logo text

Bab 67 Putra Jadi Penolong Untuk Anisa.

Takut Putra akan berpikir sejauh mana lagi, Anisa pada akhirnya menceritakan kronologi kejadian itu secara mendalam, dari pertama Anisa bisa berada di hotel Swiss saat liburan bersama mami Mawar, sehingga pada akhirnya Anisa diselamatkan oleh seseorang bertopeng dan gadis bernama Mayra sampai dia bisa keluar dari hotel tersebut, apakah Anisa merasakan hal yang sama pada perasaannya kepada Putra, akan tetapi yang Anisa ketahui tentang Putra adalah orang yang membuat dirinya merasa nyaman saat curhat tentang apa saja, ketika Anisa menjelaskannya kepada Putra, Putra hanya mendiamkan diri karena sangat serius menyimak ceritanya, akan tetapi Putra menaikkan jidatnya sejenak saat Anisa menyebut nama Taufan Khan dan menjelaskan ciri-ciri Taufan Khan seperti apa kepada Putra.
“Taufan? apakah saya pernah mendengar nama itu? tapi, saya tidak mengingatnya dengan jelas untuk saat ini,” Putra bergumam dalam hati.
Pada saat Anisa selesai menceritakannya, Putra langsung mengeluarkan ponsel miliknya untuk menelpon seseorang sambil menanyakan hal tersebut, apakah Taufan masih berada di rumah sakit Swiss atau sudah dibawa ke Kuala Lumpur.
Triririringggg…….tririringggg……
“Halo, saya ingin kamu mengecek seseorang bernama Taufan Khan, dan pastikan dia masih ada di rumah sakit Swiss, atau sudah di pindahkan ke rumah sakit Malaysia!” perintah Putra kepada asistennya yang ada di Swiss saat mematikan panggilannya.
“Baik pak Putra,” jawab Zack.
“Saya sudah memerintahkan seseorang untuk mengecek kondisinya, dan kamu harus tenang, jangan sampai stamina kamu habis terkuras karena hal ini, sebab kamu itu harus bangkit,” jawab Putra sambil mengusap lembut pundak Anisa.
Anisa hanya memberinya sebuah senyuman kecil.
“Anisa, tadi kamu menjelaskannya, jika Taufan akan menelpon mami Mawar, sebab ada sebuah iklan yang kamu pasang?” tanya Putra kepada Anisa.
“Iya memang benar, namun saya tidak mengerti tentang iklan apa yang dimaksud oleh mami Mawar atau Taufan,” ucap Anisa dengan tatapan kosong.
“Apakah kamu yakin tidak pernah menggunakan iklan? dan bagaimana cara kamu memasangnya di online?” tanya Putra memastikannya lagi.
“Ya Allah, Putra kamu tahu kan, kalau aku itu gagal pengetahuan teknologi (gaptek), jadi bagaimana mungkin aku bisa mengetahui tentang pemasangan iklan?” Anisa bertanya balik dengan polos.
“Sepertinya ini ada seseorang yang menjebak kamu Anisa, saya percaya tentang ucapan kamu itu benar,” jawab Putra sambil meraih ponselnya.
Putra memeriksa di online tentang situs prostitusi internet yang dimaksud oleh mereka semua, dan yang mudah di cari di ponsel pintarnya, Putra pun dengan sangat cepat langsung menemukan situs prostitusi internet yang akan membuat dirinya terkejut, sebab di iklan tersebut terpancar jelas muka Anisa yang sedang memperlihatkan senyuman, dan ditambah lagi dengan kata-kata mesra di iklan tersebut dan menaruk nomor whatsapp mami Mawar di foto tersebut.
“Ya Allah, mengapa bisa begini? apakah ini yang dimaksud oleh Taufan bajingan itu?” tanya Putra saat mendapati foto di internet.
“Bagaimana Putra? apakah kamu mendapatinya?” tanya Anisa dengan penasaran saat mengambil ponsel Putra.
Putra pun menyerahkan ponselnya kepada Anisa, Putra mendiamkan diri sambil mengusap kasar mukanya, sedangkan Anisa yang mendapati iklan tersebut langsung memasang muka panik sekaligus tidak percaya kepada foto itu, Anisa memandang ke arah muka Putra yang akan menimbulkan kata stress.
“Putra, saya bersumpah karena Allah dan rasulku Muhammad, bahwa saya tidak memasang iklan tersebut, apa lagi saya baru mendapati ini? jadi, tolong kamu beri saya kepercayaan,” ucap Anisa saat mendapati muka Putra sendu.
Putra kembali memeluk badan Anisa sejenak, Anisa akhirnya mengeluarkan tetesan air mata, akan tetapi Anisa tidak mengeluarkan suara tangisan seperti tadi, Putra pun melepaskan pelukannya sambil menghapus air mata Anisa.
“Kamu tenang saja Anisa, dan saya berjanji kepada kamu akan mencari pelaku dibalik iklan itu, serahkan saja kepada saya, saya akan memberi pelaku iklan itu sebuah pelajaran yang akan ia ingat nanti, jadi kamu tidak perlu mengambil pusing akan hal ini,” tambah Putra lagi.
Anisa pun langsung mengangguk sambil memeluk Putra kembali.
“Terima kasih banyak Putra, semoga Allah membalas kebaikan kamu, dan orang yang berbuat baik akan Allah bahagiakan di surganya, dan juga bahagia di dunia, pada hari ini kamu sudah menyelamatkan hidupku,” ucap Anisa sambil mengeratkan pelukannya.
Saat Putra mendengar ucapan Anisa, ia pun hanya tersenyum sambil mengelus rambut Anisa.
“Anisa, seandainya saja engkau mengetahui isi hatiku kepada kamu, sejak kita pertama kali bertemu di restoran Revan, aku mulai jatuh cinta kepada kamu,” Putra bergumam dalam hati saat mengelus.
“Anisa, saya benar-benar tidak menahan diri untuk semua ini,” ucap Putra saat melepaskan kembali pelukan tersebut.
Saat mendengar ucapan Putra membuat Anisa menaikkan jidatnya.
"Akan ada banyak ancaman disana, jadi saya sebagai manusia tidak ingin kamu kerja disana lagi," jawab Putra.
Ketika Anisa mendengar hal itu, ia pun kembali menundukkan kepalanya.
“Menurutmu, apakah aku harus berhenti bekerja di club milik Revan? sebab mereka semua mengira untuk saya tidak perawan lagi, apakah aku harus menjelaskan kepada mereka kalau aku memang perawan?” jawab Anisa pelan.
“Apa? bagaimana mungkin mereka bisa memikirkan kamu tidak perawan lagi? tapi, sejak ucapan terakhir kamu tadi bilang masih perawan. apakah itu benar?” tanya Putra sambil memasang raut wajah bahagia.
“Ya Allah, Putra untuk apa saya berbohong tentang keperawanan? Bahkan mereka mengatakan saya itu tidak pantas berada di surganya Allah, dan satu hal lagi mereka menyebutku munafik sekaligus sok suci,” ucap Anisa lugu.
“Apa?” tanya Putra saat kebingungan.
“Nampaknya kamu bahagia saat saya bilang masih perawan, dan kamu tidak memikirkan hal yang aneh lainnya?” tanya Anisa.
“Jadi, begini saya ingin memastikan, apakah kamu……..?” tanya Putra saat meragukan ucapannya.
Sementara Anisa yang masih mendiamkan dirinya itu, sedang menunggu Putra ingin meneruskan perkataannya, Putra pun pada akhirnya menghela nafas panjang hingga meneruskan ucapannya pada Anisa.
“Apakah benar kamu masih perawan? itu yang kumaksud?” tanya Putra menatap lekat muka Anisa.
“Tentu saja benar,” ucap Anisa singkat sekaligus menegaskan diri.
“Belum ada sedikit pun para cowok yang mendekati dirimu, termasuk Revan yang sudah menjadi suami kamu pun tidak menyentuh badanmu?” tanya Putra yang wajahnya sangat bersinar sambil terkagum kepada Anisa.
“Iya benar Putra, apakah kamu masih tidak ada rasa mempercayai diriku? apakah kamu ingin membuktikannya sendiri?” tanya Anisa sambil memicingkan matanya untuk mendekati Putra dengan langkah kakinya.
Ketika Putra menatap reaksi Anisa, bikin dirinya menjadi gugup sehingga salah tingkah.
“Kamu? apa yang akan kamu perbuat?” tanya Putra yang semakin mulai gugup.
Anisa hanya mendiamkan diri sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati Putra, Putra pun mulai gelisah, akan tetapi tidak ingin menyakiti orang yang ia cintai, apa lagi untuk menghindari dirinya.
“Anisa, ini merupakan tempat umum, dan akan ada orang yang menatap kita,” jawab Putra dengan mulut bergemetaran.
Menatap ekspresi Putra seperti itu, sehingga Anisa tidak bisa menahan tawanya.
“Hahahahahaha, hahahahaha,”
Anisa terus menertawakan Putra sambil memegang perutnya yang mulai keras.
“Hahahahahaha ya Allah, kamu sangat lucu Putra, andai kamu bisa menatap wajahmu sendiri Putra, dan itu membuat diriku tidak akan menghabiskan rasa tawaku,” ucap Anisa lagi yang sekarang sudah menampilkan muka ceria.
Sementara Putra yang mendapati perlakuan seperti itu, ia pun hanya bisa menghela nafasnya, Putra bersikap tenang sambil merapikan bajunya yang sudah mulai kusut.
“Sudah cukup kamu menghina pemuda tampan ini,” ucap Putra yang dirinya merasa jengkel.
“Iya deh, saya minta maaf,” jawab Anisa yang berusaha menghentikan tawanya.
“Kamu ini Anisa jauh lebih cantik dan lucu, tadi kamu menangis, akan tetapi kini kamu terus menerus tertawa, ya Allah Anisa kamu ini membuat diriku merasa khawatir sekaligus cemas, kamu ini masih muda, jangan sampai seperti orang tidak waras,” ucap Putra yang kembali menghina Anisa.
Mendengar hal itu Anisa pun langsung memanyunkan bibirnya sambil mencuekin dirinya terhadap Putra.
"Ya Allah, cepat kamu buang wajah jelek itu," ucap Putra saat mencubit dagu Anisa.
Anisa pun kembali memperlihatkan senyuman sambil memandang kagum muka Putra, sementara Fajriah yang sejak tadi menunggu Putra tanpa pergi begitu saja.
"Pemuda ini, benar-benar membuat hatiku jauh lebih baik dari sekarang, bahkan kesedihan yang sejak di Swiss terus mengganggu pikiranku, jadi hilang begitu saja, dan saat pemuda ini berada di sisiku, Putra, apakah perempuan pelacur seperti diriku pantas menjadi istrimu kelak," Anisa bergumam dalam hati.
"Dan sekarang lihatlah, setelah kamu membuang muka cuekmu kepadaku, kini kamu senyum-senyum sendiri," ucap Putra sambil membalas tatapan Anisa.
"Ya Allah kamu sungguh kacau Anisa," ucap Putra saat menggoyang-goyangkan kepalanya.
"Sudahlah, kita harus pulang sekarang," ucap Putra saat memberi tangannya untuk Anisa.
Anisa pun tersenyum sambil menerima tangan Putra, mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan untuk menyeberangi jalan sambil menemui Fajriah Hanim.
"Ya Allah, Anisa aku minta maaf, sebab aku harus mengantarmu menggunakan mobil Fajriah," ucap Putra sambil mengingat karena tidak ada mobil pribadi.
"Tidak perlu mengkhawatirkan diriku Putra, aku bisa pulang sendiri. apakah kamu sudah mendapati pekerjaan?" tanya Anisa.
"Apakah kamu yakin pulang sendiri? bahkan tidak ingin bersama Fajriah?" tanya Putra saat memanggil taksi.
Namun beberapa menit kemudian taksi itu pun langsung berhenti di hadapan mereka.
"Tapi untuk hari ini saya akan tetap menemani kamu pulang," ucap Putra saat memasuki badan Anisa dalam taksi itu.
Tak lama kemudian taksi itu pun langsung melaju dengan menuju kediaman Revan, sementara Fajriah langsung mengikuti mereka, ketika taksi itu sudah pergi, Putra pun mendengar keroncongan perut Anisa sekaligus perutnya yang belum makan.
"Pak, kite susul mobil taksi tu ye!" perintah Fajriah.
"Apakah kamu yakin ingin pulang begitu saja?" tanya Putra tanpa menatap Anisa.
Anisa menatapi Putra sambil menaikkan jidatnya.
"Maksud saya, apakah kamu tidak lapar? sebab saya mendengar bunyi aneh yang asalnya dari perut kamu Anisa?" tanya Putra.
Mendengar hal itu Anisa pun memegang perutnya sambil menatap ke arah Putra.
"Ya Allah, jadi kamu mendengarnya?"
Putra pun hanya bisa tersenyum tanpa menjawab ucapan Anisa sambil memerintahkan pak supir taksi untuk memutar arah ke sebuah restoran Malaysia, sementara Fajriah juga mengikuti taksi itu.
"Pak, kita putar jalannya ke arah lain untuk menuju restoran!" perintah Putra.
"Baik tuan," jawab supir taksi.
Disisi lain.....
Lokasi shooting jakarta....
"Bagaimana? apakah kamu yakin tidak ada yang mengetahui tentang Harris?" tanya Zain saa dalam perjalanan.
"Ya aku yakin sekali, mereka tidak akan mencurigai kita," jawab Fero.
"Bagus, dan kalau aku mendapati di antara kalian ada yang berkhianat, maka tamatlah riwayat kalian," jawab Zain.
"Kamu tenang saja, mereka tidak akan menghancurkan kepercayaan kita," tambah Fero.
"Oh iya, bagaimana perkembangan Arman? apakah dia sudah ditemukan?" tanya Zain.
"Ya menurut orang bayaranku, Arman belum ditemukan, dan mereka sedang berusaha untuk mencari jejaknya," tambah Fero lagi.
"Pokoknya, apa pun yang terjadi Arman harus ditemukan? kemana dia pergi sampai menghilang begini?" tanya Zain.
Di dalam perjalanan mereka hanya fokus pada tujuannya sambil mengobrol santai, namun beberapa menit kemudian mobilnya Fero pun tiba di jalan tempat penyekapan Harris, Fero pun langsung membuka pintu mobil untuk turun, ia membantu Zain untuk keluar sambil menaiki kursi roda setelah berada di luar mobil.
"Mari kubantu Zain," ucap Fero saat menawarkan dirinya.
"Terima kasih atas bantuannya Fero," jawab Zain saat meraih tangan Fero untuk dipindahkan ke kursi roda.
Tidak lama kemudian Fero pun merangkul badan Zain saat sudah keluar dari mobil untuk dimasukkan ke atas kursi roda.
"Apakah kamu bisa membantuku untuk mendorong kursi roda?" tanya Zain.
"Baiklah saya akan membawa kamu ke dalam untuk bertemu Harris," jawab Fero.
Tidak lama kemudian mereka pun memasuki rumah kosong tersebut.
Tririringggg.....tririringggggg......
"Halo boss, kami punya berita menarik?" tanya orang bayaran Farah saat menelpon.
"Bagaimana? apakah kalian berhasil mengikuti mereka?" tanya Farah saat menerima panggilan.
"Boss, mereka sedang menyekap seseorang," jawab anak buah Farah.
"Bisakah kalian ambil gambarnya!" perintah Farah.
"Baik bos akan kami kirim via whatsapp," jawab orang bayaran itu saat menutupi panggilannya.
"Siapa orang yang di sekap oleh Zain?" tanya Farah seorang diri.
Lokasi shooting rumah orang yang menolong Arman....
Tidak lama kemudian gadis itu pun kembali dengan memegang daun herbal yang ada di tangannya.
"Bagaimana cucuku? apakah kamu menemukan daun yang kita butuhkan?" tanya nenek sang gadis.
"Sudah nenek, dan ini aku ingin menyerahkannya kepada kakek," ucap gadis tersebut.
"Dan sekarang kamu hancurkan daun ini ya cucuku, sebab kita akan mengoleskannya pada bagian tubuh laki-laki ini, dan bagian matanya juga kita oleskan!" perintah kakek dari gadis itu.
"Baiklah kakek, nenek, aku akan ke dapur," jawab gadis tersebut yang langsung melangkahkan kakinya ke dapur.
Namun beberapa menit kemudian seseorang yang menagih hutang hadir ke rumah mereka.
"Bagaimana? apakah kalian sudah punya dana untuk membayar kontrakan? masih banyak orang yang ingin menggunakan rumah ini?" tanya rentenir.
"Pak, tolong beri kami sedikit waktu, sebab ada orang yang sedang terluka," ucap nenek sang gadis.
"Berapa lama lagi waktu yang harus kuberikan?" tanya rentenir.
"Kumohon pak jangan usir kami, jika kami pergi, dimana kami akan tinggal?" tanya kakek dari gadis itu.
Tidak lama kemudian gadis itu yang mendengar keributan langsung keluar dari dapur.
"Ada apa ribut-ribut di rumah orang? apakah kalian punya pendidikan?" tanya sang gadis.
"Ya Allah kakek, nenek, berani sekali kalian menyakiti orang tua, apakah kalian tidak takut akan azab Allah?" ancam sang gadis.
"Boss, cantik juga cucunya," ucap anak buah rentenir itu.
"Baiklah, jika kalian ingin hutangnya lunas, kalian harus menikahi cucu kalian dengan saya," ucap rentenir.
"Lepaskan tanganmu yang menjijikkan itu dari tubuhku!" perintah sang gadis saat mengangkat tangan rentenir itu.
"Sayangku, aku takut sekali kepada kamu," ucap rentenir itu.
"Aku lebih baik bunuh diri dibanding harus jadi istri kamu," ucap gadis misterius itu saat memberi ancaman kepada rentenir.
"Tujuh hari lagi kami akan kembali, jika kalian belum ada uang untuk bayar, maka segera angkat kaki dari rumah ini," ucap rentenir itu saat memberi ancaman.
Tidak lama kemudian mereka pun pergi dari sana.
"Cucuku, apakah kamu baik-baik saja?" tanya kakeknya sang gadis.
"Nenek, sekarang kita masuk ya, sebab aku harus menyelesaikan ramuan herbal itu," ucap gadis misterius itu.
Tidak lama kemudian mereka pun memasuki rumahnya, sementara gadis itu langsung menuju dapur untuk mengaduk daun herbal yang akan selesai.
Namun beberapa menit kemudian gadis itu pun telah menyelesaikan ramuan herbal, ia pun langsung menyerahkan ramuan itu kepada kakeknya itu.
"Kakek ini ramuannya telah selesai," ucap gadis misterius itu.
"Terima kasih ya cucuku," ucap sang kakek saat menerima ramuan.
Kakek itu pun langsung mengoleskan ramuan tersebut kepada tubuh Arman.
Disisi lain....
“Hai Furqan,” sapa ayahnya naila.
“Hello uncle, ade ape ni? kenape you tak call saye? sabab saye nak perintahkan asisten ‘tuk siapkan breakfast,” ucap Furqan saat tiba di ruang tamu.
“Ya Allah, kalian tidak perlu merepotkan diri dengan menyiapkan sarapan,” ucap papanya naila.
“Ternyata saya tak salah memilih seorang suami buat anakku,” jawab ayahnya naila.
“Yeah, my son ni selain handsome dah bise memimpin perusahaan papanya ni,” tambah mamanya Furqan.
“Furqan, ini naila anak gadis saya yang sangat saya sayangi, mamanya sudah lama wafat,” ucap papanya naila.
“Naila,” ucap naila saat berjabat tangan.
“Furqan,” jawab Furqan saat membalas jabatan tangan naila.
“Cantiknye naila, oh iye naila sekarang ni you kerja ape?” tanya mamanya Furqan.
“Saya baru saja lulus kuliah S2 di inggris, kemarin baru tiba di Kuala Lumpur,” jawab naila.
“Awak ni hebat sangat, kalau mama you dah hidup lagi, die happy sangat lihat anak gadisnye bise jadi sarjane ni,” ucap Furqan.
“Nyonya, tuan, semuanye dah bibi siapkan di ruang makan,” ucap pelayan saat menghampiri mereka di ruang tamu.
“Thank you bibi, awak dah bise pergi!” perintah Furqan.
“Baiklah tuan, saye nak lanjutkan work di belakang rumah ni,” ucap bibi saat pergi melaksanakan tugasnya.
“Baikleh, sebelum nak lanjut mengobrol ni, kite isi energy sejenak,” ucap mamanya Furqan saat bangkit dari kursi tamunya.
“Ya sudah, ayo ayah kita sudah di jamu, jadi kita hargai mereka,” ucap naila saat bangun dari kursi tamu.
“Baiklah anakku, kita harus menghormati mereka,” tambah ayahnya naila saat mengikuti anaknya itu.
Namun pada saat mereka menuju ruang makan, Furqan mendengar ponselnya berbunyi yang menandakan adanya panggilan masuk dari dokter.
“Kalian duluan sajelah, saye nak call terlebih dahulu,” ucap Furqan.
“Baiklah, jika sudah diizinkan, sebab saya tak ingin melangkahi tuan rumah,” jawab ayahnya naila.
“Bagaimane my son? ape yang dah terjadi dekat gadis tu?” tanya mamanya Furqan.
“Saye tak tahu, sebaiknye kite dengarkan call dokter ni,” jawab Furqan.
“Yeah, hello dokter ni saye Furqan yang jawab call you, ade ape ni sehingga awak call saye?” tanya Furqan.
“Jadi begini tuan, sejak saya cek kondisi anak ini, dan ternyata anak ini alami kekurangan gizi,” ucap dokter itu.
“Tu dah mama cakap, you bawa ni orang ke hospital, awak tak dengar saye, sabab jika terjadi sesuatu dengan ni anak, awak tanggung akibatnye,” ucap mamanya Furqan.
“Bisekah mama diam, saye nak care ‘tuk ni dua orang, okay dokter saye akan segera ke atas, lakukan sesuatu ‘tuk anak ni, dan jike anak ni kehilangan nyawa, maka nyawa you saye bunuh dokter,” ancam Furqan.
“Jangan cakap you dah fall in love dengan ni gadis,” jawab mamanya Furqan.
“Kalau saye dah fall in love, mama tak berhak ikut campur percintaan saye ni,” jawab Furqan.
Namun mamanya pun langsung pergi untuk menemui naila bersama ayahnya, sementara Furqan langsung berlari menaiki tangga untuk menemui bayi itu.
“Baiklah tuan, saya akan beri infus untuk bayi ini,” ucap dokter yang langsung mematikan ponselnya.
Namun tiba-tiba Fatimah sadar dari ketiduran panjangnya.
“Dimana saya? dan rumah siapa ini?” tanya Fatimah saat kebingungan di rumah mewah.
Fatimah pun bangkit dari kasur itu, ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya, akan tetapi tanpa sengaja Furqan menabrak dirinya.
“Aaaaaaaaaa,” teriak Fatimah saat menabrak Furqan.
“Ya Allah, gadis ni cantik sangat, semuga saye bise dapatkan love ni orang,” Furqan bergumam dalam hati saat menangkap tubuh Fatimah.
“Awak tak ape, saye buru-buru sangat ni, kite akan berbincang lagi nanti,” ucap Furqan saat berlari ke arah kamar bayi dan memasukinya.
“Siapa kamu?” tanya Fatimah seorang diri.
“Tadi saya mendengar suara teriakan mak chik, suara siapa itu ya?” tanya naila.
“Oh iye, pembantu saye nak watch drama, jadi sabab tu lah die heboh sangat,” ucap mamanya Furqan berbohong.
“Jadi begitu ya mak chik, saya pikir ada seseorang di rumah ini,” kata naila.
“Disini saye, dan my son yang tinggal, sekaligus pembantu saye banyak sangat lah,” ucap mamanya Furqan.
“Saya sudah memasang infus, jadi anda mencari asupan makanan untuk ini anak,” jawab dokter tersebut.
“Baiklah dokter saye akan cari makanan, dan awak dah bise pergi, dan ni bayaran ‘tuk you,” tambah Furqan lagi.
Furqan pun kembali keluar dari kamar bayi, ia menuruni anak tangga karena harus membeli buat keluar dari rumah, sebab harus menyediakan sesuatu, sementara dokter itu langsung meninggalkan rumah mewah tersebut.
Disisi lain….
Rumah calvin lee korea.....
"Excuse me, I'm a doctor ordered by Mr. Calvin Lee, may I come in?" asked Viktor in disguise.
(“Permisi, saya dokter suruhan pak calvin lee, bolehkah saya masuk?” tanya Viktor yang menyamar.)
"Of course you can come in, sir, let me show you the room for Mr. Calvin Lee's aide who was shot earlier," said the waiter.
(“Tentu saja tuan boleh masuk, mari tuan saya tunjukkan ruangan ajudan pak calvin lee yang tertembak tadi,” ucap pelayan itu.)
Viktor pun langsung mengikuti pembantu itu buat menuju ketempat orang terluka parah.
"This is the master of the adjutant room, Mr. Calvin!" waiter orders.
(“Ini tuan ruangan ajudannya pak calvin!” perintah pelayan.)
"Okay thanks lady maid, I'll start the action," replied Viktor.
(“Baiklah terima kasih nona pelayan, saya akan memulai tindakan,” jawab Viktor.)
"Then I'll excuse myself for a moment," said the waiter.
(“Kalau begitu saya permisi kebelakang sebentar ya,” ucap pelayan itu.)
"Oh my god, isn't this the bullet I shot yesterday for someone who interfered in my personal affairs," said Viktor in his mind.
(“Ya tuhan, bukankah ini peluru yang kemarin saya tembak seseorang yang mengikut campur urusan pribadiku,” ucap Viktor dalam hati.)
"So he's the one who helped Faiz, well I'll get you guys to follow my game," Viktor muttered to himself.
(“Jadi dia yang telah membantu Faiz, baiklah akan kubuat kalian untuk mengikuti permainanku,” Viktor bergumam dalam hati.)
"How are you, sir? can I take the bullets that are in your body parts?” asked Viktor in disguise.
(“Bagaimana tuan? apakah saya bisa mengambil peluru yang ada di bagian tubuhmu?” tanya Viktor yang menyamar.)
Setelah Viktor selesai mengeluarkan peluru yang ada dibagian tubuh ajudan pak calvin lee, ia kemudian memberi infus untuk pria yang terluka itu.
Tidak lama kemudian Viktor pun keluar dari ruangan ajudan pak calvin lee, ia bertanya kepada pelayan lain.
"Excuse me Miss maid, may I ask you something? Has anyone else been injured apart from the aide I've been infusing with earlier?" asked Viktor in disguise.
("Permisi nona pelayan, bolehkah saya menanyakan sesuatu? apakah ada orang lain yang terluka selain ajudan yang telah saya beri infus sejak tadi?" tanya Viktor yang menyamar.)
"Oh yes sir, there is another person who needs your help, but she is with her husband, come with me to another room!" another servant orders.
("Oh iya tuan, ada lagi orang yang membutuhkan pertolongan anda, tapi dia bersama suaminya, mari ikut saya ke ruangan lain!" perintah pelayan yang lain.)
"Okay lady maid I will follow you," replied Viktor in disguise as he followed the maid into another room.
("Baiklah nona pelayan saya akan ikuti kamu," jawab Viktor yang menyamar saat mengikuti pelayan ke ruangan lain.)
Namun beberapa menit kemudian Viktor pun sampai di ruangan Faiz dan Sabrina, ia pun memasuki ruangan itu secara langsung dengan membuka pintu kamarnya.
"Master, this is the other room, then I will excuse myself for a moment," replied the servant.
("Tuan ini ruangan yang lain itu, kalau begitu saya permisi sebentar," jawab pelayan itu.)
"Are you a doctor on the orders of Mr. Calvin?" asked Faiz.
("Apakah anda dokter atas perintahan pak calvin?" tanya Faiz.)
"Yes, that's right, I am a doctor sent by Mr. Calvin to kill you," replied Viktor in disguise.
("Ya benar sekali, saya dokter kiriman pak calvin untuk membunuh kamu," jawab Viktor yang menyamar.)
"Your voice doctor changed?" asked Faiz.
("Dokter suara kamu berubah?" tanya Faiz.)
Tidak lama kemudian Viktor itu pun langsung menembakkan obat bius kepada Faiz sehingga membuat Faiz pingsan, namun pada saat ia ingin mengambil Sabrina untuk dibawa pergi, dan tiba-tiba angin sepoi-sepoi dekat jendela meniupkan rambut Sabrina sehingga membuat Viktor kaget sampai tidak percaya.
"No, no, he's not my brother, my brother died right in front of me," Viktor said alone when he came out of Faiz's room who was lying unconscious on the floor.
("Tidak, tidak, dia bukan saudaraku, saudaraku sudah tewas tepat di hadapanku," ucap Viktor seorang diri saat keluar dari kamar Faiz yang sudah tergeletak pingsan di lantai.)
Viktor menuruni tangga saat berlari begitu cepat dari kamar Faiz, ia pun tanpa sengaja mendorong salah satu pelayan yang hampir terjatuh dari tangga.
"I'm sorry, Miss waiter," said Viktor when he wanted to open the main door of Mr. Calvin's house.
("Maafkan saya nona pelayan," ucap Viktor saat ingin membuka pintu utama rumah pak calvin.)
Namun pada saat tiba di gerbang itu, Viktor menatapi pak calvin yang baru sampai di rumahnya.
"Doctor, what about the patient at my house?" asked Mr. Calvin Lee.
("Dokter, bagaimana dengan pasien di rumahku?" tanya pak calvin lee.)
"Hurry up!" Viktor ordered his men.
("Cepat jalan!" perintah Viktor pada anak buahnya.)
Disisi lain.....
Pertinjuan Swiss........
Mobil ambulan untuk menjemput Martin pun telah tiba di tempat pertinjuan.
("Pak tolong bawa anak muda ini ke rumah sakit!" perintah salah satu seorang pemukul.)
("Mari saya bantu anda untuk mengangkat anak muda ini," tawar-menawar salah satu seorang pemukul.)
Mereka pun mengangkat Martin untuk dimasukkan ke dalam mobil tersebut.
("Terima kasih atas bantuan anda," jawab pak supir ambulan.)
Namun beberapa menit kemudian mobil ambulan itu pun langsung meninggalkan pertinjuan Swiss untuk menuju rumah sakit tersebut, dan tidak lama kemudian mobil ambulan itu pun tiba di rumah sakit, mereka memanggil salah satu perawat untuk membawa brakar.
("Kamu," ucap supir ambulan saat menunjuk ke arah mereka.)
("Iya pak, ada yang bisa kubantu?" tanya perawat perempuan.)
("Tolong kamu bawa brakar, sebab ada pasien yang terluka parah!" perintah pak supir ambulan.)
("Baiklah pak, kami akan mengambil ambulan, dan harap menunggu sebentar!" perintah perawat saat memasuki rumah sakit itu kembali.)
Namun tidak lama kemudian perawat wanita itu pun berhasil mengeluarkan brakar dengan dibantu oleh perawat laki-laki, dan mereka langsung mengangkat Martin untuk dipindahkan ke atas brakar.
Martin dibawa menggunakan brakar menuju ruangan pemeriksaan, namun tiba-tiba Andri melihat Martin yang tanpa sengaja berada di rumah sakit Swiss, ia pun langsung bertanya kepada salah satu di antara mereka.
("Ya Allah, Martin," teriak Andri yang ikut mendorong brakar.)
("Perawat, apa yang terjadi kepada sahabatku?" tanya Andri saat memegang kerah baju perawat laki-laki.)
("Kami tidak tahu tuan, apa yang terjadi kepada sahabatmu itu?" salah satu perawat laki-laki bertanya balik.)
("Saya minta maaf atas tindakan saya," ucap Andri.)
Ketika sampai diruang pemeriksaan Andri diminta buat menunggu di luar.
("Mohon maaf tuan, anda tidak boleh memasuki area pemeriksaan!" perintah perawat laki-laki yang di ancam tadi.)
("Tapi, saya harus memastikan kondisi dia," ucap Andri yang memaksa.)
("Sekali lagi mohon maaf tuan ya," ucap perawat laki-laki itu.)
Mereka pun tidak mendengarkan ucap Andri dan langsung mengunci ruangan pemeriksaan.
"Sebaiknya kuhubungi abang Kevin, supaya dia melihat kondisi Martin," ucap Andri saat mengeluarkan ponsel miliknya.
Tririririringggggggg......triririringgggggg......
"Halo, ada apa Andri?" tanya Kevin saat menerima panggilan masuk.
"Apakah abang Kevin bisa ke rumah sakit?" Andri bertanya balik saat menelpon.
"Memangnya apa yang terjadi sampai kamu memintaku untuk ke rumah sakit?" tanya Kevin.
"Martin, Martin tiba-tiba terluka parah," jawab Andri yang masih menelpon.
"Apa? bagaimana itu bisa terjadi? siapa yang menghajar dirinya? baiklah aku akan segera sampai ke rumah sakit," ucap Kevin yang beranjak pergi dari bar Swiss.
Kevin pun langsung membayar ke tempat kasir bar, ia pun langsung keluar dari bar itu untuk menuju parkiran, dan Kevin menaiki mobilnya itu sehingga meninggalkan bar tersebut.
Pada situasi lain Mayra yang masih marah kepada Tom itu langsung mendiamkan dirinya.
("Ya ampun sayang, tolong kamu jangan cuek seperti ini, aku itu cinta sama kamu Mayra," ucap Tom sambil menyetir mobil.)
("Jadi wajar saya cemburu kepada Aldo yang coba ingin merusak hubungan kita," tambah Tom lagi.)
("Aldo itu bukan orang yang merusak hubungan kita sayang, namun hubungan kita rusak karena keegoisan kamu, dan kamu mungkin tidak berselingkuh lagi, tapi perasaanku sudah kosong untuk kamu sayang, sebab cintaku itu sudah beralih kepada seseorang," ucap Mayra.)
Namun pada akhirnya mobil Tom pun tiba di rumah Mayra, dan ia membuka pintu untuk Mayra turun.
("Silahkan turun sayangku Mayra, Mayra tunggu, maksud kamu tadi apa tentang hatimu sudah kosong? apakah kamu memutuskan saya?" tanya Tom.)
("Tidak Mayra, saya tidak ingin putus dari kamu," ucap Tom saat memeluk Mayra.)
("Tom, tolong lepaskan pelukan kamu," ucap Mayra.)
("Aku cinta kamu Mayra, kamu satu-satunya milikku," tambah Tom lagi.)
Lalu Mayra pun menampar Tom dengan emosi, dan ia pun memasuki rumahnya itu, Tom pun meninggalkan kediaman Putra Al Kahfi sambil menghubungi seseorang untuk membakar rumah Kevin.
"Terima kasih sayang atas tamparan ini, sebab ini akan menjadi pertemuan terakhir kamu dan Aldo yang akan tewas," ucap Tom dalam hati.
Tririririringgggggg........triririringggggggg......
Bunyi ponsel chong lee yang menampilkan adanya panggilan masuk.
("Iya Tom, ada apa kamu menghubungi saya?" tanya chong.)
("Saya mau kamu bantu saya chong lee!" perintah Tom.)
("Memangnya apa yang harus kulakukan?" tanya chong.)
("Saya mau kamu bakar rumah seseorang!" perintah Tom.)
("Apa? apakah kamu sudah gila Tom? bukankah itu perbuatan kriminal?" tanya chong lee.)
("Ya, dan saya sudah jadi kriminal sejak pertama kali seseorang menghancurkan hubunganku, dan saya akan kirim alamatnya melalui whatsapp, jika kamu sepupuku, maka bantulah aku!" perintah Tom yang langsung mematikan ponselnya.)
("Baiklah, saya akan membantu kamu," jawab chong yang juga mematikan ponselnya.)
"Ya tuhan, tolong ampuni saya," chong bergumam dalam hati.

Namun beberapa menit kemudian pesan whatsapp itu pun langsung berbunyi.
"Sepertinya ini alamat yang Tom maksud," ucap chong lee saat menatapi ponselnya.
Tidak lama kemudian chong pun langsung berangkat menuju rumah adiknya Kevin dengan membawa minyak ditangannya, ia mengajak beberapa orang bayarannya untuk tidak melakukan ini seorang diri, namun pada akhirnya chong pun tiba di rumah Martin bersama orang bayarannya, ia pun mencari tahu yang mana rumah Martin.
Tidak lama kemudian chong bertanya kepada salah satu warga Swiss.
("Permisi, saya temannya Martin, saya ingin bertanya dimana rumah Martin?" tanya chong.)
("Rumah Martin Andrean itu yang bertembok biru," jawab warga Swiss.)
("Baiklah, terima kasih ibu," ucap chong.)
Chong pun melangkahi kakinya menuju rumah berwarna biru, ia pun memberi kode kepada orang bayarannya itu saat menghampiri mereka.
("Cepat kamu bakar rumah bertembok biru!" perintah chong.)
("Baik boss," ucap orang bayarannya itu saat turun dari motornya.)
Mereka pun menyirami minyak ke arah rumah bertembok itu dan melempari korek api saat di hidupkan ke rumah Martin, sementara chong langsung memanggil video call Tom.
Triririringgggggg.......tririringgggg.....
("Iya, bagaimana? apakah kamu melaksanakan tugasku?" tanya Tom ketika menerima video call whatsapp dari chong.)
("Seperti yang kamu lihat saudaraku, bahwa saya chong lee telah melakukan kejahatan atas perintahmu," jawab chong ketika melakukan video call.)
("Bagus chong lee, kamu bisa kuandalkan sebagai saudara, dan kalian bisa pergi dari sana, sebab sebelum ada yang menangkap kalian!" perintah Tom.)
("Cepat kita harus pergi dari tempat ini!" perintah chong.)
("Baik bos," jawab orang bayaran itu saat meninggalkan lokasi kejadian.)
Pada akhirnya chong lee pun meninggalkan tempat kebakaran itu, sementara warga yang sedang melewati jalan tersebut sambil menatapi itu langsung berteriak.
("Kebakaran, kebakaran, kebakaran," teriak warga Swiss setempat.)
("Cepat hubungi pemiliknya!" perintah warga lainnya.)
Tririririringgggg......tririringgggg......
Bunyi ponsel Kevin yang menampilkan adanya panggilan masuk.
("Halo tuan, rumah anda terbakar," jawab warga Swiss saat menelpon.)
("Apa? bagaimana itu bisa terjadi? siapa yang membakar rumah kami? tapi saya harus ke rumah sakit, dan kalian bukankah bisa menghubungi pemadam kebakaran?" tanya Kevin saat menerima panggilan warga.)
"Sebaiknya saya fokus ke rumah sakit, setelah itu baru saya kembali ke rumah kebakaran itu, ya Allah cobaan apa lagi ini," Kevin bergumam dalam hati.
("Baiklah tuan, saya akan menghubungi pemadam kebakaran," jawab warga Swiss yang mematikan ponselnya.)
Bersambung.....

Komentar Buku (545)

  • avatar
    AzizAbdul

    saya sangat perihatin dengan keadaan ekonomi yang dialami perempuan hebat itu

    31/08/2023

      0
  • avatar
    Eleviana

    hii ..cerita ini menarik sangat ..saya suka dengan jalan cerita nya ..boleh meluangkan masa yang terindah ..sesuai untuk dibaca ..boleh membuat kita sayang dekat orang yang kita saya boleh menyedarkan kan kita sebelum terlambat ..ok sangat untuk org yang nak brubah....,...,..,.,......

    22/07/2022

      0
  • avatar
    mememaylinda

    terimakasih cerita dalam novel ini sangat bagus sekali dan wajib ditiru.

    21/12/2021

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru