Bab 31

Berlalu seminggu, pada pembukaan acara Haplah yang dimulai dengan upacara seluruh siswa-siswi madrasah. Leon dipercayakan untuk membawa bendera untuk upacara yang pertama kali dilakukan di sana.
Langkahnya tegap, tatap mata lurus dengan kedua tangan yang membawa bendera dengan gagah. Dari adik kelas, hingga siswi aliyah takjub memandang wajah bersih itu teramat berwibawa di tengah lapangan. Di sampingnya berdiri Yusri yang juga mengikuti gerak Leon.
Meski dengan jantung yang terpompa cepat, Leon tetap berusaha sebaik mungkin menaikkan bendera merah putih ke puncak tiang. Yusri yang terbiasa melakukannya sejak SD mampu mengimbangi kegugupan Leon. Berkali-kali Yusri mengisyaratkan untuk tenang agar semua tetap berjalan lancar.
Usai upacara, dilanjutkan dengan perlombaan pertama yaitu maulid habsyi. Leon dan Yusri, dua sahabat yang tak terpisah. Kala Yusri memukul terbang, Leon yang melantunkan syair-syairnya.
Para siswi yang tidak sibuk dengan lomba lain mencuri dengar maupun mengintip dengan berpura-pura melewati musala sekolah berkali-kali. Andai diizinkan untuk bergabung mungkin sudah dari mereka berlomba memenuhi musala.
Nama Leon kian harum kala di hari berikutnya tampil di lapangan untuk bermain voli. Latihan yang dilakukan dengan tergesa-gesa tetap membuahkan hasil. Hingga di akhir pertandingan, angka kemenangan dibawa oleh tim dari kelas dua D yang diketuai Ihsan.
Berselang sehari selanjutnya, lomba muhadarah dan cerdas cermat matematika di satu hari yang sama hanya jam yang berbeda.
Leon berdiri di depan podium, memegang selembar kertas yang telah ditulis dan disiapkan jauh-jauh hari. Pak Salman yang melatihnya duduk manis dengan tatap penuh percaya ke arahnya.
"Assalamu alaikum ...." Leon mengucap salam lengkap, wajah dan kedua matanya memindai seluruh orang yang ada di hadapannya. Seperti apa yang diajarkan Pak Salman dalam tata cara menyampaikannya.
"Yang terhormat, Ketua Pimpinan Madrasah Islami ...." Berlanjut pada sambutan dan ucapan terima kasih.
Beberapa kali dia menarik napas agar tak tergesa dalam mengucap kalimat, juga tak terputus sebelum menuntaskannya. Sebisa mungkin dia mengatur agar intonasi bicaranya tetap stabil dan tak terdengar gugup.
Tema yang sengaja diangkatnya pada muhadarah kali ini adalah pentingnya hubungan orang tua dan anak. Setiap malam dia sibuk berselancar di google untuk mencari bahannya, kemudian merancang sendiri sesuai apa yang dia inginkan.
Yusri yang mengerti mengapa Leon memilih tema itu, tak henti melayangkan senyum sebagai isyarat agar Leon tetap tegar membacakannya hingga akhir. Beberapa kali tarikan napas Leon diartikannya sebagai sesak karena teringat bagaimana hubungannya sendiri dengan kedua orang tua.
Sesekali genggamannya terangkat untuk memberi semangat, yang kemudian dibalas senyum yang membuat kedua mata coklat itu menyipit.
Semakin Leon membaca, semakin dia terkenang perilaku ayah ibunya. Semakin jauh dia meneriakkan kata-kata, semakin dia tenggelam dalam luka yang tergoreskan.
Hingga pada akhir kata sebelum mengucap salam dan perpisahan, Leon menambahkan sebuah kalimat yang mendadak terpikirkan kala mengingat kehidupannya sendiri.
"Bukan hanya seorang anak yang bisa durhaka kepada orang tuanya. Namun, ada pula orang tua yang lupa kemudian berbuat zolim pada anak mereka sendiri." Sesak kian menyeruak, berada di titik batas terakhir yang membuat suaranya kian tercekat.
