logo text

mengmbil kembali hak yang telah lama dirampas

KETIKA SI MISKIN YANG DIHINA MENJADI JUTAWAN
Bab 36
"Iya, aku menertawakan nasibmu dan otakmu, ups, itu pun kalau kau masih punya otak, sungguh sayang, wanita secantik dirimu harus mempermalukan diri dengan cara seperti ini, " ucapku menatap nyalang Anita. Tapi nampaknya ia tak menghiraukannya, Anita terus saja merengek pada suamiku ini, hingga akhirnya aku terpaksa memanggil keamanan untuk menyeret sekalian Anita ke penjara. Kali ini perbuatannya tidak lagi bisa di tolerir.
"Pak! Panggil keamanan, dan bawa dia ke kantor polisi! " aku meminta dua orang keamanan untuk mengusir Anita dan menyeretnya ke kantor polisi. Cukup sudah aku membiarkan manusia seperti Anita berkeliaran di sekitarku.
"Mas Anam tolong aku, Mas, jangan seperti ini, aku cinta mati sama kamu, Mas! Dasar kau wanita sialan! " Anita terus memaki dan meronta tapi aku tak menghiraukannya, biarlah dia menerima akibat dari perbuatannya.
Setelah pengacau pergi dari rumahku, acara pun kembali kita lanjutkan, dan pada akhirnya semua berjalan dengan lancar, meskipun tadi ada sedikit hambatan.
***
"Ri, sudah siap? " tanya Papa padaku, hari ini aku dan Papa akan menjalankan rencana yang telah kami persiapkan matang-matang, yakni ingin membuat perhitungan pada Mas Tio dan istrinya. Setelah kejadian keributan kemarin di acara syukuran empat bulananku, baru ku ketahui kalau kekacauan itu ada sangkut pautnya dengan Mas Tio dan Mbak Tiwi, lalu kemana Mbak Meri? Ternyata Mbak Meri tak memiliki nyali yang tinggi, sekali aku mengancam akan mengambil semua yang ia punya karena sejatinya itu adalah milikku dia tidak lagi berani menggangguku, bahkan Mbak Meri seperti hilang ditelan bumi.
"Sudah, Pa, sebentar aku ambil tas dulu," aku memang hanya berdua saja dengan Papa berangkat dari rumahku, tapi nanti akan ada seorang pengacara kepercayaan keluarga Papa akan ikut serta, kami sudah berjanji akan bertemu langsung di lokasi, yakni rumah Mas Tio. Sedangkan Mas Anm tidak bisa ikut, hari ini dia harus menyelesaikan berkas laporan untuk meeting penting besok.
Setelah aku mengambil tasku, aku dan Papa berangkat bersama menggunakan mobil Papa, dan menuju rumah Mas Tio. Sesampainya disana dengan sangat kebetulan kedua manusia licik tersebut sedang ada di rumah. Tampak keterkejutan di wajah mereka melihatku datang bersama Papa dan pengacara.
"Hai, Mas, aku masuk ya, mau ada yang aku bicarakan sama kalian, penting! " titahku pada Mas Tio, entah kenapa rasa hormat pada saudara angkatku menguap entah kemana.
"Ada apa kalian kesini? " tanya Mas Tio, terdengar jika ia tak suka dengan kehadiranku dan juga Papa.
"Duduklah dulu, jika ada tamu itu seharusnya kau menyambutnya dengan baik, bukankah begitu ajaran yang Rasulullah SAW berikan? " ucap Papa sarkas.
"Duduklah, dan katakan ada perlu apa kalian datang kemari!" ucap Mas Tio dengan suara yang cukup tegas menurutku, tapi itu tak menyurutkan keberanianku.
"Jadi kedatangan kami kemari ingin meminta kalian segera meninggalkan rumah ini, " ucapku sembari menatap tajam Mas Tio dan Mbak Tiwi yng sudah duduk di depanku.
"Atas dasar apa kamu menyuruh kita pergi dari sini? Rumah ini peninggalan orangtua ku, jadi sudah pasti rumah ini milikku. "
"Mas lupa? Darimana rumah ini berasal? "
"Ya aku tahu, uangnya dari Papa mu kan, tapi rumah ini atas nama orang tuaku, jadi akulah sebagai anak kandung yang mewarisinya bukan kamu, " ucap Mas Tio dengn senyum jumawa.
"Oh ya? Lalu sekarang aku tanya dimana surat rumah ini berada? "
"Ada kok aku simpan, tapi itu bukan urusanmu! "
"Hemm, gitu ya? Terus kalau aku bilang surat rumahmu ada padaku gimana? "
"Apa! Jangan main-main kamu Riri, surat rumah ini aku gadaikan ke Bang Joni, kenapa bisa sama kamu? "
"Hahahaha, kenapa. Mas? Kok takut? Santai saja, aku tahu semuanya, bahkan aku juga tahu kalau kau sudah telat dua minggu, kau tak bisa menebus sertifikat rumah ini kan? Dan aku berbaik hati menebusnya dari tangan Bang Joni, dan sekarang rumah ini sudah menjadi milikku, karena perjanjiannya kalau kau tak bisa membayar tempo satu bulan, rumah ini menjadi pemilik si pemberi hutang. "
"Bohong! Kau pasti bohong, bagaimana bisa surat itu ada ditanganmu! Ini penipuan namanya!" Mas Tio berdiri sembari berkacak pinggang dan menunjuk diriku, sementara Mbak Tiwi sedari tadi hanya diam, entah kenapa, padahal biasanya dia juga yang paling garang kalau berhadapan denganku.
"Untuk apa aku berbohong, kau tak bisa menebus surat ini, jadi Bang Joni menjual rumah ini, daripada jatuh ketangan orang masih bagus aku yang menebusnya, dan itu sah m, karena aku juga membawa pengacara yang mengurus semuanya waktu itu. jadi rumah ini sekarang milikku. Dan sekarang silahkan Mas pergi dari sini, bawa sekalian baju-bajumu, tapi tidak dengan perabotannya, karena kau menggadaikan rumah ini beserta isinya," ucapku sembari tersenyum puas penuh kemenangan.
"Tapi, Ri, kita mau tinggal dimana? " kali ini Mbak Tiwi mengeluarkan suaranya.
"Itu bukan urusanku, salah kalian sendiri sudah membangunkan macan tidur, sekarang rasakan saja akibatnya, aku beri kalian waktu dua hari untuk segera meninggalkan rumah ini, kalau tidak, dengan sangat terpaksa aku harus menyeret kalian keluar dari rumah ini! " ucapku tegas pada mereka sebelum akhirnya aku, Papa dan pengacara pergi dari rumah mereka yang sudah menjadi milikku.
"Riri! Tunggu, Ri! Tolong kasihani kami, mau tinggal dimana kami setelah ini, setidaknya lihatlah Dea, dia masih kecil, " iba Mbak Tiwi padaku. Dan tentu saja aku menghentikan langkahku dan menatap wajah Dea yang duduk di pangkuan Mbak Tiwi, biarpun Dea juga sama meyebalkannya dengan orang tuanya, tapi dalam hal ini, Dea masih teramat kecil untuk menanggung akibat yang orang tuanya perbuat.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk memberikan sejumlah uang untuk mereka mencari rumah kontrakan.
"Ini, pergunakanlah untuk kalian mencari rumah sewa, setidaknya kalian harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kalian perbuat, aku masih ada hati karena tak tega dengan Dea, tapi aku tetap tak bisa mengizinkan kalian tinggal di rumah ini lagi," ucapku untuk yang terahir lalu memutuskan untuk pergi, begitu juga dengan Papa dan pengacaranya, tidak ada ucapan apapun dari Papa, karena beliau tau aku tidak akan bertindak gegabah.

Komentar Buku (128)

  • avatar
    TryyUmuy

    bagusss

    06/02

      0
  • avatar
    RaZhraiya

    bagus

    16/07/2025

      0
  • avatar
    YassaWizi

    ceritanya baguss Dann banyak motivasi yg bisa di ambil dari cerita ini

    13/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru