Beranda/Ikuti Saja Mau-Nya/
Bab 29 Biar Saja
Banyak orang yang perhatian dan menunggu Namira, termasuk ibu yang baru saja tiba bersama Wak Salamah. Bapak dan Arul memang masih menunjukkan ketidaksukaan mereka pada ibu, tapi juga tidak melarang ibu datang.
Bukan hanya itu, Pak Deni juga menjemput keempat kekasih Namira serta wali mereka, padahal bapak juga tak memintanya.
"Apa enggak sebaiknya langsung Test DNA nantinya?" tanya Pak Deni padaku dengan berbisik.
Sepertinya kini waktu yang tepat untuk membicarakan apa yang Namira inginkan, apalagi semuanya sedang berkumpul di tempat yang sama.
"Bagaimana kalau kita bicara di luar, Pak? Bawa keempat anak itu, ada yang mau saya dan Bapak sampaikan."
"Boleh, kebetulan di sekitar sini ada tempat yang bagus."
Kuajak Bapak dan Arul untuk ikut, biar Nayla, ibu dan juga Wak Salamah yang menunggu Namira di sini.
Pak Deni dan Pak Kasim mengarahkan kami ke sebuah taman kecil dekat rumah sakit. Suasana begitu sepi karena ini sudah hampir tengah malam.
"Pak, mau sampaikan sendiri apa bagaimana?"
Bapak menggelengkan kepalanya. "Kamu saja, Di. Tolong. Bapak masih khawatir pada Namira."
"Iya, Bang. Tolong Abang saja yang wakilkan Bapak, biar Arul dan Bapak mendengarkan saja," timpal Arul.
Dengan jelas dan singkat kusampaikan keputusan yang Namira buat, tentu saja untuk para lelaki sampah, itu bagai angin segar karena mereka enggan bertanggung jawab.
"Apa benar Namira tidak mau memikirkan ulang, Bang?" tanya Pak Deni.
"Sepertinya begitu, Pak. Bapak juga sudah mencoba membujuk, tapi katanya meski Test DNA dilakukan sekalipun dia enggan untuk menikah."
Pak Deni mengerutkan dahinya, bagaimanapun juga dia dan Pak Kasim lah yang memberikan saran ini. Tujuan mereka memang baik, tapi Namira sudah memutuskan.
"Ya sudah, kalau memang itu sudah jadi keputusan Namira. Tapi, lelaki bajingan ini harus bertanggung jawab untuk membiayai seluruh biaya rumah sakit sebagai gantinya."
Tentu saja usulan ini tidak bisa langsung diterima, tapi untuk keluarga Reno dan Dion, mereka bersedia asal setelah ini tidak akan lagi ada kaitannya dengan Namira. Beda halnya dengan Keluarga Nazril dan Rian, ini cukup sulit karena mereka dari keluarga kurang berada.
"Jadi berapa banyak yang harus kami bayar?" tanya orang tua Reno.
"Itu belum bisa dipastikan, tunggu sampai Namira dan anaknya keluar dari rumah sakit," jawab Pak Deni tegas.
"Untuk sementara waktu masih Pak Kades yang ambil alih, jangan berani macam-macam apalagi sampai kabur," ancam Pak Kasim.
Akhirnya malam ini kami sepakat untuk tidak melakukan test DNA. Semua biaya nantinya akan dilimpahkan pada mereka berempat, bagaimanapun caranya. Jika tidak, tentu saja Pak Deni tidak akan tinggal diam saja.
Sebenarnya ada alasan khusus kenapa Pak Deni begitu baik pada keluarga bapak, itu karena Almarhum Ayahnya adalah sahabat baik bapak. Terbayang sudah jika tak ada yang membantu, mungkin semua lebih kacau lagi.
Seorang bayi laki-laki dengan bobot lebih dari dua koma tiga kilogram lahir dengan selamat. Dengan bobot sebesar itu, sebenarnya bisa saja segera dibawa pulang setelah Namira pulih, hanya saja tetap harus dievaluasi selama beberapa hari kedepan. Bukan hanya masalah berat, yang terpenting adalah kesehatan nya, karena bayi itu lahir secara prematur.
Sejujurnya, dari wajah bayi itu saja siapapun sudah bisa melihat kemiripan dengan salah satunya, rambutnya hitam dan sedikit keriting serta hidungnya yang mancung, secara keseluruhan mirip sekali dengan Nazril.
Aku rasa Nazril dan Ibunya juga menyadari itu, lihatlah mereka terlihat kaget melihat wajah bayi itu sesaat sebelum dimasukkan kedalam ruangan khusus.
Meski begitu, tidak ada ekspresi lainnya selain terkejut. Secara usia, mereka memang belum saatnya untuk melakukan hal itu. Semoga kejadian Namira bisa jadi pelajaran untuk kita semua, apalagi untukku.
***
Ini adalah hari ketiga sejak Namira melakukan operasi sesar, kondisinya jauh membaik. Putranya, Abigail Alamsyah juga menunjukkan tanda-tanda baik. Dokter bilang, jika dalam waktu tiga hari kedepan hasil evaluasi kesehatannya bagus, kami bisa membawa serta pulang Abi.
Secara bergiliran keempat lelaki itu dan walinya datang untuk berkunjung, meski hanya sekedar mengirim makanan atau menengok Abi. Lihat lah wajahnya yang tampan dan menggemaskan, aku bahkan iri karena belum punya anak laki-laki.
Sekarang mereka berempat bisa merasa tenang karena Namira ingin mengakhiri ini semua begitu saja, tapi Allah tidak tidur, suatu hari mereka akan dapat balasan yang setimpal.
Harta terbesar bagi para pria adalah keturunan dan juga istri yang soleha, anak seusia mereka tidak akan paham akan hal itu. Aku hanya bisa berharap, Namira bisa kembali membangun kehidupannya bersama Abi.
Aku berharap Namira akan menemukan kebahagiaannya di masa depan, bertemu dengan lelaki yang baik dan bisa menerima masa lalu kelamnya serta menerima keberadaan Abi.
Sesuai perkiraanku, ibu tak terima pada keputusan besar Namira. Dia bersikukuh agar melakukan test DNA dan segera menikahkan Namira dengan Ayah biologis dari cucunya. Namun saat Namira kembali membujuknya, akhirnya dia mau mengerti meski terlihat gurat kecewa.
Sesuai perjanjian malam itu, seluruh biaya Rumah Sakit serta perawatan Abi dibebankan pada empat keluarga. Entah berapa jumlahnya, yang jelas tidaklah sedikit.
Akhirnya hari ini kami bisa membawa pulang Namira dan Abi, lihatlah rona wajah bahagia dari ibu muda ini, membuat suasana menjadi haru.
"Ibu enggak bisa antar sampai rumah, maafin Ibu, Mir," tutur Ibu.
"Enggak apa-apa, Bu."
"Di, salam sama Nayla dan anak-anak, ya."
"Iya, Bu. Jangan sungkan untuk main, Safa dan Marwah pasti senang."
"InsyaAllah, Ibu pulang duluan ya."
"Iya, Bu."
Bisik-bisik para tetangga jelas terdengar, bahkan itu terjadi sepanjang jalan kami pulang. Namun sepertinya Namira tak mau ambil pusing, dia berjalan dengan tenang seraya menggendong Abi yang terlelap.
Bapak, Nayla dan juga kedua anakku sudah menunggu di rumah. Safa dan Marwah begitu kegirangan saat bertemu adik sepupu mereka.
Pada akhirnya semua berakhir seperti ini. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari apa yang telah terjadi, bukan hanya untukku, tapi untuk semua orang.
Mungkin diluaran sana masih ada yang mengalami hal yang sama dengan Namira, tapi mungkin Namira jauh lebih beruntung daripada mereka.
Lihatlah Bapak dan kedua Kakaknya, meski dia sudah mencoreng nama baik keluarga sekalipun, mereka tetap menyayanginya dan mau menerimanya dengan tangan terbuka.
Untuk masalah Ayah biologis Abi, biarlah menjadi rahasia Tuhan, begitulah kata Namira. Toh, mau mengikuti aturan negara atau agama sekalipun, anak yang lahir di luar hubungan pernikahan yang Sah tetap saja bernasab ibu dan keluarganya.
Melihat keharmonisan mereka, aku jadi rindu pada Mbak Nani. Bagaimana kabarnya? Nomor teleponnya saja sudah tak aktif, terakhir kali aku menghubungi Uwak, dia bilang Mbak Nani sudah menjual rumah itu dan pindah rumah entah ke mana.
Meksi Mbak Nani pernah menyakiti hatiku, tetap saja dia Kakak dan satu-satunya keluarga yang kumiliki. Aku berharap kami bisa kembali bertemu dilain waktu.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (93)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ceritanya menyayat hati perjuangan kita umat manusia... 😞
05/05/2022
0alhamdulillah, bagus sekali dan sangat menginspirasi. mengajarkan utk selalu bersyukur dalam situasi apa pun. thanks ya.. saat sedang terjatuh baca karya ini jadi bangkit lagi. semangat terus utk menghasilkan karya yg bagus
02/12
0bagus
12/07/2025
0Lihat Semua