Usai salam, bergegas Leon turun dari podium dan berlari ke toilet belakang sekolah. Riuh tepuk tangan yang terdengar tak lagi dipedulikannya. Yusri yang melihat hal itu segera ikut mengejar.
Kran air terdengar dinyalakan dari sudut toilet, tak ada suara lain lagi di sana. Melihat hanya pintu itu yang terkunci membuat Yusri yakin bahwa Leon ada di dalamnya.
"Lo baik-baik aja?" panggil Yusri.
Tak ada sahutan dari dalam. Yusri hanya menyandarkan tubuh pada tembok, kepalanya mendongak menatap langit-langit ruangan.
"Gue udah bilang, jangan membahas hal-hal berat yang bikin lo nyesek. Gue ngerti kalo lo gak pengen ada yang bernasib sama kaya kita. Tapi lo terlalu memaksa padahal lo belum bener-bener siap." Yusri memulai nasihatnya, tak peduli pria di dalam akan mendengarkan atau tidak.
"Ilmu parenting sekarang udah banyak terbuka di mana-mana. Bisa dicari di internet dengan mudah. Hukum islam perihal mendidik anak juga udah jelas. Nyatanya, emang banyak orang yang menutup diri buat itu semua. Menganggap bahwa mereka sudah benar dan paling mengerti bagaimana cara mengurus anak. Orang tua jenis begitu mau lo kasih tau dari segi medis bahkan dalil sekali pun gak bakal mempan," lanjutnya.
Pintu toilet yang tadi terkunci terdengar dibuka dari dalam. Leon ke luar dengan wajah yang sengaja dibasahinya untuk menyamarkan sisa air mata.
"Tumben lo bener." Leon berusaha menarik senyum.
"Hoiya pasti! Gue tuh pinter, tapi sering posisi otak gue geser makanya gue pura-pura bego aja." Yusri tertawa.
"Orang tua begitu gak bakal berubah, hanya hidayah sama waktu yang bisa nyadarin mereka. Lo berdoa aja, iya kalo doa orang kaya kita didengar." Lagi, Yusri menyambung kalimatnya kemudian tertawa.
Leon turut menyandarkan diri pada tembok di sisi Yusri. "Lo bener. Fase manusia terbagi tiga. Fase anak-anak, remaja, dewasa kemudian menua. Jika umur sudah melebihi empat puluh tahun dan tak ada perubahan maka akan tetap begitu perilakunya hingga kematian datang. Gue berharap, sebelum ayah ibu memasuki umur segitu mereka sadar. Gak usah minta maaf, cukup berhenti aja dengan sikap mereka yang begitu."
"Korban bisa saja menjadi pelaku di kemudian hari. Lo tau? Di hari ini kita cukup menjadi korban. Jangan jadi pelaku keesokan nanti," tutur Yusri.
"Jadi pelaku keesokan nanti? Nikah trus punya anak? Gue gak kepikiran aja, apa yang menyenangkan dari pernikahan. Buat apa menyatu dalam ikatan tapi nyatanya selalu ada jarak yang membentang?" gumam Leon.
"Rezeki, jodoh, maut, itu pasti. Gak bisa ditolak. Lo pasti akan dipertemukan jodoh dan pernikahan kalo emang udah siap. Jangan memaksa diri untuk melawan takdir." Yusri mengingatkan.
"Gue udah cukup kenyang sama pahit takdir yang dikasih buat gue. Gue gak bisa nolak, juga gak putus berharap tentang ... entahlah," jawab Leon.
Ketika terdengar suara langkah kaki yang mendekat, mereka menyudahi pembicaraan dan kembali ke luar.
"Lo harus siap-siap, satu jam lagi giliran lo di cerdas cermat matematika, kan?" ujar Yusri.
Leon hanya mengangguk, langkahnya lurus menuju kantin untuk membeli minuman dingin. Di perjalanan hingga di kantin belakang, entah sudah berapa wanita yang menyapa tapi diabaikan saja.
Sambil menunggu minuman yang dipesan datang, Leon membuka ponsel dan melihat beberapa pesan Nisa di sana.
[Lancar, ya, semua perlombaannya. Semoga menang.] Pesan yang diakhiri emoticon love berwarna merah di akhirnya itu mengundang senyum di sudut bibirnya.
"Hiya, yang baru baca pesan dari bebebnya udah senyum-senyum aja," tegur Yusri.
Suaranya yang lumayan keras membuat pengunjung lain segera menoleh ke arah mereka.
"Apaan sih lo! Bukan dari Nisa!" tampik Leon.
Leon berusaha menghindari tatapan itu, karena selama ini tak ada satu pun yang tahu kalau dia memiliki pacar di luar. Dia sengaja menyembunyikan agar tak ada yang mengganggu hubungan mereka.
Namun, seorang wanita di sudut kantin tak henti melepaskan pandangan padanya. Membuat dia risih dan memilih berpaling.
Hingga pada saat namanya terpanggil untuk giliran maju di cerdas cermat matematika, dia merasa terselamatkan dari tatap tajam wanita yang sedari tadi tak teralih sejak perkataan Yusri sebelumnya.
Seperti yang diingatkan Bu Lena bahwa kompetisi ini bukan hanya soal kepandaian menjawab, tetapi juga kecepatan gerak tangan untuk menekan tombol yang ada sesaat setelah pertanyaan ditujukan.
Leon telah berdiri pada posisinya. Pertanyaan mulai diluncurkan, secepat yang dia bisa menekan tombol dan segera menjawabnya. Hingga pada sesi terakhir, skor dia dengan lawan seimbang. Membuat ditambahkan lagi babak selanjutnya.
Jantungnya berdebar hebat, tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin. Terlebih ketika Bu Lena yang tak henti menatap entah arti tatapan itu apa.
Dari lima pertanyaan terakhir, dia berhasil menjawab tiga di antaranya sehingga ditentukanlah dia pemenangnya sekarang. Lagi, riuh tepuk tangan menyambut langkahnya.
Yusri tersenyum sempurna kala Leon mendekat. "Lo berhasil ngelewatin semua. Buktiin kalo lo bisa. Lo gak lemah!"
Leon membalas senyum itu, dengan semangat yang kembali membara setelah sebelumnya sempat hendak menyerah.
"Seenggaknya banyak yang mau mengakui keberadaan sama kelebihan lo. Banyak yang kagum sama lo. Banyak yang lebih menganggap lo keren di luar sana. Lo gak harus terus berharap sama orang rumah, apalagi kalo akhirnya lo cuma kecewa karena gak dapet apa-apa," pesan Yusri lagi.
"Bukannya dipuji orang tua itu menyenangkan?" gumam Leon pelan.
"Gue ngerti lo masih ngeharepin hal itu, suatu saat, lo bakal dapet lebih. Di dunia ini banyak jalan, lo bisa milih mau lewat mana, asal semua tercapai." Yusri menepuk pundak sahabatnya.
"Pas gue ngaji, yang muji cuma temen-temen, tetangga. Ayah ibu mungkin udah tuli jadi gak kasih komentar apa-apa. Padahal, seenggaknya gue pengen mereka senyum dikit. Gue malah dimarahin karena pulang tadarus kemalaman."
"Gue selalu dengar ibu kasih selamat buat Haya yang dapat nilai tujuh, bahkan cuma lima. Ibu selalu kasih hadiah, bahkan ketika Haya cuma masuk peringkat sepuluh besar. Ibu gak pernah marah pas rapor Husni dipenuhi angka merah."
"Pas temen-temen ngerjain gue di malam pertama tadarus, orang-orang muji gue. Tapi mereka enggak! Bahkan ketika gue meraih nilai tertinggi sekabupaten, ibu lebih seneng karena Husni bebas dari penjara!"
Kedua mata Leon mulai memerah menahan air bah yang memaksa untuk membanjiri pipinya. Tangannya terkepal kencang.
"Kita beli es dulu!" Yusri yang menangkap hal itu segera menarik Leon ke kantin. Menurutnya kata apa pun takkan berguna untuk meredakan amarah Leon yang seperti sekarang.

Komentar Buku (206)

  • avatar
    MizaRes

    cerita ny bagus

    09/01

      0
  • avatar
    AprilyaniTuti

    Baguss

    06/11

      0
  • avatar
    StefanusEndra

    bagus

    22/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru