“Mohzan mohon maaf Buu..! Gara-gara menyelamatkan Mohzan Ibu harus kehilangan putra Ibu Pedro.” Mohzan menunduk menyalami dan mencium punggung tangan mama Pedro. “Tidak Nak..! Jangan bicara seperti itu. Pedro sekarang sudah bahagia bersama Bapa di syurga. Kita semua harus ikut bahagia.” Ujar mama Pedro mengusap bahu Mohzan yang masih mencium tangannya. Ibu itu malah tersenyum bahagia. Keyakinan yang ia miliki bisa melebur ego yang kebanyakan dimiliki manusia. Wajahnya yang berkulit hitam terlihat manis karena balutan budi yang kemilau. Hanya ketenangan yang ia tampilkan. Bukan keresahan apalagi kemarahan. “Mohzan berhutang nyawa kepada Pedro Bu.” Mohzan tergugu sedih. Ia terbayang kebersamaan yang ia lalui bersama Pedro disaat pemuda itu masih hidup. “Jangan bicara begitu Nak. Kehidupan dan kematian itu adalah kemauan tuhan. Sebagai manusia kita harus meyakini itu.” Kembali dengan senyum ikhlasnya ibu itu menjawab. Pedro adalah sosok yang ramah dan baik hati. Ia juga suka menolong tanpa membedakan apapun. Karena kesamaan prinsip itulah yang membuat dirinya dan Pedro cepat sekali akrab. Lelaki hitam manis yang berasal dari timur Indonesia itu sudah merasa bahwa Mohzan adalah saudara kandungnya. Mohzan diterima sangat baik di keluarga Pedro. Tidak ada satu orang pun dari mereka yang menyalahkan Mohzan dalam kejadian ini. Keluarga Pedro kemudian mengantarkan Mohzan ke tempat peristirahatan terakhir Pedro. Rasa haru dan sedih semakin kental dirasakan Mohzan begitu ia melihat gundukkan tanah dimana diatas pusara itu terpancang tanda salip. Perlahan Mohzan mendatangi pusara Pedro. Dua tetes air mata bergulir perlahan menuruni pipinya. Ia kemudian duduk persis dihadapan gundukkan tanah itu dan berkata perlahan dengan suara serak. “Pedro adikku... Abang tidak tahu apakah Abang harus sedih ataukah harus bahagia. Abang sedih karena kita telah kehilangan masa untuk bersama, tapi Abang bahagia karena Abang yakin kamu sudah berada di syurga.” “Allah pasti tidak akan lupa membalas kebaikan dan kemuliaan hatimu Dek. Sesungguhnya kamu telah sampai kepada kehidupan yang hakiki dan sebenarnya. Dimana hanya hamba dan tuhannya yang mengetahui itu.” Mohzan menyeka air matanya yang terus menuruni pipinya. Lalu ia melanjutkan curahan hatinya. “Dari mulai Abang mengenalmu dan sampai kamu berpamitan, Abang belum pernah melihat secuilpun keburukkan yang ada pada dirimu.” “Sungguhpun kita berbeda dalam banyak hal, suku, warna kulit, bahasa bahkan agama, namun kita satu dalam kesamaan prinsip. Bahwa sebenarnya perbedaan itu adalah bukti kekayaan dan kebesaran tuhan. Dan kamu telah membuktikan prinsipmu itu lewat pengorbananmu.” Semua keluarga Pedro yang hadir dipemakaman itu tiada kuasa menahan air matanya. Ia benar-benar larut dalam curahan hati seorang Mohzan kepada seorang Pedro yang kini terbaring diharibaan sang pencipta. “Kamu telah menyelesaikan hidupmu dengan baik Dek. Kamu telah melewati jembatan penghubung antara kefanaan dengan keabadian. Abang yakin dan percaya kamu tengah tersenyum disana.” “Adikku Pedro... Beristirahatlah dengan tenang. Abang berjanji akan menjalankan amanahmu yang kamu ucapkan dipenghujung nafasmu. Insha Allah... Abang berusaha akan terus menjahit persahabatan dan kekompakan yang kini sedikit terkoyak. Semoga Allah memberikan Abang kekuatan dan kemampuan.” “Selamat jalan adikku... Untuk sementara kita berpisah alam. Tapi suatu saat nanti kita akan berkumpul kembali di alam keabadian.” Mohzan menutup curhatan hatinya. Lalu kemudian ia berdoa menurut ajaran agama islam yang dianutnya. Mohzan yakin akan kebijaksanaan Allah. Allah tentu lebih tahu bagaimana mengatur ciptaanNya. Dan Allah tidak mungkin membenci apapun yang telah Ia ciptakan dan takdirkan. Sungguh sebuah pemikiran yang bersih dan menyejukkan. 😥 ======= “Maaa.. maaf Tuan Junara. Aa apa yang bisa saya bantu..??” Wisnu tergagap ketika tiba-tiba Tuan Junara mendatangi kantornya dan menyatakan meminta pertolongannya. Tentu saja bos perusahaan pemasaran properti itu sangat segan kepada Tuan Junara. Untuk mendirikan perusahaannya, Tuan Junara telah meminjamkan modal tanpa bunga yang bisa ia cicil dengan persenan kecil dari laba perusahaannya. Bahkan sampai detik inipun, ia belum melunasinya. Sebagai bantuan lain, Tuan Junara juga memberikan beberapa bangunan yang telah dibangunnya untuk dipasarlan oleh perusahaan Wisnu. Dalam hal ini Tuan Junara membagi keuntungan dengan sangat adil dan bersahabat. Tuan Junara memang tidak pernah mengejar untung besar dalam usahanya. Tapi hanya satu yang menjadi targetnya yaitu keberkahan. Dalam setiap kerja sama dengan siapapun, ia berprinsip membangun. Bukan untuk menginjak atau mematikan para pengusaha lainnya. Kebaikan itulah kini yang tengah memukul perasaan Wisnu. Sungguh ia tidak tega melihat kedatangan Tuan Junara yang sangat diseganinya itu dengan hanya menggunakan sepeda motor. Apalagi kata-kata ‘tolong’ yang diucapkan mantan bos besar itu. Sungguh mengiris hati Wisnu. “Katakan Tuan, apa yang bisa saya lakukan untuk Tuan Junara ?” Wisnu bertanya tanpa menghilang kata Tuan. Bagi Wisnu panggilan Tuan kepada Junara bukan karena menghargai kekayaan atau kastanya. Panggilan Tuan ia ucapkan untuk menghargai kemuliaan hati seorang Junara. “Pak Wisnu, saya datang kemari untuk melamar pekerjaan. Saya sangat membutuhkan sebuah pekerjaan demi kelangsungan hidup saya dan keluarga saya.” Ujar Tuan Junara merendah sambil menyodorkan satu bendel dokumen yang merupakan CV dan permohonannya. “Mohon Bapak memeriksanya dulu sebagai bahan pertimbangan.” Sambung Tuan Junara setelah Wisnu menerima berkas itu. Wisnu kemudian mengembalikan berkas itu kembali ke tangan Tuan Junara. Hal itu tentu saja membuat Tuan Junara harap-harap cemas. Apakah itu artinya Wisnu akan menolak lamarannya. “Tuan tidak perlu melampirkan dokumen apapun untuk bergabung dengan kami disini Tuan. Tuan boleh memilih apapun jabatan yang tuan mau.” Jawab Wisnu tersenyum. “Tidak Pak Wisnu. Saya hanya melamar pekerjaan yang tersedia. Karena saya mendengar ada lowongan pekerjaan sebagai sekuriti disini, makanya saya datang untuk memohon posisi yang sedang tersedia itu.” Kata Tuan Junara dengan sikap hormat. Perkataan Tuan Junara tepat mengenai jantung Wisnu. Ia tidak mungkin tega mempekerjakan Tuan Junara menjadi sekuriti. Tuan Junara telah melahirkan perusahaan itu untuknya. Bahkan kalau Tuan Junara mau, Tuan Junara bisa menagih hutang kepadanya. “Tidak Tuan. Tuan tidak akan saya terima menjadi petugas sekuriti disini. Tuan akan saya tempatkan menjadi manager pemasaran. Saya akan menggeser manager yang lama untuk memberikan tempat kepada Tuan.” “Ooo... Pak Wisnu tidak boleh melakukan itu. Saya tidak mau kehadiran saya memberikan musibah kepada orang lain. Kalau memang Bapak tidak bisa menerima saya menjadi sekuriti, saya akan mencari pekerjaan ditempat lain.” Sahut Tuan Junara bersiap hendak berpamitan. “Tuuu...tuunggu dulu Tuan. Baa..baiiklah. saya menerima Tuan menjadi salah satu sekuriti disini.!” Ujar Wisnu kemudian. Tuan Junara tersenyum bahagia. Ia telah memiliki pekerjaan sekarang. Setelah menerima satu paket seragam sekuriti, Tuan Junara berpamitan. Wisnu mengantarkannya sampai ke parkiran. Setelah Tuan Junara pergi, Wisnu terdiam lama duduk kursinya. Air matanya berlinang dan ia larut dalam keharuan. ********
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget
09/06/2025
0Ceritanya bagus bgttttt🥹😻
06/11/2024
0keren
27/06/2024
0Lihat Semua