Leon merapikan tas sekolahnya, tahun ajaran di kelas tiga tsanawiyah sudah dimulai. Namun, hubungan dengan sang ibu tak jua membaik. Wanita itu seperti selalu menghindar setiap dia ke luar kamar, atau mungkin membuang muka jika berpapasan di kamar mandi maupun di depan tivi. Jika tak menghormati ayah yang meminta pulang, rasanya hidup di jalanan lebih menyenangkan. Untuk apa pulang, kalau keberadaannya semakin tak dianggap. Memang, tak ada lagi ocehan marah atau caci dari bibir itu, tapi diamnya ternyata teramat menyakitkan. Diabaikan di rumah sendiri terasa lebih kejam daripada terus menerus dihakimi. Setiap malam, Leon memilih mengunci diri di dalam kamar. Sesak rasanya jika melihat ibu dan adiknya sibuk bercanda berdua. Meski suara mereka tetap tersampaikan pada pendengaran, setidaknya Leon bisa menepis semua itu dengan earphone yang terpasang. Leon ke luar kamar setelah rapi memakai seragam dan menenteng tas sekolahnya. Sang ayah tengah menyeruput segelas kopi di depan. "Yah, pamit sekolah." Leon mencium punggung tangan yang telapaknya semakin hari semakin kasar. "Sudah pamit sama ibu?" tanya pria yang kemudian mengisap rokoknya. "A ...." Leon tergagap, canggung rasanya jika mendatangi sang ibu. Dahulu, dia memang selalu berusaha menyapa tak peduli dengan kalimat apa yang akan terdengar selanjutnya. Dia selalu berusaha ramah dan berbakti meski selalu disebut anak durhaka. Namun, sekarang? Setelah pulangnya pun tak dihargai. Setiap dia ingin membantu mengerjakan pekerjaan, sang ibu berpaling begitu saja meninggalkannya ke kamar. Setiap dia mencoba memasak, hanya tak tersentuh kemudian berakhir di pembuangan dengan dalih sudah kenyang. "Buat apa cium tanganku, pamit kalo mau ke luar, nyebut aku ibu, tapi masih durhaka. Suka boong. Gak ngehormatin orang tua sama sekali. Semuanya sia-sia!" Terdengar suara sang ibu dari dalam, memecah lamunan Leon. "Sia-sia dibesarin sampai segede itu tapi gak ngehargain kerja kerasku! Leon, yang paling cerewet pas kecil. Nangis trus, ke mana-mana dibawa. Masak sambil gendong dia, makan sambil dipangku. Sudah gede bilang orang tua yang gak perhatian sama dia." Lagi, suara itu terdengar bergetar. Leon sendiri terpaku, entah perasaan apa yang menghinggapi semua terlalu buram untuk diterka. Kalimat-kalimat itu, lagi, hanya sebuah alat yang membuatnya tampak semakin durhaka. Menyudutkannya hingga tak memiliki ruang untuk bergerak, dihimpit oleh rasa bersalah yang perlahan-lahan meraksasa. "Leon! Minta maaf sana sama ibu! Ngalah sama orang tua!" titah sang ayah. "Buat apa! Kalo besok-besok lagi diulang, besok-besok bikin sakit hati orang tua!" racau sang ibu setengah berteriak. Demi memandang mata sang ayah tengah menatap tajam, Leon melangkah gemetar menghampiri wanita yang mulai menangis itu. Perlahan, dia meraih tangan kanan sang ibu dan menciumnya, meski kedua mata yang basah tak menatapnya sedikit pun. Segera dia ke luar dan bergegas ke sekolah, melangkah dengan perasaan yang gamang. Ini, kali pertama dia melihat ibu menangis lagi. Setelah berkali-kali air mata itu jatuh sebab kelakuan Husni, tapi kali ini namanyalah yang membuat tetesan itu berhamburan. Tatap matanya kosong menapaki aspal yang dipijak. Rasanya perih dan tersayat perlahan-lahan di dada, nyeri yang tiada terkira. Berkali-kali otak memutar rekam demi rekam yang pernah dialami semasa hidup untuk mencari jawaban atas tanya yang berputar di kepala. Adakah pembenaran untuknya? Bukankah selama ini dia hanya ingin meminta sedikit perhatian dari orang tuanya? Dia hanya ingin sang ibu tersenyum kala memandang nilai rapornya. Dia hanya ingin sang ibu seksama kala mendengarkan cerita dan keluh kesahnya. Dia hanya ingin lembut sang ibu kala memanggil dan berbicara padanya. Dia hanya ingin sedikit pengertian sang ibu atas lelahnya. Dia hanya ingin sedikit peluk sang ibu untuk dirinya. Nyatanya, lagi-lagi, menjadi penurut dan baik tak menghasilkan apa-apa selain penindasan. Penghakiman sepihak atas perasaan yang terpaksa diredamnya. Perlahan, langkahnya semakin pelan sebab mata yang buram karena kaca-kaca air di sana. Kepalanya menunduk menyembunyikan wajah yang tak lagi dapat mengukirkan senyum walau terpaksa. Suara klakson menghentikan langkahnya, meski teramat dikenali, Leon tetap enggan mengangkat kepala. "Gue kira lo gak bakalan sekolah? Kenapa lo gak aktif dihubungin sejak pulang sama Weny kemaren?" Yusri menghentikan ninjanya tepat di depan Leon. Wajah yang tadi menunduk terangkat, menampakkan gurat-gurat beban dari rautnya. Yusri menyudahi pertanyaan, mengerti bahwa sekarang sosok di hadapannya tak mungkin bersuara bahkan atas segala tanya yang tertuju padanya. "Bareng gue ke sekolahnya. Udah naik!" perintah Yusri. Lagi, Leon hanya mengikuti tanpa menjawab apa-apa. Sebelum memasuki kelas, Yusri menyempatkan membeli dua botol air mineral. "Minum dulu, dinginin hati sama pikiran lo. Lo gak bakal bisa belajar kalo gini." Disodorkannya botol itu pada Leon. Leon hanya menerimanya dengan diam. Bibir masih terlalu berat untuk menjawab. Bahkan, terlalu takut jika pada akhirnya melepaskan apa yang seharusnya dikubur jauh-jauh ke relung rasa. Hingga pelajaran bermula dan berakhir pun, Leon masih enggan beranjak dari diamnya. Yusri yang sedari tadi sabar mulai geram. Perasaan diabaikan dan berbicara sendiri membuatnya bertingkah seperti orang gila. Canda dan kata-kata apa pun tak jua mampu memancing jawaban dan senyum di bibir sahabatnya. Padahal Yusri sampai terpaksa berpura-pura tertawa sendiri hingga menimbulkan tatapan heran dari teman-teman sekelasnya. "Gue tau lo ada masalah, tapi, kalo lo mau gila jangan ngajakin dong! Gue berasa ngomong sendiri, lo ada tapi gak jawab apa-apa!" gerutu Yusri sambil memutar ninjanya. "Emang kalo gue ngomong ada gunanya? Kalo gue cerita ada solusinya?" Leon akhirnya menyerah, antara kasihan dan juga kesal dengan Yusri yang sedari tadi tak absen mengajaknya bicara. "Ya, gimana mau cari solusi, lo aja udah kaya manekin bergerak. Mau dibilang temen, tapi, ya, lo cuma diem tapi ngikut ke mana gue kaya pajangan ga guna!" Mereka berdua menaiki ninja merah meninggalkan sekolah. "Iya emang gue pajangan. Gue ada cuma buat pelengkap keharmonisan! Yang gak dibiarin tersentuh sampe berdebu trus orang lupa kalo gue ada," celetuk Leon dengan nada bicara tak biasa. Yusri yang merasa gaya bicara Leon berubah, sudah mulai menebak. Terlebih latar kehidupan Leon selama ini yang diketahuinya cukup banyak. "Hadeh, perasaan gue yang kesal, tapi lo yang marah. Udah pulang gih ganti baju, kita ke luar. Konslet di otak lo perlu diservis pake hiburan kan?" Yusri segera melajukan ninjanya ke rumah Leon. Sesampainya di rumah Leon, Yusri turut ikut masuk ke kamarnya. Raut wajah yang tadi pagi dipenuhi air mata berubah dengan senyum sempurna. "Tante, boleh ikut masuk ke kamar Leon?" tanya Yusri. "Oh, boleh, boleh. Masuk, silakan," sahut sang ibu ramah. Leon yang melihat hal itu, tentu saja heran. Sudah berhari-hari sejak pulang senyum itu tak lagi dilihatnya. Senyum yang hanya tampak ketika bersama Husni atau Haya saja, lalu menghilang begitu saja ketika dia ke luar dari kamarnya. Yusri mengamati setiap sisi kamar Leon, kecil, sederhana. Namun tertata rapi di setiap sisinya. Tak ada pakaian berserakan, atau buku yang berhamburan. Semua terletak rapi di tempatnya. Sambil menunggu Leon berganti baju, Yusri mengamati ke arah luar jendela. "Udah, ayo pergi!" ajak Leon ke luar kamar meninggalkan Yusri. "Bu, pamit ke luar sama Yusri." Leon menunduk, meraih tangan sang ibu dan menciumnya. "Pulang jangan kesorean, ya," pesan sang ibu. Yusri segera mengiyakan dan ikut bersalaman sebelum ke luar. Mereka berdua berlalu meninggalkan rumah, sedang Leon kembali terdiam, sibuk dengan pikirannya. "Lo udah baikan sama ibu lo?" tanya Yusri memecah lamunan Leon ketika baru saja mereka meninggalkan gang. "Gak tau, perasaan baru aja tadi pagi marah sama gue. Sejak pulang gak ngomong apa-apa, tadi tiba-tiba baik gitu aja," jawab Leon yang juga bingung dengan sikap ibunya. "Mungkin ibu lo udah kelar marahnya pagi tadi, makanya udah tenang sekarang. Orang, kalo udah sampe ke luar uneg-unegnya pasti setelahnya kembali kaya biasa," jelas Yusri. "Semoga." Leon bergumam pelan, dengan sedikit harapan yang kembali bersinar redup di hatinya. Andai yang dikatakan Yusri benar, apakah mereka akan bisa kembali seperti dulu? Namun, kemarahan ibu pagi tadi sudah tak lagi seperti biasanya, malah kata-kata yang terlontar semakin menusuk. "Ah, hati manusia siapa yang tahu. Apa sekarang 'Tuhan' mulai iba padaku? Atau 'Tuhan' ingin aku kembali seperti dulu?" gumam Leon. "Woy, lo aja yang bawa ini motor. Gue lebih percaya kalo lo yang bawa!" Yusri berhenti di tengah jalan, digantikan Leon yang mengambil alih sepeda motornya. Mendung yang sejak pagi menyelimuti, perlahan cerah dan hangat. Membuat senyum yang sempat membeku kembali meleleh kemudian mengambang sempurna di sudut bibirnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita ny bagus
09/01
0Baguss
06/11
0bagus
22/10
0Lihat Semua