ke Drakenville. Saya bisa meminta Jenderal Sebastian Dalio untuk mengantarkan Anda pulang kapan pun yang Anda kehendaki, Princess!" jawab Pangeran William tegas, tak ada yang berhak mengatur kegiatan yang dilakukannya sehari-hari.
"Maafkan saya, Your Grace. Saya akan tetap berada di Wisteria hingga akhir turnamen ketangkasan 5 tahunan. Apa Anda ikut berkompetisi seperti Kak Ares?" sahut Princess Alea menolak dan mengalihkan topik pembicaraan.
Mereka berdua sampai di ruang makan istana dan duduk berseberangan kursi. Sementara para pelayan istana menyajikan hidangan pembuka makan malam. Sang pangeran menjawab pertanyaan Princess Alea tadi, "Saya ikut juga, tetapi tidak menggunakan status sebagai pangeran agar tak ada keistimewaan perlakuan dari panitia turnamen."
"Kenapa begitu, Your Grace? Apa Anda tidak kuatir cedera berkompetisi dengan rakyat jelata yang cenderung kasar dan terkadang tak sopan?" tanya Princess Alea menyiratkan kekuatirannya.
Namun, kerutan di dahi pangeran justru nampak dalam. Menurutnya sifat tuan puteri dari Drakenville Kingdom sedikit mirip kawan-kawan Lady Amelia yang risih kepada kalangan rakyat jelata. Itu karakter yang tidak dia ingini dari calon ratu kerajaannya. Sambil menikmati makan malam yang menunya datang silih berganti, dia lalu balas bertanya, "Saya tidak kuatir sedikit pun karena saya seorang pria kuat. Apa Anda sering mengunjungi rumah-rumah penduduk untuk acara sosial kerajaan Drakenville atau sekadar menyapa rakyat?"
"Itu tugas menteri sosial kerajaan Drakenville, Your Grace. Lagi pula saya sibuk bersekolah selama ini seperti nasihat ibunda ratu, saya tak boleh sampai ketinggalan pelajaran di sekolah," jawab Princess Alea berdalih.
"Ohh ... ibunda ratu Drakenville seorang yang bijak!" sahut Pangeran William sembari tersenyum seolah jawaban baru saja benar-benar baik padahal dia berpikiran sebaliknya. Kualitas seorang puteri raja dipertanyakan bila menghindari kedekatan dengan rakyatnya dan begitu egois.
Sejenak sosok Lady Amelia melintas di benaknya dan membuatnya tersenyum dalam lamunannya tentang sebuah kencan yang dia tunggu-tunggu. Sepertinya air terjun Angelico Falls di ujung barat daya Georgiatown akan menarik untuk dikunjungi bersama gadis favoritnya. Mungkin pula malam nanti ia akan memimpikan kencan istimewa mereka berdua dalam bunga tidurnya.
Saat jam makan malam usai, seorang pelayan istana menyampaikan secarik kertas berisi permintaan Jenderal Sebastian Dalio untuk meminta bertemu dengan sang pangeran. Maka pemuda itu pun berpamitan dengan tuan puteri Drakenville Kingdom, "Maaf, sepertinya ada urusan yang tak dapat ditunda terkait keamanan kerajaan Wisteria. Saya permisi terlebih dahulu, Princess Alea!"
Dengan berat hati gadis itu bangkit dari kursinya dan menekuk sekilas lututnya sebagai gestur menghormati sang pangeran. "Selamat malam, Your Grace!" ucapnya dengan senyum terpaksa melepas kepergian Pangeran William dari meja makan. Waktu sang pangeran untuknya hanya sedikit sekali setiap harinya padahal dia ingin mendekati pemuda tersebut.

Komentar Buku (278)

  • avatar
    SetiawanAnton

    Semoga ceritanya menarik sampai akhir..

    28/07/2025

      0
  • avatar
    Jona Revilson Tasilipet

    sangat suka aplikasi novelah

    29/05/2025

      0
  • avatar
    Mamanimas

    ceritanya bagus kak..saya suka🥰🥰🥰

    08/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru