logo text

MEMINTA PENJELASAN

Naraya masuk ke dalam unit apartemen. Dengan Loly yang tertidur dalam gendongannya. Dia berjalan menuju kamar, lalu merebahkan putrinya itu dengan perlahan di sana.
Sebentar dia memandangi wajah mungil Loly, lalu membelai lembut pipinya yang gembul itu.
“Kenapa kamu harus memiliki bola mata sama seperti dia sayang? Mommy gak ikhlas jika memang dia adalah Ayah biologis kamu,” gumamnya sambil mengusap air mata yang mengucur keluar.
Sungguh, kejadian hari ini benar-benar membuat dia merasa hancur. Luka yang sudah dia tanam lima tahun lalu berhasil terbuka kembali. Dan semua itu penyebabnya adalah Xabiru.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Nara. Dia mengusap air matanya lalu merogoh bagian dalam clutch untuk mengambil ponsel yang berada di dalam.
Tertera nama Bu Ina di sana sebagai pemanggil. Cepat-cepat dia menjawab panggilan itu, dan sebelumnya berusaha untuk menetralkan suaranya. Dia tidak ingi Bu Ina khawatir tentang keadaannya.
“Halo Bu Ina,” sapa wanita itu sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh putrinya agar hangat.
“Halo Nara. Loly sudah bersama kamu?”
Nara berdiri, lalu dia berjalan keluar agar tidak mengganggu putrinya yang sedang tertidur pulas. Dia menutup pintu dengan perlahan.
“Sudah Bu,” jawab Nara ketika dia sudah keluar dari kamar.
Dia berjalan menuju dapur, mengambil sebotol minuman dingin dari dalam kulkas dan menguknya sedikit untuk menenangkan dirinya.
“Ah, Ibu pikir Xabiru berbohong. Ternyata tidak. ibu sudah khawatir sekali tadi.” Gerakan Nara yang sedang meneguk air putih terhenti.
Jantungnya berdegub kencang, tepat setelah nama Xabiru di dengan oleh indera pendengarannya. Pria itu. pria paling brengsek yang pernah dia kenal.
“Maksud Bu Ina bagaimana?” tanya Nara, sebenarnya dia ingin mengamuk sekarang namun tidak mungkin rasanya berbicara kasar kepada Bu Ina yang sudah sangat baik pada dia.
“Iya Nay. Tadi pagi-pagi sekali, Xabiru datang kemari. Dia bilang, kalau dia adalah Ayah Loly. Dan mau membawa Loly bertemu kamu. Katanya kalian akan menikah, benar begitu?”
Nara meremas botol minumannya dengan erat bahkan sampai menimbulkan bunyi. Sungguh, dia akan benar-benar membunuh dirinya jika sampai dia menikah dengan pria itu.
Tidak! Dia tidak akan membiarkan hal itu.
“Awalnya Ibu menolak. Tapi, sepertinya Loly nyaman sekali dengan dia. Bahkan tidak ingin lepas dari gendongannya. Mungkin naluri antara Ayah dan anak ya!” Bu Ina tertawa senang di seberang sana, tapi tidak dengan Nara yang tampaknya benar-benar emosi sekarang.
“Loly senang sekali saat tahu jika Xabiru itu Ayahnya. Dia bilang kamu sudah memaafkannya dan mau memulai hidup baru. Ibu senang mendengarnya Nay.”
Hah! Pintar sekali mulut pria itu berbicara. Sejak kapan Nara memaafkan dia? Sungguh, itu tidak akan pernah terjadi.
“Tapi saya membencinya Bu. Dia yang sudah memperkosa saya. Saya tidak akan menerima dia dalam hidup saya.” Seketika Bu Ina terdiam. Dia bingung kenapa Nara berbicara seperti ini, padahal pengakauan Xabiru benar-benar berbeda.
“Mungkin, besok saya akan kembali ke rumah Bu. Saya gak mau dia menyentuh Loly.”
“Memangnya kamu mau kemana Nay?”
“Saya akan pindah Bu. Bu Ina juga ikut ya.” Nara tersenyum, sedikit berpikir jika mungkin ini adalah keputusan terbaik untuknya.
Dia sudah berusaha memulihkan dirinya, tapi Xabiru hadir dan mengacaukan semua. Dan sekarang Nara ingin mengakhiri, menghilang dan pergi. Dia tidak ingin bertemu Xabiru atau Chrisyan lagi.
