“Mona... Monaaa...!!” “Coba lihat ini Mooon...!” Santi menggedor pintu kamar Ramona. Semenjak meninggalkan Jakarta kemarin, Ramona terlihat murung dan memilih mengurung diri di kamarnya. Santi dapat merasakan apa yang tengah dirasakan putrinya itu. Kenyataan yang ia lihat di rumah sakit dua hari yang lalu telah memukul semangatnya. Dengan mata kepala sendiri mereka berdua menyaksikan Khalista begitu akrab dengan keluarga Mohzan. Gadis itu juga memperlakukan Mohzan bagaikan kekasihnya. Selain itu, Danar juga nampak bersama mereka disana. Sepertinya hubungan baik sudah terjalin diantara dua keluarga itu. Tentu saja Ramona dan Santi mengira dua keluarga itu sudah terikat dan merestui hubungan Mohzan dengan Khalista. Ramona dengan lapang dada telah mengikhlaskan impiannya berpaling kepada Khalista. Namun disaat ia mulai bisa menerima kenyataan itu, beberapa jam yang lalu justru ia melihat kenyataan yang lebih membuat hatinya semakin pilu. Mohzan dinyatakan meninggal dunia sekitar empat jam yang lalu. Mendengar berita itu, tulang Ramona terasa berpatahan. Ia merasa mentari telah pergi selamanya dan tiada akan mungkin datang lagi. Tak ada yang bisa dilakukan gadis itu selain segera menghempaskan wajahnya bersujud kehadapan Allah dengan tangisan yang pilu. Ia berdoa agar arwah orang yang diam-diam sangat dicintainya itu bisa berbahagia di alam sana. Ramona terlonjak kaget begitu mendengar suara ketukan yang cukup keras didaun pintu kamarnya. Dari luar terdengar Santi memanggilnya berulang kali dan terdengar histeris. “Iya Maa..!” Ramona bergegas membuka pintu kamarnya. Seraut wajah sayu menyembul dibalik daun pintu yang baru terbuka. “Mohzan hidup lagi Mooon..!!” Santi tidak sabaran menyampaikan berita yang sulit diterima akal sehat itu. Ditangan Santi terlihat sebuah benda pipih atau ponsel yang masih memutar berita yang sungguh berada diluar akal sehat manusia. “Apa Maa..?? Subhanallah..!!!” Ramona seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sejak beberapa jam yang lalu ia memang tidak melihat layar ponselnya. Gadis itu larut dalam doa setelah ia menonton berita bahwa Mohzan telah meninggal dunia. Ramona setengah berlari masuk ke kamarnya kembali dan meraup benda pipih yang tergeletak diatas tempat tidurnya. Dengan jari gemetar ia mencari chanel berita viral dari Indonesia itu. “Oooh, ya Allaaah....!!” Ramona benar-benar shock karena bahagia. Ia terasa bagaikan dalam mimpi melihat hasil rekaman amatir yang kini tengah beredar didunia maya. Disana terlihat jelas bahwa Mohzan sedang menjadi imam sholat magrib disebuah mesjid dengan ratusan jamaah yang mengikuti dari belakang. “Ya Allah, apakah yang sedang terjadi...?? Ini sungguh tidak bisa diterima akal sehat.” Ramona bergumam tidak mengerti. Santi mengangguk tanda setuju dengan pendapat putrinya itu. Wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu masih saja terheran-heran. “Bagaimana kalau besok kita pulang ke Indonesia Mon. Kita harus bertemu dengan Mohzan secara langsung. Mama benar-benar penasaran.” Santi memberikan ide demi memenuhi hasrat penasarannya. Namun wanita itu agak kecewa melihat putrinya menggelengkan kepala. “Jangan Maa...! Biarkan Khalista berbahagia dengan Bang Mohzan. Mereka pasangan yang sangat serasi.” Sahut Ramona lirih. Ia nampaknya telah ikhlas menerima semua kenyataan yang sebenarnya membuat hatinya hampa. “Taa..tapi Mon, Khalista sangat jahat. Mana mungkin Mohzan akan memilihnya.” “Apapun bisa berubah jika Allah berkehendak Ma..!” Sahut Ramona seakan mengingatkan Santi. "Bahkan nyawa manusia bisa dikembalikanNya dengan mudah. " Sambung gadis itu pelan. “Iyaa sih, tapi.!” Santi nampak ragu. “Sudahlah Ma, Bang Mohzan sudah sehat saja Mona sudah senang dan bersyukur. Setidaknya kita masih bisa melihatnya berbahagia dan melanjutkan perjuangannya selama ini.” Jawab Ramona menyusun senyum dibibirnya. ===== “Pemirsa yang berbahagia, tidak ada yang tidak bisa terjadi kalau Allah Tuhan yang maha kuasa menghendaki. Kalimat itu tidak terbantahkan dengan munculnya kejadian aneh yang sungguh tidak bisa diterima oleh akal sehat dan logika manusia.” Mohzan salah satu korban insiden penembakan dua pekan yang lalu, sekitar empat jam yang lalu telah dinyatakan meninggal oleh para dokter senior, kini kembali sehat walafiat. Anehnya tidak ada tanda-tanda kalau Mohzan telah mengalami kejadian tragis sebelumnya. Bekas luka ditubuhnya menghilang begitu saja." “Menurut dokter ahli yang pertama kali menyatakan bahwa pemuda itu sudah meninggal, beberapa saat yang lalu menyatakan bahwa kasus yang terjadi kepada diri Mohzan sudah melampaui kemampuan para dokter yang juga manusia biasa. Dalam hal ini diyakini bahwa Allah tuhan yang maha kuasa sedang memperlihatkan kekuasaannya lewat kejadian yang sungguh membuat semua manusia dibumi terheran-heran.” “Hahhahahaaa... Manusia sudah pada gila semua.. hahhaha.. orang gila... Orang gilaaa..!!” Alpan tertawa sambil menunjuk-nunjuk layar televisi. Dirinya berjalan sempoyongan karena masih dalam kondisi mabuk. “Apa-apaan kamu Alpan, siapa yang kau katakan gila..??” Tuan besar Sudarta keluar dari kamarnya karena terganggu mendengar suara Alpan yang cukup berisik di ruang tengah rumah yang sangat luas itu. “Kalian semua sudah pada gilaaaaa... Hahahaa... Lihat Keeek..!! Lihat berita si televisi itu..!!” Alpan masih terus tertawa dan menyeret Tuan Besar Sudarta keruang tengah dan menyuruhnya menonton berita itu. “Subhanallah..!?!” Tuan Besar Sudarta benar-benar shock melihatnya. Sama dengan yang dilakukan Ramona dan banyak orang lainnya, Tuan Besar Sudarta memilih berdoa dan berzikir setelah ia mengetahui kabar kematian Mohzan beberapa jam yang lalu. Ia belum punya kekuatan hati untuk melihat Mohzan langsung kerumah sakit. Dan kini ia justru melihat berita yang sungguh diluar akal sehatnya. Astuti kemudian ikut bergabung diruangan itu karena penasaran mendengar suara keributan. “Ada apa ini..??” Ia bertanya setelah datang tergopoh-gopoh. “Lihat Neek...! Tukang sihir itu hidup kembali.. hahahaha.. !!” Alpan berteriak kepada Astuti. Astuti terbelalak menyaksikan berita yang sedang disiarkan itu. “Mohzan bukanlah tukang sihir. Ia memiliki hati yang sangat mulia. Karena itu Allah memberikan banyak kelebihan kepada dirinya.” Sahut Tuan Besar Sudarta membantah alibi Alpan. “Hahahaha... Teruslah memuji cucu harammu itu Kek.. hahahha..!” Alpan menyeracau. “Plaaak..!!” Sebuah tamparan dihadiahkan Tuan Besar Sudarta dipipi Alpan. Ia benar-benar telah muak melihat tingkah laku cucunya itu. “Kakek menamparku..?? Kakek lupa kalau sekarang Kakek hanya menumpang disini..! Ini rumahku Kek, sadar dirilah sedikit Kek. Sudah hidup menumpang tapi Kakek berani bersikap tidak sopan..!” Alpan membentak Tuan Besar Sudarta. “Sekarang Kakek tidak memiliki apapun...!! Hahhaha.. semua milikku Keeek..!” Sambungnya angkuh. “Eh manusia licik...!! Janganlan harta, nyawa saja bisa dikembalikan Allah jika Ia bekehendak. Kamu lihat apa yang terjadi dengan Mohzan..?? Bisakah itu kamu jadikan pelajaran..?” Tuan Besar Sudarta marah. “Alpan...! Apa yang kamu lakukan pada Kakekmu hah..!?” Astuti membentak cucu kesayangannya itu. “Diaaaaam Neeek..! Jangan membentakku..!!” “Pergilah kedapur sana dan masak makanan enak untukku..!!” Alpan menghardik Astuti lalu mendorong tubuh Astuti hingga jatuh kelantai. “Alpaaan..!!” Astuti kembali membentak cucunya. Alpan malah tertawa terbahak-bahak lalu pergi begitu saja dengan langkah sempoyongan. Tuan Besar Sudarta mengangkat bahu dan bersiap meninggalkan tempat itu. “Itulah hasil didikanmu Maa..!” Ujarnya kepada Astuti sebelum pergi menuju kamarnya. ******
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget
09/06/2025
0Ceritanya bagus bgttttt🥹😻
06/11/2024
0keren
27/06/2024
0Lihat Semua