Bab 52

"Lo hutang cerita ama gue!" Yusri segera menodong Leon dengan pertanyaan ketika langkah kaki remaja itu sampai tepat di hadapannya.
"Ntar," sahut Leon tanpa peduli bahwa sahabatnya sudah sangat penasaran.
Yusri mengamati remaja yang bahkan hari ini tak mau membonceng ke sekolah seperti biasa. Sejak tadi tatap matanya kosong, tak ada senyum apalagi sepatah kata terdengar dari bibirnya. Sepanjang jalan menuju sekolah bahkan kelas, hanya abai yang didapat dari seluruh celotehnya.
Terpaksa Yusri diam, sudah bukan kali pertama Leon seperti menganggapnya tak ada. Meski kesal, tapi tak terbersit ingin mengganggu hingga cerita itu ke luar dengan sendirinya.
Selama jam pelajaran, tak satu pun penjelasan dari guru didengar Leon. Kepalanya sibuk mencerna banyak tanya dan kenangan yang mendadak berkecamuk hingga semua berubah menjadi lintasan-lintasan hampa yang tak lagi bisa ditangkap. Tangan hanya menuliskan coretan-coretan tak beraturan di lembar kertas pada bukunya.
Leon tengah berusaha keras menahan air yang terus meronta di sudut mata. Badai di hatinya tak berkesudahan, memporak-porandakan nama Nisa yang tengah ingin dipertahankan. Gemuruh dalam dada bertalu-talu tiada henti merayakan hatinya yang patah sempurna.
Hilangnya alasan menapaki dunia membawa Leon pada pemakaman jiwa yang sebenarnya. Belatung tampak berpesta pora menikmati kematian rasa di bawah temaram mentari tanpa cahaya.
Ingin mencerca takdir menuntut sosok itu kembali hadir. Waktu demi waktu berubah menjadi penantian bahwa pesan tentang semangat maupun celoteh riangnya kembali mengisi. Namun, hanya getir yang kini didapati.
Hal-hal yang sempat dianggapnya menyebalkan, nyatanya malah berubah teramat dirindukan.
Jam istirahat, Yusri masih melihat remaja di sisinya termenung. Satu persatu murid di kelas mulai ke luar, tapi Leon terus saja mematung.
Beruntung setelahnya kelas benar-benar kosong. Fazar yang biasa tak ke luar dan memainkan ponsel kini rajin ke kantin untuk menemui pujaan hatinya.
"Lo mau sampe kapan gini?" tanya Yusri.
Leon hanya mengedikkan kedua bahu tanpa menoleh sedikit pun.
"Lo gak akan dapat apa-apa kalo cuma diam mulu." Yusri berusaha mengingatkan.
"Menurut lo, apa arti kehidupan?" Leon akhirnya angkat suara walau pelan.
"Semua tergantung. Karena setiap orang tak selalu mengalami hal yang sama, jadi cara memandang dan mengartikannya pasti juga berbeda," sahut Yusri.
"Setiap yang bernyawa pasti akan mati." Tatap mata Leon masih jua menyiratkan kehampaan yang dalam.
"Pasti," gumam Yusri sebelum menarik napas panjang dan kembali melanjutkan kata-katanya. "Apa yang terjadi kemarin, emang sudah hakikatnya takdir. Tapi apa yang akan terjadi besok, mau jadi apa, mau gimana, lo yang tentuin."
"Manusia terlahir dengan membawa hak kebebasan. Tinggal lo mau apa, perjuangin apa. Gak ada yang berhak mengekang sekali pun orang tua." Yusri menepuk pundak Leon.
"Lo pernah kehilangan?" tanya Leon.
"Gak, kecuali kasih sayang bokap gue yang berubah," jawab Yusri.
Leon kembali terdiam. Sudah banyak kehilangan yang dialaminya. Perhatian dan sikap manis kedua orang tuanya, sosok kakak yang hanya sekadar status dalam ikatan mereka. Kali ini, cinta pertama yang mengajarkan arti bahagia juga telah direnggut paksa darinya.
Beberapa murid yang telah selesai berbelanja mulai memasuki kelas. Membuat Yusri kembali mengurungkan niat untuk bertanya lebih banyak.
"Temenin gue ke kantin dah!" Yusri melangkah meninggalkan kursinya. Terpaksa Leon bangkit dan mengikuti di belakang.
Sambil terus berjalan, terpikir oleh Leon untuk segera membeli sepeda motor sendiri. Tak apa bekas ataupun butut, asal dia bisa ke mana-mana tanpa membebani orang lain lagi. Sekarang ini yang diinginkannya hanya damai dan sepi.
"Yus, pulang ntar temenin nyari sepeda motor bekas," ujar Leon sebelum mereka sampai di kantin.
"Oke!" sahut Yusri segera ketika melihat sendu di mata Leon perlahan berkurang.
Di kantin, setelah membeli dua botol air mineral. Yusri membawa beberapa cemilan. Mereka memilih duduk ke kursi di pojokan, tempat favorit bersantai tanpa gangguan.
Meski masih tak banyak bicara, tapi sesekali Leon merespon Yusri yang mengajak bercerita. Walau tak jarang Yusri hanya tertawa sendirian atau pertanyaan dan kalimatnya hanya terjawab singkat.
Setelahnya, jam istirahat berakhir dan berlalu hingga waktu pulang tiba. Menit demi menit yang rasanya berjalan begitu lambat bagi mereka berdua meski dengan alasan berbeda.
Bagi Leon, waktu seolah telah bermufakat dengan kenangan luka sejak tadi malam. Sedang bagi Yusri, bosan dan kesal yang menyatulah sebabnya.
Entah mengapa Leon merasa semua menjadi berat untuk dibicarakan. Padahal, perihal orang tua dan seluruh masalah yang menimpa tak jarang dengan mudah terlepas ketika tengah berdua Yusri. Ketidak ikhlasannya pada kepergian Nisa ataukah ketidakpercayaan yang membuatnya seperti menyanggah bahwa semua adalah nyata?
Sesuai janji, setelah berganti baju Yusri kembali menjemput Leon.
Sedang Leon sibuk menghitung uang tabungan yang dia punya. Pintu sengaja dikunci agar tak diganggu sang kakak yang terdengar menyanyi dengan suara sumbangnya. Sang ibu masih berjualan membawa Haya di pasar.
Leon memandangi hasil tabungannya yang berjumlah dua juta lima ratus enam puluh ribu rupiah. Sejenak hatinya bimbang, apa masih bisa membeli sepeda motor dengan uang yang dimilikinya.
Namun, Yusri telah terlebih dahulu datang. Mengetuk pintu rumah dan memanggilnya.
Segera Leon memasukkan uang itu dan menghampiri ke luar.
"Yuk! Kebetulan temen sepupu gue ada yang mau jual sepeda motornya. Honda Supra tapi, bukan matic," ajak Yusri sambil memberitahukan.
"Terserah apa deh," sahut Leon sekenanya dan segera mengikut saja Yusri membawanya ke mana.
Setelah memasuki Sekumpul, Yusri berbelok ke kiri menuju Indrasari. Kemudian berhenti di sebuah rumah tak jauh dari stadion sepak bola Demang Lehman.
"Tunggu, gue chat orangnya dulu bilang udah nyampe." Yusri mengambil ponselnya.
Leon hanya mengangguk menatap sekitar, di sudut kota seperti ini rasanya tenang. Hanya tampak lalu lalang orang yang sesekali lewat.
Sekitar tiga menit, seorang remaja berkulit sawo matang dengan boxer selutut tampak ke luar dari rumahnya.
"Sorry, gue gak tau kalian yang dateng," sambutnya pada Leon dan Yusri.
"Yo'i. Santai. Mana sepeda motor lo yang katanya mau dijual?" tanya Yusri tanpa berbasa-basi.
Remaja itu menunjuk ke ujung pelatar, tampak Honda Supra Fit yang masih tampak bening bodinya. Yusri segera menghampiri, dan menyalakannya ketika kunci diberikan.
Setelahnya diberikan pada Leon untuk mencoba sendiri. Leon mengangguk pertanda merasa cocok.
"Berapa?" tanya Yusri.
Ketika harga pertama ditawarkan, Leon menggeleng karena uangnya tak sampai. Jadilah tawar menawar di antara mereka hingga harga yang telah disepakati dua juta empat ratus ribu.
"Barangnya masih bening, mesin terawat. Surat juga lengkap," jelas remaja itu.
"Harga temen," kekeh Yusri.
"Uang gak berkeluarga, apalagi bersahabat." Remaja itu kembali tertawa, pertanda tak keberatan atas harga yang telah disetujuinya.
Sejenak hati Leon merasa puas karena sekali lagi mampu membeli yang diinginkan dengan hasil tabungan. Hasil jerih payah dan kerja kerasnya tanpa meminta apa-apa pada kedua orang tuanya.
Mereka berdua berjalan beriringan, kemudian berpisah ketika Yusri berbelok ke pencucian sepeda motornya di Jalan Sultan Adam. Sedang Leon bukannya pulang, malah mengarah ke pasar untuk mengambil beberapa box obat di tempat Om Hanif.
Setelah mengambil obat dan menelan beberapa keping, Leon memilih untuk jalan-jalan sendiri dan berkeliling. Mulai dari pasar menuju Bincau, terus ke arah Karang Intan hingga akhirnya berhenti di Bendungan Karang Intan.
Tempat di mana sang ayah pernah membawanya ke sana sewaktu kecil dulu. Memang tak banyak berubah, suasana pun masih sepi. Leon kembali mengenang hari di mana senyum sang ayah masih tertuju. Ketika mereka berdua sering berbagi banyak cerita dan menghabiskan banyak waktu.
Sejenak pikiran dan perasaannya teralihkan walau hanya kembali terisi rindu. Leon menikmati kesendiriannya. Pada akhirnya apa yang diinginkan terwujud, menyendiri ke mana pun tanpa membebani orang lain lagi.

Komentar Buku (206)

  • avatar
    MizaRes

    cerita ny bagus

    09/01

      0
  • avatar
    AprilyaniTuti

    Baguss

    06/11

      0
  • avatar
    StefanusEndra

    bagus

    22/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru