Bab 100 MULIANYA HATIMU

Dendam yang telah terbayar membuat Viona sadar jika pernikahannya dengan Saga sudah berakhir.
Viona berjalan ke arah lain, begitu pun dengan Saga.
Mereka menjalani hidupnya masing-masing, sementara Daniella dan Pinkan merasakan kesedihan yang mendalam, karena mereka harus menerima kenyataan yang sebenarnya, bahwa pernikahan anaknya hanya sebuah perjanjian, bukan atas dasar saling mencintai.
***
*Sembilan Bulan Kemudian*
Pagi itu Viona terlihat menyambangi rumah sakit, demi menemui, sahabatnya yang sedang melahirkan.
Viona berjalan mencari kamar rawat Veronica, pada saat itu melahirkan bayi hasil hubungan gelapnya dengan Aldi.
Terlihat juga di sana Nigar, dan juga Ibrahim kedua orang tua Veronica.
“Aku mohon... rawatlah Bayi ini Mi! Sayangi dia, dia adalah Cucu Momy,” lirih Veronica.
“Kenapa harus Momy yang merawatnya, kenapa kamu enggak kasih saja kepada Nyonya Early. Dia kan Neneknya juga!” ujar Nigar tak mau menerima bayi dari putrinya sendiri.
Kemudian Veronica menatap ayahnya, memohon pada Ibrahim agar mau merawat bayinya.
“Dad’s... Daddy mau kan, merawat Cucu Daddy?” lirih Veronica bertanya pada Ibrahim.
“Bukannya Daddy tidak mau Veronica, tapi kamu tahukan keadaan ekonomi keluarga kita saat ini!” jawab Ibrahim menolak, untuk merawat cucunya.
“Sudahlah, kita titipkan saja ke panti asuhan, kamu juga kan tidak bisa merawatnya Veronica! Bukannya kita tidak mau merawatnya, ya kan Pap!” seru Nigar menatap suaminya.
“Momy harus mengeluarkan uang banyak setiap bulannya, jika merawat Bayi ini!” tukas Nigar.
Veronica sangat sedih melihat tingkah kedua orang tuanya, yang terlihat seperti orang lain baginya.
Buliran air mata jatuh bercucuran, menatap wajah Bayi laki-laki tanpa dosa yang sedang dia berikan asi.
“Mi... Veronica mohon rawatlah Bayi ini! Ini darah daging Momy dan Pappy. Coba kalian lihat Bayi ini tidak bersalah, kasihanilah Anakku Mi!” lirih Veronica memohon pada kedua orang tuanya.
Sementara Viona menatap pada keberadaan mereka, dari balik kaca. Viona sangat kasihan terhadap nasib bayi yang tak berdosa itu.
Sesekali Viona menyeka buliran air mata, jatuh tak tertahankan melintasi pipi cantiknya.
‘Ya Tuhan... semua ini gara-gara dendamku pada kedua orang tua Bayi malang itu, ia harus ikut merasakan penderitaan itu, Bayi yang tak berdosa, kasihan sekali kamu nak,' lirih Viona menyeka buliran air mata.
“Pokoknya Momy tidak mau merawat Bayi ini Veronica, lagi pula ini Anak dari Aldi Pranata. Momy tidak sudi merawatnya!” tukas Nigar marah.
“Ayo Pah... kita pulang, ngapain kita di sini. Tidak ada gunanya, Momy sarankan Vero, kamu taro Bayi ini di panti asuhan!” ujar Nigar menggenggam tangan Ibrahim, keluar dari ruang rawat itu.
Viona segera bersembunyi di balik tembok, ketika Nigar dan Ibrahim keluar dari ruang rawat Veronica.
Kepedihan seolah datang silih berganti pada Veronica, sejak ia terobsesi memiliki Aldi Pranata, yang ternyata bukanlah gambaran pria sempurna.
Hukum karma rupanya belum berakhir padanya.
Perlahan Viona memasuki ruang rawat itu, terdengar isak tangis dari sahabatnya, yang terpaksa menelan kegetiran hidup akibat salah dalam mengambil keputusan.
“Kamu tidak usah bersedih Veronica! Aku yakin Tuhan akan menggantikan kebahagiaan untukmu di kemudian hari,” ucap Viona perlahan duduk di samping Veronica.
Sekilas Veronica menatap tajam pada Viona, pada awalnya ia sangat marah, lantaran ia belum terima dengan kesalahan yang di perbuat olehnya.
“Kau rupanya! Mau apa kamu ke sini, kau menertawakan aku hem!” ucap Veronica dingin menatap nanar pada Viona.
“Kedatanganku kemari bukan untuk menertawakanmu, aku hanya ingin menjengukmu, percayalah!” ujar Viona berusaha meyakinkan Veronica.
“Omong kosong... Pergi kamu dari sini, pergi!” teriak Veronica mengusir Viona.
“Aku mohon tenanglah... kedatangan aku kemari hanya ingin menjengukmu, tidak lebih,” kata Viona terus menenangkan.
“Untuk apa kau datang menjengukku, kalau hanya untuk menertawakanku. Kau puaskan melihat hidupku hancur Viona! Kenapa kau tidak bunuh saja aku, Viona!” lirih Veronica, menangis terisak.
Tiba-tiba saja bayi laki-laki itu pun terdengar menangis, seolah tahu jika ibunya sedang sedih.
Viona berusaha menenangkan Veronica, meskipun ia telah di khianati oleh sahabatnya itu, ia tetap menganggap Veronica adalah sahabatnya.
“Aku tahu saat ini kamu sedang sedih Veronica! Tapi tidak bisakah kau sedikit bijak, lihatlah Anakmu yang lucu ini.” lirih Viona memeluk Veronica.
DEG.
Amarah Veronica perlahan mulai mereda, ia merasakan ketulusan pada diri Viona. Sehingga ia menyadari semua kesalahannya.
“Maafkan semua kesalahanku Vi... aku memang salah telah mengkhianati kamu! Aku mohon maafkan aku!” lirih Viona pada akhirnya meminta maaf terhadap Viona.
“Aku sudah memaafkan kamu, jauh sebelum kau memintanya Veronica! Kita mulai persahabatan ini lagi dari awal ya,” ucap Viona lirih.
“Aku enggak pantas menjadi sahabat kamu Viona, sungguh aku malu dengan perbuatanku selama ini!” lirih Veronica.
Sementara bayi itu terus menangis, bagaimana pun ikatan batin di antara ibu dan anak tidak bisa di bohongi.
“Kita lupakan semua yang sudah terjadi, ya. Aku mohon kamu harus tegar Veronica!” ucap Viona di sertai tangis.
“Sini aku gendong Bayi kamu, coba lihat lucu sekali Anak ini!” ucap Viona sambil meraih anak dari Veronica.
Viona menimang-nimang bayi yang terlihat sangat tampan itu, sama persis seperti ayahnya. Namun ada kemiripan dengan sosok orang yang pernah ia temui, yaitu Reinaldi.
‘Kenapa wajah Anak ini mengingatkanku, pada sosok suami Clara ya?’ batin Viona tersenyum sambil menggendong bayi mungil itu.
‘Matanya memang mirip dengan Aldi, tapi kenapa wajahnya mirip Reinaldi?’ batin Viona lagi.
Bayi itu tiba-tiba saja menghentikan tangisnya, ia merasakan kasih sayang sangat tulus dari seorang Viona Teressa.
“Apa kamu menyukai Bayi itu Vi?” tanya Veronica mengalihkan pandangan Viona dari bayi kecil mungil itu.
“Aku menyukainya, coba kamu lihat... dia terlihat seperti malaikat, yang lahir di tengah badai!” gurau Viona berusaha menghibur hati Veronica.
“Bolehkah aku meminta tolong pada kamu Vi?” tanyanya lagi penuh harap.
“Tentu saja boleh, kita kan sahabat, Veronica!” jawab Viona santai seolah tak pernah memiliki masalah dengan Veronica.
“Memangnya kau butuh bantuan apa dariku?” tanya Viona.
Namun Veronica terdiam, ia merasa tak pantas meminta bantuan pada orang yang telah banyak ia sakiti.
“Enggak, bukan apa-apa lupakan saja!” ucap Veronica mengurungkan niatnya.
“Kenapa, katakan saja. Siapa tahu aku bisa membantumu?” ucap Viona lagi, kemudian meletakan bayi mungil itu ke keranjang.
Bayi itu seketika tertidur pulas, ketika di gendong oleh Viona.
Kemudian Viona kembali terduduk di samping Veronica, sahabatnya.
“Kamu perlu bantuan apa dariku? Aku pasti akan membantumu!” ujar Viona menangkup tangan Veronica.
Berat rasanya Veronica mengucapkan kata-kata dari bibirnya, ia hanya bisa menangis dan menangis.
“Jika tidak keberatan, tolong rawat Bayiku, sayangi dia seperti kamu menyayangi Putramu sendiri Vi...” lirih.
Buliran air mata terjatuh lagi, hingga membuat mata Veronica sembab, menangis sampai cegukan, lalu kembali berbicara lagi.
“Jaga dia baik-baik, jangan beritahu dia jika kedua orang tuanya adalah narapidana!” lirih Veronica memohon pada sahabatnya.
“Aku mohon rawatlah dia Vi...” ucap Veronica memohon.
"Kamu jangan khawatirkan itu, aku harap kamu bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu terlepas dari semua itu kau tetap Sahabatku," lirih Viona ikut sedih atas apa yang menimpa hidupnya Veronica.
Veronica tertegun atas apa yang di ucapkan oleh Viona--sahabatnya ia pun lantas memeluk Viona. "Maafkan aku Viona ... selama ini aku jahat banget sama kamu,"
Viona pun mengusap punggung Veronica, dan memeluknya dengan erat.

Komentar Buku (197)

  • avatar
    AmaliaRizka

    lanjutkan

    22/10

      0
  • avatar
    DeskaAlvaro

    bagusssss

    02/08/2025

      0
  • avatar
    Isan pratama

    seru

    24/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru