Saat yang dinantikan banyak orang akhir tiba juga. Pagi itu Mohzan pamit kepada Desma dan ibu Aisyah. Ia sudah siap dengan memakai kemeja putih dan stelan bawah berwarna hitam. Sebuah paduan warna yang terlihat sangat formal. “Ma, Nek... Mohzan jalan dulu. Doain acara berjalan lancar.” Demikian Mohzan meminta restu kepada dua wanita yang dijulukinya malaikat tanpa sayap itu. Entah kenapa hati Desma dan ibu Aisyah terasa tidak tenang. Mereka berdua nampak keberatan melepas kepergian Mohzan. “Ada apa Ma..? kenapa Nek..? Kok Mama dan Nenek nampak sedih gitu.” Mohzan mencium pipi ibunya lalu neneknya juga. Memang begitulah kebiasaannya selalu jika ia mau pergi. “Hati-hati Nak..!” Suara Desma parau. Ia sulit mengungkapkan perasaannya saat itu. Sedangkan ibu Aisyah tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Ia hanya memandangi cucu tersayangnya itu dengan rasa berat hati melepas. Tapi ia tidak tahu apa alasannya begitu berat melepas kepergian Mohzan pada kali ini. Setelah menyalami dan mencium punggung tangan kedua wanita itu, Mohzan berjalan menuju sepeda motornya yang sudah terparkir dihalaman. Belum sempat ia menyalakan mesin sepeda motornya, sebuah mobil memasuki halaman rumahnya. Seorang sopir berpakaian rapi datang memberi salam. “Saya disuruh Tuan Junara menjemput Bang Mohzan..!” Ujar lelaki itu. Mohzan mengangguk dan meninggalkan sepeda motornya lalu masuk kedalam mobil yang menjemputnya. Desma dan ibu Aisyah melambaikan tangan yang dibalas Mohzan dengan lambaian pula. Hari itu Desma dan ibu Aisyah memang memutuskan untuk tidak membuka warungnya. Mereka ingin fokus menonton acara seminar Mohzan yang ditayangkan live di televisi. Beberapa puluh menit kemudian Mohzan telah sampai di studio tempat acara diselenggarakan. Ruang studio sudah dipenuhi oleh para audiens yang akan melakukan tanya jawab dengan Mohzan. Pedro, Chen dan Soraya bertindak sebagai pemandu acara. Mereka duduk disofa dengan pakaian rapi dan formal. Setelah acara dibuka sekitar 10 menit kemudian Mohzan dipersilahkan masuk. Dengan gagah Mohzan memasuki panggung yang disambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah. “Bang Mohzaaaan....!!!” Suara teriakan histeris menyambut Mohzan. “Selamat datang Bang Mohzan, kali ini kita akan berbincang-bincang seputar ilmu pengetahuan sains dan berbagai topik yang lainnya “ Pedro memulai perbincangan. Tepuk tangan riuh menggema didalam studio. Hampir seribu lima ratus orang yang terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi berbagai universitas berkumpul disana. Mereka nampak antusias bertanya dan Mohzan juga dengan semangat menerangkan. Dari dalam ruang kerjanya Tuan Junara dan Tuan Besar Sudarta menonton disebuah layar kaca yang berukuran sangat besar. “Anak itu benar-benar jenius.” Celutuk Tuan Besar Sudarta yang dibalas dengan senyuman bangga oleh Tuan Junara. Ia sudah benar-benar yakin kalau Mohzan adalah anak kandungnya. Tapi ia belum mau mengatakan itu kepada Tuan Besar Sudarta. Biarlah untuk sementara menjadi teka-teki, demikian pikir hati Tuan Junara. “Oke sekarang pertanyaan selanjutnya!” Pedro mempersilahkan seorang mahasiswi untuk membacakan pertanyaannya. “Terima kasih, yang ingin saya tanyakan apakah benar ada hubungan atau kecocokan ilmu tekhnologi dengan ilmu agama atau kitab. Kalau memang ada mohon Abang memberikan sebuah contoh.!” Mahasiswi cantik itu membacakan pertanyaannya dengan menggunakan mikrofon. Tepuk tangan mengiringi pertanyaan gadis itu. Beberapa saat hening kemudian Mohzan mulai menyampaikan pendapatnya. “Tentu saja ada. Didalam kitab suci Al quran kita meyakini adanya hari kiamat. Sedangkan penemuan yang didapatkan oleh para penjelajah luar angkasa menyebutkan bahwa adanya pergeseran jarak diantara planet-planet. Nah itu cukup menjelaskan kepada kita bahwa kabar yang kita dapatkan dari kitab suci kini telah dibuktikan dengan tekhnologi.” Tepuk tangan pengunjung bergema menyambut penjelasan singkat dan padat dari Mohzan. Jutaan mata pemirsa menyaksikan acara itu. Mereka ingin mengambil ilmu dari perbincangan yang banyak memberikan manfaat tersebut. Desma dan ibu Aisyah tersenyum melihat betapa gagah dan cerdasnya Mohzan yang sedang tampil di acara bergengsi itu. Arya, Dika dan semua adik-adik Mohzan berkumpul disebuah ruangan yang telah tersedia sebuah televisi berukuran cukup besar. Mereka sangat bangga melihat penampilan Mohzan. “Abang benar-benar hebat..!” Celutuk Rangga. Yang lain tersenyum tanda setuju dengan pendapat Rangga. “Pertanyaan selanjutnya dipersilahkan !” Kali ini Chen yang mempersilahkan. Seorang mahasiwa berdiri dan kepadanya diberikan mikrofon. “Kali ini pertanyaan saya adalah tentang keseharian Bang Mohzan yang kami tahu membesarkan banyak sekali anak jalanan dengan latar belakang yang berbeda, suku dan agama yang tidak sama. Sebagai seorang muslim bagaimana Abang bisa melakukan semua ini. Apa kiat-kiat Abang sehingga berhasil menyatukan mereka dalam ikatan bathin yang sangat kuat.” Pertanyaan kali ini benar-benar menjadikan perhatian adik-adik Mohzan. Mereka juga ingin tahu apa yang membuat Mohzan bisa menyayangi mereka semua tanpa membeda-bedakan. “Tentang keyakinan Abang yakin itu adalah hidayah dan jalan hidup yang diberikan Allah kepada masing-masing manusia. Tugas kita sebagai manusia adalah saling menyayangi dan menghargai satu sama yang lain. Tuhan menciptakan kita berbeda tentu ada tujuannya. Daan...ttt... “Doooor.... Door!!!” Tiba-tiba Mohzan jatuh terlempar kebelakang hampir 3 meter. Beberapa orang bertopeng telah melepaskan dua tembakan tepat didada Mohzan. Desma dan ibu Aisyah menjerit. Junara segera berlari keluar dari ruangan menuju studio. Seorang laki-laki menodongkan pistol dan menarik pelatuk ketika ia baru saja keluar dari pintu. Tiba-tiba seorang laki-laki lain menghadang lelaki itu dan tembakan mengenai dadanya. Ia pun rubuh dan suasana jadi kacau balau. Si penembak menghilang sekejap mata setelah lampu mati beberapa detik lamanya. Mohzan tersungkur disudut panggung. Pedro berusaha menolong Mohzan. Ia memeluk tubuh Mohzan berusaha menghentikan darah sebisanya. Kemeja putih Mohzan kini sudah berganti warna merah. Chen mendorong Soraya kebelakang panggung agar menjauh dari si penembak itu. Seluruh pemirsa televisi terkejut menyaksikan adegan yang sangat mengerikan itu. Juru kamera berhamburan melarikan diri tanpa sempat mematikan kamera hingga semua kejadian terlihat oleh pemirsa dilayar kaca. Dunia seakan histeris seketika. Banyak yang berhamburan menuju kendaraannya dan melaju menuju studio tempat kejadian berlangsung. “Abaaaaang...!!!” Jerit tangis adik-adik Mohzan tidak terbendung lagi. Tanpa bisa menahan diri mereka berlari sekuat tenaga menuju studio berada. Padahal letak studio itu cukup jauh dari asrama. Namun mereka tidak memikirkan itu. Mereka terus berlari bertelanjang kaki dan menangis histeris. Orang-orang dijalanan sangat kaget melihat suasana yang tidak biasa itu. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Yang mereka lihat puluhan anak-anak berlari sambil menangis dan berteriak “Bang Mohzaaaan...!!”. Suasana distudio sungguh mencekam. Beberapa orang menodongkan pistol kepada audiens dan memerintahkan merunduk. Melihat Mohzan masih bergerak si penembak itu mengarahkan kembali moncong piatolnya kepada Mohzan yang merintih kesakitan. Darah mengalir semakin deras. “Baaang..!!” Pedro berusaha menggendong tubuh Mohzan. Begitu melihat ada orang yang mengarah moncong senjata ke arah Mohzan, Pedro segera bangkit dan dengan gagah mengejar lelaki itu. “Dooor..!!” “Auuugh..!!” Pedro mengaduh dan tubuhnya terlempar berdampingan dengan Mohzan yang hampir hilang kesadaran. Darah mereka berdua mengalir dan bercampur semakin membanjiri lantai panggung. Setelah menyelamatkan Soraya, Chen berlari mengejar penembak itu. Dengan gagah ia menantang bahaya tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri. “Doooor..!” Chen menjatuhkan diri dan selamat dari tembakan. Ia kemudian bangkit dan mengejar kembali para penembak yang nampak mulai panik dan melarikan diri. “Dooor...!” Kali ini Chen tidak bisa mengelak. Sebuah peluru menembus lambungnya. Ia pun terjatuh. Darah segera membanjiri tubuhnya. *******
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget
09/06/2025
0Ceritanya bagus bgttttt🥹😻
06/11/2024
0keren
27/06/2024
0Lihat Semua