logo text

Bab 93 KISAH CINTA SEPASANG ASISTEN

Veronica menaiki mobil dan tersenyum lega setelah berhasil lolos dari Damian.
“Memangnya akan segampang itu menangkapku Damian! Kau jangan bermimpi,” gumam Veronica dengan seringainya.
“Antarkan saya ke jalan swadaya pak!” ucap Veronica memerintah, kepada sopir taksi online yang sudah di pesannya sebelum keluar dari Paragon Hils.
“Baik Nona!” sopir taksi online itu menyanggupi perintah pelanggannya.
Sementara Saga baru terlihat sampai ke rumah, menggendong Viona yang tertidur pulas dalam dekapannya.
Daniella dengan Pinkan, sangat antusias menyambut kedatangan Saga dan Viona, akan tetapi mereka harus kecewa lantaran Viona sudah lebih dulu tertidur.
“Akhirnya kalian datang juga!” teriak Daniella dari dalam rumah.
Ketika Daniella sudah di depan rumah, tiba-tiba saja Saga memberi aba-aba agar ibunya itu tidak berisik, lantaran takut membangunkan Viona.
“Ssst... jangan berisik Ma!” seru Saga pelan.
“Kasihan Viona dia kelelahan dalam bekerja hari ini,” ucap Saga.
‘Ya... batal dong kamu malam ini?” ucap Daniella.
“Apaan yang batal Ma?” tanya Saga terheran melihat ibunya.
“Itu loh bikin Cucu buat Mama!” kata Daniella.
“Ya Tuhan Ma, enggak lihat dia sudah tidur,” keluh Saga terhadap ibunya.
“Iya-iya Mama juga tahu, yaudah cepet kamu bawa masuk kasihan dia!” ucap Daniella.
Perlahan Saga berjalan melangkah memasuki rumah, lalu membawa Viona ke kamarnya.
Pinkan yang mengetahui kedatangan Saga, hanya tersenyum melihat perhatian Saga terhadap putrinya.
Setelah sampai di kamar ia membaringkan Viona, lalu menyelimutinya.
“Kamu terlihat anggun jika tertidur seperti ini Viona,” gumamnya memperhatikan wajah tenang Viona.
Kemudian Saga mengambil selimut dan tidur di sofa samping ranjang Viona berbaring, lalu mematikan lampu penerang di kamarnya.
Sementara Daniella dan Pinkan sibuk menguping di depan kamar pengantin baru itu.
Daniella menempelkan daun telinganya ke pintu kamar mereka, begitu juga yang dilakukan oleh Pinkan.
“Kenapa tidak terdengar apa pun?” ucap Daniella terhadap Pinkan.
“Mana kutahu, mereka pasti sudah tidur Nyonya!” ujar Pinkan.
“Yah... gagal lagi dong malam kedua mereka,” ucap Daniella.
“Kapan kita punya Cucunya nih kalau begini terus!” seru Pinkan.
“Kapan-kapan, sudahlah! Ini sudah malam ayo kita tidur, mereka tidak akan melakukan apa-apa Nyonya!” ucap Daniella.
“Lebih baik kita tidur saja!” ajak Daniella kepada besannya itu.
Kemudian mereka pun beristirahat, melepaskan segala kepenatan mereka hari ini.
Sementara Reinaldi kini sedang mencari keberadaan Veronica, lantaran ia tidak ingin jika kandungan Veronica kenapa-kenapa.
“Ke mana perginya wanita itu? Apa dia tahu jika aku hanya memanfaatkannya?” gumam Reinaldi di sela mengemudi.
“Tapi tidak mungkin dia pergi begitu saja, ini pasti ada yang di sembunyikannya dariku!” gumamnya menebak.
Sementara Veronica diam-diam kembali ke apartemen miliknya, untuk mengambil barang-barangnya yang masih ada di sana.
Veronica berjalan begitu saja, lewat di depan sekuriti apartemen HILS MALAYA PARK.
Ia berjalan gontai menuju ke pintu lift yang terbuka, kemudian menekan tombol lantai 135 tempat unit apartemennya terletak.
TRING. Suara lift terbuka lalu Veronica melangkah keluar dari lift tersebut.
Lalu menempelkan kartu ke pintu unit apartemennya, setelah terbuka ia memasuki ruangan itu.
“Huh... akhirnya aku kembali ke unit apartemenku ini, aku harus mengambil barang-barangku yang berharga saja. Saga pasti masih mencari keberadaanku saat ini,” gumamnya mengambil beberapa barang berharga.
Sementara di lobby, terlihat Reinaldi baru saja menepikan mobilnya ia segera mencari keberadaan Veronica, lantaran saat ia pertama kali bertemu Veronica, di apartemen ini.
“Aku bisa mencari tahu wanita itu tinggal di sini atau tidak hanya dari daftar pemilih unit di sini,” gumam Reinaldi.
Belum sempat ia menuju meja resepsionis, Veronica sudah nampak di hadapannya, Reinaldi langsung menghampiri Veronica dan memeluknya.
“Kamu ke mana saja? Aku mengkhawatirkanmu!” ucap Reinaldi memeluk Veronica, meyakinkannya bahwa Reinaldi benar-benar jatuh cinta padanya.
“Maafkan aku Rei, aku pergi tidak pamit terlebih dulu. Habisnya kamu di teleponinya sangat susah,” ucap Veronica.
“Iya, maafkan aku ya!” katanya mengecup kening Veronica, untuk menambah kesan meyakinkan bahwa ia sangat mencintainya.
“Kau sungguh takut kehilanganku Rei?” tanya Veronica masih betah berada di pelukan Reinaldi.
“Iya, aku sangat takut jika kehilangan kamu. Aku mencintaimu Veronica!” dusta Reinaldi.
“Kalau kamu mencintaiku, kapan kau akan menikahi aku Rei?” Veronica menuntut Reinaldi laki-laki yang baru dia kenal dua minggu untuk langsung menikahinya.
Reinaldi hanya terdiam, ia terjebak dalam ucapannya sendiri.
‘Sial... kenapa dia menuntutku untuk menikahinya,' gerutu Reinaldi dalam hatinya.
“Kenapa kamu diam Rei? aku sadar diri kok. Aku ini hanya wanita hina yang tak pantas mendapatkan cinta,” lirih Veronica menangis.
“Pokoknya pada saatnya bayi ini sudah lahir, kita akan menikah ya, kita tunggu saat itu tiba!” bujuk Reinaldi terhadap Veronica.
“Yang terpenting kita pulang dulu ya, ayo kita pulang ke apartemen aku!” ajak Reinaldi.
Akhirnya Veronica pun mengikuti apa maunya Reinaldi, mereka berjalan bersamaan memasuki mobil.
Reinaldi sangat lega karena Veronica mau mengikutinya, sedangkan Damian bersama dengan Fany terlihat lewat di depan gedung apartemen tersebut.
Sayangnya Damian tidak melihat keberadaan Veronica yang baru saja masuk ke dalam mobil Reinaldi.
‘Ke mana perginya Veronica tadi? Apa mungkin dia kembali ke Hils Malaya Parak?’ ucap Damian dalam hatinya.
Sementara Fany yang duduk di sampingnya, ia bingung dengan sikap Damian tampak terlihat sedang mencari keberadaan seseorang.
“Kamu kenapa dari tadi aku perhatikan kayaknya gundah banget Damian? Ada apa memangnya, kamu lari-larian tadi nyari siapa?” tanya Fany menyadarkan Damian dari lamunan.
“Kamu tahukan soal Veronica,” ujar Damian di sela mengemudi.
“Iya aku tahu, dia terlibat pembunuhan Tuan Satria kan?” ucap Fany lagi.
“Nah itu, tadi itu aku melihatnya. Makanya aku tadi mengejar Veronica, kalau saja tadi itu aku sedikit lebih cepat, pasti Veronica suah tertangkap,” ucap Damian.
“Iya mungkin kamu salah lihat kali Damian... mana mungkin Veronica berani keluar di saat semua mencarinya, dia kan buronan!” ujar Fany berusaha meyakinkan Damian.
“Apa mungkin ya, aku salah lihat?” ucap Damian bertanya-tanya pada hatinya.
Kemudian melanjutkan perjalanan pulang mengantarkan Fany ke rumahnya.
Kurang lebih memakan waktu perjalanan satu jam, Damian telah sampai di depan rumah Fanya.
BRUG. Suara pintu mobil.
Damian keluar dari mobil, berlari kecil membuka pintu untuk Fanya.
“Terima kasih ya, Mas Dam...” ucap Fany.
Seketika Damian langsung menarik tangan Fany, membawanya ke pelukan.
“Coba ucapkan lagi, kata-kata indah yang tadi,” ucap Damian.
“Ish... kamu ini apa-apaan sih, cuma di panggil kayak gitu doang masa sudah selebay ini, dasar bucin!” ledek fany terhadap Damian.
“Enggak apa-apa bucin. Yang penting bucinnya cuma sama kamu sayang,” ucap Damian bersikap manja pada kekasih tercinta.
“Iya-iya deh, awas saja ya kalau kamu berani nakal-nakal sama perempuan di luar sana!” ucap Fany berusaha memperingatkan Damian agar tidak macam-macam padanya.
“Iya sayang... mana berani aku nakal, kan aku sudah punya wanita secantik dan sebaik kamu,” puji Damian terhadap Fany.
“Dasar gombal, dah lah aku mau masuk, mau istirahat! Hati-hati di jalannya sayang,” ucap Fany mengecup bibir Damian, kemudian berlari masuk ke rumahnya.
Sementara Damian terpaku dengan kejadian sepintas itu.
Bersambung...
Happy reading guys

Komentar Buku (197)

  • avatar
    AmaliaRizka

    lanjutkan

    22/10

      0
  • avatar
    DeskaAlvaro

    bagusssss

    02/08/2025

      0
  • avatar
    Isan pratama

    seru

    24/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru