Mentari sudah meninggi, suara adzan Dzuhur dan tabuhan bedug sudah saling bersahutan. Ceu Ikoh, pengurus makan siang para pekerja sudah sedari tadi memanggil kami semua untuk beristirahat sejenak. Meski tidak mewah, tapi menu makanan yang Ceu Ikoh siapkan begitu menggugah selera, apalagi kami semua lapar bukan main setelah setengah hari bekerja. "Bade langsung tuang apa netepan heula? (Mau langsung makan apa sholat dulu?" tanya Ceu Ikoh seraya menata nasi diatas piring. "Abdi rek tuang heula, Ceu (Saya mau makan dulu, Ceu?," jawab salah satu pekerja. "Mangga, nu bade tuang mangga, nu bade netepan engkin ku abdi disisakeun (Silahkan, yang mau makan dulu silahkan, yang mau sholat nanti saya sisihkan)." Aku dan Mang Puloh memilih untuk sholat lebih dulu, biasanya setelah makan yang ada akan timbul rasa malas karena perut sudah kenyang. Basuhan air gunung begitu menyejukkan, bahkan mampu mengurangi rasa terbakar akibat sengatan matahari. Baru dua hari bekerja saja kulitku sudah menghitam, mungkin nanti akan lebih hitam legam seperti kulit Mang Puloh yang sudah bertahun-tahun bekerja di ladang. *** Tubuhku sudah basah oleh peluh, belum lagi tanah yang menempel dimana-mana. Sebelum pulang ke rumah, ku bersihkan terlebih dulu agar tak terlalu kotor. Setibanya di rumah, Safa dan Marwah sedang asyik bermain bersama kakek mereka. Bapak jauh terlihat lebih kurus dari sebelum kami bertemu. "Assalamu'alaikum, Pak." "Wa'alaikum Salam, Adi!" Bapak langsung merangkulku, meski hubunganku dan ibu kurang mulus, berbeda halnya dengan bapak, kami cukup dekat. "Alhamdulillah, Bapak dengar dari Nayla kalau kamu sudah kerja." "Alhamdulillah, Pak. Do'akan semoga lancar, Pak." "Amiin. Sudah, kamu bersih-bersih saja dulu." "Bapak mau kemana?" "Ajak anak-anak jajan, mau beli es krim, katanya." "Loh, warung yang jual es krim kan, jauh. Nanti saja Adi yang antar, Pak." "Eh, biarkan saja. Bapak juga mau sekalian ajak anak-anak main, kamu bersih-bersih saja duluan." Begitulah Bapak, pribadi yang hangat dan ramah. Mungkin karena kami sesama laki-laki, jadi bisa mengerti satu sama lain. Nayla sudah menungguku di pintu dapur, dengan sigap dia memberikanku segelas air minum untuk melepas dahaga. "Handuk dan pakaian gantinya sudah Nay siapkan di kamar mandi." "Terima kasih ya, Dek. Ini rezeki kita hari ini," ucapku seraya menyerahkan uang dari dalam saku. "Alhamdulillah, terima kasih atas kerja kerasnya, Bang." "Sama-sama." Sungguh rezeki luar biasa pemberian Tuhan. Aku memang miskin dalam harta, tapi Allah memberikan seorang Istri penuh perhatian dan juga anak yang sehat. *** Biasanya makan malam kami terasa bagai di kuburan, sepi dan hening. Tapi setelah ada bapak, ibu dan Namira terlihat berbeda padaku dan Nayla. Ibu yang bisa menghina bahkan menghardik, kini malah dengan mesranya saat bicara padaku dan Nayla. "Bapak jadi tenang kalian ada di rumah ini, Nay, Di." "Iya, Pak." "Sudah, kalian tinggal saja di sini, jangan pergi lagi." Mendengar ucapan Bapak barusan, Ibu terbelalak. Tentu saja Ibu pasti menolak, apalagi dengan terang-terangan dia memintaku dan Nayla segera pergi untuk mengontrak rumah. "Kalau sudah berumah tangga, lebih baik mandiri, Pak." "Tapi mereka baru mulai merintis lagi, Bu. Bukannya lebih baik tinggal bareng kita? Mereka jadi bisa berhemat banyak." "Tapi kalau terus menyatu dengan orang tua, sampai kapan pun mereka enggak akan mandiri, Pak." Benar dugaanku, Ibu pasti akan menolak keras. Tentu saja, semenjak ada kami, ibu dan Namira pasti merasa terbatasi pergerakannya, apalagi kini kami tahu alasannya, ibu berselingkuh dan ingin lebih leluasa. "Benar, Pak. Nay dan Bang Adi sudah berencana untuk mengontrak rumah." "Tapi, Nay ...." "Enggak baik dalam satu rumah ada lebih dari satu kepala keluarga, Pak. Benar kata ibu, kami harus berusaha mandiri," sela ku. "Tuh kan, Adi dan Nayla saja paham. Memang, anak dan menantu Ibu paling bijak," puji ibu seraya menyeringai. Entah kenapa aku merinding dibuatnya, ternyata Ibu memiliki sosok seperti ini, bermuka dua. Meski aku sudah lama menikahi Nayla, kami memang jarang pulang kampung, jadi wajar jika tak banyak tahu tentang ibu. Kini semua terbuka semenjak kami tinggal bersama. Aku jadi membayangkan hal buruk. Andai aku dan Nayla membongkar kejadian malam itu, bisa jadi justru malah kami berdua yang dituduh memfitnah. Terbukti ibu bisa begitu bedanya bersikap saat ada dan tidak ada Bapak. Sungguh pilihan bijak untuk tetap diam saja. *** Selama tiga hari bapak di rumah, rasanya rumah terasa lebih damai. Ibu tak lagi menelpon kekasihnya, sedangkan Namira juga tidak pernah keluar rumah seperti biasanya. Andai saja bisa terus seperti ini, mungkin jauh lebih baik. Sayangnya setelah sholat Maghrib Bapak harus kembali bekerja, sedang banyak pekerjaan, katanya. "Bapak titip ibu dan adikmu ya, Di," pesan Bapak sebelum pergi. "Iya, Pak." Kini Bapak sudah pergi kembali, Ibu dan Namira juga kembali bersikap seperti biasa, memusuhiku. Aku tak mau ambil pusing, biar saja. "Itu apa, Nay?" tanyaku pada Nayla yang terlihat sedang membuka sesuatu. "Ini mesin jahit bapak, sudah jadul sih." "Oh, lalu kenapa kamu buka?" "Nay minta, Bapak sudah kasih. Masih bagus, sih. Hanya perlu diberi minyak lagi supaya lancar." "Memang kamu bisa?" "Alhamdulillah, bisa. Nay Nemu bahan nganggur, sepertinya bekas bapak bawa dari konveksi." "Mau kamu apakan?" "Bikin baju untuk Safa dan Marwah, Bang." Melihatnya yang begitu antusias membuatku turut senang, aku tak tahu ternyata Nayla memiliki banyak keahlian. Barangkali suatu hari nanti keahliannya bisa dimanfaatkan lebih baik lagi. Saat sedang membantu Nayla merakit kembali mesin jahitnya, Namira dan ibu keluar dari kamar dengan pakaian yang berbeda. "Mau kemana, Bu?" tanya Nayla. "Kalau Ibu ada arisan penting, enggak tahu deh Namira." "Mira mau jalan sama Dio, Bu." "Loh? Reno kamu kemanakan?" tanya Nayla. "Cadangan, Nay," seloroh Ibu seraya terkekeh. Astagfirullah, bagaimana bisa Ibu justru membenarkan hal seperti itu? aku sungguh tak bisa berkata-kata. "Bu, jangan ajarkan Mira hal seperti itu. Kamu juga, Mir. Hati-hati, jangan melukai perasaan orang lain." "Kak Nay norak. Ini zaman kapan, kak? Lagipula merekanya sendiri yang ngotot minta Mira terima cintanya." "Mau zaman Fir'aun sampai zaman monyet sekalipun, sebagai wanita kamu harus tetap hati-hati, Mir. Ibu juga, kenapa arisannya malam?" "Loh? Kenapa kamu ngurusi urusan Ibu?!" "Itu beneran Arisan, atau ...." "Atau apa maksudnya? Kamu nuduh Ibu macam-macam?!" sentak ibu seraya membulatkan matanya. "Loh? Nayla enggak nuduh apa-apa, lho." "Sudah ah, kok malah bertengkar?! Mira, sana pergi. Nay, kan sudah Ibu bilang, jangan ikut campur urusan anak muda. Mira itu belum menikah, wajar pilih-pilih yang lebih baik, jangan sampai salah pilih jodoh seperti kamu." Lagi-lagi aku yang kena, nasib sudah. Nayla hanya bisa menghela nafas, dia pasti lebih khawatir denganku saat ini. "Sudah, ya. Ibu jalan duluan." "Bareng saja, Bu. Mira sudah di jemput di jalan depan." Ibu dan Namira berlalu pergi, kini hanya ada kami berempat di rumah ini. Bapak belum lama pergi, tapi ibu dan Namira nampaknya sudah tak sabar untuk membebaskan diri yang terkekang selama beberapa hari. Astagfirullah, semoga Nayla dan kedua anakku tak mencontoh hal seperti itu. "Sabar ya, Dek." Nayla mengangguk pelan, lalu dia membawa Safa dan Marwah masuk kamar. Kasihan sekali Nayla, dia pasti tertekan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (93)
RifqiLalu
ceritanya menyayat hati perjuangan kita umat manusia... 😞
05/05/2022
0
MeilianaEstina
alhamdulillah, bagus sekali dan sangat menginspirasi. mengajarkan utk selalu bersyukur dalam situasi apa pun. thanks ya.. saat sedang terjatuh baca karya ini jadi bangkit lagi.
semangat terus utk menghasilkan karya yg bagus
ceritanya menyayat hati perjuangan kita umat manusia... 😞
05/05/2022
0alhamdulillah, bagus sekali dan sangat menginspirasi. mengajarkan utk selalu bersyukur dalam situasi apa pun. thanks ya.. saat sedang terjatuh baca karya ini jadi bangkit lagi. semangat terus utk menghasilkan karya yg bagus
02/12
0bagus
12/07/2025
0Lihat Semua