Hatinya sudah sangat hancur denagan semua penghinaan yang ditujukan orang-orang padanya. orang tua Andre dan sampai Xabiru sendiri.
“Nay, kamu baik-baik saja?” tanya Bu Ina, sesaat setelah mereka saling diam dan tidak berbicara.
Entahlah, Nara tidak tahu harus mengatakan apakah dia baik-baik saja atau tidak. Ingin sekali Nara mengatakan jika dia sangat hancur sekarang. Tapi dia tidak ingin membuat Bu Ina semakin bersedih.
“Ini salah Ibu Nay. tidak bertanya pada kamu terlebih dahulu mengenai ini. Maafkan Ibu Nara.”
“Enggak Bu. Ibu gak salah,” jawab Nara dengan suara yang hampir tidak terdengar. Dia menangis namun menahan suaranya agar tidak terdengar di seberang telepon.
“Mungkin hidup seperti ini-“
“Sudah Nay.” Bu Ina menyela, dia tidak suka Nara meratapi takdirnya. Dia lebih suka Nara yang sekarang. Naraya yang tegar dan kuat.
“Kalau begitu, besok Ibu bantu berkemas ya,” ucap Bu Ina, mencoba untuk mencairkan suasana agar Nara tidak berlarut dengan kesedihannya.
“Besok ceritakan pada Ibu apa yang terjadi.”
“Iya Bu,” jawab Nara dengan suara parau, dia masih menahan tangisnya meski Bu Ina sudah tahu akan hal itu.
“Ya sudah. Kamu istirahat, jangan dipikirkan lagi.” nara mengangguk, meski hal itu tidak akan bisa dilihat oleh Bu Ina. Paling tidak, sekarang dia bisa sedikit lebih tenang karena ada yang memahaminya.
“Besok kabari Ibu kamu sampai rumah jam berapa ya.”
“Iya Bu.”
Panggilan berakhir, namun Nara masih tetap termenung. Duduk diam di sofa. Entahlah, hatinya merasa sangat hancur sekarang. Baru saja kebahagiaan tiba dan dia bisa menerima Andre, tapi kenapa kembali hancur?
Satu pertanyaan yang mungkin hingga saat ini tidak bisa di jawab oleh Nara.
Pantaskah dia bahagia?
Jika pantas, kenapa dia harus merasakan hidup sehancur ini.
Ting tong!
Suara bel yang terdengar membuat lamunannya buyar. Dia mengusap air mata yang masih mengucur deras. Sungguh, ini adalah sisi Naraya yang tidak pernah dia tunjukkan pada orang lain. Dia itu rapuh, namun selalu bersembunyi di balik sikap tegar dan tegasnya.
Ting tong!
Suara bel kembali menyadarkan dia. Nara kemudian berdiri, dan bersiap untuk membukakan pintu. Dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang berdiri tepat dihadapannya.
Amarahnya kembali mencuat, saat wajah pria itu benar-benar nyata dihadapannya. Siapa lagi kalau bukan Xabiru.
Emosi Nara kembali mencuat kepermukaan, sebelum Xabiru bicara Nara mencoba untuk menutup pintu. Namun gerakan pria itu jauh lebih cepat, dia menahan pintu agar tidak tertutup.
“Nara-tunggu. Biarkan saya bicara. Sebentar saja.”
Sialnya, pria itu menerobos masuk begitu saja. Membuat Nara sulit untuk menolaknya.dan seeperti biasa. Xabiru menutup pintu dengan cepat. Tidak ingin memberi kesempatan untuk Nara mengusirnya.
Naraya terdiam di tempat, rasanya dia benar-benar sudah lelah untuk mengamuk pada pria ini. Dia benar-benar lelah melontarkan kata-kata kasar untuk Xabiru. Dan kali ini, dia akan membiarkan pria itu berbicara, untuk yang terakhir kalinya, sebelum dia dan Loly pergi jauh.
“Katakan. Apa yang ingin kau ucapkan.”
Xabiru menatap wanita yang berdiri dihadapannya. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. Dia merasa jika Nara kali ini benar-benar berbeda dari biasanya.
Apa yang sedang direncanakan wanita ini? Pikir pria itu.
***

Komentar Buku (335)

  • avatar
    Imagirl

    good novel, dah gak bisa berword" lagi saya. 👍🤩

    04/04/2022

      0
  • avatar
    Peony

    good

    13/06

      0
  • avatar
    Elaine

    Good

    13/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru