POV Bella "Terus kamu mau apa? Mau ngadu ke Mas Damar?" Tantangku dengan menatap Rasti penuh intimidasi. Ya, aku sama sekali tak khawatir atau pun takut jika Rasti mengadu yang tidak-tidak ke Mas Damar. Aku ini wanita cerdik. Sudah pasti punya rencana terlebih dahulu sebelum menjalankan misi. Rasti yang melihat tak ada ketakutan di wajahku langsung berlalu begitu saja dengan kesal. Rasain! Enak saja mau minta uang untuk biaya terapi Ibu. Dikira aku akan dengan sukarela memberi gitu? No way! Malah lebih baik Ibu cepat mati saja, agar perhatian Mas Damar hanya untukku. Aku masuk kembali ke kamar, lalu meraih ponsel di atas kasur yang tadi sedang kugunakan untuk merekam video hot-ku. Ya, sebenarnya selama ini aku sering menghabiskan waktu di kamar selama Mas Damar kerja, karena aku sibuk membuat video hot yang nantinya akan kujual dengan harga mahal. Kebetulan sebelum aku menikah dengan Mas Damar, ada seorang mantan pelangganku dulu yang sekarang berdomisli di luar negeri, menawariku pekerjaan ini. Tanpa perlu capek-capek aku bisa menghasilkan banyak cuan. Lagi pun video ini nantinya akan jadi konsumsi orang luar. Jadi aku tak perlu khawatir jika Mas Damar tahu. Setelah mengirim video yang baru kurekam tadi, aku menelepon sebuah nomor mantan pelangganku yang lain. "Hallo ... Siapa ya?" Terdengar suara seorang lelaki di seberang sana menyahut panggilanku. Aku maklum ia tak tahu bahwa aku yang menelpon. Karena memang nomor ini nomor khusus yang kugunakan untuk berbisnis, nomor yang kurahasiakan dari Mas Damar. "Hai, Beb ... Masih ingat aku gak?" Tanyaku dengan suara lembut sedikit mendesah. Memang begitulah caraku berbicara pada pelanggan. "Siapa ya?" Ia bertanya kembali membuat aku jadi kesal karena merasa dilupakan. "Ini aku lho, Beb, Bella. Masa cepat banget sih lupa sama aku?" Sahutku dengan nada merajuk. "Ya ampun, kamu rupanya, Yank. Maaf ya? Aku gak tanda lho." Aku hanya menjawab dengan deheman manja. "Ada apa nih? Tumben nelpon," lanjutnya lagi bertanya. "Beb, kamu masih kerja di rumah sakit Prima Husada gak?" Tanyaku basa-basi. Padahal aku sudah tahu bahwa pelangganku satu ini masih bekerja sebagai perawat di sana. Karena sewaktu aku dirawat, aku sempat melihat dia. "Masih, Yank. Kenapa?" "Bisa gak tolong aku? Kamu dekat gak dengan bagian neurologi?" "Wah, kebetulan banget. Aku sekarang tugas di bagian itu," ujar lelaki di seberang sana membuat harapanku makin membuncah. Aku pun segera mengutarakan keinginanku supaya ia membantu untuk memanipulasi data-data hasil terapi Ibu. Tak lupa aku meminta ia membuat seolah-olah aku dan Ibu memang rutin terapi sesuai anjuran dokter. "Oke aku akan lakukan semua permintaanmu. Tapi tentunya gak gratis lho, Yank. Soalnya ini tugas yang beresiko," ujarnya sebelum kami benar-benar sepakat. "Haduh, kalau soal bayaran kamu tenang saja. Aku akan bayar kamu dengan harga tinggi kok," sahutku langsung. "Bukan itu, Yank. Aku kalau dikasih berapa pun bakal terima kok, hanya saja ... Aku rindu kamu," ucapnya setengah berbisik. Aku langsung tersenyum, sangat mengerti maksud dari lelaki itu. Dasar lelaki breng*sek, kukira ia sudah berubah ternyata masih sama bejatnya dengan dulu. Aku bergidik membayangkan lelaki seperti dia jadi tenaga medis. Tapi syukurnya ia ditugaskan di bagian neurologi, yang kebanyakan pasiennya para lansia. "Halah! Apalagi itu ... Gampang sekali. Mau sekarang juga bisa. Tapi dengan syarat kau harus bisa membuat bukti, bahwasanya hari ini aku dan Ibu mertuaku sudah menjalani terapi. Bagaimana?" "Oke! Akan aku kerjakan sekarang. Dan jika nanti sudah selesai kita bertemu. Gimana?" Aku langsung menyetujui saran lelaki bernama Dewa itu. Dengan syarat jangan sampai sore hari tugasnya itu selesai. Karena aku harus memegang bukti tersebut sebelum Mas Damar pulang ke rumah. Jadi jika ada aduan yang tidak-tidak dari Rasti, aku bisa membantahnya dengan bukti yang ada. Setelah sepakat, panggilan pun berakhir. Aku kembali ke rutinitas awalku membuat video hot yang lain, dengan tubuh yang hanya dibalut lingerie, bahkan ada juga request yang meminta aku membuat video polos tanpa sehelai benang pun. Namun untuk video itu, aku tentu meminta bandrol dengan harga yang mahal. Syukurnya walau aku hamil saat ini, tapi tubuhku masih begitu aduhai. Jadi mereka tak mempermasalahkan kehamilanku. Bahkan jika kehamilanku membesar nanti, mereka meminta video hot dengan menampakkan perut besarku. Karena ada sebagian orang dengan orientasi se*ks aneh begitu. Sejujurnya aku juga tak tahu saat ini aku hamil anak siapa. Karena aku masih rutin menerima pelanggan hingga detik ini. Tapi tentu dengan cara sembunyi-sembunyi agar Mas Damar tak tahu. Dan beruntungnya lagi, Mas Damar percaya dengan semua bualanku. Dasar lelaki bo*doh. *** Tepat pukul dua siang, Dewa menghubungiku mengatakan bahwa apa yang kuminta sudah selesai. Tak lupa ia mengirimkan lokasi tempat kami akan memadu kasih. Aku segera bersiap dengan riasan yang tak begitu mencolok, dan pakaian yang elegan seperti biasanya. Walau tak memakai pakaian terbuka dan seksi, dijamin Dewa juga bakal klepek-klepek denganku. "Mau kemana kamu?" Aku terkejut saat mendengar teguran seseorang di belakangku. Ternyata sudah ada Mas Danis yang berdiri memperhatikanku dengan wajah pucatnya. Aku jadi jijik setiap kali membayangkan penyakit lelaki yang bergelar kakak iparku ini. Semoga saja aku tak terkena penyakit yang sama dengannya. Lagipula aku setiap melayani pelanggan lebih sering menggunakan pengaman. Hanya sesekali saja tidak. "Bukan urusanmu!" Jawabku ketus. Kesal sekali rasanya diinterogasi dengan orang penyakitan ini. "Ngantar Ibu terapi kamu gak bisa, tapi jalan-jalan sesukamu kamu bisa!" Tandasnya membuat aku semakin kesal. "Jangan berisik bisa gak sih! Kamu itu cuma lelaki penyakitan, jadi gak usah banyak komplain padaku!" Sentakku tak mau kalah. "Awas saja kau! Tunggu saja saat Damar pulang kerja. Aku akan mengadukannya kalau kau tak membawa Ibu terapi," ancamnya kemudian. Aku hanya mengibaskan tangan dan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan lelaki itu. Ia pikir aku takut dengan ancaman kunonya begitu? No way! Dengan taksi online aku langsung menuju tempat janjian dengan Dewa di sebuah hotel bintang lima. Ah, sudah lama sekali aku tak masuk ke tempat-tempat seperti ini. Karena beberapa saat terakhir aku hanya melayani orang-orang dari kalangan biasa. "Hai, Bell!" Aku terkejut saat seseorang memanggilku dari lobby. Dan ternyata itu adalah Dewa. Aku segera mendatanginya dengan senyum merekah. "Ini permintaanmu untuk hari ini." Ia mengulurkan sebuah berkas yang dibalut dengan amplop coklat. Senyum kemenangan langsung terkembang di wajahku saat melihat hasilnya. Lalu kuulurkan amplop berisi uang yang sudah kusiapkan untuknya. Dewa menerimanya dengan begitu riang. Setelah menghitung isi dalam amplop, Dewa langsung menatapku dengan seringai nakal. "Waktunya upah yang kedua," desisnya dengan wajah mesum.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (184)
Medzalluna
nice
30/03/2025
0
Laura Ra
carilah yang baik dan cantik hatinya bukan nya wajah yang cantik
nice
30/03/2025
0carilah yang baik dan cantik hatinya bukan nya wajah yang cantik
27/03/2025
0bgs cry nya
23/10/2024
0Lihat Semua