Bab 18

“Mau ke mana?” tanya Husni ketika melihat Leon telah rapi dengan sarung dan pecinya.
“Salat ke langgar,” jawabnya acuh.
“Oke, kita bareng. Aku siap-siap!”
Leon yang bergegas terpaksa menunggu sang kakak, dia ada janji dengan Om Hanif, tapi kalau menolak pasti akan dicurigai. Belum lagi kak Husni adalah kunci dari sang ibu.
Yang ditunggu pun akhirnya selesai bersiap. “Ayo!”
“Sejak kapan kakak mau ikut ke langgar?” cetus Leon.
“Aku di penjara emang kerjaannya salat sama ngajarin orang ngaji, lah!”
Leon mengamati remaja yang melangkah di sampingnya, tiba-tiba dia menerka benarkah apa yang baru saja didengarnya? Suasana berubah hening, tak ada lagi percakapan hingga langkah keduanya memasuki pelatar langgar.
Teman-teman sudah menyambut Leon tercengang dengan kehadiran kakaknya.
“Tumben Husni ikut?” bisik Ihsan.
Leon mengangkat kedua bahu sebagai jawaban, kemudian larut dalam canda tawa sambil menunggu waktu salat. Seringkali dia hanya diam kala mendengar teman-teman lain bercerita tentang serunya game yang biasa dimainkan di rental PS.
Husni mengamati dan berusaha mendengarkan apa saja yang dibicarakan sang adik dengan teman-temannya. Riuh suara mereka memenuhi pelataran. Usai puas pada apa yang ingin diketahui dia melangkah menuju warung dekat langgar. Tempat di mana yang dia tahu Leon sering pergi ke sana.
Di dalamnya tampak seorang pria paruh baya menyandarkan tubuh pada tembok sambil sesekali mengisap rokok. Husni duduk mendekat. “Boleh aku duduk di sini?”
Pria itu memandang remaja yang menyapa, sekilas dia tampak seperti teman kecilnya tapi jelas berbeda pada tubuh dan gaya bicaranya. Dia mempersilakan remaja itu duduk di sampingnya.
Husni memesan es kopi kemudian mengeluarkan rokok dari kantongnya, sesaat dia sibuk mencari korek yang lagi-lagi lupa dibawa.
“Pakailah!” Pria itu mengangsurkan korek dari dalam tasnya.
“Makasih, Om!” Husni menyalakan rokok, mengisap kemudian mengembuskan asapnya sembarangan.
Pria itu hanya mengamati, garis wajah mereka memang terlihat mirip, tapi gaya bicara dan berperilaku sungguh berbanding terbalik.
“Kenapa kau memandangku seperti itu? Apa aku terlihat seperti seseorang yang kau kenal?” tanya Husni datar.
Segera dia memalingkan wajah, berpura-pura sibuk dengan sebatang rokok di tangannya.
Sedang di sisi lain, Leon celingukan mencari sang kakak. Iqamat telah berkumandang, tapi sosok yang tadi bersama dari rumah tak terlihat. Sambil berwudu dia terus memikirkan ke mana perginya remaja itu.
Usai salat, merasa tak ada sang kakak dia akhirnya memilih pergi ke warung.
Namun, langkahnya terhenti kala melihat sosok yang tadi dicari tengah berbincang dengan Om Hanif. Mereka tampak begitu larut dalam obrolan hingga tak menyadari kehadirannya.
“Eh, Leon. Sejak kapan di sana?” tanya Husni.
Tatap mata anak itu masih menyelidik ke arah mereka berdua.
“Sini! Santai dulu. Biasanya kamu suka beli es di sini, ‘kan?” ajak Husni.
Leon menurut dan duduk di samping Husni, penjaga warung yang telah hapal apa minuman kesukaannya segera membuat dan memberikannya.
Telapak tangan dan kaki terasa membeku, keringat dingin mulai membasahi tubuh. Sebisanya memasang raut datar agar tak ketahuan kalau sedang gugup.
“Bagaimana kak Husni bisa akrab sama Om Hanif? Apa yang mereka bicarakan? Lalu, kalau kak Husni tahu ....” Dia menggumam sendiri, tangan yang gemetar dipaksanya mengaduk-aduk es di hadapannya. Tatap matanya mengamati putaran es batu di dalam gelas.
“Kalau mau makan, pesan aja. Nanti aku yang bayarin,” tawar Husni.
“Aku enggak lapar,” sergah Leon cepat.
Husni dan Om Hanif sedang membahas sesuatu, Leon mencuri dengar percakapan mereka.
“Uang? Penjualan?” Hanya dua kata itu yang berhasil dicerna olehnya. Setahu dia kalau Om Hanif memang penjual obat-obatan, lalu bersama Husni apakah hal itu yang mereka bicarakan?
Leon menatap kosong gelas yang isinya tak berkurang sedikit pun. Embun dari es yang menguap dan mencair mulai membasahi sisi gelas dan juga meja.
Dalam hati bukan hanya perihal khawatir yang ada, entah mengapa dia merasa seperti apa yang dia punya tengah direbut begitu saja.
“Aku mau pulang!” ujarnya berdiri dari kursi kemudian melangkah meninggalkan warung.
Husni yang melihat hal itu segera membayar kemudian menyusul. Langkahnya dipercepat mensejajari sang adik.
Anak lelaki yang dikejar berjalan begitu cepat tanpa menoleh sedikit pun.
“Leon!” Husni menepuk bahu Leon.
Leon hanya berpaling dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
“Aku punya penawaran bagus untukmu. Aku sebenarnya tahu kalau kamu memakai obat itu setiap waktu, kau takkan mungkin bisa membohongiku.”
Leon bergeming, kemudian kembali meneruskan langkah tanpa menghiraukan perkataan itu.
“Biar saja mereka tahu, diusir dari rumah lebih baik, aku ingin bebas,” gumam Leon dengan suara samar.
“Aku bisa membantumu untuk pergi ke rental PS, dan merahasiakan kamu mabuk. Dengan satu syarat!” teriak Husni.
Mendengar kalimat pertama yang ke luar dari mulut sang kakak, Leon segera menghentikan langkah meski masih tanpa menoleh.
“Aku akan beralasan pergi jalan-jalan denganmu, tapi sebenarnya aku mengantar kamu ke rental PS. Lalu aku pergi main juga. Nanti kalau sudah sore kita bertemu di depan gang dan pura-pura pulang bersama.” Husni mendekat ke arah anak yang diajaknya bicara.
Lagi, Leon menimbang tawaran sang kakak. Ini adalah kesempatan langka, tak biasanya remaja itu mau bekerja sama dengannya.
“Kita sama-sama diuntungkan, ‘kan? Bukankah keinginan kita sama?” Husni kini berdiri tepat di depan Leon.
Leon mengangguk pertanda setuju, kemudian kembali meneruskan langkah menuju pulang. Husni tersenyum semringah, kemudian melangkah gontai di belakang sang adik.
Mereka berdua disambut oleh Wanda dengan raut wajah kesal. Waktu sudah hampir Magrib dan mereka baru pulang, hal yang wajar kalau wanita itu akan melancarkan serangan kata-kata yang memekakkan telinga.
“Dari mana aja jam segini baru pulang? Bilangnya Cuma mau salat Asar di langgar!” sambut Wanda.
Leon membuang muka dari tatapan wanita di hadapannya. Husni sigap berdiri di samping dan memberikan alasan.
“Tadi Guru Hasnan ngebahas soal mau khataman Alquran, kan Leon ikut tadarus tiap malam. Aku gak enak kan kalau pulang sendirian.”
Leon segera mengalihkan pandangan pada Husni dengan mata membelalak tak percaya. Tak satu pun apa yang dikatakannya benar, lantas bagaimana jika ibu bertanya lebih banyak?
Husni mengedipkan sebelah mata mengisyaratkan untuk menurut padanya. Leon yang menangkap isyarat itu akhirnya hanya diam dan mengikut pada permainan sang kakak.
“Udah, masuk sana! Mandi, ganti baju! Leon nanti malam ke langgar lagi, ‘kan?” tanya Wanda ke arah anak keduanya.
Leon mengangguk tanpa suara kemudian melangkah melewati mereka untuk kembali ke kamar. Masih terdengar percakapan Husni dengan ibunya, tangannya terkepal menahan dada yang seakan terbakar.
“Leon! Ambilin uang dua ratus di laci lemari ibu, ya!” perintah Husni ketika Leon baru ke luar kamar keesokan harinya.
Sesuai perjanjian kemarin, mereka akan ke luar bersama lalu berpisah untuk mencari kesenangan masing-masing. Mendengar perintah sang kakak, dia hanya mengangguk dan memasuki kamar kosong itu. Dua perempuan yang menjadi penghuninya tengah pergi ke pasar untuk berjualan.
Ditariknya laci kemudian mendapati dompet besar lagi tebal. Matanya terpaku pada susunan uang merah dan biru di sana, juga sebuah buku tabungan yang kala dibuka menunjukkan nominal tak disangka. Ditariknya napas untuk melepas sesak yang kembali menjerat dada, entah kenapa kecewa tak kunjung berhenti menyapa.
Jika dibandingkan uang sakunya bahkan tak sampai sepersepuluh dari selembar uang biru yang berjejer rapi di sana. Itu pun harus disisakan untuk jajan hingga sore.
Teriakan Husni membuatnya segera menyapu angan yang tadi singgah, dua lembar uang merah telah berpindah. Diserahkannya segera pada remaja yang menanti di depan pintu setelah mengembalikan posisi dompet dan laci seperti semula.
Husni menyalakan sepeda motor dan Leon ikut menaikinya. Setelah sampai di Rental PS Azam yang berada di Keraton Tengah mereka berpisah. Tak lupa Husni menyerahkan uang dua puluhan untuk Leon.
“Ini, bagian uang jajanmu dari uang yang tadi kamu ambilkan di laci,” ujarnya kemudian berlalu meninggalkan.
Bayangnya menghilang di perempatan jalan oleh lalu lalang kendaraan. Leon memandang uang di genggaman, meski tak sampai seperempat dari jumlah yang dipegang Husni, dia tetap bersyukur. Padahal dia sendiri merogoh tabungan agar bisa membayar tanpa meminta.
Memasuki ruko lantai dua, dia memesan dan membayar untuk bermain hingga sore. Sebuah box kecil yang bersekat triplex sampai batas dada di ujung ruangan menjadi tempat pilihannya menghabiskan waktu.
Baru dia bersiap main, seorang anak lelaki dengan mata merah dan jalan yang sempoyongan berteriak ke arahnya.
“Itu tempatku! Cari tempat lain!” ujarnya.
Leon masih fokus dengan stik PS-nya dan tak tertarik untuk menghiraukan si pembuat keributan itu.
“Aku datang lebih dulu! Aku Cuma pulang buat ambil uang!” cecarnya lagi.
Leon menarik napas, sepertinya anak itu takkan berhenti mengganggu ketenangannya.
“Kamu sendiri bilang masih ada tempat lain, untuk apa aku yang pindah?”
“Berani juga, ya, kamu anak baru, hah!” Suara anak itu meninggi, membuat pengunjung lain seketika menanggalkan stik PS dan memandang mereka.
Leon hendak berdiri menghampiri, kemudian tanpa sengaja kakinya menyenggol plastik hitam yang menimbulkan bunyi seperti ada besi di dalamnya. Perlahan dia menunduk dan meraih untuk mengetahui apa itu.
Kaleng lem fox yang terbungkus menguarkan aroma tak nyaman bagi indra penciumannya.
“Pantas kamu ngotot di sini, lem fox kamu tertinggal rupanya. Mabuk tapi enggak modal!”
Perkataan Leon sontak saja membuat pengunjung lain semakin terkejut, anak itu semakin kesal dan bersiap memukul. Namun, kalah cepat dengan gerakan Leon. Sebuah tinju membuatnya limbung ke lantai begitu saja, cairan merah ke luar dari sudut bibirnya.
Mengetahui keributan itu, si pemilik rental PS segera menghampiri.
“Usir saja tukang lem ini daripada bikin masalah terus buat rental PS kamu!” Leon melemparkan kaleng lem yang telah terbuka dan terpisah dari plastik itu ke arah anak lelaki yang sibuk mengelap darah di bibirnya.
Tanpa basa-basi, si pemilik PS mengeluarkan titah bahwa anak lelaki bermata merah itu tak lagi boleh menginjakkan kaki di sana.
Leon kembali menatap layar di hadapannya tanpa peduli seluruh mata di sana tak percaya pada pemandangan baru saja. Di mata mereka, anak lelaki di box paling ujung tersebut selalu diam, tetapi hari ini mereka seakan melihat sosok yang teramat berbeda.
Waktu berlalu hingga jam yang dibayar untuk bermain telah usai. Leon bersiap pulang. Matahari bersiap menyelesaikan tugasnya di hari ini, beranjak menuju barat dan meninggalkan gelap.
Anak lelaki itu berjalan santai dengan hati yang terasa ringan. Inilah libur sekolah yang dia inginkan, bermain selayaknya anak lain.
Di persimpangan jalan sepi anak yang tadi membuat keributan di PS berdiri berkacak pinggang seolah telah menanti lama, terlihat beberapa anak lain berdiri di sampingnya dengan tampilan tak kalah berantakan.
“Kamu harus dapat pelajaran yang setimpal!” teriak anak itu. Disusul anak-anak lain yang kemudian berlari ke arah Leon dan menyerang.
Senyum sinis terukir di sudut bibirnya, seolah menghadang pasukan abal-abal yang datang. Satu persatu pukulan mereka berhasil ditangkis oleh Leon, kemudian dibalas telak tanpa meleset dari lawan yang ditujunya.
Caci maki, kata-kata kasar terdengar bersamaan suara perkelahian mereka. Suara tinju dan pukulan beradu yang melayang saling berbalas di antara mereka. Meski satu lawan tujuh, tak sedikit pun Leon goyah dan mundur dari pertarungan.
Tak lama sepeda motor dan menabrak salah satu di antara mereka. Anak lelaki jatuh tersungkur dengan pisau di tangannya. Cairan merah menghambur di aspal tak jauh dari belakang Leon yang sibuk menangkis dan membalas serangan lawan.
Husni bergegas turun dan merebut pisau yang tadi ditujukan ke arah Leon. Dilemparkannya ke kejauhan kemudian turut serta menyerang gerombolan anak jalanan itu.
Satu persatu dari mereka akhirnya tumbang, empat di antaranya penuh lebam akibat serangan Leon, dua yang lain tak kalah mendapat keadaan sama akibat pukulan Husni. Dan satu tersungkur akibat sepeda motor yang sengaja dilajukan Husni.
“Ayo pulang!” ajak Husni berlari ke arah sepeda motor. Leon hanya menurut mengikuti, melangkah di antara anak-anak yang terkapar di jalanan itu. Tak disangka bahwa sang kakak tiba-tiba ada di sana.
“Aku menunggu di depan gang dari tadi! Pas dicari tau-tau lagi berantem,” sungut Husni.
"Dari mana kau bisa berkelahi? Belajar sama siapa?" Husni tiba-tiba penasaran dengan kemampuan bela diri sang adik.
Yang diajak bicara lagi-lagi hanya geming, menikmati nyeri akibat pukulan yang sempat mengenai kening.
Mereka berdua pulang dalam keadaan berantakan sehabis berkelahi tepat saat azan Magrib berkumandang. Sebuah sapu ijuk digenggam wanita di ambang pintu yang tengah berkacak pinggang.
“Dari mana aja! Itu juga kenapa pada lebam acak-acakan gitu!” cecarnya menodongkan gagang sapu.
Leon telah bersiap pada kemungkinan terburuk, tetapi Husni maju dan mendekat.
“Tadi jalan-jalan ke Riam Kanan, Bu. Trus ada yang mau rampok sepeda motor. Masa iya gak dilawan?” tanya Husni dengan santainya.
Leon terperangah dengan alasan sang kakak. Hal yang bahkan tak terlintas sedikit pun dalam pikirannya.
Mendengar kalimat tersebut, bergegas Wanda mengembalikan sapu ke tempat semula. Kemudian menghujani mereka dengan banyak pertanyaan yang bertubi-tubi.
Merasa sang kakak bisa mengatasi semua, Leon meminta izin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Bu, aku mau mandi sama ganti baju dulu.” Dia melangkah meninggalkan Husni yang kerepotan menjawab pertanyaan demi pertanyaan Wanda.

Komentar Buku (206)

  • avatar
    MizaRes

    cerita ny bagus

    09/01

      0
  • avatar
    AprilyaniTuti

    Baguss

    06/11

      0
  • avatar
    StefanusEndra

    bagus

    22/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru