"Jawab ayah! Uang sebanyak itu kamu pakai untuk apa! Hidup numpang orang tua bukannya ngurangin beban malah bikin hutang!" Gelegar suara Furqan memenuhi ruangan. Tak bisa lagi ditahannya amarah. "Iya, buat keperluan. Aku mau ngambil sepeda motor sendiri, yang ada susah nyalainnya, gak bisa distarter," sahut Husni tenang. Sama sekali tak terlihat rasa bersalah di wajahnya. "Syukur juga dibeliin! Sekarang mana sepeda motor yang kamu ambil? Kredit pun uang mukanya gak sebanyak itu!" bantah pria itu tak percaya. Any tak berani ke luar kamar, terlebih tubuhnya sudah sangat lemas. Semalaman Husni mendiamkan hanya karena dia bertanya ke mana uang yang dipinjam dari bank. Bukannya mendapat jawaban, yang ada dia malah diacuhkan. Kedua matanya sembab, teringat beberapa bulan ini yang diberi Husni hanya untuk sedikit belanja. Husni selalu bilang tak punya uang, tak pernah lagi mengajak jalan-jalan atau liburan padahal mereka sudah sah sebagai suami istri yang seharusnya bebas menikmati banyak hal berdua. Pakaian yang dipunya pun hanya bawaan sendiri yang dia miliki sejak masih tinggal di rumah kedua orang tua. Jangankan perhiasan, untuk makan saja harus ikut mertua. Segala keperluan Baby Ayu dibelikan oleh keluarga-keluarga yang datang menjenguk. Baik pakaian hingga perlengkapan. Biaya persalinan pun hasil dari cincin pernikahan mereka yang terpaksa dijual. Apa yang Husni lakukan dengan uang sebanyak itu sendirian? Kecurigaan demi kecurigaan membuat tidurnya tak nyenyak. Namun, demi bayi tanpa dosa yang tengah terlelap di pangkuan, Any memaksa diri untuk tetap kuat. "Bagaimana cara membayarnya nanti, Husni ...," iba sang ibu yang sengaja menunda pergi ke pasar juga. "Kamu sudah membayarnya berapa?" Furqan menepis ibaan sang istri dengan pertanyaan. "Baru bayar cicilan satu bulan." Husni membuang muka ke arah jendela. Serempak kedua orang tuanya mengucap istigfhar. Masih ada hutang yang begitu besar ditambah bunga. Wanda mulai merasakan dadanya sesak, ditusuk ratusan jarum yang menimbulkan nyeri teramat sangat. Nominal itu sangat besar terlebih sudah hampir seluruh tabungan yang dipunya dia serahkan sebagai mahar melamar Any beberapa bulan sebelumnya. "Kamu Husni, bawa anak istrimu pergi dari sini. Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini. Sepeser pun kamu tak berhak mendapat warisan dari ayah dan ibu dalam bentuk apa pun!" bentak Furqan. Wanda semakin tersentak, segera menyangkal perkataan suaminya. "Apa semua itu akan menyelesaikan masalah? Kalau kita tidak membayar rumah ini pun tak bisa lagi kita tempati!" "Ayah! Aku sama Any mau tidur di mana?" sergah Husni. "Terserah! Di kolong jembatan pun bukan lagi urusan ayah! Kalian sudah cukup dewasa untuk berpisah dari kami. Kamu harus tahu bagaimana beratnya menjadi seorang ayah! Bukan sekadar jadi anak manja yang minta bantuan untuk segalanya!" cecar Furqan. Any bangkit membawa Baby Ayu di gendongan. "Tapi, Yah. Ke mana kami harus pergi? Any sama Husni sama sekali gak punya uang pegangan buat nyari kontrakan." "Pikirkan sendiri. Pulang sana ke rumah orang tua kamu. Biar mereka tahu pria tak berguna ini bukan sosok yang pantas untuk kamu dan Ayu!" Furqan melangkah ke luar, membanting pintu dengan kasar hingga Baby Ayu terbangun dan menangis kencang. "Argh!" Husni mendengkus kesal. "Bagaimana, Bu?" ibanya pada sang ibu. "Turuti saja permintaan ayah. Ibu masih ada simpanan sementara buat kalian pindah. Berkemaslah. Nanti soal ayah akan ibu bujuk supaya berhenti marah, juga soal hutang, pikirkan belakangan. Ayah perlu ketenangan dulu," sahut Wanda berusaha menegarkan anak dan menantunya. Meski jauh di dalam, hatinyalah yang tengah remuk redam. Namun, dia tak bisa lagi melakukan apa-apa. Husni memang sudah benar-benar melewati batas. Dia hanya bisa menunggu suasana tak lagi panas untuk bisa mencari solusi bersama-sama. Langkah segera menuju kamar untuk mengambil uang simpanan walau tak seberapa. "Masukin baju-baju ke tas!" perintah Husni pada Any. "Baby Ayu belum tidur, Ay. Kamu bantu pilihin dulu," jawab Any tak ingin bayinya menjadi cerewet jika ditinggalkan. "Apalagi yang dipilihin? Masukin aja semuanya!" Bukannya membantu Any, Husni malah memilih duduk di pelatar sambil mengisap rokoknya. "Husniii! Any!" teriak Wanda dengan berang dari dalam kamarnya. Any tersentak, sedang Husni sama sekali tak menghiraukan. Wanita yang telah memakai gamis panjang berwarna coklat muda itu menghampiri Any dengan wajah yang memerah penuh kekesalan dan amarah. "Ada apa, Mah?" Any terbata menanyai mama mertuanya. "Pasti kamu yang ngambil uang di laci mama! Tiap hari yang ada di rumah siang cuma kamu!" semprot Wanda. "Uang apa, Mah? Aku gak tau. Coba tanyain Husni," sahut Any heran. "Jangan pura-pura gak tau!" "Mah, aku serius. Aku sama sekali gak pegang uang karena Husni belum gajian." Wanda kembali melangkah ke luar menghampiri Husni. "Husni! Kamu liat uang di laci ibu?" "Kalo ada liat pun udah aku minta," sahut pria itu kemudian mengepulkan asap rokoknya. "Kamu gak tau, Any gak tau! Gak ada tuyul ngambil uang sekaligus banyak!" geram Wanda. Husni terkekeh, "Tuyul kepala hitam, bolak-balik ngambilnya!" Any yang mendengar terkejut, kata-kata acuh seperti itu ... yang dia tahu hanya terlontar kalau Husni di bawah pengaruh obat atau minuman saja. "Trus gimana aku nyari kontrakan kalo uangnya gak ada?" tanya Husni tanpa memikirkan sama sekali hal lain, apalagi perasaan ibu dan istrinya. **** Hari masih pagi, dan matahari belum meninggi ketika Leon kembali sampai di Taman Mawar. Dilihatnya pria pengurus musala tengah membersihkan sekitar. Ingin menjauh, tapi keberadaannya terlanjur terlihat. Terpaksa dia singgah. "Gimana, Nak? Udah ketemu pekerjaan yang dicari?" tanyanya ketika Leon menghentikan sepeda motor kemudian mendekat. "Baru kirim surat lamaran, Pak. Belum ada kabar diterima," jawab Leon. "Kamu di sini sendirian? Orang tua kamu di kampung mana? Tidur di mana kamu, Nak? Apa punya teman?" Pertanyaan itu terlontar meski kedua tangan sibuk menyisihkan dedaunan layu yang berjatuhan. "E ... kampung asli saya di Barabai, Pak. Iya, orang tua saya di sana. Saya sendiri di sini, teman ada tapi gak bisa dihubungi," bohongnya dengan terpaksa. "Lalu kamu tidur di mana?" Pria itu menghentikan geraknya, menatap Leon dengan perasaan iba. "Di mana bisa, Pak." "Ya udah, sementara kamu belum mendapat pekerjaan dan tempat tinggal, boleh tidur di musala ini. Kamu cukup bantu-bantu membersihkan saja, kunci pintunya kalau malam. Kalau saya terlambat datang, tolong persiapkan untuk waktu salat. Sudah tua asam urat sama kolestrol suka bandel kumat," kekeh pria itu. "Bapak bercanda?" pekik Leon tak percaya. "Duh, Nak. Bapak udah tua, ngapain nambah daftar dosa? Tapi, maaf kalau bapak gak bisa kasih gaji semisal kamu bantu ngurusin musala," ujar beliau. "Alhamdulillah, Pak! Dikasih izin menginap di sini saja sudah syukur banget. Saya janji, kalau dapat pekerjaan dan punya uang secepatnya mencari kost atau kontrakan biar gak ngerepotin Bapak lagi." Leon meraih tangan tua yang mulai berkeriput itu. Kedua matanya berbinar penuh haru. Masih ada orang baik di dunia ini. Apa itu pertanda bahwa Tuhan tengah mengulurkan tangan untuk sedikit membantunya? Mengapa baru saja? Ke mana Tuhan kemarin saat dia dirundung pilu nestapa di dalam rumah bak neraka? "Umur gak ada yang tau, begitu juga hari akhir. Hidup itu perjalanan buat menanam pahala. Nanti di akhirat kita akan menyemai indahnya. Surga menanti orang-orang yang berbuat kebaikan. Bapak salut, masih ada anak muda yang bisa mengumandangkan iqamat. Masih ingat salat, masih mengerti cara menghormati orang yang lebih tua," puji beliau sambil mengusap pucuk kepala Leon.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita ny bagus
09/01
0Baguss
06/11
0bagus
22/10
0Lihat Semua