Carissa duduk termenung di meja kerjanya. Sudah 1 minggu ini pikirannya tak bisa lepas dari kejadian sore itu. Sore dimana tak sengaja ia bertemu dengan seorang wanita berusia 40 tahun disebuah Mall. “Rissa..” seorang wanita menyapa Carissa yang sedang menemani Keyla memilih buku cerita bergambar dari tokoh animasi keskaannya. Carissa menoleh dan terkejut. “Kak Maya” sapa Carissa diantara rasa terkejutnya. Wanita yg dipanggil Maya itu langsung menyalami dan mencium pipi Carissa. “Apa kabar.. Lama kita gak jumpa ya?” “Baik, Kak.. kakak apa kabar?” “Baik.. Tinggal dimana sekarang?” “Masih di rumah mama kak.. kak Maya tinggal dimana?” “Di rumah ibu juga. Sudah 7 bulan kakak pulang dan tinggal dengan ibu”. “Bang Rio pindah tugas ke sini?” “Bukan.. Bang Rio sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Tadinya kak Maya masih bertahan di Palu. Sudah 9 tahun tinggal disana. Pulang kesini juga sesekali. Sudah terbiasa hidup di rantau..” cerita Maya sambil tertawa ringan. “Maaf kak.. Rissa tidak tahu. Turut berduka cita” “Tidak apa-apa” Maya tersenyum. “Lalu ibu membujuk kak Maya untuk pulang ke sini. Ibu bilang..buat apa kamu hidup sendirian di kota itu. Akhirnya setelah berpikir kak Maya pun pindah. Eh tidak disangka kita bertemu lagi. Jadi ingat.. dulu waktu SMA kita sering ngobrol di kantin sekolah. Kita juga sama-sama pecinta pustaka ya tiap hari kita bertemu di pustaka lalu ngobrol di kantin membahas buku yang sudah kita baca”. Carissa tersenyum. “Bahkan kamu jadi orang pertama yang tahu kak Maya kencan dengan bang Rio ya?” kata Maya. “Pada kamu juga kak Maya cerita kalau kak Maya mau kuliah di Palu ngikutin bang Rio yang pindah tugas ke Palu. Kamu juga orang pertama yang tahu waktu kak Maya memutuskan nikah muda dengan bang Rio”. “Ya.. kak Maya bilang nikah justru akan memacu semangat belajar kak Maya” tambah Carissa. “Ahh... tapi kamu sungguh keterlaluan. Tiba-tiba kamu menghilang. Tidak pernah lagi menghubungi kak Maya” gerutu Maya. “Maafin Rissa kak” “Ini... siapa?” tiba-tiba Maya melihat ke arah Keyla. “Ini.. anak Rissa kak” jelas Carissa. “Key, salam dulu dengan tante Maya” Keyla menyalami tangan Maya. “Cantik sekali... “puji Maya. “Mirip kamu ya? Berapa tahun umurnya?” “7 kak” “7 tahun? Hm... sebentar,apa karena Keyla kamu jadi jarang menghubungiku lalu menghilang?” “Ya kak” “Wah ternyata kita sama.. sama-sama menikah muda ya?” Maya tertawa. “Tapi kamu lebih beruntung. Kamu punya Keyla”. “Kita tidak tahu apa rencana Allah kak”. “Suamimu orang mana? Kapan-kapan kenalin ya?” “Sudah berpisah kak.. begitu Keyla lahir”. “Oh.. Maaf” “”Kami ke kasir dulu ya kak” pamit Carissa. “eh.. minta nomor ponsel kamu” Maya mengeluarkan ponselnya. “Oh.. sebentar kak” Carissa langsung menyimpankan nomor ponselnya dalam ponsel Maya. “Ok.. Nanti aku telpon ya” janji Maya. “Ya kak.” “Eh.. sebentar Sa” kata Maya sambil menggamit lengan Keyla agar Carissa yang hendak membawa Keyla pergi berhenti. “Kenapa sepertinya aku sangat dekat melihat bola mata Keyla ya?” “Kak Maya bisa aja.. yuk Kak” pamit Carissa. “Hei.. Melamun” tegur seorang gadis menepuk bahu Carissa. Namanya Irma. Dia teman Carissa yang sering kali membantunya mengantar jemput Keyla saat Carissa tak bisa meninggalkan pekerjaannya. “Ada apa?” Irma duduk di hadapan Carissa. “Tidak ada apa-apa” Carissa membuka nota-nota di mejanya. “Kamu terlihat galau seminggu ini” Carissa menatap Irma. “Menurutmu... Apa mata Keyla mirip denganku?” “Apa?” “Mata Keyla.. Bola matanya” “Hanya orang bodoh yang bilang kalau mata kalian mirip”. “Apa?” “Aku serius non.. Bola mata Keyla itu bulat dan berwarna coklat. Sementara bola matamu hitam. Selain dari bola mata itu.. Kamu sangat mirip dengan Keyla”. “Owh..” “Kenapa? Kamu mau mengklaim kalau Keyla itu fotokopi diri kamu waktu kecil? Jangan serakah Rissa. Keyla itu juga anak ayahnya. Meski tak banyak pasti ada hal didirinya yang mirip ayahnya. Bagaimanapun tak suka nya kamu dengan ayahnya. Sebesar apapun kamu membencinya.. Mereka ayah dan anak” Irma mengingatkan. “Darahnya pun sama” gumam Carissa. “Apa?” “Tidak... “ Carissa tersenyum. “Aku tidak bilang apa-apa”. “Apa kamu masih kontak dengan ayahnya?” “Tidak pernah”. “Jangan begitu. Keyla punya hak bertemu ayahnya meski kamu dan ayahnya sudah lama berpisah”. “Aku mau ke Bank dulu..Sekalian jemput Keyla” “Ok.. Hati-hati” “Tolong ya..kerjaanku” “Ya” “Carissa.. sudah 3 tahun kita berteman. Dan aku semakin melihat banyak sekali yang sedang kamu tutupi dalam hidupmu” gumam Irma saat Carissa sudah berjalan keluar. “Jujur aku penasaran dengan mantan suamimu. Tapi bukan hak ku untuk membuka masa lalu yang ingin kamu lupakan”. Sementara itu terlihat Wra melangkah masuk ke rumahnya. Rasanya ingin segera melepas penat di dalam kamar sambil berbaring menonton televisi atau sekedar mendengarkan musik. Setelah seharian duduk mengikuti pelatihan rasanya memang tidur adalah yang ia rasakan hal terbaik untuk dilakukan. “Baru pulang?” Wira menoleh pada wanita yang duduk di depan televisi menonton acara infotaiment. Itu adalah Maya. “Kak Maya.. Ibu mana?” Wira mengurungkan niatnya untuk ke kamar dan duduk disamping Maya yang tidak lain adalah kakak sulungnya. “Ke rumah pak RT dengan bu Sandra” jawab Maya. “Ibu belum kontrol ke dokter loh bulan ini” Wira mengingatkan. “Kamu saja yang antar. Aku besok harus ke Semarang. Ada tugas dari kantor”. “Ibu suka nolak kalau aku yang antar. Selalu bilang ibu gak papa.. baik baik aja. Kalau ke dokter ibu malah jadi sakit”. “Ya harusnya kamu paksa dong. Masa aku harus cerewetin ibu mulu biar kontrol? Lama-lama ibu bisa bete. Kamu harusnya bisa lebih tegas demi kesehatan ibu”. “Iya.. Bawel!” “O iya.. Kamu ingat kan dengan Rissa? Sahabat kamu waktu SMA..” tiba-tiba Maya ingat pertemuannya dengan Carissa. “Seminggu yang lalu aku ketemu dia di Mall” “Rissa?” “Ya.. Loh, memang kalian gak pernah saling kontak?” “Sejak tamat SMA udah gak pernah ketemu dia lagi. Dia gak pernah hadir setiap alumni ngadaian acara. Aku justru gak tau kalau dia disini”. “Padahal kalian dulu dekat banget. Sahabat sejati kalau orang-orang bilang”. Wira hanya tersenyum. “Ada masalah ya? Hm... jangan-jangan kamu naksir Rissa terus ditolak lalu kamu marah. Iya kan?” “Aku naksir Rissa? Yang bener aja”. “Kenapa Nggak? Rissa cantik,pintar. Orangnya ramah dan pinter bergaul”. “Tapi kita sahabatan.. Gak mungkin aku naksir dia” kata Wira. “Terus.. kenapa bisa putus pertemanan? Kamu jealous ya karena Rissa pacaran dengan yang lain?” “Sudahlah.. aku mau tidur. Capek” Wira bangkit lalu berjalan meninggalkan Maya yang masih terus menggodanya. “Makanya.. kalau naksir harusnya kamu bilang dengan Kak Maya. Pasti kak Maya comblangin”. “Berisik!" Wira menutup pintu kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. “Rissa?” gumam Wira. “Apa kabar kamu sekarang? Kamu pasti sangat membenciku”. Wira menghela nafas. “Aku harap aku tak membuat hidupmu menderita” Wira memejamkan matanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (194)
Susi Yuliana
bagus syeekaliieeee 😍😍
6d
0
PutriErisna
kak bagus banget ceritanya sampai menghayati 😊
kak mau tanya di penghujung bianglala ini sampai bab berapa ya?🙏
bagus syeekaliieeee 😍😍
6d
0kak bagus banget ceritanya sampai menghayati 😊 kak mau tanya di penghujung bianglala ini sampai bab berapa ya?🙏
19/07
0bagus sekali
20/06
0Lihat Semua