Sinar matahari memasuki celah-celah jendela ruangan yang berbau khas obat-obatan. Di dalam ruangan itu terdapat dua sepasang remaja yang satu tertidur dengan menelungkupkan kepalanya di atas kedua tanganya yang terlipat pada ranjang dengan badan membungkuk duduk dikursi sebelah brankar. Satu remaja lagi tertidur dalam artian belum sadar pasca kejadian kemarin dan masih dalam pengaruh obat bius. Ya, kedua remaja itu adalah Skafi dan Disa. Semalam Skafi kembali ke rumah sakit dengan tampilan badan nampak segar sudah tidak seberantakan sebelumnya. Skafi memutuskan untuk menunggu Disa sampai sadar di rumah sakit. Kedua orang tua Disa pulang, itu atas permintaan Skafi. Biarlah dia sendiri yang menjaga Disa sampai sadar. Ia kasian kedua orang tua Disa pasti lelah. Jari jemari milik Disa bergerak perlahan. Sang empunya juga berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat. Hingga kedua mata itu terbuka sempurna. Mata itu kembali menutup untuk menyesuaikan cahaya yang masuk melalui retina matanya. Disa mengernyit bingung ketika sudah sepenuhnya sadar ia mencium bau obat-obatan khas rumah sakit. Kejadian semalam tiba-tiba terlintas di benaknya. Ia mengingatnya. Dimana kejadian dirinya ingin menyeberang jalan menghampiri pedagang martabrak hingga ada sebuah mobil melaju kencang menabrak dirinya. Mendengar teriakan Skafi dan ia pingsan tak ingat apapun setelahnya. Disa mengedarkan matanya. Ia menoleh ke sisi kananya. Ia terkejut mendapati Skafi tidur di sisi ranjangnya dengan duduk di kursi. Melihat Skafi yang tertidur seperti itu pasti terasa tidak nyaman dan badannya sakit-sakit. Dalam hati Disa merasa bersalah. Ia mengulurkan tanganya menyentuh rambut Skafi. Mengelusnya dengan lembut dan hati-hati agar sang empunya tidak terbangun. Skafi yang memang mudah sekali terbangun dia mulai mengerjapkan matanya ketika merasakan kepalanya seperti di elus dengan lembut. Disa yang melihat pergerakan dari tubuh Skafi seketika menghentikan tangannya yang mengelus rambut Skafi. Ia kira Skafi tak akan terbangun. Skafi membuka matanya sempurna pandanganya bertemu dengan manik coklat milik Disa. Beberapa menit mereka terdiam. Skafi dengan keterkejutannya melihat Disa sudah terbangun. Dan Disa dengan senyumannya menyambut Skafi. "Hi," sapa Disa dengan suara serak khas habis terbangun sambil menampilkan seutas senyum. Skafi langsung menegakan tubuhnya dan ia mulai berbicara, "Apa yang sakit di badan, Dis? Gue panggilin dokter bentar ya," Skafi akan meninggalkan Disa untuk memanggil dokter namun Disa menahan pergelangan tangan Skafi. "Engga usah ,Fi . Badan emang sakit tapi gue masih bisa tahan kok." "Tapi.." "Sudah nanti juga dokternya visit pasien. Gue mau minum tolong ambilin," pinta Disa. Skafi dengan sigap mengambilkan gelas berisi air putih yang sudah tersedia di atas nakas. Skafi membantu Disa untuk bangun bersandar pada ranjang rumah sakit. Membantunya untuk meminum air. Hingga air di gelas tinggal setengah Disa menyudahi untuk minum. Ruang rawat Disa tiba-tiba terbuka menampilkan sosok kedua orang tua Disa dan kedua orang tua Skafi. Ada rasa terkejut dan bahagia melihat Disa sudah terbangun. Tia-mama Disa segera menghampiri sang anak dan memeluknya. "Alhamdulillah kamu udah sadar sayang." Pelukan Tia sambil menitikan air matanya. "Disa baik-baik saja, ma. Engga perlu ada yang dikhawatirin." Tia melepaskan pelukanya dan mengangguk. Ia mengusap air matanya. Giliran papanya yang memeluk Disa. Kedua orang tua Skafi juga gantian memeluk Disa dan mendoakan Disa agar cepat sembuh. Satu jam ruangan Disa diisi oleh kedua orang tuanya dan Skafi yang saling berbincang. Hingga kedua orang tua Skafi berpamitan terlebih dahulu untuk keluar ada pekerjaan yang harus di urus. Sebenarnya, kedua orang tua Disa juga akan mengurus kerja sama antar perusahaan dengan perusahaan luar negeri. Namun tak tega meninggalkan anaknya di rumah sakit walaupun masih ada Skafi. Tapi Disa meyakinkanya bahwa dirinya tak apa-apa jika papa dan mamanya akan mengurus pekerjaan. Tinggalah Skafi dan Disa di ruang perawatan. Dokter masuk ruang perawatan diikuti perawat perempuan. "Permisi saatnya pasien di periksa setelah pasca sadar," ucap Dr.Hendra dokter yang menangani Disa sewaktu mengalami kecelakaan semalam. Skafi menyingkir memberikan waktu sang dokter memeriksa keadaan Disa. Seusai pemeriksaan dokter menjelaskan keadaan Disa. "Keadaan pasien sudah stabil tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi. Jika nanti mengalami rasa sakit pada tubuhnya bisa segera panggil saya." "Baik dok," ucap Skafi. "Kalau tidak ada yang dibutuhkan lagi saya permisi," ucap Dr.Hendra. "Terimakasih dokter." Skafi dan Disa sama-sama berterimakasih. Dr. Hendra membalasnya dengan senyuman tipis kemudian berlalu pergi dengan perawat tadi. "Sekarang lo istirahat biar lebih cepat sembuh.' "Nanti aja deh, Fi." "Tapi lo—" "Gue ga ngantuk lagi pula baru sadar masa harus istirahat lagi bosen tau." "Ya sudah tapi kalau lo ngantuk kamu istirahat aja." "Holla guys, Raka yang ganteng datang nih!" teriak Raka yang tidak terlalu keras. "Bisa ga lo ga usah teriak ini rumah sakit bukan hutan." sungut Gino sebal. Raka hanya menyengir tanpa dosa. "Gimana keadaan lo , Dis? Udah baikan?" Arni bertanya sesaat sudah sampai di hadapan Disa. Arni, Arta, Raka, Gino, Tio, Jay mereka sepakat bersama menjenguk Disa. Sementara Yura, Dian, Fani dan Lily mereka menyampaikan permohonan maafnya melalui Arni untuk disampaikan oleh Disa bahwa tak bisa menjenguk Disa di rumah sakit. "Alhamdulillah udah Ar. Makasih ya buat kalian udah mau jenguk gue," ucap Disa di sertai senyuman walaupun wajahnya masih terlihat pucat. "Masa sahabat kita ada yang sakit kita engga jenguk," celetuk Raka. Semua sahabat Skafi maupun Disa bercengkerama membahas berbagai hal yang mereka bicarakan. Sesekali Disa maupun Skafi ikut menimpali. Hingga mereka membicarakan soal liburan. "Eh maaf nih ya. Gue mau tanya soal liburan kita ke Bali batal aja ya kasian Disa habis kecelakaan," ujar Tio. "Liburan masih panjang kita ganti jadwal aja jangan dibatalin tunggu Disa pulih total dulu baru kita akan kesana," ucap Skafi. "Iya bener kata, Skafi. Kasian Disa juga baru sembuh kalau harus melakukan perjalanan jauh demi liburan kita ini, kalau gue dibatalin juga ga papa lagian nanti kita bisa atur liburan lagi, " sahut Arta. Disa merasa tak enak hati akibat dirinya mengalami kecelakaan liburan mereka tertunda lebih lama. "Maaf ya gara-gara gue kalian jadi tertunda liburanya." "Ini bukan salah lo, Dis. Kita juga ga tau kapan musibah datang. Iya kan?" ujar Gino. "Iya. Lo ga usah fikirin soal liburan kita yang tertunda. Fokus dulu aja sama kesehatan lo , Dis" sahut Raka. "Makasih ya kalian udah pengertian sama gue," ucap Disa tulus. "Nanti juga ada saatnya kita berangkat liburan," ujar Jay. Semua mengangguk setuju. Percakapan pun berlanjut hingga mereka pulang ke rumah masing-masing.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
menarik
9d
0ceritanya baguss banget
05/07
0bagus banget seruu ih
05/06
0Lihat Semua